Danau Singkarak dan Kenangan Masa Kecil

Danau Singkarak sore hari

Danau Singkarak sore hari

Danau Singkarak…. 🙂 Bagi warga sekitar Danau Singkarak, danau ini disebut dengan Pasia. Dan agiku, Danau Singkarak atau pasia ini sangat spesial. Aku dan teman-teman masa kecilku dan danau Singkarak mempunyai ikatan emosional yang sangat kuat. Banyak kenangan masa kecil yang tercipta di sekitar danau ini.

Dulu, ketika kecil, Danau Singkarak sepertinya hanyalah danau biasa. Tidak ada yang istimewa. Mungkin karena tumbuh dan besar di sekitar situ ya. Tapii… pas ke sini-sininya, pas liat postingan orang yang jalan-jalan ke Sumatera Barat, bilang danau Singkarak dan Danau maninjau, Danau Kembar indah, baru mikir, eh danau Singkarak indah ya? Cakep juga yaaa… hehehe.

Seperti yang aku bilang di atas, aku dan teman-teman masa kecilku mempunyai ikatan emosional yang kuat dengan danau ini. Duluuu, sepulang sekolah sewaktu SD kelas 5 dan kelas 6, aku dan teman-temanku sering makan-makan di pinggir danau yang dipinggirnya adalah sawah-sawah. Abis itu kita mandi-mandi alias berenang sampe sore.

Biasanya, setiap makan bareng di danau, kami langsung pulang ambil makanan. Aku dan temanku yang rumahnya dekatan ntar jemput satu teman. Trus, kami bertiga pergi ke rumah teman yang lainnya. Baru kemudian bareng-bareng jalan ke pinggir danau melawati pematangan sawah.

Kami makan kadang-kadang di pondok yang ada di pinggir danau. Kadang-kadang di atau batu di pinggir danau, atau ngedeprok di bebatuan kecil. Kalau ngga duduk ngelantung di dahan pohon yang ada di pinggir danau, hehehe.

Makan di pinggir danau plus di pinggir sawah yang mengijau atau menguning itu nikmaaaaaaattt banget. Nikmat tiada terkira. Udara segar yang berhembus menemani kita makan, sungguh bikin selera makan jadi tinggi. Suara burung yang berkicau menimpali celotehan kami bikin hati jadi damai.

Padahal makanan yang di makan hanyalah makanan sederhana aja. Nasi dengan terong balado mudo, telor balado aja, jengkol cabe merah, atau hanya kentang dan samba lado uok aja. Plus ditambahi sayur uok juga. Samba lado uok dan sayua uok ini maksudnya, cabe dan sayuran, tomat yang ditarok di atas nasi yang sudah ditanak. Baru deh ntar cabenya digiling. Mak nyossss rasanya.

Abis makan-makan, biasanya kita mandi di pasia. Mandinya pake baju lengkap. Ngga ada yang ngga pake pakaian lengkap. Bahkan mandi make pakaian kaos dalam juga ngga. Bukan hal yang aneh sih ya. Karena itu bagian dari ‘tau malu.’ Emang sudah dididik seperti itu sih jadi udah terbiasa.

Pernah ya, satu kali aku dan teman-temanku mandi-mandi sampai 4 jam lamanya. Pernah juga kalau lagi liburan, mandi-mandi sampai 5 jam. Pulang-pulang dari pasia, mata meraaaah, kulit itam legam (gue aja udah item eh jadi makin item legam, hahaha).

 

This slideshow requires JavaScript.

Pernah juga ya, waktu liburan, kami ke pasia sekitar jam 11. Baru pulang hampir jam 5, jadi kami mandi-mandi hampir 6 jam lamanya. Beberapa hari kemudian aku sakit. Demam. Badanku panas tinggi karena abis mandi berpanas-panasan di pasia.

