Gili Trawangan Lombok

20150220_112905

Konon katanya, bagi yang jalan-jalan ke Lombok, jangan ngaku ke Lombok kalau ngga ke Gili Trawangan. Karena saat ini, Gili Trawangan dan saudaranya Gili Meno dan dan Gili Air adalah ikon pariwisata Pulau Lombok. Pulau ini menjadi primadona periwisata Pulau Lombok seperti halnya pantai Kuta Pulau Bali.

Gili Trawangan ini adalah salah satu Gili dari 3 gili yang terkenal di Lombok, Yakni : Gili Terawangan, Gili Air dan Gili Meno. Gili, adalah sebutan untuk pulau bagi masyarakat Pulau Lombok dan sekitarnya. Dan gili yang sangat terkenal bagi masyarakat luar adalah ketiga Gili yang disebutkan di atas. Ketiga Gili tersebut letaknya berdekatan.

Kami berangkat ke pelabuhan Bangsal, pelabuhan penyeberangan yang akan ke Gili Terawangan, melalui pantai Senggigi. Dari pantai Senggigi terus ikuti jalan raya di sepanjang pantai yang nantinya kita akan melewati yang namanya Bukit Malimbu. Dari Bukit Malimbu ini kita bisa menyaksikan keindahan laut Pulau Lombok. Dari kejauhan, di tengah laut terlihat Gili Trawangan dam sodara-sodaranya, Gili Meno dan Gili Air.

Tiba di pelabuhan penyeberangan sekitar 15 menit kemudian. Di pelabuhan, sudah banyak wisatawan yang sama-sama hendak ke Gili Trawangan. Pelabuhan penyeberangan ini ada satu dermaga. Tapi kapal-kapal yang akan diberangkatkan ke gili ini tidak ditambatkan di dermaga.

20150220_105143

Semua kapal ini hanya ditambatkan dengan diikat dengan seutas tambang pada kayu pancang yang ada di pinggir pantai. Jadi ketika kita naik kapal, kita harus masuk dulu ke dalam air berapa langkah, baru kemudian kita naik ke kapal.

Penumpang kapal yang ke gili Trawangan tidak tidak hanya wisatawan. Para pedagang makanan dan sayuran juga banyak berangkat dengan kapal yang kami tumpangi.

Cuaca sangat cerah. Tapi karena kapalnya kecil, ombak laut membuat kapal motor ini berguncang dan berayun selama dalam perjalanan. Jadi ketika ada ombak yang cukup besar, air laut sampai membasahi sisi dalam kapal. Dan untungnya aku berada di sisi kanan kapal yang ombaknya tidak masuk menciprat melalui sisi ini… 😛

Ada penumpang yang bajunya basah kecipratan air laut. Tapi yang jelas sih yaaa… Suasana di kapal menyenangkan banget walaupun banyak pedagang sayuran di sana, hehehe.

Kami tiba di gili trawangan sekitar 25 – 30 menit kemudian. Di sini bisa dibilang tidak ada pelabuhan. Tempat parkir dan dan turun naik penumpang bisa di mana saja. Kapal ditambatkan dengan cara diikat dengan seuutas tali tambang pada satu tiang pancang. Sama seperti di pelabuhan keberangkatan tadi, ketika turun dari kapal kita harus melompat dulu ke dalam air laut.

DSC03949

Gili Trawangan sangat ramai pengunjung bersileweran di sepanjangan jalan pulau ini. Baik pengunjung mancanegara maupun pengunjung dalam negeri. Kapal-kapal yang datang ngga hanya datang dati pulau Lombok, tapi banyak juga kapal yang merapat langsung dari Bali. Suasana pulau kecil ini turistik banget.

Banyak kafe-kafe berdiri di sepanjang pantai yang berpasir putih ini. Juga banyak penginapan dan toko-toko peralatan menyelaman serta penyewaan snorkling di sepanjang jalan yang kami lewat. Tak ketinggalan tempat-tempat pelatihan penyelaman yang disediakan penginapan.

Jujur aja, bagi gue, pemandangan Gili ini bagus, indah dan suasananya juga asyik. Tapi walaupun suasananya asyik, pulau ini terlalu ramai… Tipe gue yang lebih menyukai tempat yang sepi agak kurang cocok di sini, hehehe. Model pantai Selong Belanak aku suka, hehehe. Ntar kalo ke Lombok lagi, gili trawangan ga masuk pilihan lagi.

