Pilu : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part 9)

“Kesal…kesal…kesal! Aku kesal!” ucapku pada Sherly dan Rieke sambil memukul-mukul kasurnya yang empuk.

Sherly dan Rieke, sahabatku yang kakak beradik itu hanya tertawa miris melihatku yang sedang emosi. Aku benar-benar tidak bisa menahan emosi yang meluap-luap di dada dan kepalaku ini. Aku luar biasa uring-uringan. Aku tidak bisa mengalihkan pikiranku dari rasa kesalku pada orantuaku dan dengan cara-cara yang mereka gunakan.

Tadi, setelah mengantar si Rudy dan Tante Herti, Ama kembali ke atas aku keluar kamar dan duduk di tempatku tadi duduk ketika bersama Rudy. Ibuku membereskan gelas-gelas bekas minuman Tante Herti dan keponakannya serta dan makanan ringan yang terhidang di atas meja. Aku sengaja tidak mengangkat gelas-gelas dan kue-kue tersebut ke belakang.

Tapi rupanya ibuku juga tidak peduli dengan ketidakpedulianku. Ia dengan senang hati membereskan semuanya. Wajahnya tampak sumringah dan bahagia. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kepanikannya ketika memohon padaku untuk mau bertemu si Rudy. Ama bersikap tidak peduli dengan keberatanku. Ia juga tidak peduli ekspresi marah yang masih menempel di wajahku. Bahkan  ia bersikap seakan-seakan aku tidak ada di depannya.

“Ama puas?” tanyaku dingin.

Onde, Cha. Tolonglah jangan meributkan ini terus!” jawab Ama agak kesal. Tapi rona bahagia di wajahnya tetap tidak pudar.

Aku memutuskan pergi ke rumah Sherly dan Rike. Dua saudara yang menjadi sahabatku karena kami dulunya tinggal bertetangga selama enam belas tahun. Sebelum keluarga Sherly dan Rieke pindah ke rumah mereka yang sekarang, dulu mereka juga tinggal di ruko. Ruko mereka dua ruko disebelah ruko orangtuaku.

Orangtuaku dan orangtua Sherly sudah sangat akrab. Bagiku orangtua Sherly sudah seperti orangtua kedua bagiku setelah orangtuaku. Begitu juga orangtuaku bagi sherly. Kami tidak hanya bertengga tetapi sudah seperti keluarga sendiri.  Adik laki-laki-laki Sherly, Wira juga teman dekat adik laki-lakiku Afif.

Setahun yang lalu mereka pindah ke rumah baru mereka. Sebuah rumah besar yang mewah yang berjarak satu kilo dari tempat ruko kami. Rumah mereka mempunyai enam kamar meskipun mereka hanya tiga bersaudara dengan Wira.

“Udah, sabar dulu!” kata Sherly berusaha menenangkanku.

“Apanya yang disabarkan lagi? Kamu tidak lihat ekspresi Amaku sih! Puas sekali mukanya dan tidak peduli dengan perasaanku!” jawabku emosi.

“Lagipula Ni Cha, kalau Ni Cha marah-marah begini, semuanya akan bisa terselesaikan? Tidak bukan? Sebaiknya menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin” sahut Rieke dengan suaranya yang tenang.

“Kepala dingin!” jawabku skeptis.

“Yap!” jawab Rieke dengan santai.

“Oke, kamu boleh siram kepalaku yang bersuhu seribu derajat ini dengan sedrum air es!” jawabku menghempaskan badanku ke kasur.

“Dan nanti dari kepalamu keluar asap putih yang tebal ya?” sambung Sherly.

“Yap, Anda benar sekali!” jawabku dengan wajah yang sangat ekspresif.

Rieke dan Sherly tertawa. Aku tidak bisa tertawa dengan ‘hiburan’ mereka. Tapi setidaknya, tiba-tiba saja sebagian beban berat yang menimpa kelapaku terasa jauh berkurang. Ah, untung juga aku ke sini tadi. Setidaknya aku bisa meluapkan kemarahanku yang tersumbat di pundakku kalau aku hanya berdiam diri di rumah.

