Menabuh Gendang Perang : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part 10)

reflection
reflection : lukisan korea

“Gila, kamu yakin?” tanya Felia untuk yang kesekian kalinya dengan pertanyaan yang sama. Aku mengangguk sambil tetap melahap bakso kunikmati. Dengan agak memaksa aku menelan bakso yang ada di dalam mulutku untuk menjawab pertanyaan Felia.

“Aku hanya harus mencoba, dan kamu harus membantuku!” kataku meyakinkan Felia.

“Cindy dan Tika sudah tau?”

“Kamu yang pertama! Rencana ini aku tidak ingin yang lain tahu. Cukup kamu saja! Jadi hanya kamu yang bisa membantuku. Oke?” jawabku penuh keyakinan.

“Kenapa aku? Dan kenapa yang lain tidak usah tau?” tanya Felia penasaran.

“Setidaknya kamu lebih bisa memahami apa yang aku rasakan!” jawabku santai.

“Karena mama dan kakak-kakakku sudah berkali-kali memaksa menjodohkanku?” tebak Felia. Dan tebakannya tepat sekali.

“Um…!” jawabku tanpa membuka mulut karena terisi bakso.

“Aku tidak mengira kamu bisa nekat begini! Benar-benar ide gila” ucap Felia untuk kesekian kalinya mengatakan aku gila.

“Yah, begitulah! Aku sudah gila. Dan sekarang pertanyaannya adalah, kamu mau tidak bantu aku?” jawabku skeptis.

“Kalau aku tidak mau? Minta bantuan yang lain?” tanya Felia serius.

“Nope! Kalau kamu tidak mau, aku akan coba sendiri! Gitu aja!” sambungku sebelum memasukkan bakso ke dalam mulutku.

“Benar-benar stress kamu ya!”

“Mau bantu atau tidak?” tanyaku tanpa menghiraukan kata-kata Felia. Felia menari napas dan menghempaskannya.

“Mau gimana lagi!” jawab Felia agak enggan, tapi bibirnya tersenyum.

“Yes” kataku sambil mengepalkan tanganku.

“Thank you friend!” kataku penuh semangat. Mataku berbinar. Felia juga.

“Dan bakso ini biar aku yang bayar ya!” uajrku cengengesan.

“Sogokan nih?” sahut Felia.

“Nope! Aku bilang traktir setelah kita deal! Jadi bukan sogokan, iya kan?” jawabku berdiplomasi.

Aku menatap Felia dengan senyuman ‘terima kasih.’ Dan tiba-tiba aku menangkap perasaan sedih yang menyergap hati Felia.

“Kenapa” tanyaku pelan.

“Aneh ya?” tanya Felia seakan pada dirinya sendiri. Ia tersenyum kecut. Menerawang.

“Iya, aneh!” jawabku dengan ekspresi yang sama.

“Apanya yang iya?” Felia balas bertanya.

Aku menatap manik-manik mata Felia. Fita pun melakukan hal sama. Pikiran kami terkoneksi satu sama lainnya.

“Ada seorang ibu yang tidak mengizikan anak gadisnya menikah. Padahal si anak gadis sudah sangat siap menikah secara batin walaupun secara lahir belum. Dan laki-lakinya pun sudah mempunyai beritikat baik menemui orangtua si gadis untuk meminangnya.” kataku pelan tapi dalam.

Felia hanya mengangguk sambil menhembuskan napasnya.

“Si Ibu menolak si laki-laki hanya karena ia bukan seorang PNS seperti yang diharapkan orangtua dan saudara-saudara si gadis! Laki-laki itu sangat hina dimata keluarga si gadis!” sambungku.

Mata Felia kemudian beralih manatap menatap pohon palem yang berjejer di sepanjang pagar halaman bank, di seberang pondok bakso.

“Seorang ibu yang benar-benar egois dan matre!” ujar Felia  dingin. Mata Felia kemudian memerah dan berkaca-kaca. Sebentar lagi, bendungan itu akan jebol.

Saya hanya diam dan mengangguk mendengar Felia mengomentari mamanya yang mempunyai pandangan yang berseberangan dengan mamaku tentang masalah pernikahan anak gadis mereka. Mama Felia tidak setuju hubungan Fita dengan Bang Marta meskipun Bang Marta sudah beberapa kali datang meminang secara pribadi pada keluarga Felia.

Keluarga Fita menolak Bang Marta hanya karena ia seorang guru komputer di sebuah tempat kursus, disamping bekerja sebagai lay outer di sebuah percetakan di kota kami. Sementara mamaku menginginkanku harus menikah dulu, walaupun laki-laki yang akan menjadi suamiku tersebut masih sibuk mencari pekerjaan karena belum mempunyai pekerjaan.

