Finally, Aku Menelepon Rudy : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part 11)

DSC02199

Jam tujuh aku pulang ke rumah dalam keadaan yang masih linglung. Bukan badanku, tapi pikiranku. Aku bertanya-tanya apakah sebaiknya tetap menelepon Rudy atau tidak? Hanya ada nenekku di rumah. Ia sedang mencari kesibukan, melipat kain kering yang teronggok di keranjang kain bersih yang hendak disetrika. Adik-adikku sudah berangkat ke sekolah dan ibuku pasti sedang ke pasar saat ini.

Aku benar-benar masih bingung. Mau menelepon Rudy atau tidak.

Aku segera ke kamar, melepas jilbab dan mengganti pakainku dengan pakaian rumah. Setelah itu aku melangkah ke teras belakang. Di sana sudah menumpuk pakaian kotor yang menunggu untuk dicuci. Segera saja kuambil baskom besar dan menuangi dengan air dan kemudian menuangi deterjen ke dalam air yang ada di baskom besar. Pakaian kotor tersebut kurendam dulu sebelum kucuci.

Kemudian aku mengambil sapu untuk menyapu rumah. Ketika sedang menyapu lantai yang berada di dekat meja telepon, pikiranku kembali terusik untuk menelepon Rudy. Aku melongok ke ruang tivi, nenekku masih asyik dengan kegiatannya melipat kain.

Aku segera ke kamar mengambil catatan kecil yang berisi nomor telepon Rudy yang ada di saku celanaku.

Aku harus melakukannya, aku harus menelponnya.

Dengan jantung yang berdegup kencang, aku segera menekan nomor telepon yang hendak kuhubungi. Jantungku berdetak lebih kencang ketika menunggu telepon yang sudah terambung, diangkat di seberang sana.

Ayo angkat segera, angkat telponnya plis, doaku dalam hati, takut aku berubah pkiran lagi.

“Assalamu alaikum!” ucap seseorang diseberang sana. Aku sedikit terlonjak karena kaget.

“Wa alaiku salam…!” jawab Raisha gugup.

Ya Allah ya tuhanku, tolong bantu aku supaya tidak gugup.

“Bisa…bisa bicara dengan Rudy?” tanyaku semakin gemetar.

“Ya, saya Rudy. Dari siapa ya?” oh, ternyata dia sendiri yang menjawab.

“Aku…aku Raisha!” jawabku gugup.

“Oh..ya, Raisha apa kabar?” tanya Rudy ramah.

“Alhamdulillah, baik! Ka kamu?” tanyaku gelagapan.

“Aku juga, alhamdulilah baik!” jawabnya. Ya Allah, aku benar-benar gugup ya Allah. Aku menutup lobang speaker untuk berbicara supaya bisa menarik napas sebentar.

“Rud, Maaf, semalam temanku menelepon kamu…” kataku memulai pembicaraan.

“Oh iya, nggak apa-apa kok!” potong Rudy.

“Sebenarnya…, semalam aku juga pengen bicara….tapi, karena suatu hal nggak jadi!” ucapku sudah mulai agak tenang.

Apakah aku terlalu to the point? Mungkin. Tapi bagiku saat ini mencoba untuk berbasa-basi pun rasanya sangat sulit.

“Oh…! Kalau boleh tau, mau bicara apa, ya?” tanya Rudy tenang. Tapi sikapnya yang tenang itu yang membuatku jadi gugup dan kembali ragu. Ya Allah, apakah yang kulakukan ini benar?

“Soal rencana tantemu dengan orangtuaku…!” jawabku dengan jantung yang berdegup sangat kencang. Entah bagaimana dengan Rudy sendiri.

“Hmm… rencana orangtua kita…?” tanyanya menggantung.

“I…iya” jawabku.

Hening sesaat.

Aku menutup speaker lagi supaya tarikan napasku yang berat tidak terdengar ke seberang sana. Kebimbangan untuk berterus tersng menyeruak di hatiku.

“Raisha, kalau boleh tau, ke…kenapa dengan rencana orangtua kita?” tanyanya pelan dan hati-hati.

“Aku…aku…!” aku benar-benar tidak tahu harus bicara apa.

“Ya…?” sahut Rudy pelan.

Apa yang dipikirkan Rudy sekarang? Apakah ia sudah bisa menebak arah pembicaraanku? Aku mencoba menutup nuraniku rapat-rapat, yang tadi sempat terbuka, supaya kebimbangan menjauhi diriku.

