Jual Cincin di Money Changer Malaka Malaysia

Ringgit Malaysia a

ringgit yang tersisa pas nyampe di Malaka, hehehe

Jual cincin pas lagi jalan ke malaka? Iyaaaap, beneran, hehehe.. 😛

Jadi, ketika sedang menyiapkan rencana jalan, soal biaya jalan kudu diitung mateng-mateng. Apalagi kalau kita jalannya ke luar negeri. Hitung-hitungan biayanya harus lebih teliti lagi. Harus lebih jelas lagi. Dan harus ada uang ekstra sebagai uang tak terduga. Karena kalau tidak kita bisa mengalami yang namanya tiba-tiba habis keabisan uang.

Ini yang terjadi pada saat saya, adik saya, kakak angkat serta anaknya saat jalan ke Malaka, Malaysia. Kami (hampir) kehabisan uang. Sebenarnya saya dan adik saya bukannya tidak menyiapkan biaya yang cukup. Tetapi karena kakak angkatku mendadak memutuskan ikut ke Malaysia karena kebetulan dia sudah berada di Batam, sehari sebelumnya.

Seperti yang pernah saya bikin di postingan awal rencana jalan ke Singapura Malaysia kakak angkatku ingin banget bawa anaknya ke Legoland, Johor, pas lagi mereka ke Batam. Ia mengajak saya. Tapi sekitar semingguan atau hampir 2 minggu sebelum ke Batam ia membatalkan rencana jalan ke Legoland. Padahal saya sudah susun rencana perjalanannya.

Akhirnya adik saya yang justru pengen pergi. Jadilah kami mau jalan berdua ke Singapura dan Malaysia, pada jadwal yang sudah saya buat sebelumnya. Eh sehari sebelum berangkat, kakak saya minta saya datang ke Batam buat temanin dia ke Legoland, hehehe.

Pada akhirnya kami jalan berempat, kakak saya ikut, ngga cuma sampai Legoland saja tapi juga ke Kuala Lumpur. Ia tidak berani balik sendirian ke Batam dari Johor, apalagi dari Singapura hehehe. Kakak angkakku orangnya dis-orientasi arah yang parah. Jadi ga bisa pergi-pergi sendiri. Dan ketika kakakku dan anaknya masuk legoland, dia pake uangku dulu, hehehe. So, uang yang tadinya seharusnya lebih dari cukup jadi berkurang, hahaha.

Saat hendak membeli tiket ke Malaka di terminal Larkin Johor Bahru, kami menukarkan semua rupiah yang ada menjadi ringgit. Dan setelah tiba di penginapan di di Malaka kami menghitung sisa ringgit yang kami punya dan ternyata sisa ringgit yang ada hanya  membuat kami traveling sampai Malaka saja, tidak lebih. Dari Malaka kami harus ‘balik kanan grak’ lagi menuju Singapura lagi dan menyeberang ke Batam.

Aduh, ngga lucu banget kan ya… Masa iya langsung belok kanan? Harus cari akal gimana caranya supaya rencana ke Kuala Lumpur tetap jalan tapi ada duitnya. Saya dan adik saya meres otak sampe kering, hehehe. Kakak saya sih kalau balik kanan aja dari Malaka ke Singapura trus ke Batam ngga apa-apa bagi dia. Bagi saya dan adik saya, nooo!!

Malam itu, sebelum tidur di penginapan di Victor’s Guesthouse, keputusan yang kami ambil adalah besok kami akan menjual cincin adikku di toko emas. Cincin tersebut sepenuhnya jadi tanggung jawab kakak angkatku. Sepulang ke Padang nantinya kakak angkatku akan mengganti cincin adikku dengan berat gram yang sama. Bukan mengganti sebanyak sejumlah uang yang kami dapatkan di toko emas nantinya.

Okeeey….deal!

Paginya sembari mencari makan pagi (guest house tidak menyediakan sarapan pagi), aku dan adikku mencari toko emas. Sepanjang sekitar satu kilometer aku dan adikku mencari toko emas. Tidak ada satupun yang terlihat toko buka. Kami hampir putus asa karena saat itu adalah hari libur natal.