Mamaku berpendapat, pekerjaan bisa dicari bersama setelah menikah nanti kalau sebelum menikah Rudy masih belum mendapat pekerjaan. Betapa orangtuaku sangat menggampangkan masalah pekerjaan ini.

Perbedaan pandangan yang benar-benar aneh, tapi nyata! Dan bendungan di mata Felia akhirnya jebol juga!

*****

Seperti yang sudah aku sepakati dengan Felia, kami akan melakukan rencana kami keesokan harinya, setelah jam makan siang. Aku sengaja sengaja ke wartel yang ada di kantor Telkom. Satu-satunya wartel yang tersisa di zaman sekarang, zaman dimana setiap orang sudah memiliki ponsel.

Jantungku sebenarnya berdebar melakukan ini. Tapi mau bagaimana lagi. Ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan. Pertemuanku dengan Rudy sudah berlalu tiga minggu. Dan selama itu pula tidak ada kabar berita apapun tentang masalah ini.

Hanya saja, berdasarkan perjodohan-perjodohan orang kampungku yang sudah pernah aku ketahui, perjodohan seperti ini hampir semuanya berakhir dengan pernikahan. Kalaupun satu dua yang akhirnya batal, itu menjadi berita yang gosip hangat yang layak diperbincangan.

Dan karena sudah berlalu tiga minggu, maka kekhawatiranku adalah perjodohan ini akan berlanjut ke pernikahan yang diinginkan orangtuaku. Jadi satu-satunya cara untk menghentikan keinginan orangtuaku adalah aku sendiri yang harus menghentikannya : Dengan caraku sendiri.

Aku menelpon informasi Telkom untuk menngetahui nomor telepon toko tante Herti. Dan kemudian meminta tolong pada Felia untuk menelepon toko tersebut untuk menanyakan nomor telepon atau hape Rudy. Felia berpura-pura sebagai teman Rudy yang kehilangan nomor Rudy.

Untuk itulah kami kemudian di sini, di wartel ini, menelpon ke toko tante Herti. Dan sekarang, nomor hape Rudy dan nomor telpon rumah tempat tinggal Rudy sudah ada di tanganku.

“Entah kegilaan apa yang aku lakukan untuk menolongmu dan menyakiti mamamu!” kata Felia.

Mungkin dia merasa tidak enak pada mamaku karena sudah mengenal keluargaku sejak kami masih duduk di SMP.

“Itu kan pilihan, aku atau mamaku!” jawabku tersenyum pada Felia.

“Pilihan yang menyudutkanku tau!” kara Felia masih ngomel.

“Makasih ya teman!” kata dengan senyum sumringah.

Oke, permainan sekarang kita mulai ya Mama.

Malam ini, aku di rumah di rumah Sherly. Rencanaku untuk menelepon Rudi sudah mantap, walaupun aku merasa sangat gugup saat memikirkan semuanya. Ada perasaan yang menggelora yang kurasakan. Entah perasaan apa itu, aku juga tak mengerti. Tapi memenuhi dadaku. Yang jelas, aku sudah membulatkan tekadnya untuk menelepon Rudy.

Sherly sebenarnya tidak menyukai ideku, tapi ia mengizikanku menelepon dari rumahnya dengan satu syarat. Bahwa ia dulu yang menelepon Rudy supaya aku tidak langsung ‘to the point’ pada inti masalahnya. Oke, aku menyanggupi syarat yang diajukan Sherly.

Aku sengaja menggunakan telepon rumah Sherly untuk menelepon Rudy ke nomor telepon rumah tantenya. Alasannya supaya nomorku atau nomor telepon rumah Sherly tidak tertinggal seandainya aku menelpon ke nomor hape Rudy.

Ah, untung saja Rieke sedang berada di Padang saat ini. Ia sedang ujian tengah semester di kampusnya.

Jam sembilan lewat beberapa menit, Sherly menelepon Rudy. Aku duduk di sebelah Sherly dengan jantung yang berdegup kencang. Gugup. Sementara pikiranku berkeliaran dengan ribuan tanya pada diriku sendiri, apakah benar yang aku lakukan saat ini? Apakah aku tidak melakukan hal yang salah?

Aku menggeleng-gelengkan kepalanya, membuang semua perasaan bersalah yang ada pada dirin. Aku memperhatikan Sherly. Sepertinya nomor yang dituju sudah tersambung, meskipun yang menjawab bukanlah Rudy. Setelah beberapa saat, Sherly memperkenalkan dirinya pada Rudy sebagai temanku.

“Aduh, maaf nih kalau Sherly mengganggu kesibukan Rudy!” kata Sherly.

