Desa Sade : Desa Tradisional Suku Sasak, Lombok

Sade, kampung tradisional suku Sasak
Sade, kampung tradisional suku Sasak

Masih tersisa ceceran catatan halan-halan ke Lombok… 😛

Hari ke dua berada di Lombok, Kamis, 19 Februari 2015. Pagi itu kami menjemput dua orang tamu Mba Lela ke bandara Internasional Lombok, Praya. Rencananya mereka akan tiba jam 11 an. Tapi ternyata udah jam 12 waktu Lombok, mereka masih belum berangkat dari Jakarta. OMG….???

Dan ternyata banyak penerbangan Lion Air yang belum berangkat sesiang itu. Kata tamu Mba Lela lewat BBM, penumpang yang hendak terbang jam 5 pagi pun masih di dalam ruang tunggu Bandara Seokarta Hatta. Huuuff… Bener-bener deh Lion Air identik dengan De Ley-on. Menyebalkan!!!!

Dan ternyata berita terbaru kemudian adalah ribuan penumpang Lion tertelantar di Bandara. Bagooooosssss…!!!!!

Akhirannya, kami memutuskan jalan dulu ke tempat wisata yang berada tidak jauh dari bandara. Tujuan pertama adalah Desa Sade, desa perkampungan asli suku Sasak Lombok yang berada tidak jauh dari bandara Lombok. Dari gerbang bandara, berbelok ke arah kiri jalan. Karena kalau ke kanan kita akan menuju kota Mataram.

Perjalanan menuju Desa Sade kira-kira 15 – 20 menit. Desa yang berada di Rembitan, Pujut, Lombok Tengah ini berada di sisi kiri jalan raya yang menuju Pantai Kuta, Lombok. Sangat mudah menemukan desa ini, bahkan jika kita pergi ke sana walau untuk pertama kalinya.

Gerbang Desa Sade berada di sisi kiri jalan raya. Sedangkan plang atau papan penunjuk desa Sade berada di sisi kanan jalan raya, atau di seberang gerbang utama. Gerbang Desa Sade berupa rumah yang mirip lumbung dengan satu jendela. Atapnya dari jerami yang mrmbumbung seperti gunung.

This slideshow requires JavaScript.

Desa Sade ini cukup ramai pengunjung. Di dalam area Desa Sade terlihat wisatawan yang asyik memotret perumahan desa Sade beserta aktifitas penduduknya. Ada yang sedang menenun tenunan motif rangrang, motif khas sasak. Ada yang membuat gelang-gelang dari benang berwarna. Dan ada juga yang berjualan minuman serta kain tenun khas sasak.

Aku sempat melihat ke dalam agak dekat dengan pintu, pengen tau seperti apa bagian dalam rumah perkampungan Sade ini. Rumah-rumah di sini, mempunyai pintu yang kecil yang rendah dan beratap juga rendah. Karena jendelanya sepertinya kurang, jadi suasana di dalam rumah terlihat tidak terlalu terang.

Di dalamnya terdapat ruang yang lepas berlantai tembok yang tingginya kira-kira 50 – 70 cm dari tanah yang sejajar dengan pintu. Pintu dapurnya (dari beberapa yang aku lihat) berbeda langsung dari luar rumah. Jadi (sepertinya) kalau hendak ke dapur harus ke luar rumah dulu.

Dulu lantai rumah khas desa sade ini terbuat dari tanah liat yang dicampur kotoran sapi atau kerbau. Penggunaan lantai dari tanah liat yang bercampur kotoran sapi atau kerbau ini ternyata membuat lantai tetap sejuk. Selain itu juga merupakan caa alami mengusir nyamukk. Woww… Kearifan lokal yang sangat cerdas yaa…

Kami tidak lama berada di Desa Sade ini. Ngga sampai satu jam. Tapi cukuplah buat poto-piti aja, bukti otentik kalau udah main ke sana haha… Kan katanya hoak kalau ngga ada fotonya, xixixi…

Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Tanjung Aan dan Pantai Seger. Baru ntar sore balik lagi ke bandara BIL menjemput dua tamu yang datang jam 5 lewat waktu setempat. Sayang bangeett ternyata kami ngga bisa melihat sunset sore itu karena udah ngga keburu lagi ke pantai….

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s