Menunggu Bom Waktu : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (part 12)

“Dasar gila, kamu ya?” sembur Cindy ketika kuceritakan kejadian tadi pagi pada Cindy dan Felia.

Kami saat ini ada di halaman belakang rumah Cindy, di bawah pohon tempat biasa kami berkumpul. Tapi tanpa kehadiran Tika yang sedang pergi ke Pekan Baru.

“Mana mungkin ia bisa menyimpan rahasia itu dan tidak mengatakan pada keluarganya bahwa kamu menelepon dia!” kata Cindy.

“Iya iya, aku tau, aku tau. Dan aku tau aku salah!” jawabku tak bertenaga. Seperti orang yang kebingungan.

Seharian ini aku uring-uringan mengingat apa yang lakukan tadi pagi. Makanya aku tidak marah atau tersinggung dengan reaksi atau omelan Cindy.

“Aku tau kamu tidak bisa menerima ini semua. Tapi, aku juga tidak bisa mengerti kamu bisa senekat ini? Harusnya kamu bisa berpikiran jernih!” sambung Cindy.

Aku hanya diam. Apa yang Cindy katakan semuanya benar.

“Cha, missal ya, kalau sebelumnya ia tidak menolak perjodohan ini, lantas kemudian tiba-tiba menolak setelah kamu telpon dia, apa keluarganya tidak akan curiga?” tanya Cindy tajam.

“Udah Cin,” sahut Felia mencoba melerai kami.

“Belum!” tukas Cindy tegas.

“Pasti keluarganya akan mempertanyakan terus apa alasannya kenapa ia tiba-tiba menolak! Dan dia mau tidak mau akan menceritakan juga masalah ini. Tidak mungkin ia tidak akan menceritakannya kepada keluarganya?” sambung Cindy agak emosi.

Aku hanya diam mendengar omongan Cindy. Felia juga.

Dan menurut Ciny lagi, siapa tahu saja sebenarnya Rudy tidak punya pacar. Tapi karena ego kelelakiannya terluka dan harga dirinya sebagai laki-laki terinjak-injak karena penolakanku yang seperti itu, maka Rudy sengaja mengaku bahwa ia sesungguhnya punya pacar, dan juga menyatakan bahwa ia sesungguhnya menolak perjodohan mereka.

“Ia mengatakan bahwa ia juga menolak perjodohan dan punya pacar hanya demi menutupi hatinya tersinggung dan terluka dengan cara kamu menolak dia. Siapa tahu aja kan?” lanjut Cindy.

“Iya, iya, aku mengerti. Tolong jangan bicara lagi. Aku sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi, Cin!” kataku lemah.

“Dan, sekarang aku harus bagaimana?” tanyaku.

“Aku juga tidak tahu! Tapi yang pastinya ini tidak akan semudah yang kamu bayangkan! Tapi yang pasti, jangan salahkan dia kalau dia harus bicara jujur!” sahut Cindy.

Aku beristighfar mendengar kalimat terakhir Cindy.

Kami bertiga terdiam sesaat. Cindy menoleh ke arah Felia.

“Kamu juga!” kata Cindy tiba-tiba ke arah Felia yang dari tadi hanya diam saja mendengar Cindy mengomeliku.

“Aku?” tanya Cindy menunjuk dirinya.

“Siapa lagi? Harusnya kamu bisa menghentikan Raisha melakukan tindakan bodoh ini, tapi malah membantunya!” ujar Cindy menyerang Felia.

“Cin, kalau aku tidak membantu pun Icha akan tetap mencari tahu nomor telepon si Rudy. Kan kamu dengar sendiri yang ia bilang!” jawab Felia membela diri.

“Setidaknya kamu…” balas Cindy yang langsung dipotong Felia.

“Cindy, kamu belum pernah kan dijodohin paksa seperti Raisha? Nggak kan?” tanya Felia memotong ucapan Cindy.

“Aku pernah! Kamu tau kan? Jadi aku tau sekali apa yang ia rasakan saat ini! Dan aku mengerti jalan yang ia pilih!” sahut Felia yang hendak dijawab langsung oleh Cindy.

“Tunggu jangan potong dulu ~ Jadi karena kamu belum pernah merasakan apa yang aku dan Raisha alami jadi kamu bisa bicara seperti ini! Oke?” sambung Felia tajam.

“Tapii…” Cindy hendak mendak menjawab tetapi aku langsung memotong kalimatnya.

“Please, tolong jangan bertengkar karena aku! Aku mohon, jangan bertengkar gara-gara aku!” kataku lemah. Tak berdaya.

