Pertemuan Itu : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part 8)

DSC03989

Di ruang atamu rumahku, Ama tampak tertawa bahagia menerima dua orang tamu istimewanya. Tante Herti dan sang keponakan, Rudy, pria yang akan dijodohan denganku. Dengan senang hati Ama menyiapkan segalanya. Makanan kecil dan minuman yang disediakan, semuanya mamanya yang menghidangkannya. Dan Aku tidak berniat membantu sedikitpun.

Entah apa kata kedua tamu ibuku dengan ketidakpedulianku tidak membantu ibuku. Apapun pendapat mereka aku tidak peduli. Toh, sudah nyata sekali ibunya menyuruhnya duduk saja menemani tante Herti dan Rudy. Dan yang membuaku tidak habis pikir adalah wajah sumringah ibuku menerima kedua tamunya. Tidak kelihatan sedikitpun betapi dia tadi sangat panik dengan penolakanku untuk bertemu Rudy.

Dan aku juga tidak habis pikir Ama bisa begitu bahagia tanpa sedikitpun memedulikan perasaanku. Jika itu benar-benar kebahagian yang sesungguhnya terpancar dari wajahnya, sungguh Amaku adalah seorang ibu yang sangat egois yang hanya mementingkan kebahagian sendiri, tidak peduli anaknya terluka dengan kebahagiaanya.

Tapi kalau keceriaan wajah hanyalah sandiwara saja mengingat kejadian setengah jam yang lalu, Ama layak mendapat piala Citra atas perannya yang begitu sempurna. Ia berhasil menutupi kegundahan dan kepanikannya satengah jam yang lalu. Hebat dan luar biasa Amaku.

Sekilas aku melihat ke arah Rudy. Ada sesuatu yang menggelitik di hatiku. Bahwa, dari pancaran sorot mata Rudy, aku sangat yakin bahwa Rudy adalah laki-laki yang baik, ramah dan santun. Dari segi fisik pun dia lumayan rancak dengan sorot matanya yang lembut tersebut.

Seandainya saja sedari awal pertemuan atau perjodohanku dengan Rudy aku terima tanpa ada unsur pemaksaan dari orantuaku, mungkin aku akan bisa menyukai Rudy. Dan mungkin karena kemarahan sudah menguasai hatiku, aku tidak lagi bisa lagi melihat hal-hal yang positif yang ada di hadapanku.

Rasanya sangat sulit bagiku untuk tetap tersenyum pada saat hatiku memendam kesal yang tak terkira. Untuk berpura-pura merasa nyaman dan enjoy saja susahya minta ampun, apalagi mencoba tampil sebagai tuan rumah yang pintar meladeni tamu yang tidak aku inginkan.

Tapi aku harus tetap tersenyum, meski hanya senyum pemanis bibir saja. Ah, percuma dong, dulu di sekolah aku ikut ekstrakurikuler teater tidak bisa berpura-pura. Maka jadilah aku tetap berpura-pura dengan senyum termanis di wajahku untuk menutupi kekesalanku yang tak terbendung.

Setelah berbicara basa-basi sebentar, mamaku pamit sebentar ke belakang, ke ruang tivi. Aku tahu, permainan segera dimulai. Sebentar lagi mamaku pasti memanggil tante Herti ke belakang, dan membiarkan diriku hanya berdua dengan Rudy.

Ah, itu cerita usang dari zaman ke zaman.

Itu adalah tradisi para orangtua pada saat menjodohkan anak-anak, keponakan atau siapapun yang dicomblanginnya. Ah, lagu lama! Itu sudahmenjadi  rahasia umum di kampungku!

“Ni Herti, bisa ke sini sebentar tidak? Ada yang mau saya perlihatkan!” beberapa saat kemudian suara mamaku terdengar memanggil tante Herti

Nah, benarkan? Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum. Itu adalah cerita usang. Trik lama.

Maka tinggallah aku berdua dengan Rudy. Hening! Kalau tadi ada tante Herti yang bertanya basa-basi padaku, dan mamaku yang bertanya basa-basi pada Rudy, sekarang hanya tinggal kami berdua di ruangan ini.

Apakah aku gugup sekarang?

Tidak, aku sama sekali tidak gugup!

Dan apakah jantungku berdebar kencang?

Itu juga tidak. Juga tidak. Tak ada sedikitpun rasa gugup di hatiku. Entahlah dengan Rudy. Tapi aku tidak mau tau apa yang ia rasakan saat ini. Sudah mati rasakah aku sekarang? Entahlah, aku juga tidak mengetahuinya.

