Rumah Gadang Bundo Kanduang

DSC02415

Rumah Gadang Bundo Kanduang ini adalah rumah gadang asal Bundo Kanduang, tokoh wanita dalam sejarah Minangkabau. Bundo Kanduang dulunya adalah seorang ratu yang memimpin kerajaan Pagaruruang.

Lokasi Rumah Gadang Bundo Kanduang ini ada di daerah Pagaryuang, sekitar 2 km – 3 km sebelum Istana Pagaruyuang, dari arah pusat kota Batusangka. Tepat di depan Rumah Gadang Bundo Kanduang ini terdapat situs Batu Basurek Raja Adityawarman, raja Kerajaan Pagaruyuang.

Awalnya aku ngga sengaja menemukan Rumah Gadang Bundo Kanduang ini. Gegaranya adalah pas berhenti ngga sengaja liat situs batu basurek Adityawarman. Pas lagi berhenti liat batu basurek, eh di depannya (seberang jalan) ada rumah gadang yang auranya cerah banget. Pasti pengen banget dong motoin itu rumah.

gambarnya ternyata goyaaang... hikss

gambarnya ternyata goyaaang… hikss

Ketika hendak mau memoto rumah gadang lebih dekat baru keliatan ada papan nama yang menyatakan rumah gadang tersebut adalah asal Rumah Gadang Bundo Kanduang. Di halaman depan rumah gadang tersebut banyak terdapat batu-batu tua (batu megalitik?). Bentuk batunya ada yang pipih, dan ada yang lonjong. Batu-batu tersebut mirip dengan batu-batu basurek Adityawarman yang ada di seberang rumah gadang.

Aku diizinkan masuk ke Rumah Gadang Bundo Kanduang tersebut oleh pemilik rumah. Bagian dalam rumah gadang berupa ruang kosong yang tidak disekat alias tidak ada kamarnya. Dinding bagian dalam rumah gadang ditutupi kain warna kuning. Oya, warna kuning ini adalah warna lambang luhak tanah data, atau luhak nan tuo.

Luhak tanah data adalah luhak atau wilayah adat yang berada dalam lingkup tanah data atau seputaran Batusangka. Luhak tanah data ini simbol warnanya adalah warna kuning. Dua luhak lainnya adalah luhak agam, dengan warna lambangnya merah. Dan satu lagi luhak limo puluh koto, dengan simbol warna hitam.

Maka jadilah warna bendera Pagaruyuang atau Minangkabau hitam, merah dan kuning. Warna yang melambangkan Tiga Luhak di daerah Minangkabau.

Oke, balik ke Rumah Gadang Bundo Kanduang tadi. Di dalam rumah gadang terdapat beberapa benda pusaka yang terlihat sudah sangat tua sekali. Seperti tombak, gerabah, dan juga ada alqur’an yang sudah sangat tua. Ada juga tombak yang ujungnya mirip kujang, senjata khas Jawa Barat.

Menurut keterangan ibu pemilik rumah. Rumah gadang inilah rumah asal Bundo Kanduang, dan juga Raja Alam Minangkabau. Istana Pagaruyuang adalah istana raja yang dibangun belakangan. Dan istana Linduang Bulan adalah istana tempat tinggal pribadi para puti (putri bangsawan) dan Tuan Gadih keturunan Raja Pagaruyuang.

Batu basurek prasasti Raja Adityawarman berada di seberang Rumah Gadang Bundo Kanduang (dulunya adalah bagian dari halaman, sebelum ada jalan raya). Dan tidak heran juga di halaman rumah gadang juga banyak terdapat batu-batu megalitik, baru-batu yang juga dijadikan sebagai prasasti oleh Adityawarman.

Dan kira-kira setengah kilometer (atau mungkin kurang) dari Rumah Gadang Bundo Kanduang arah ke Istana Pagaruyuang terdapat makam-makam Raja Pagaruyuang. Kompleks pemakaman ini disebut dengan Ustano Pagaruyuang. (ntar bikin postingan sendiri).

Hayhaaay…kemana kabarnya diriku selama ini sebagai anak nagari Ranah Bundo? Anak nagari ternyata ngga paham dengan sejarah budaya daerah sendiri. Eh, malah lebih paham budaya orang lain. *Maluuuuuuu banget*

25 thoughts on “Rumah Gadang Bundo Kanduang

  1. Wah, tertarik nih saya sama situs ini, Mbak! Tapi pertama tanya dulu Mbak, luhak lima puluh koto itu apa letaknya paling utara? Terus luhak agam, apa letaknya di selatan? Luhak tanah data, apa letaknya sebelah barat? Satu lagi, apa kepala rusa yang ada di tiang rumah itu juga sudah ada sejak zaman Adityawarman?
    Situs batu basurek itu sebenarnya apa, Mbak? Request postingan tersendiri Mbak, soalnya saya penasaran :hihi. Semacam dolmen dan menhir sih kalau yang saya lihat dari sini, tapi sepintas itu juga tampak seperti kursi batu.
    Kadang tempat wisata yang ditemukan secara tidak sengaja itu justru yang cerita tersimpannya paling dahsyat lho, Mbak, betulan!

  2. yg deket aja ga tau, apalagi sayah yg jauuh *ditimpuk*

    mbaa.. kayanya wisata sejarah, hari gini udah makin berkurang ya peminatnya. dulu waktu SD, kayanya aku sering banget diajak ke tempat2 bersejarah di sekitaran surabaya. skrg kayanya udah gak ada yg kaya gitu😦

    • iyaaa, wisata sejarah di sekolah kayanya harus ditingkatin lagi deh, biar pada tau sejarah…

      Karena kalau cuma ngapalin pelajaran yang di buka nempelnya bentar doang, hehe

  3. Pingback: Prasasti Adityawarman Pagaruyuang Batusangka | Firsty Chrysant

  4. Pingback: Ustano Pagaruyuang ~ Kompleks Makam Raja Alam Pagaruyuang | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s