“Kita sudahi pembicaraan kita hari ini sampai di siini!” aku menengahi mereka berdua yang sedang berdebat gara-gara ulahku.

“Dan…!” aku menggantung kalimatku.

“Dan…?” sahut Felia dan Cindy serempak.

“Kita tunggu saja bom waktu meledak ya!” ujarku putus asa.

****

Nasi sudah jadi bubur.

Layar perahu sudah dikembangkan, dan perahu sudah berlayar meninggalkan dermaga, tak bisa berbalik arah lagi. Sementara di sana, di laut lepas, badai bisa datang kapan saja. Badai itu tentu akan menghadang, mengguncang dan menghempas perahuku kapan saja. Sekarang aku cuma bisa menunggu nasibnya dengan pasrah.

Tidak saja Cindy yang ‘ngamuk dengan langkah yang aku ambil. Sherly dan Rieke juga sama. mereka menyesali langkah yang sudah aku ambil. Aku semakin merasa jalan yang kuambil adalah jalan yang salah meskipun bagiku itu hanyalah satu-satunya jalan yang harus aku tempuh. Tetapi, semua sudah terjadi dan aku tidak bisa lagi memperbaikinya. Aku hanya bisa menunggu apa yang bakal terjadi setelah ini. Setelah aku berada di jalan yang keliru ini.

Selama dua minggu lebih semenjak aku menelepon Rudy, aku tidak mendengar kabar apapun tentang kelanjutan perjodohan ini. Tapi melihat kedua orangtuaku sepertinya semuanya berjalan ‘fine-fine’ saja. Aku mengambil kesimpulan belum ada lagi pembicaraan lebih lanjut antara ibuku dengan tante Herti.

Tetapi, menunggu sesuatu itu memang tidak enak. Entah itu menunggu orang ataupun menungu kabar tentang sesuatu hal. Seperti yang aku alami saat ini : menunggu ketidakpastian. Aku benar-benar tidak nyaman dalam penantian ini. Apakah semuanya benar-benar berjalan baik atau ini hanyalah penantian bom waktu yang akan meledak.

Setiap hari, satiap saat aku menunggu semuanya terjadi. Entah apa dan bagaimana hasilnya, benar-benar membuatku dilanda kekhawatiran hebat setip harinya. Aku tidak pernah merasa setidaknyaman ini. Aku seperti orang linglung, orang bingung yang tidak mempunyai arah dan pegangan hidup selama dua minggu lebih.

Tidak saja pada siang hari aku seperti orang yang linglung, malam haripun aku mengalami susah tidur. Dan kalaupun aku tidur, aku tidaur tidak nyenyak. Aku tidur dibayang-banyangi mimpi suram yang tidak jelas maknanya. Sebagai akibatnya adalah aku tiba-tiba menjadi rakus makan.

Entah kenapa mulutku selalu jadi ingin makan dan makan, meskipun sebenarnya perutku sudah kenyang. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol keinginanku untuk makan. Setiap kali lewat meja makan, sepotong lauk langsung masuk ke dalam mulutku. Begitu juga setiap berkumpul dengan Sherly dan Rieke di rumah mereka. Ketika bersama Felia dan Cindy juga sama, mulutku tidak bisa tidak mengunyah.

Berbagai cara aku coba untuk menenangkan perasaanku mengisi waktu setelah melakukan pekerjaan di rumah. Membaca buku atau novel. Aku juga menonton film-film India yang menjadi favoritku, meskipun sebelumnya ku sudah pernah kutonton. Pilihan lainnya adalah main ke rumah Sherly dan kadang-kadang pergi ke studio radio tempat Cindy siaran.

“Raisha, kamu kenapa? Sakit? Mukamu pucat!” tanya Amira, seorang teman yang tidak sengaja ketemu di pasar.

“Haa? Masa?”

“Tuh, lingkaran matamu hitam!” sahut Amira lagi.

Amira benar, mukaku selalu terlihat pucat dan kusam. Beberapa orang yang yang tidak mengetahui apa yang terjadi semua perjodohan ini juga menyatakan hal sama. Mereka mempertanyakan apakah aku mempunyai masalah sampai wajahku tampak begitu keruhnya?

***

Dan pada akhirnya, apa yang kukhawatirkan tersebut menjadi kenyataan.

Bom waktu yang tadinya tidak kuketahui kapan akan meledak, akhirnya meledak juga. Menghancurkan dan menyakiti orang-orang yang mengenainya meski hanya terkena serpihannya saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s