Pertemuan Itu : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part. 7)

image : google

image : google

Siang itu, jam sebelas, aku sedang membaca di kamar sambil bersandaran pada bantal di atas kasur besar. Semua tugas rumah semuanya sudah kukerjakan, jadi aku bebas melakukan kegiatan apapun yang aku inginkan. Dan membaca adalah kegiatan yang paling kusukai.

Mataku bergerak ke arah pintu yang terbuka. Mamaku yang masuk ke kamarku. Siapa lagi? Pada siang hari seperti ini hanya ada Ama dan aku, serta Apa di rumah. Ama langsung duduk di kasur kecil. Aku melihat raut muka Ama sekilas. Dan perasaanku langsung jadi tidak enak. Dari wajah mamaku, aku tau ia hendak membicarakan hal yang serius denganku.

Aku cuek, kembali menekuni bacaanku.

“Cha…!” ujar Ama. Aku pura-pura cuek.

“Dengarkan Ama sebentar!” kata mama dengan nada suara hati-hati.

Aku memandang Ama tanpa menutup bacaanku. Perutku langsung serasa mau melilit. Pikiranku bekerja keras memikirkan apa kira-kira yang akan dibicarakan Ama. Dan aku yakin seratus persen ini pasti ada hubungannya dengan si Rudy itu.

“Gini, Cha. Rudy, siang ini akan ke Jakarta,” kata mamaku pelan.

Nah, kan? Tebakanku benar?

“Sabar dulu Cha…!” sambung Ama buru-buru. Suaranya bergetar. Mungkin karena melihat ekspresi mukaku yang langsung berubah tidak suka.

“Mama ngerti keinginan kamu tidak mau bertemu hari ini, tapi ia sudah membeli tiket untuk hari ini…!”

“Icha indak amuah! ~ Tidak mau!” jawabku santai tapi dingin.

“Mama bilang hari Kamis atau Jumat, kan?” tanyaku

“Kata Tante Herti hari Jumat ia dapat panggilan wawancara, jadi harus berangkat sekarang. Mama mohon mengertilah, Nak!” pinta mamaku sengaja bersabar untuk meluluhkan hatiku.

“Sekarang hari Selasa, Mama! Besok Rabu, besoknya lagi kamis, masih ada dua hari buat dia berangkat ke Jakarta, kan? Kenapa harus sekaraaaaaaaang!” balasku dengan emosi yang tiba-tiba tidak terkontrol seakan-akan emosiku menggelegak di ubun-ubunku.

“Dia ke Jakarta naik bus, bukan naik pesawat! Makanya berangkat sekarang!” jawab Ama.

Indak do ~ Nggak ah!” kataku tegas, tetap dengan pendirianku.

“Ya Allah, Raisha! Ama mohon, nggak usah lama-lama bertemunya, yang penting bertemu sebentar saja!” sahut mamaku lagi dengan muka yang kusut.

Indak ~ tidak!” jawabku lagi.

Muka mamaku kelihatan makin keruh dan kusut. Itu mungkin karena mamaku panik aku kukuh menolak bertemu hari ini dengan si Rudy. Sementara mungkin saja mamaku sudah berjanji pada keluarga si Rudy untuk melakukan pertemuan pada hari ini.

“Cha, mama mambana! Jangan buat malu mama dan papa!” pinta mamaku memelas. Mambana, memohon.

Pokoknyo Indak~Pokoknya nggak! Lagipulo, siapa yang membuat malu? Siapa yang janji bertemu hari ini? Bukan Icha kan?” ujarku bersikeras.

Sekarang aku mengerti satu hal. Dua malam yang lalu ketika orangtuaku mengatakan kalau aku dan Rudy akan dipertemukan pada hari Selasa. Tapi aku menolak dengan keras. Aku hanya mau bertemu dengan Rudy tapi pada hari Kamis atau hari Jumat.

Aku hanya mau pada kedua hari tersebut karena aku merasa sangat tidak nyaman ketika semuanya dilakukan dengan terburu-buru. Apalagi orangtuaku melakukannya tanpa sedikitpun meminta pertimbanganku. Dengan menerima permintaanku, aku mersa sedikit dihargai, dipertimbangkan suaraku, apalagi ini menyangkut hidupku sendiri.

Karena aku bersikeras tidak mau, papaku sudah emosi dan marah padaku. Tapi kemudian mamaku menenangkan papa dan bilang terima saja keinginanku. Papaku hendak protes tapi tiba-tiba terdiam. Tepat pada saat itu karena aku sempat melihat mamaku mencolek papaku. Dan akhirnya mereka setuju menerima keinginanku untuk bertemu pada hari Kamis atau Jumat.

Dan dihadapanku sekarang, ibuku memohon padaku untuk bertemu hari ini dengan si Rudy sesuai dengan kesepakatan mereka semula. Bagiku, itu enar-benar cara yang licik! Mereka berpura-pura mau menerima keinginanku tapi kemudian mereka tetap menjalankan cara dan keinginan mereka.

“Ayolah Cha! Tolong mama Nak, jangan menolak, Nak! Mereka sudah hendak berangkat ke sini,” pinta mama Raisha dengan suara bergetar.

Mamaku memanggil ‘Nak?’ Oh, my God! Mimpikah aku?

