Berjalan di Atas Cahaya

grazera_grazera-berjalan-di-atas-cahaya-by-Hanum-salsabiela-rais-buku-agama_full01

sumber : google

Judul : Berjalan di Atas Cahaya.
Penulis : Hanum Salsabila Rais, dkk.
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama.

Buku Berjalan di Atas Cahaya ini adalah kumpulan kisah yang ditulis oleh Hanum Salsabila Rais dan Tuti Amaliyah dan Wardatul Ula. Berisi kisah-kisah menarik tentang perjalanan hidup beberapa kaum muslim di negeri Eropa yang muslimnya minoritas. Ada juga tentang kisah mereka sendiri mereka sendiri selama tinggal di rantau orang.

Isi buku ini sebenarnya berawal dari catatan Hanum tentang proses produksi sebuah acara program Ramadhan di salah satu tivi swasta. Di mulai dari rencana awal program tersebut sampai proses pencarian muslim yang akan dijadikan  narasumber serta disyuting acara tersebut di Eropa.

Dalam program tersebut akan diceritakan tentang kehidupan pribadi beberapa kaum muslim di Eropa. Contohnya, Khoriyah alias Bunda Ikoy yang berasal dari Aceh. Beliau di sebuah desa bernama Ipsach, di Biel. Biel ini adalah kota di Swiss yang menjadi pusat pembuatan jam terbesar di dunia seperti Rolex, Omega, Swisswatch. Dan Bunda Ikoy bekerja di sana merakit jam tangan.

Luar biasa kaan? Itu adalah pabrik jam manual yang memerlukan ketelitian tingkat tinggi dan kedisiplinan tinggi. Dan salah satu orang Indonesia bekerja di sana. Perempuan lagi.

Yang bikin aku makin takjub adalah tempat desa-desa yang disambingi oleh Hanum dan tim produksi. Desa tempat tinggal Bunda Ivoy bersama suami contohnya. Desa tersebut digambarkan sebagai desa yang yang luar biasa tenang di Swiss.. Langsung nyeceeesss ‘liat’ penggambaran desa di Swiss yang ditulis Mba Hanum. Mupeng booo… *dasar manusia introvert yaakk🙂

Di Desa neerach lain lagi. Di sini orang berjual beli bermodalkan kepercayaan tanpa perlu adanya pertemuan antara penjual dan pembeli. Luar biasa. Seorang penjual bisa menjual dagangannya tanpa ditunggui dan si pembeli bisa membeli barang begitu saja tanpa perlu ada si penjual.

Penjual meninggalkan barang dagangannya tanpa kuatir dicuri orang. Penjual tidak ada, bagaimana transaksi mereka? Pembeli tinggal membayar apa yang ia beli dengan cara meletakkan uangnya di tempat yang disediakan penjual. Penjual menyediakan kaleng-kaleng yang berisi masing-masing pecahan nilai uang. Pembeli tinggal memasukan uang ke dalam kaleng yang di sediakan. Dan kalau ada kembalian pembeli tinggal ambil aja uang kembaliannya. Bener-bener hanya bermodalkan kepercayaan saja.

Dan, kalau kembalian tidak ada, tenang, pembeli tinggal bikin catatan notes yang disediakan oleh penjual, nanti si penjual akan mengantarkan uang kembaliannya ke rumah di pembeli. Sungguh luar biasa. Semoga suatu saat negara kita menjadi negara yang makmur yang yang membuat tidak ada lagi tindakan pencurian,perampokan atas nama kesulitan ekonomi dalam masyarakat kita. Amiiin.

Dan semoga saya bisa ke sana Ya allah, Amiin amin ya rabbal alamin…🙂

Juga ada kisah tentang muslimah rapper keturunan Turki yang cantik. Dan berjilbab. Nur Dann namanya. Sangat unik kan ya, rapper berjilbab di negara yang muslimnya sedikit banget. Bagi Nur Dann, ia bisa mengenalkan islam dengan caranya sendiri melalui rap kepada kaum muda Austria.

Sebenarnya buku ini ngga cuma berkisah tentang muslim di sana. Tapi juga bercerita tentang orang-orang istimewa yang ada dalam kehidupan Mba Hanum dan Mba Tuti Amaliyah. Contohnya tentang Mama Heidy yang meminjamkan apertemennya ditinggali Mba Hanum dan suaminya selama dua bulan tanpa dipungut biaya.

Juga tentang orang-orang yang sedang mendari ‘tuhan’ dalam hidupnya yang ditemui Hanum selama tinggal di Austria. Anna Altmann contohnya, wanita penghuni panti jompo yang dirawat hanum ingin berdoa ketika melihat Hanum shalat. Karena ketika Hanum ditanya tadi sedang apa, Hanum menjelaskan bahwa dia berdoa kepada tuhan, tanpa menjelaskan maksud sebenarnya adalah shalat.