Tapi setelah selesai membeli sarapan yang nunggunya lama karena lagi rame, kami kembali ke guesthouse. Saat itulah kami melewati beberapa money changer yang sudah buka. Rupanya di money changer di Malaka, selain menukarkan uang kita bisa menjual emas di di sana. *sujud syukur.

Alhamdulillah, kami tidak perlu lagi nyari-nyari toko emas lagi buat jual cincin. Cukup jual di money changer aja. Setelah selesai sarapan, saat kami berempat hendak jalan ke Rumah Merah (Red Square), kami mampir dulu ke money changer untuk menjual cincin adikku *tertunduk sedih memikirkan nasib tak punya uang di negeri orang, hahaha…

Kami bertransaksi diantara jeruji besi yang memisahkan antara penjual dan pembeli. Maklumlah, demi keamanan mereka juga kan ya. Yang melayani kami mas tionghoa yang ganteng. Saya yakin dia adalah bos money changer tersebut, atau paling tidak anak bos * gagal fokus, hahaha).

Cincin emas 24 karat seberat 2,5 gram tersebut dihargai sebesar 425 ringgit. Atau sekitar satu juta dua ratus ribuan. Lebih murah hampir dua ratus dari harga sewaktu adikku membeli cincin tersebut. Terlalu jauh memang perbedaan harga beli dan harga jualnya. Tapi mau bagaimana lagi, kami tetap harus menjual cincin tersebut. Apalagi menurut mas tionghoa di money changer tersebut, ia hanya mengambil untung 15 ringgit saja dari hari pasar, tidak lebih.

Akhirnya dengan berbekal uang hasil penjualan cincin di money changer, kami akhirnya bisa jalan-jalan di Malaka dengan hati riang dan sedikit tenang, walaupun jumlah uang yang tersedia hanya 400 an ringit. Dan sorenya, kami pun berangkat menuju Kuala Lumpur.

Nekat abis kaaan, hahahaha… 😛

Ah, di Kuala Lumpur pun kami pun mengalami petualangan yang ngga kalah seru. Kami terlempar dari guesthouse yang sudah dipesan di booking.com, karena ternyata guesthousenya sudah penuh kami harus nyari lagi buat malam ituuuuuh, terpaksa deh kami melangkah dengan lunglai dengan bawaan yang terasa makin berat di punggung, huhuhuhu…

Welcome to KL…. 🙂

26 thoughts on “Jual Cincin di Money Changer Malaka Malaysia

  1. Wah keren pengalamannya. Apa gak takut ya? Lha pas di negeri orang sampai kehabisan uang mbacanya ngeri. Tapi untunglah ada solusinya. Tapi keren loh perjuangannya.

  2. Ini baru jalan-jalan seru bercampur deg-deg-an,, tapi syaratnya memang harus tenang meras otaknya yaa,, solusi dapet, jalan2 sampai tujuan 🙂

  3. Waah baru tahu kalo bisa nukar emas dengan duit juga di money charger. Aku pun akan melakukan hal yang sama kalo diposisimu mbak. Karena belum tentu akan ada kesempatan kedua utk ke malaka

    • Iyaa, aku juga baru tau Mba… Dan itu sangat membantu banget. Ngga perlu nyari2 toko emas lagi. ya kalau toko emasnya banyak yg di daerah wisata gitu, kalau ngga? repot kan ya…

      kalau di Bukittinggi deket jam gadang banyak tuh toko emas.. 🙂

    • Iyaa…. sepertinya make cincin adalah salah satu solusi ya, hehe… Karena nilai emas dimana2 kan sama…

      Tapi jangan deh sampai kehabisan uang… dag dig dug der banget, hehehe

  4. Pingback: One Day Trip di Malaka : Jalan-Jalan Sehari Keliling Malaka | Firsty Chrysant

  5. Pingback: Ngesot Nyari Penginapan di Kuala Lumpur | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s