Bandung One Day Trip : Gunung Tangkuban Parahu

IMG_0029

Yuhuuu. Mari kita bercerita lagi. Tentang jalan-jalan sahari di Bandung dengan taksi tua dan sopir tua yang super sangat menyebalkan. Tapi mari kita lupakan hal-hal yang menyebalkan yang disebabkan oleh pak sopir tua yang bawel, yang rewel, yang cerewetnya kaya nenek-nenek bawel. Ingat si pak tua bawel mah bikin penyakit hati, jadi lupakanlah dia, hahaha.

Perjalanan dari Bandung ke arah Lembang tidaklah macet. Meskipun saat itu adalah akhir pekan di hari Sabtu. Karena kami belum sarapan di hot, kami sarapan dulu di pasar Lembang. Saya lupa apa nama rumah makannya. Rumah makannya biasa saja, tidak mewah walaupun besar. Makanannya sih enak di lidah, apalagi kami dalam kondisi yang emang kelaparan banget. Tapi harganya kok ya muahaaal banget yaa.

Masa iya 2 porsi nasi goreng plus satu nasi telor dan sayur-sayur mentah kena 75 ribuaan? Cuma nasi telor satu dan dua nasi goreng yang cuma telor sama irisan ayam loh??  Berasa digetok aja sama yang punya rumah makan. Ternyata di mana-mana selalu ada aja cerita kaya gini yaaa… Pedagang getok harga sama pembeli yang dia pikir bukan orang sana.

IMG_0036

Selagi makan kami didatangi penjual angklung satu set ukuran besar. Akhirnya kakak angkat saya beli 3 set untuk sekolahnya. Gila, langsung panen deh si penjualnya. Sampak dia diledekin dan ‘diciye-ciyein’ teman-temannya karena pagi sudah panen 700.000 sepagi itu.

Daaaaan yang bikin sebel kemudian adalah ternyata harga yang ditawarkan oleh penjual di Gunung Tangkuban Parahu lebih murah 50.000 satu set nya, hahaha. Jadi kalau tiga set, total beda harga adalah 150.000, hehehe. Emang rejekinya si mamang yang pasar Lembang ya… 😛

Perjalanan ke arah Tangkuban Parahu dari Lembang juga lancar. Tidak asa kemacetan. Dan udara Lembang yang sejuk benar-benar menyegarkan. Kesegaran udara Lembang mengusir bau jigong dan bau sopir yang ngga mandi, hahaha. Hati jadi tenang dan adem, seadem udaranya. Sayaaaa sukaaaaa banget udara dan suasana pegunungan.

Saya membayar tiket masuk ke Gunung Tangkuban Parahu di gerbang masuknya. Tarifnya Rp 30.000 per orang. Tidak ada perbedaan taruf dewasa dengan anak-anak. Ridho yang masih anak-anak tarifnya sama dengan tarif dewasa. Waah, dalam waktu 2 tahunan, tarif masuk Tangkuban Parahu, naik hampir 2 kali lipat. Dulu tahun 2013, tarif masuk ke sini kalau ngga salah adalah 13.000 rupiah.

dulu belum dibuat tangga di sini, hanya brupa tanah saja yang didaki pengunjung.

dulu belum dibuat tangga di sini, hanya brupa tanah saja yang didaki pengunjung.

Dan ternyata perubahan tarif yang melonjak ini disebabkan pengelola Kawasan Wisata Gunung Tangkuban Parahu yang sekarang bukan lagi Pemda Subang atau Jawa Barat. Tapi pemgelolaannya sudah diserahkan kepada swasta. Makanya sekarang sedikit ada perubahan di sana. Sedikiiiiit loh ya, ngga banyak-banyak amaat. Dulu, tidak ada tangga naik ke bukit yang ada di samping kawah. Sekarang sudah ada. Tapiiii tetap saja tarif masuknya yang naik 2 kali lipat ini kurang sebanding dengan perubahan yang ada.

Yang menyebalkan di Tangkuban Parahu adalah, para pedagang oleh-oleh yang ngintilin kita kemana-mana. Apalagi kalau mereka tau ada anak-anak yang merengek-remgek minta beli mainan. Ridho, walaupun sudah kelas 4 SD, kalau minta dibelikan sesuatu kan harus dapat, ngga boleh nggak. Ngga bisa dijanjiin ‘ntar aja’.

Penjualnya ‘ngerti’ banget Ridho yang terus minta-minta minta-minta dibelikan oleh-oleh. Mereka nempeeeeeel terus. Ketika kita menawar harga, penjualnya tahan harga. Karena dia tau Ridho mau mainan yang mereka punya. Apalagi Ridho bilangnya dia ‘mau yang itu aja, ntar dicari di tempat lain ngga ada gimana’.

Saya tau banget kakak saya ngga langsung beliin karena ada saya. Karena saya selalu ngerecokin dia supaya jangan selalu menuruti kemauan Ridho, hahaha. Akhirnya kakak saya tetap nurutin kemauan anaknya, beli dengan harga yang saya yakin jauh lebih mahal.

Daaan ternyata di tempat lain harganya jaaaaauh lebih murah! 😀

IMG_0034

Kami Tangkuban Parahu ngga lama. Paling hanya sejam atau lebih dikit. Yang menyebalkan adalah, kami bertiga harus berjalan sampai hampir ke arah ujung buat nyari taksi. Sopir tua yang menyebalkan tersebut memarkir taksinya entah dimana. Sudah saya bilang parkir yang di dekat kami turun saja, karena sinyal di Tangkuban Parahu susaaah. Saya bahkan menunjuk tempat yang kosong. Eh dia bilang cari tempat yang enak buat markir (markir yang enak itu gimana aih???).

Akibat dia markir ngga jelas adalah, kami nyari-nyari taksi hampir sampai ujung sembari mempelototin mobil sedan yang dikira-kira adalah satu-satunya taksi tua yang ada di parkiran. Saking kesalnya saya, pengen tak lempar aja dia ke kawah dah, hahahaha….sadiiiis, hehehe *edisi antogonis muncul di diri. 😛

Sepulang dari Tangkubang Parahu, nada-nada bicara si pak sopirnya, mengharapkan kami segera balik ke Bandung. Whaaattt? Mana bisaaa!!! Pasar Apung belum mampir euy…! Dengan berat hati dia mengarahkan taksinya ke arah Pasar Apung. Naah di sana kami justru yang lama. Hampir 3 jam menikmati suasana Pasar Apung alias Floating Market yang okey punya.

Taraaa… 🙂

IMG_0042

IMG_0048

20 thoughts on “Bandung One Day Trip : Gunung Tangkuban Parahu

  1. Sehari bayar berapa sewa mobi dan supirnya?
    Btw aku udah ngebiasain sampe di alam bawah sadar kalo pergi jalan dan mau makan, WAJIB nanya harga dolooo 😀
    Biarin deh keliatan kayak orang pelit atau gak mampu bayar daripada diketok 😛 Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s