Ngebolang ke Maninjau Sendirian Naik Ojek

Maninjau dari Kelok 44

Maninjau dari Kelok 44

Saya masih penasaran untuk pergi ke Maninjau. Karena beberapa hari sebelumnya sewaktu ngebolang pake motor berdua teman saya tidak jadi jalan sampai Maninjau karena kesiangan. Kami hanya sampai ke Puncak Lawang dan adik-adiknya (Taman XIII Balai Basa dan Taman Ambun Tanai. Akibatnya saya nekat pergi ke Maninjau sendirian (bagi siapa saja di sana yang mengetahui saya ngebolang sendirian, saya dianggap aneh). Tujuan ke maninjau tak lain adalah kelok 44 dan Museum Rumah Buya Hamka di Sungai Batang, Maninjau.

Saya berangkat jam setengah 6 pagi dari rumah. Tiba di Padang Lua, Bukittinggi jam setengah 8. Lumayan kencang laju bis-nya. Jarak 70 km dalam waktu 1,5 jam. Saya sengaja menunggu bis yang ke Maninjau di Simpang Padang Lua saja, tidak di terminal Aua Kuniang Bukittinggi. Di sana ada travel yang memang ngetem di perempatan lampu merah arah ke Maninjau, untuk tujuan Lubuk Basuang, ibukota Kabupaten Agam yang melewati pasar Maninjau

Danau Maninjau dalam perjalanan menuju rumah Buya Hamka

Danau Maninjau dalam perjalanan menuju rumah Buya Hamka

Saya tiba di Pasar Maninjau jam menunjukkan pukul setengah 9 lewat. Saya memilih naik ojek ke Museum Rumah Buya Hamka karena tidak ada (lagi) angkutan umum (angkot) tujuan Sungai Batang kalau bukan hari pasar. Kata abang ojeknya, angkutan desa jadi mati sejak ada ojek. Di atas motor saya langsung menawari abang ojek mengantarkan saya ke view Kelok 44 yang ada di kelok 34. Dengan catatan berhenti dimana saja di tempat-tempat yang view-nya bagus yang tiba-tiba terlihat.

Abang ojeknya setuju. Uda ojeknya dengan sabar banget mengantar dan menunggu saya di tempat-tempat yang bagus untuk saya jepret. Dan saya puas dengan bepergian dengan si abang ojeknya. Oiya, kalau tidak salah nama abang ojeknya, Bang Epi 🙂

Dalam perjalanan menuju ke Museum Rumah Buya hamka, saya berhenti di beberapa mesjid yang saya lihat di sepanjang jalan di pinggir Danau Maninjau. Mesjid-mesjidnya khas bangat. Berundak-undak dan terlihat usianya sudah tua. Terlihat dari marmer yang digunakan mesjid-mesjid tersebut. Dan di depan masjid pasti selalu ada tabek atau kolam.

Rumah Buya HamkaSaya juga menemukan situs cagar budaya lainnya sekitar 1,5 km sebelum Museum Rumah Buya Hamka. Situs tersebut adalah Situs Makam H. Karim Amarullah dan H. Yusuf Amrullah. H. Karim Amrullah adalah ayahanda Buya Hamka. Sedangkan H. Yusuf Amrullah saya perkirakan adalah paman Buya Hamka. Beliau berdua juga ulama dan saudagar terkenal dari Maninjau. Kedua makam ini bersebelahan di depan rumah orang tua dari ayah Buya Hamka.

Rumah kelahiran Buya Hamka yang sekarang menjadi museum, dibangun lagi dan dikelola oleh Pemda Kabupaten Agam. Petugas yang menjadi museum tersebut masih keturunan keluarga Buya Hamka. Mengenai Museum Rumah kelahiran Buya Hamka, nanti akan saya buat postingan tersendiri… 🙂

Dalam perjalanan balik dari Museum Rumah Buya Hamka menuju Maninjau saya menemukan Rumah Gadang Nur Sutan Iskandar, di jalan menuju ke tepi Danau Maninjau yang ada di samping pasar mingguan Sungai Batang. Jujur saja saya tidak tahu siapa itu Nur Sutan Iskandar. Tapi karena plangnya (yang sudah roboh) saya yakin dia adalah seseorang yang dikenal di dunia sastra.

Rumah Gadang Nur Sutan Iskanda

Rumah Gadang Nur Sutan Iskandar, sastrawan besar Angkatan pujangga Baru

Dan, di salah satu rumah di jalan raya tersebut terdapat rumah kelahiran salah satu tokoh nasional Indonesia. Beliau adalah Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Hajjah Rasuna Said ini namanya kemudian diabadikan jadi nama jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Rumah HR Rasuna Said ini sekarang dijadikan mushala. Namanya Mushala H. M Said, nama ayahanda HR Rasuna Said.