Aku berdiri dengan  perasaan tidak menentu, dan melangkah ke dekat jendela. Entah kenapa, aku tidak mau mendengar Sherly berbicara dengan Rudy. Di satu sisi hatiku, aku merasa seharusnya aku berbicara langsung dengan Rudy tanpa harus ada kata-kata pembuka dulu dari Sherly. Tapi di satu sisi lagi, aku juga tetap masih bertanya-tanya apakah yang sedang kulakukan sekarang ini adalah tindakan yang benar?

Lagi-lagi aku menggeleng-gelengkan kepala. Aku kebingungan dengan semua yang sudah kulakukan. Aku melangkah ke kamar mandi Sherly. Mencuci muka untuk menyegarkan otakku yang terasa panas. Hatinya kembali beranya-tanya apakah langkah yang sedang kuambil ini benar?

Aku sadar konsekuensi apa yang mungkin akan kuterima. Meneruskan perjodohan ini sementara sedikitpun aku tidak ikhlas dengan pemaksaan-pemaksaan orangtuaku, sungguh berat buatku. Aku bukan boneka orangtuaku yang bisa diperlakukan sekehendak hati orangtuaku tanpa memikirkan perasaanku. Dan jika aku memutuskan menolak secara langsung pada Rudy pastinya membuat malu orangtuaku.

Kadang-kadang aku merasa tidak adil dengan hukum pandangan manusia di kampungku. Pihak lelaki berhak memutuskan untuk menerima atau menolak perjodohan yang dilakukan keluarga mereka. Sementara, jika pihak wanita yang menolak meneruskan perjodohan akan menjadi gunjingan yang hangat bagi masyarakat di kampungku, nagari asal orangtuaku, dan asal orangtua Rudy.

Sungguh tidak adil bukan?

Mukaku terasa sedikit segar setelah disiram air beberapa kali. Dan ketika aku keluar kamar mandi, terdengar suara Sherly sedang menutup pembicaraan dengan Rudy.

“Makasih ya Rud, maaf ya mengganggu. Assalamu alaikum!” ucap Sherly.

Langkahku terhenti menatap Sherly yang sedang melihat ke arahku.

“Sorry, Cha!” kata Sherly. Mendengar permintaan maaf Cindy, tubuhku langsung lemes, tak berdaya.

“Kenapa Shel?” tanyaku penasaran.

“Aku nggak sanggup! Dari suaranya terdengar orangnya baik, ramah! Dan nggak adil aja dia menerima akibat dari perseteruan kamu dengan mama-papa!” jawab Sherly sambil melempar pandangannya ke arah lain.

“Oh my God, aku tau dia orang yang baik! Dan aku juga tau, aku harusnya bicara langsung dengannya, biar semuanya langsung jelas!” kataku tiba-tiba panik. Sherly hanya diam menatapku. Mungkin pikirannya juga penuh dengan berbagai pertanyaan.

“Entah apa yang ia pikirkan tentangku karena kamu telpon dia tadi?” tanyaku yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Sherly.

Aku menghela napas. Sebagian diriku menyesali kenapa tidak langsung aku saja yang menelpon Rudy, kenapa harus Sherly yang duluan? Kalau aku yang menelpon mungkin sudah kuungkapkan apa yang seharusnya aku ungkapkan. Tapi sekarang mau bagaimana lagi? Aku masih belum tau apa yang harus kulakukan.

Malamnya aku tidak bisa tidur pulas. Meski mataku terpejam, tapi pikiranku melayang entah kemana. Gambar demi gambar bersiliweran hadir dalam mimpiku yang tidak karuan. Mimpiku lompat dari satu adegan ke adegan lain. Tak jelas, apa artinya. Buram.

Aku tersentak terbangun jam setengah lima,terbangun segar tanpa sedikitpun tersisa kantuk dimataku. Maka segera saja aku bangkit dan melangkah ke kamar mandi, berwudhu dan kemudian melakukan shalat sunah tahajud, yang diiukuti shalat sunah witir. Dan sambil menunggu masuknya waktu shalat shubuh aku mengaji hanya dengan penerangan dari lampu kamar mandi.

Sungguh ironis sekali, tiba-tiba saja aku mengerjakan ibadah-ibadah sunah di luar ibadah wajib yang biasanya jarang kuilakukan. Tiba-tiba mendekat padaNya pada saat mempunyai masalah? Tidak apa-apa juga kan? Itu lebih baik bukan? Aku mecoba melakukan pembenaran.

Usai shalat shubuh pun, mataku tidak bisa dipejamkan lagi. Aku berdiri lagi dan menyalakan lampu kamar lalu mengambil satu novel yang menumpuk di lemari buku Sherly. Sherly menggeliat karena silau oleh cahaya lampu, lalu menutup wajahnya dengan bantal sebentar, sebelum akhirnya bangkit dan bergerak ke kamar mandi untuk berwudhu.

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s