Di sepanjang pantai, banyak bule-bule yang sedang bersantai di bawah pohon cemara pantai. Ada yang duduk di kursi malas yang disedialam sambil membaca. Ada yang tidur-tiduran. Kalau aku sih cuma foto-foto doang sebentat trus juga tiduran sambil nyander di sofa.

Dan aku tertidur di sofa kira-kira selama 15-25 menit.

This slideshow requires JavaScript.

Waaaawww…. Luar biasa hebat aku ituuuh, mengingat aku bukan tipe orang yang bisa tidur kalau bukan di kasurku sendiri. Baik di kos ataupun di rumah di kampung sana. Ditambah lagi dalam suasana yang ngga tenang looh… Sangat brisik oleh musik.

Transportasi yang digunakan di sini adalah dokar alias andong alias bendi. Berhubung waktu kecil aku sudah puas naik dokar ini, aku sama sekali tidak berniat menaikinya, hehehe. Jadi aku tidak tau berapa biaya naik dokar ini yaa…hehe…

Kami balik ke ‘daratan’ utama lombok sekitar jam setengah 4. Kapal motor yang kami tumpangi aga lebih besar dari yang tadi ke arah Gili Trawangan. Ada bangku yang berderet di tengah kapal. Tapi aku teteup milih bangku yang ada di pinggir.

Pas balik ini, ombaknya cukup besar. Kapal terayun kencang mengikuti ‘alunan’ ombak. Air laut menciprat ke jendela kaca kapal. Kalau kapal yang kami naiki sepwrti kapal kami berangkat tadi, aku jamin semua penumpang bakal basah kecipratan air laut.

Tapi keren deh sensansinya kalau menurut aku yaaa. Apa lagi cipratan air di jendela kaca kayanya cakeeep banget.

Ombak yang kencang menghempas kapal ini membuat penumpang ada yang banyak yang teriak karena kapal sering oleng tingkat parah. Bahkan ada juga yang muntah karena pusing, hehehe. Nyampe di daratan utama lombok, tak lupa kami berpoto piti dulu di atas geladak kapal, hehehe…

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

42 comments

  1. Hwee, itu ombaknya lumayan besar, apalagi mendung, syukurlah kalau sampainya tidak kenapa-napa.
    Ah masa jangan ngaku ke Lombok kalau belum ke Gili? Saya yang asli sana saja belum pernah ke sana :haha. Agak kurang suka sih sebetulnya, soalnya di sana sudah overdeveloped, sudah bebas banget kehidupannya, apalagi kalau malam, padahal saya sukanya yang alami dan sepi (alasan doang ini mah :haha, tapi betulan juga sih).
    Cidomo, ah sudah lama saya tidak naik itu. Kapan-kapan naik deh, di dekat rumah saya ada jalur cidomo :)).
    Eh ada bayi, lucu banget :)).

  2. enak memang angin laut makanya bisa ketiduran gitu 🙂

    deg-degan sendiri deh klo inget tinggi ombaknya pas balik. nyesel balik dengan kapal terakhir. serem lho apalagi waktu itu gak ada jaket pengaman atau pelampung gitu. udah baca-baca ayat kursi aja sepanjang perjalanan.

    btw biat mendung fotonya bagus-bagus…

    salam
    /kayka

  3. Biasanya kalau jalan2 gitu, kita kurang tidur, karena bangun pagi demi menuju tempat wisata lebih awal dan supaya bisa lebih panjang waktunya ke tempat wisata lainnya, trus kembali ke hostel pasti sudah larut malam, alhasil kalau kita lagi di perjalanan pastilah bisa tidur hehehe. Kalau aku sih dimana aja bisa tidur, udah berasa ngantuk yaa pasti pelor deh wakakakaka

    • bener syif… akuu semalamnya tidur udah malam… jam 1 an… makanya pas disanderin di kursi males langsung ketiduran… 🙂

      enak dong ya kalau bisa pelor kaya gitu… gue susyeeeh banget… 😛

  4. Baca judulnya kenapa yang terlintas pertama kali malah tokoh Karang dan Rossi di novel Sumsel Bersama Rossi nya Tere Liye ya? # gagal fokus:-) mudah2an berkesempatan ke sana. Amini…

  5. Aku terakhir kali ke Gili Trawangan udah lama banget, thn 1999 atau th 2000 ya… Sekarang bayarnya berapa kalau nyebrang naik perahu itu?

  6. Tiga Gili itu sudah pemes sekali. Rame kalo sama dengan di Bali, bagi saya kurang berkesan. Saya lebih suka yang masih belum terlalu rame. Pengen nyobain nyebrang, sensasi ombaknya itu yang nagih, hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s