Naik Bus di Terminal Larkin Johor Bahru ke Malaka

Terminal Larkin Johor Bahru
Terminal Larkin Johor Bahru

Sore itu, sepulang dari jalan-jalan yang mati gaya di Legoland Johor dan di Hello Kitty Putri Harbour kami kembali ke hotel untuk mengambil barang. Kalau tadi ketika datang ke Legoland ongkos kami 30 ringgit, baliknya ke hotel 35 ringgit. Kata sopirnya yang Mr. Takur, nanti mutarnya jauh. Ya sudahlah kalau memang mutarnya jauh, kami akhirnya naik taksi tersebut dengan tarif 35 ringgit.

Tapi ternyata, jalannya ngga mutar sama sekali. Jalannya sama dengan jalan yang tadi kami datang. Bahkan lebih pendek karena melewati jalan yang semestinya. Tadi pas pergi ke Legoland, pak cik sopirnya mau mutar-mutar ke area lain sekadar keliling-keliling aja buat kami liat pemandangan jalan raya di Johor. Hufff dibohongin deh, hehehe.

Lokasi hotel tempat saya menginap dekat dengan kuil hindu yang di dalamnya berdinding kaca. Tapi karena jalannya memutar dan kaki saya berkali-kali kram saya tidak jadi jalan ke sana. Padahal saya dan adik saya sudah setengah jalan. Akhirnya kami memutuskan balik dan menyetop taksi yang akan mengantarkan kami menuju terminal Larkin, Johor Bahru.

Tarif taksi dari hotel yang berada di Jalan Susur 1 ke terminal Larkin adalah 15 ringgit. Pakai argo. Saya coba tawar 12 ringgit ngga mau, dia maunya pakai argo dan mastiin kalau argonya maksimal 15 ringgit. Eh ternyata benar. Argonya 14 an ringgit. Dan tumben banget ya ini taksi yang paling bagus yang saya liat selama di Malaysia. Mobilnya kaya mobil kijang tapi bagus. Sepertinya produksi Proton Malaysia deh.

Sore itu terminal Larkin sangat ramai. Terminal Larkin berada di samping bangunan pasar yang bersih, mirip mall kecil tidak tidak ber-AC. Terminalnya sendiri bersih dan rapi meski banyak calo juga di sini. Bangunan pasarnya bersih dan rapi juga. Mirip ITC di Jakarta tapi dengan ukuran yang lebih kecil dan ngga pake AC. Tapi cukup nyaman lah di sini.

bus yang saya naiki, bangku 2-1
perusahaan bus yang saya naiki, bangku 2-1

Oya di sini selain warung makan biasa yang kaya warteg, restoran siap saji juga tersedia di sini. Dunkin Donat dan Mc Donald kalau ngga salah ada deh.

Ah, saya membayangkan kalau saja terminal umum si Jakarta sama seperti terminal Larkin ini, hehehe. Saya kira pembanding terdekat Indonesia adalah Malaysia, bukan Singapura. Karena kalau dengan Malaysia aja kita ketinggalan, apa kabar kalau dibandingkan dengan Singapura. Masih jauuuh.

Dan sebelum beli tket, saya tukar dulu rupiah ke ringgit, hehehe. Sedikit lebih mahal beli di sini daripada di jakarta atau Singapura. Tapi yah mau gimana lagi. Saya juga beli kartu Malaysia karena repot juga ngga bisa komunikasi kalau hanya mengandalkan wifi saja. Masalahnya, wifi-nya ngga dapat selain di hotel.

Ketika saya sedang mencari tiket, beberapa orang calo menawari saya tiket. Tapi seperti referensi yang saya baca di internet, jangan ladeni tawaran-tawaran calo. Kudu beli tiket bus di konter tiket. Okee…saya mah ikut saran dari apa yang saya baca aja, tapi calonya agak sewot gitu dah… 🙂

Setelah melihat-lihat loket-loket bus yang menjual tiket ke Malaka, maka pilihan saya jatuh pada bus Causeway Link. Karena jam keberangkatannya yang paling cepat, jam 8 malam. Harga tiket untuk dewasa adalah 20 ringgit, dan anak-anak 12 ringgit. Total tiket kami untuk tiga dewasa dan satu anak-anak adalah 72 ringgit.

Bus yang saya naiki, terdiri dari bangku formasi 2 – 1. Dengan formasi seperti ini, ongkos bis ini bisa dibilang murah, kalau dibandingan bus Primajasa Jakarta Bandung yang bangku 2-2 dengan waktu tempu sama dan ongkosnya juga sama. Nomor bangku untuk kami berempat terpisah. Dua bangku duduk bersebelahan (1 A, 1 B), saya berikan untuk kakak saya dan Ridho anaknya. Dua bangku lagi terpisah-pisah, no 2 B untuk adik saya dan 9 B di bangku belakang untuk saya.

Bus terminal larkin johor malaka

Tapi, rupanya di Malaysia, petugas busnya tidak mencek lagi bangku-bangku penumpang seperti di Indonesia. Kalau kita si Indonesia sebelum jalan cek lagi kan ya. Di Malaysia nggak (dari yang saya alami ya). Bahkan petugas pemeriksa tiket ngga mau bantuin penumpang naikin barang ke bagasi bus. Dengan cueknya dia melihat saja tanpa membantu saat kita naikin koper.