Betapa beruntung aku memiliki teman-teman seperti mereka berdua, Cindy, Felia dan Tika serta Vera. Oya, Vera atau Ve adalah salah satu teman masa kecilku juga. Ia lebih muda setahun setengah dariku dan Sherly tapi lebih tua setahun setahun setengah juga dari Rieke. Kami berempat menjadi empat sekawan sejak tujuh belas tahun yang lalu.

Dalam lingkaran pertemananku, Sherly, Rieke dan Ve adalah sahabat dari kecil karena kami tinggal berdekatan dan sama-sama aktif dalam kegiatan mesjid di tempat tinggal kami. Sedangkan Cindy, Felia dan Tika adalah sahabat-sahabatku di SMP, dan tetap akrab sampai sekarang. Cindy, Felia dan Tikapun kemudian cukup akrab dengan Sherly, Rieke.

“Hei, kamu bilang dia lumayan rancak kan?” tanya Sherly tiba-tiba.

“Iya, trus?”

“Kalau dia lumayan rancak kenapa kamu tidak mencoba menerima saja?” jawab Sherly.

“Uni!” sahut Rieke menegur Sherly, kakaknya.

“Sher, kenapa kamu tiba-tiba  bicara seperti itu? Kamu kan tau ini bukan masalah dia rancak atau tidak! Kamu tau ini masalah aku tidak suka dengan pemaksaan orangtuaku!” jawabku dengan nada kecewa.

“Oke-oke, maaf!” ujar Sherly buru-buru.

“Aku sangat kecewa jika kamu ikut berpikiran seperti itu!” kataku.

“Iya, aku minta maaf!” ujar Sherly untu kedua kalinya.

“Dan kalau berbicara soal rancak atau tidak rancak, kalian sangat tau aku bukanlah gadis yang cantik, bahkan untuk ukuran kecantikan yang standar. Jadi kenapa aku harus melihat laki-laki lain berdasarkan fisiknya semata? Aku sangat tau diri, Sher!” sambungku, yang membuat sherly merasa tidak enak hati mendengarnya.

“Oke Cha, aku salah, aku minta maaf! Bukan maksudku bicara seperti itu, kamu tau itu kan?” sahut Sherly.

“Aku bukan hanya tidak cantik, aku jelek dan tidak bisa bergaul. Pacarpun tidak pernah punya karena tidak ada yang mau denganku. Sekarang aku dengan seenaknya menolak lamaran orang karena melihat secara pisik?” tanyaku dengan nada sarkatis pada Sherly.

“Aku minta maaf’ kamu tau aku tidak bermaksud apa-apa dengan pertanyaanku tadi!” bales sherly dengan nada bersalah.

“Oke, kita lupakan yang tadi!” ucapku lemah.

Beberapa saat kemudian kami terdiam. Pikiranku nelangsa dan melayang ke mana-mana.

“Kenapa?” tanya Rieke keteika mendengar aku menghela napas.

“Tau tidak apa yang aku rasakan saat ini?”

“Apa?” tanya Rieke dan Sherly bersamaan.

“Aku merasa limbung, semua ini seperti mimpi. Setiap saat aku merasa ini hanyalah mimpi, dan aku mencubit lenganku. Tapi berkali-kali pula aku tahu bahwa ini bukan mimpi. Aku sama sekali tidak pernah membayangan ini akan terjadi pada diriku.” ucapku lirih. Aku putus asa

Tanpa sadar air mataku mengalir ke telingaku.

Serta merta Sherly ikut-ikutan merebahkan tubuhnya disampingku dan merangkulku. Rieke juga, ia mengikuti apa yang dilakukan kakaknya. Mereka, sahabat-sahabatku merangkulku, mengalirkan sedikit ketenangan pada diriku.

“Yang sabar ya!” kata Sherly pelan di telinga kiriku.

One thought on “Pilu : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part 9)

  1. Pingback: Finally, Aku Menelepon Rudy : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part 11) | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s