Si ibu yang sudah lanjut usia ini rupanya tertarik dengan cara doa yang dilakukan Hanum. Ia juga ingin berdoa dan meminta Hanum mengajarkannya berdoa. Hanum hanya mengajarkan berdoa (bukan shalat ya) kepada tuhan dengan tulus hati dengan cara menengadahkan tangan ke atas, layaknya berdoa setelah shalat. Dan Anna Altmann melakukannya selama berminggu-minggu.

Ada juga tentang kisah Glory yang selalu berusaha mencari tuhan lewat meditasi. Ia bahkan berusaha mengajak Hanum untuk mencari tuhan melalui caranya. Dan yang paling menarik buatku adalah kisah tentang gajah terbang. Fenomena gajah terbang ini merupakan hal yang (kemungkinan) banyak kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari.

Buku ini lumayan bagus untuk dinikmati. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana kehidupan kaum muslim negara-negara Eropa sana.

34 thoughts on “Berjalan di Atas Cahaya

  1. soal kepercayaan. iya tuh frys ada dagang stroberi tapi gak dijagain cuma ada kotak uangnya aja. kepercayaan yang bikin orang yang punya niat jahat ju ga malu kali ya…

    salam
    /kayka

    • Enak ya Kay kalau di negara kita juga bisa kaya gitu… Kalau menurutku ya, salah satu faktor hal itu bisa terjadi adalah karena negara di eropa sudah makmur… mungkin kalau negara kita seluruh masyarakatnya sudah memunyai pendidikan yang bagus dan ekonomi yang makmur mungkin juga akan bisa seperti itu ya… amiin…

      • jagan salah firsty gak semua negara eropa lho makmur, ada negara miskinnya juga. yang bangkrut dan mau bangkrut juga ada.

        dari pengalaman saya sendiri, mentalitet orang sini firsty mereka tau mana yang milik mereka mana yang bukan. mereka gak mau mengambil barang yang bukan miliknya.

        salam
        /kayka

      • iya, benar… kaya Yunani udah mau bangkrut ya… Paris juga katanya banyak copet dan pengemis ya…

        tapi secara umum emang udah makmur kan ya. Plus, secara umum juga pendidikan juga udah bagus. dan desa yang diceritakan di atas desa yang ada di swiss dan austria…

      • disini juga banyak pengemis frys. kebanyakan datang dari eropa timur dan ada mafianya begitu. pengemis beneran juga ada. tapi seharusnya tidak terjadi kerena disini ada pertolongan sosialnya. cuma yaitu kebanyakan yang jadi terlunta-lunta karena uangnya habis untuk minuman keras atau

        salam
        /kayka

    • gajah terbang itu kaya gini, kita membenarkan semua kata orang tanpa menyelidiki apa itu benar atau ngga… bersikap seakan tau juga.

      Ada sesorang yang berkata : Lihat, ada gajah terbang… waah, besar sekali, luar biasa hebat.
      Trus, Karena kita malu mengakui gga ngeliat adanya gajah terbang (karenna takut dikira buta atau dibegoin), kita bersikap seakan-akan melihat juga ada gajah terbang, pake bumbu2 lagi…

      Misal, jangan temenan sama orang X (suku misalnya), mereka begini begitu… Kita tanpa punya teman orang X mengiyakan aja, malah ikut2an ngomong juga ke orang lain lagi tentang orang suku X…

  2. Wah keren sekali jual beli tanpa ditungguin. Kalo di Mekkah (katanya) waktu sholat datang dagangan ditinggalkan begitu saja tanpa khawatir digondol maling.

  3. baca reviewnya uni, sepertinya bukunya bagus😀
    jadi penasaran ama spoiler2 yg uni kasih
    sama nih uni, mupeng ama desa di swissnya😀 . moga kita bisa ke sana suatu hari nanti. aamiin🙂

  4. Review yang bagus sekali, menggugah orang untuk membaca bukunya :)). Nilai-nilai universal yang ada di buku ini membuat saya tertarik, terutama tentang kepercayaan dan integritas. Yang soal pasar kejujuran itu, saya yakin dilakukan di sana soalnya masyarakat di sana sudah dewasa banget dengan kejujuran dalam berbelanja. Kalau di sini, tanpa bermaksud mendiskreditkan ya, jauh panggang dari api, kantin kejujuran selalu merugi. Kalau dari yang kecil saja sudah seperti itu, bagaimana kita akan heran melihat di proyek besar di kaum elit sana banyak uang yang ditilep? Ah, masyarakat kita memang mesti lebih dewasa lagi ya, Mbak.

    • kalau menurutku, salah satu yang menyebabkan mereka bisa jujur juga adalah pendidikan yang emang sudah bagus bagi semua lapisan masyarakat dan hidup yang makmur… Kita negaranya kaya tapi masyarakatnya ngga makmur… sebagian keciiiiiiiiiil banget hidup sangat berkelimpahan… Bener2 kesenjangan ekonominya terlihat nyata…

      semoga kedepannya hidup masyarakat kita makin mkakmur yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s