Ketika saya sudah naik bus, dan masih menunggu penumpang lain naik ke bus, saya duduk di bangku depan di bangku 1 C. Daripada saya duduk sendirian di belakang, mending ngobrol aja dulu sama kakak dan adik saya. Tapi sampai semua penumpang sudah naik dan bus hendak jalan nggak ada satu penumpang pun yang protes bahwa kursi 1 C adalah kursi tempat dia duduk.

Dan juga tidak ada agen bus yang ‘teriak’ lagi buat mencek atau memastikan bahwa semua penumpang sudah naik atau belum seperti di Indonesia. Karena tidak ada penumpang yang protes dengan kursi 1 C yang saya duduki, maka saya tetap duduk dengan anteng di kursi 1C tersebut sampai Malaka. Lumayan kaaan… Daripada duduk di deretan paling belakang dan di bagian lorong, mending mah saya duduk anteng aja deh di depan, hehehe. Jangan ditiru yaaa… 😛

Aah…ternyata ada juga pelayanan bus di Indonesia lebih okeee dari Malaysia… 😛

Bus yang kami tumpangi melaju dengan tenang membelah malam menuju Malaka melalui jalan tol. Tidak ada kebut-kebutan seperti halnya di tol Cikampek, hehehe. Dan tidak ada juga yang bisa dinikmati di sepanjang malam karena gelap yang pekat menyelimuti bumi.

Tapi seperti biasa, saya selalu nyaman dalam suasana seperti itu. Suasana hening dalam perjalanan malam, dan duduk bangku depan adalah keindahan yang tak terkira bagi saya, hehehe. Saya sungguh senang. Senaaaang banget. Ah, sungguh sangat sederhana apa yang saya sebut senang dan bahagia bukaan? 🙂

Saya sempat tertidur selama 15 menit, abis itu segar lagi, hehehe. Bus berhenti satu kali di rest area, memberikan kesempatan kepada penumpang untuk buang air kecil. Tapi ngga kaya di Indonesia penumpang bisa ke toilet dengan santai, di sini kita harus buru-buru karena emang ditunggu sebentar saja. Aah…lebih keren Indonesia dah, hehehe.

Dan setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, kami tiba di terminal Malaka, Malaka Central. Karena sudah malam, saya tidak bisa melihat keadaan sesungguhnya terminal tersebut. Tapi saya sangat yakin terminal ini lebih bersih dan besar lagi dari terminal Larkin Johor. Apalagi kalau dibandingkan terminal Pulo Gadung dan Rambutan, jauh lebih bersih lagi, hehehe.

Kami mencari taksi yang akan mengantar kami ke penginapan. Dan rupanya ‘Anda belum beruntung Firsty’ karena harus ke toilet dulu, hanya satu taksi yang tersisa. Sopir tersebut minta 30 ringgit. Ngga mau kurang katanya. Yaaah mahal amat.

Semua rekomendasi yang saya baca, ongkos taksi tujuan China Town Malaka paling mahal 15 ringgit aja. Si mister takur dengan ganyanya serius mengatakan bahwa jalan Munshi Abdullah jauh. Saya bukan mau dibodohin dia maka mau aja naik. Tapi satu-satunya dia yang tersisa setelah banyak taksi jalan sejak penumpang turun.

Dan begitu jalan dengan gaya yang ngga santai, tibalah kami di depan penginapan hanya dalam waktu beberapa menit saja. Ngga sampai 10 menit. Aaah kesel deh. Dari pusat Johor ke Legoland yang jauh selama 25 menit aja 30 ringgit. Ini masak iya hanya 10 menit dalam kota juga 30 ringgit? *manyuuuin*

Apalagi besoknya saya tau pas mau ke terminal Malaka Central lagi, ternyata jarak yang ditempuh lebih dekat, ongkosnya memang hanya 15 ringgit, saya makin manyun lagi, hehehe… 🙂

Oke, welcome to Malaka… 🙂

Advertisements

32 comments

  1. Lha untung ya ada beberapa hal yang membuat Indonesia sedikit lebih baik dari Malaysia. Klo nggak bakalan di protes sama pembaca blog rame-rame hua ha ha……..

  2. Aku waktu ke Malay ikut tour, jadi rasanya beda. Ke mana-mana dianter pake bus pariwisata, sampe nyeberang ke Singapore. Setelah di Sing barulah kita rame-rame bolak-balik pake subway

  3. Jadi kangen menyusuri Malaysia. Rutenya sama dengan yang aku jalani saat ke sana 😉

    Pengalamanku sih petugasnya mau bantu masukin koper ya (saat itu jalan sama ortu) kalo tempat duduk memang gak dicek tapi semua orang sudah duduk sesuai no kursinya 😀

    • waah, berarti itu pengalamana aku aja ya yang ngga diangkat. orang2 lain juga ga diangkat sama agennya soalnya…

      saya aja yg duduk di kursi yang bukan no saya, hehe*maluuu. Tapi ga ada yg protes 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s