Kapok? Ngga tuh. Dimarahin para orangtua kami iya. Tetap aja setiap ada kesempatan kami main dan mandi-mandi di Pasia Singkarak. Apalagi kalau saat itu lagi musim pensi. Pasti deh sering makan-makan di pasia.

Pensi ini adalah jenis kerang danau yang besarnya sebesar kuku ibu jari orang dewasa. Begitu datang musim pensi, kami dengan senang hati ‘main’ di danau singkarak. Main, mandi sekaligus nyari pensi, hehehe.

Cara ngambil pensi adalah kita mengeruk pasir di dasar danau yang ada di pinggir danau. Sambil duduk-duduk di dasar tangan mengeruk pasir. Abis itu kumpulin di ember plastik. Lombaan sama teman siapa yang paling banyak dapet pensi.

Kadang ngambil pensi agak ke tengah sedikit sambil berdiri. Mengeruk tanahnya agak menyelam dikit. Atau paling nggak, kepala hampir terbenam dikit, yang penting tangan masih bisa menjangkau pasir danau, hehehe.

Satu hal lagi yang aku ingat saat mandi-mandi adalah, melihat kereta api yang melintas di pinggir Danau Singkarak. Batu bara diangkut dari Sawahlunto ke Padang, melewati Solok, Danau Singkarak, Padang Panjang, Lembah Anai. truuuusss…. kemudian tiba di Semen Padang, Indarung, Padang.

Kayanya seneeeeng aja ngeliat kereta api yang warnaya item, yang ngangkut batu bara melintas di pinggir danau. Begitu, kereta lewat, kita teriak, “kereta apiii…. kereta apiiii…” hahaha… norak kan yaaa….

Kereta api bau bara ini disebut Mak Itam, alias si Itam. Sekarang sudah ngga ada lagi Mak Itam. Adanya kereta api wisata seminggu sekali dari Sawahlunto ke Danau Singkarak. Tapi, aku belum pernah nyoba naik kereta wisata Sawah Lunto Danau Singkarak ini… Pengen tapi belum jadi-jadi juga. Oya, warnanya tak lagi itam, tetapi kuning… 🙂

Post lainnya  : Danau Singkarak, ikan bilih, makanan khas singkarak.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

35 thoughts on “Danau Singkarak dan Kenangan Masa Kecil

  1. Danau yang cantik sekali. Kenangan bermain di sana betul-betul berharga dan tak akan terlupa. Entah, tawa masa kecil itu tawa yang paling lepas dan bahagia. Bahkan membaca tulisan ini pun bisa membuat saya senyam-senyum sendiri :hehe.

  2. urang awak ternyata ya firsty.

    saya pernah lho dibawain pensi, gile enak bener dimakan pake nasi ngebul-ngebul.

    ngomong-ngomong soal kereta api sampe skrg saya susah ngerubah cuma bilang kereta mesti tetep pake api juga. suka diketawain lho krn kan kereta listrik.

    salam
    /kayka

  3. Hehehe masa-masa kecil itu yah.. Dulu aku juga sering maen di sungai dekat rumah.. Tapi sekarang udah ga pernah lagi ngeliat anak2 maen di sungai.. Liat ponakanku tiap harinya habis waktu buat les dan lainnya…dan kebanyakan anak jaman sekarang emg gitu, waktu buat mainnya sedikit.. Apalagi maen di alam terbuka macam ini…

  4. mbak…. aq setiap pulkam pasti main ke danau ini. berjam2. gak pernah bosen 🙂 walopun sekarang danaunya gak se asri waktu aq masih kecil dulu.

  5. Pingback: Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, Sungai Batang Maninjau. | Firsty Chrysant

  6. Pingback: Liburan Lebaran | Firsty Chrysant

  7. Pingback: Arisan Menulis : 15 Pertanyaan Yang Harus Dijawab | Firsty Chrysant

  8. Pingback: Sahabat dan Lingkaran Persahabatanku dari Masa ke Masa | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s