“Rud, maaf ya, sebenarnya aku bertengkar hebat dengan orangtuaku tentang perjodohon ini, bahkan sampai setengah jam sebelum kedatangan kamu ke rumah bersama tante Herti…, aku bertengkar dengan ibuku!” kataku dengan suara bergetar.

Maka mengalirlah cerita dari mulutku bahwa aku belum mau menikah atau dijodohkan dengan siapapun dalam satu tahun ini. Dan juga tentang orangtuaku tidak mau mengerti sama sekali dengan keinginanku. Tidak semua cerita yang aku ungkapkan. Hanya garis-garis besarnya saja, bahwa aku belum ingin dijodohkan saat ini, dalam satu tahun ini saja.

“Itu yang ingin kusampaikan semalam Rud!” kataku ketika mengakhiri cerita.

Hening. Tidak ada komentar Rudy.

“Rud, aku minta maaf karena telah menyakiti hati kamu. Sungguh, aku juga ingin melihat orangtuaku bahagia melihatku segera menikah, tapi bukan begini caranya, memaksakan kehendak tanpa mempertimbangkan perasaanku sama sekali!” sambungku lancar.

Kemudian aku menangkap desahan berat Rudy di seberang sana.

“Oke Sha, aku ngerti kok!” sahut Rudy. Suaranya berat, seperti tertahan. Ya tuhan, entah apa yang ia pikirkan atau ia rasakan saat ini.

“Maaf ya, Rud!” kataku dengan suara bergetar.

“Nggak apa-apa kok, Sha. Aku mengerti!” jawab Rudi juga dengan suara berat.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak punya pilihan lagi. Karena orangtuaku sama sekali tidak peduli dengan permintaanku. Bagi orangtuaku, pernikahanku denganmu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Aku tidak bisa bilang tidak pada orang tuaku. Tapi di sisi lain aku tidak mau menjalani pernikahan yang dipaksakan seperti ini” sambungku.

Aku tiba-tiba bisa berbicara dengan sangat lancar!

Aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku bisa melakukan ini. Meskipun begitu terselip rasa bersaalah dan perasaan tidak enak pada Rudy di hatiku yang paling dalam. Suara hela napasku terdengar berat. Aku yakin ia mendengarnya dengan jelas.

“Aku mengerti.” kata Rudy untuk yang kesekian kalinya. Ya tuhan, mungkin aku sudah menyakitinya dengan kejujuranku yang tanpa basa-basi ini.

“Dan aku minta maaf dengan keterusteranganku!” sahutku. Rasa bersalah makin memuncak di hatiku. Dan bahkan mungkin saja harga dirinya jadi terinjak-injak oleh apa yang baru saja kuungkapkan? Entahlah.

“Sebetulnya, aku juga sebetulnya kurang suka dengan pola perjodohan yang lazim terjadi di kampung kita!” katanya sambil menarik napas.

“Tapi mau gimana lagi? Toh, orangtua kan hanya bermaksud baik terhadap anak-anaknya kan? Orangtua manapun di dunia ini ingin melakukan yang terbaik buat anaknya! Begitu juga orangtua di kampung kita, meski caranya kadang-kadang tidak sesuai dengan harapan anak-anaknya” sambungnya dengan kalimat-kalimat yang menampar wajahku.

Jantungku serasa seperti ditikam mendengar jawaban Rudi.

Suara Rudy terdengar begitu bijak menyikapi perjodohan yang dilakukan orangtuanya pada kami. Sementara aku? Aku tiba-tiba terlihat seperti seorang anak yang sangat egois di mata Rudy, yang tidak melihat permasalahan secara jernih dari sisi orang tuanya.

“Ya, aku mengerti, Rud!” sahutku yang tertekan dengan jawaban yang Rudy berikan.

 “Dan benar-benar aku minta maaf! Aku belum mau menikah saat ini. Egois memang, tapi hanya inilah satu-satunya cara yang bisa aku lakukan!” sambungku.

Pada saat yang sama aku diserang perasaan sangat bersalah, sangat bersalah pada orangtuaku, pada Rudy, dan juga tante Herti dan keluarganya.

“Jadi, kamu ingin aku yang kemudian menyatakan penolakan terhadap perjodohan ini pada keluargaku?” tanya Rudy hati-hati. Ia seakan tau tujuanku yang sebenarnya.