Memori otakku berputar. Seingatku, mama jarang memanggil ‘Nak’ kepadaku. Sudah lama sekali aku tidak mendengar panggilan ‘Nak’ padaku dari mama.! Tapi sekarang? Hanya demi sebuah perjodohan yang orangtua paksakan padaku, mamaku memanggilku ‘Nak’ untuk melunakkan hatiku.

Sungguh luar biasa! Jujur saja, aku sedikit luluh dan tersentuh mendengar kata-kata ‘Nak’ yang dilontarkan Ama, tapi aku tetap kukuh dengan pendapatku, bahwa tidak seharusnya orangtua melakukan hal-hal yang manipulatif untuk mencapai keinginan mereka.

“Ma, Raisha tidak mau Mama! Dan Raisha tidak suka dengan cara Mama yang seperti ini, pura-pura setuju dengan keinganan Raisha tapi tetap menjalankan rencana Mama!” kataku pelan. Dan aku sengaja menyebut nama resmiku, bukan nama panggilan kecilku.

Melihat keteguhan hatiku, mama mendesah tak berdaya. Muka Ama makin keruh dan kusut. Dengan gontai ia keluar dari kamarku.

Aku menjatuhkan badanku ke kasur. Mood membacaku langsung menguap entah ke mana. Jantungku berdetak lebih kencang karena menahan emosi karena cara mamaku yang tidak fair. Aku mencoba menarik napas pelan-pelan dan menahan sebentar di perutku sebelum kekeluarkan lagi. Perasaanku sedikit lega.

Tapi lima menit kemudian, pintu kamarku kembali terbuka. Ama kembali masuk ke kamarku. Di belakang Ama, Apa ikut dengan muka yang sama paniknya dengan Ama. Aku segera duduk dan menyandar ke kepala tempat tidurku.

 “Cha, jangan keras kepala seperti itu Cha! Tante Herti sudah bersiap-siap berangkat sekarang! Tolonglah kamu juga bersiap-siap!” kata papaku tanpa babibu lagi.

“Kan Apa bilang hari Kamis atau Jumat, Pa!” jawabku datar.

“Astagfirullah, benar-benar keras hati kamu, ya?” sahut Apa dengan nada suara yang tinggi.

Apa juga terlihat panik. Ia marah tapi berusaha menahannya.  Aku hanya diam, tidak mau mengomentari ucapan Apa.

“Demi tuhan Sha, papa memohon sama kamu, tolong bersiap-siaplah! Kalau perlu Papa bersimpuh di kaki kamu asal kamu mau menerimanya sekarang?” ucap papaku frustrasi.

“Mohon Papa, Nak! Bersiap-siaplah!” sambung Apa.

Segera saja laki-laki setengah baya itu meraih kakiku yang sedang terjulur di ujung tempat tidurku. Aku segera menarik kakiku begitu Apa memegang kakiku.

Lho…lho… apa-apaan ini? Astaghfirullah Ya Allah, sebegitu pentingnya pertemuan ini sampai-sampai Apa mau bersimpuh di depanku? Papa rupanya akan melakukan cara apapun supaya aku mengalah mengikuti kemauan mereka. Aku tersenyum sinis, tidak habis pikir dengan jalan pikiran kedua orangtuaku.

Aku segera berdiri di kasur dan langsung meloncat turun ke lantai. Aku meraih handuk yang berada di belakang pintu. Dan meraihnya dengan kasar.

“Baik! Icha ikuti kemauan Apa dan Ama untuk bertemu dia. Tapi satu hal yang harus Apa ketahui, Icha tidak ikhlas dengan pemaksaan yang Apa lakukan!” kataku tajam sebelum keluar dari kamar.

Aku berjalan ke arah kamar mandi. Rasa kesal membuat darahku terasa mendidih sampai ke ubun-ubun. Jantungku serasa mau meledak menahan kesal luar biasa yang membuncah di dadaku. Ketika masuk kamar mandi aku membanting pintu kamar mandi sekuat tenagaku.

Aku membenamkan mukanya ke dalam bak mandi yang terisi penuh oleh air. Di dalam air aku berteriak sekencang-kencangnya. Tidak terdengar memang. Bahkan oleh diriku sendiri. Tapi gelembung-gelembung besar terbentuk karena aku berteriak sekuat tenaga.

Dan ketika aku mengeluarkan kepala, napasku terengah-tengah karena kekurangan oksigen di paru-paruku. Dan kerongkonganku pun terasa sakit karena berteriak sekuat tenaga. Tapi hati dan perasaaku jauh lebih sakit lagi.

Aku terduduk di pojokan bak mandi dan dinding kamar mandi. Kepalaku tersandar pada dinding bak. Aku merasa terhempas. Terhempas ke jurang yang tak berdasar. Jatuh bebas ke bawah tanpa bisa menggapai bantuan dari siapapun.

Tapi aku harus tetap menggunakan akal sehatku bukan? Aku tidak boleh menyerah begitu saja bukan? Aku harus bangkit untuk menolong diriku sendiri. Aku mencoba menarik napas pelan-pelan untuk menenagkan perasaankan. Berkali-kali aku lakukan sampai akhirnya aku merasa perasaanku sedikit lega.

3 thoughts on “Pertemuan Itu : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part. 7)

  1. Pingback: Finally, Aku Menelepon Rudy : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part 11) | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s