Bahkan abang ojeknya mau mengantarkan saya ke Mesjid Raya Bayur yang megah yang arahnya berlawanan dengan Sungai Batang, kampung Buya Hamka. Bagi yang pernah membaca novel Negeri Lima Menara, atau menonton filmnya mungkin pernah membaca atau mendengar nama Nagari Bayur ini.

Nagari Bayur ini adalah kampungnya Alif, si tokoh utama dalam Negeri Lima Menara, alias kampung sang penulis buku tersebut, Bang Ahmad Fuadi. Mesjidnya luar biasa bagus. Arsitektur lama mesjid ini masih dipertahankan walaupun bangunannya diperbaharui. Keren deh mesjidnya. Dan saya berharap mesjid semegah dan sebesar ini selalu dipenuhi oleh jemaah-jemaah yang mendirikan tiang agama, shalat lima waktu. Amin amin ya rabbal alamin.

Mesjid Raya Sungai BatangSetelah saya puas berputar-putar di pinggir Danau Maninjau, abang ojeknya mengantarkan saya naik ke kelok 44. Saya berhenti di kelok 34 yang terkenal dengan gambar rumah bagojoangnya. Dan sungguh sayang sekali, pemandangan Danau Maninjau tidak cerah karena terhalang kabut. Tidak bening seperti di kalender-kalender atau foto-foto yang beredar di internet.

Setelah selesai dengan semua tujuan saya, si abang ojeknya baru mengantarkan saya ke Ambun Pagi, puncak atau awal dari kelok 44. Di Ambun Pagi ini, saya melihat Taman Embun Pagi (yang dulu sewaktu saya kecil terlihat sangat indah), sudah tidak indah lagi. Sepertinya areanya agak mengecil dari bayangan saya sewaktu kecil. Mungkin karena lahan taman itu sebagian dijadikan lahan hotel yang berdiri di sana kali ya.

Rumah HR Rasuna Said (nama jalan utama Jakarta di Kuningan) yang dijadikan mushala

Rumah HR Rasuna Said (nama jalan utama Jakarta di Kuningan) yang dijadikan mushala

Saya hendak menunggu travel tujuan Bukittinggi di pinggir jalan raya Ambun Pagi. Tapi si uda ojeknya bilang, akan mengantarkan saya ke pinggir jalan dekat kantor polisi. Ngga enak diliat cewek berdiri di pinggir jalan yang sepi, katanya. Okelah Uda… 🙂

Lumayan deh, bisa berputar-puatar lama dengan ojek, hampir 3 jam lamanya. Dan dengan ongkos ojek yang Rp. 50.000 selama tiga jam tersebut, bagi saya sangat sebandinglah daripada harus ganti-ganti ojek. Dan di atas travel tujuan Bukittingi yang saya naiki, saya ketiduran kira-kira 20 menit, hehe. Lumayanlah buat ngecas tenaga dikit buat muter-muter di Bukittinggi.

Di Bukittinggi, saya melanjutkan ngebolang ke Rumah Kelahiran Bung Hatta, salah seorang Bapak Proklamator Indonesia dan ke beberapa tempat lainnya… 🙂

Rumah Gadang Baanjuang di Sungai Batang

Rumah Gadang Baanjuang di Sungai Batang

Mesjid Raya Bayur, kampungnya si Alif Negeri 5 Menara alias kampus penulisnya Ahmad Fuadi.

Mesjid Raya Bayur, kampungnya si Alif Negeri 5 Menara alias kampung penulis buku Lima Menara,  Ahmad Fuadi.

Maninjau dari Kelok 44

Maninjau dari Kelok 44

Advertisements

25 thoughts on “Ngebolang ke Maninjau Sendirian Naik Ojek

    • Ngeri-ngeri sedap Bang Jampang… 🙂

      Masalahnya kebanyakan umumnya jalan di Padang emang berliku-liku tajam, di samping bukit di sebelahnya lagi jurang, jadinya mau ngga mau jadi terbiasa.

  1. Wiiih. Murah banget Mbak itu ongkos ojeknya. Dan bisa mendatangi situs-situs bersejarah bangsa ini dengan pemandangan spektakuler di perjalanannya. Ngiiriiiiiii. Hihihihi

    • Iya Daan…. untuk ukuran Jakarta itu muraah banget secara aku kan sering ngojek di Jakarta. Makanya aku fine-fine aja, hehehe…

      Tapi untuk ukuran di sana, rasanya aku seperti sudah berbuat baik karena bayar ojek segitu… 🙂

      Tau sendiri di jakarta jarak 1-2 km minimal 10 ribu. Dari Harmoni sampe ke Kelapa Gading aja dl ga ada yang mau di bawah 35 ribu.

  2. Waaaaaaaks 😀 seru mbak 😀 biar sendirian, tapi kan ditemenin kang ojek mbak 😀 bisa ke mana-mana juga tuh 😀 ada rumah kelahirannya Buya Hamka juga 😀 beraniii kamu mbak 😀 wanitaaa hebat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s