“Bisa tolong aku dengan cara seperti itu, Rud?” jawabku terpatah-patah. Syukurlah dia mengerti maksudku.

“Insya Allah, akan kucoba!” jawabnya dengan suara tercekat. Ampuni aku ya Allah.

“Makasih ya, Rud. Dan tolong, jangan ada yang sampai tahu aku menelepon kamu, ya. Bisakan Rud?” pintaku berharap. Ya Allah, ampuni keegoisanku.

“Insya Allah!” jawab Rudy.

Hening. Masing-masing tidak tahu harus membicarakan apalagi.

“Rud, kalau boleh tahu, apa kamu punya pacar?” tanyaku tiba-tiba. Entah dari mana ide gila itu mampir ke otakku.

Rudy tidak langsung menjawab. Terdengar tarikan napasnya.

“Sebenarnya ada, tapi kami sudah putus. Orangtua dan keluargaku tidak setuju!” jawab Rudy.

“Kamu mencintainya?” pertanyaan tolol, rutukku dalam hati.

“Tentu saja aku mencintainya kan?” ia menjawab dengan sebuah pertanyaan.

“Oh iya, maaf kalau begitu!” sahutku merasa ttidak enak.

“Oh, tidak apa-apa, memang kenapa?” tanya Rudy lagi.

“Kalau kamu mencintainya dan dia juga mencintai kamu, kenapa kamu tidak mempertahankannya dan berjuang untuk cinta kalian?” tanyaku lagi.

Ya tuhan, entah dari mana kalimat sok tahu dan sok bijaksana itu mampir ke otakku?

“Kamu tau sendiri adat di kampung kita!” jawab Rudy tenang. Atau mungkin terdengar tenang.

“Dia bukan orang kampung kita ya?” tanyaku menebak asal pacarnya.

“Iya, bukan orang kampung kita!” jawab Rudy lemah. Mungkin ia tiba-tiba teringat pada pacarnya tersebut sekarang, makanya suaranya menjadi lemah begitu.

“Aku yakin, tentunya pacar kamu akan sangat bahagia jika kamu berjuang untuk cinta kalian!” kataku sok bijaksana.

“Tapi semua sudah berlalu, karena aku yakin orangtuaku juga mempunyai rencana yang baik untukku!” jawab Rudy.

Kata-katanya kembali menusuk jantungku.

Beberapa saat kemudian, kami mengakhiri pembicaraan.

Aku merutuki diriku yang bertanya apakah ia punya pacar. Apalagi aku dengan sikapku sok bijaksana menasehati Rudy supaya mempertahankan gadisnya di depan orangtua dan keluarga besarnya.

                                                   *****

Di kamar, tubuhku terentang di atas kasur sambil memandang langit-langit kamar. Pikiranku kacau. Berbagai pertanyaan uncul di otakku, mempertanyakan apakah yang kulakukan tadi benar atau salah.

Dan, aku secara halus meminta dia untuk melakukan penolakan perjodohan ini pada keluarganya? Ya tuhan, betapa beraninya diriku! Aku merutuki diri sendiri.

Apakah mungkin ia bisa melakukannya? Tentu keluarga akan mempertanyakan alasanya kenapa. Kalau dulu ia mau menerima perjodohannya denganku, dan kemudian tiba-tiba menolak perjodohan ini, keluarganya tidak mungkin tidak memaksanya mengungkapkan apa alasannya. Tidak mungkin selamanya ia bisa menutupi alasan yang sebenarnya : bahwa aku menelponnya dan mengatakan aku menolak perjodohan ini.

Ya tuhan… Dimana akal sehatku?

Aku bodoh… aku bodoh! Tolol! Benar-benar tolol! Aku menepuk-nepuk keningku sendiri dengan telapak tanganku menyadari kekeliruanku.

Tanganku masih menempel di keningku dengan hepalaku masih menggeleng-geleng ketika sebuah pertanyaan mengagetkanku.

“Kenapa Nak? Pusing?” tanya nenekku. Aku tidak menyadari entah sejak kapan nenekku masuk ke kamarku.

“Oh, Nenek! Ah…. Tidak kok Nek!” kataku sambil bangkit untuk duduk, dan berusaha santai supaya nenekku tidak curiga dengan sikapku yang seperti orang linglung.

bagian 1, bagian 2, bagian 3, bagian 4, bagian 5, bagian 6, bagian 7, bagian 8, bagian 9, bagian 10,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s