Aku tidak merasakan apa yang dirasakan oleh beberapa temanku ketika bertemu dengan pria yang dijodohkan dengannya.

Lusi, salah satu teman gengku  ketika waktu kuliah bercerita, ketika pertama kali bertemu dengan Uda Dino calon suaminya, jantungnya berdetak dengan kencang tak karuan. Tangannya basah karena karingat dingin yang mendera dirinya. Dan juga hatinya berdesir hebat ketika matanya bersirobok pandang dengan mata Uda Dino.

“Jantungku serasa mau copot dan berhenti berdetak!” cerita Lusy dengan wajah yang berbinar.

Senyumnya mengembang sementara matanya menerawang mengingat sang pujaan hati. Ketika itulah dia mempunyai keyakinan untuk menerima Uda Dino sebagai calon suaminya.

Dan sungguh, aku tidak merasakan perasaan seperti yang dialami Lusi. Tapi sebagai tuan rumah aku merasa tidak sopan juga membiarkan tamu diam tak berbicara. Mau tak mau kucoba membuka pembicaraan diantara kami. Hanya percakapan biasa, yang untungnya menjadi jalan bagi Rudy untuk membuka pertanyaan ataupun percakapan lainnya.

Maka lunaslah hutangku sebagai tuan rumah, karena sekarang tugasku hanya hanyalah menjawab pertanyaan-pertanyaan Rudy. Sesekali ia juga mencoba bertanya pada Rudy ketika keheningan mulai menyergap lagi diantara kami.

Komunikasi yang terjadi diantara kami adalah : kuliah di jurusan apa, wisudanya kapan dan kegiatan-kegita apa saja yang diikuti di kampus. Serta pekerjaan yang aku lakuakn di Jakarta selama tujuh bulan ini. Dia juga cukup antusias bertanya tentang pekerjaanku yang pernah menjadi penyiar radio di stasiun radio di kotaku, selama hampir satu setengah tahun sebelum aku memutuskan ke Jakarta tujuh bulan yang lalu.

Dan pertanyaanku tentang dia hanyalah dia kuliah di jurusan apa, dan aku tidak bertanya apapun tentang dirinya, dan kenapa ia terlambat wisuda dua tahun setalah aku wisuda, walau kami satu angkatan.

Hanya itu!

Lima belas menit yang kami lewati bersama terasa sangat panjang. Rasanya sudah berjam-jam aku duduk menemani Rudy dengan tetap berusaha ‘memelihara’ senyum di wajahku tetap menempel dan tidak luntur. Itu benar-benar  membutuhkan perjuangan yang luar biasa bagiku.

Itu artinya dua piala Citra untuk pemeran wanita terbaik berhak juga diberikan padaku selain untuk ibuku. Aku sungguh-sungguh hebat berakting kali ini supaya terlihat riang dan bahagia bertemu kedua tamu ibuku.

Aku merasa sangat lega ketika Ama dan tante Herti datang dan bergabung lagi dengan kami. Wajah mereka sungguh sumringah. Setelah berbasa-basi lagi sebentar, tante Herti mengucapkan sesuatu yang sudah kutunggu-tunggu.

“Ya sudah, kami nggak bisa berlama-lama, Ta,” kata tante Herti pada mamaku.

“Lho, kok buru-buru?” jawab mama. Ah, lagi-lagi basa-basi kering.

“Rudy kan harus berangkat ke Jakarta sekarang,” jawab tante Herti sambil berdiri.

“Tante dan Rudy balik dulu ya, Sha!” sambung tante Herti padaku.

“Oh, iya tante!” jawabku sambil tersenyum.

“Raisha, aku pamit dulu, ya!” kata Rudy tersenyum kikuk.

“Oh ya, hati-hati ya!” sahutku, lagi-lagi dengan tersenyum.

“Assalamu alaikum,” keduanya mengucapkan salam serempak.

“Wa alaikum salam,” jawabku dengan muka yang tersenyum manis.

Aku tidak berniat mengantarkan mereka ke bawah, biar mama yang saja mengantarkan mereka sampai ke bawah. Begitu mereka membalikkan badan mereka, maka akupun melakukan hal yang sama, berbalik menuju kamarku.

Maka, berakhirlah drama yang melelahkan jiwaku. Aku menghirup udara kebebasan yang tadi membekapku di depan Tante Herti dan si Rudy. Di kamar aku segera melemparkan tubuhku ke kasur. Aku membenamkan wajahku ke bantal dan kembali berteriak meluapkan kekesalanku.

One thought on “Pertemuan Itu : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part 8)

  1. Pingback: Finally, Aku Menelepon Rudy : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part 11) | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s