Alasan Kenapa Pertemuan Dua Mingguan FLP Jakarta Harus di Mesjid

Mesjid Ummi, di pinggir Danau Diateh

Mesjid Ummi, di pinggir Danau Diateh Alahan panjang, Solok, Sumatera Barat

Belakangan ini, banyak suara-suara warga FLP Jakarta yang menginginkan pertemuan rutin FLP Jakarta kembali diadakan di (teras) mesjid. Di samping itu juga ada suara-suara yang tetap menginginkan pertemuan rutin diadakan di Museum Bank Mandiri, Kota.

Ada dua kubu dan ada dua suara…

Kubu pertama, kubu yang menginginkan pertemuan rutin diadakan di mesjid adalah kubu anggota lama. Dalam artian, anggota yang sudah bergabung kira-kira 3 tahun di FLP Jakarta dan sudah merasakan suasana pertemuan di teras Mesjid Amir Hamzah, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Mereka ini tidak lagi bisa berkumpul di Mesjid Mimazah karena mesjid tersebut sudah dirubuhkan dan untuk sementara pelaksanaan shalat dilakukan di besmen parkiran Teater TIM.

Kubu kedua adalah kubu yang bergabung dalam waktu yang kurang dari 3 tahun. Kubu ini bisa dibilang belum merasakan suasana pertemuan di teras mesjid. Bagaimana suasana pertemuan rutin yamg duduk melingkar dan juga bagaimana suasana setelah pertemuan diadakan. Mereka biasanya mengadakan pertemuan rutin di ruang ber AC yang nyaman tetapi dengan suasana seperti seminar.

Bagi kubu ke dua. Emang ada yang salah jika adain pertemuan rutin di ruang seminar? Kan peserta baru sudah membayar uang pelatihan menulis Rp. 350.000 untuk 6 bulan atau sekitar 12 kali pertemuan. Jadi wajar dapet ruangan yang nyaman ber-ase, lebih dari sekadar teras mesjid.

Dan lagi, pendapat kubu kedua, kalau mau duduk lesehan sambil melingkar juga bisa. Kursi yang tersedia tidak usah digunakan, cukup duduk di lantai aja. Kan sama juga dong? Tapi bagi teman-teman yang ingin di teras mesjid, ini bukan hanya masalah duduk melingkar. Tapi lebih dari itu.

Apa saja alasan kenapa mereka menginginkan tempat pertemuan sebaiknya di mesjid? Berikut alasan dan penjelasannya :

1. Supaya FLP Jakarta menemukan lagi ruhiyah FLP Jakarta yg sudah hilang sejak 3 tahun ini, sejak kita tidak berkumpul lagi di Mesjid Amir Hamzah, TIM. Bagi sebagian anggota yang masih aktif ini, aura FLP Jakarta sekarang sudah sangat berbeda. Itu yang mereka rasakan. Apa dan bagaimana perbedaannya, ada pada poin-poin berikutnya.

2. Sewaktu kita warga FLP Jakarta mengadakan pertemuan rutin di mesjid, kita duduk melingkar sehingga masing-masing kita melihat dan mengenal wajah-wajah teman kita satu sama lain. Semuanya. Kiri dan kanan serta yang ada di depan kita.

Hanya dengan sedikit menolah ke kiri dan ke kanan kita bisa mengenal wajah dan nama teman kita yang ada di samping kiri dan kanan kita. Hanya dengan sedikit lirikan mata ke kiri dan ke kanan tanpa menoleh kita melihat semua teman-teman yang ada dalam lingkaran.

Dan kita semua menjadi akrab satu sama lain hanya dengan pola sederhana. Duduk melingkar. Kalaupun belum akrab dan ngga tau nama beberapa teman-teman tersebut, paling ngga udah kenal wajah lah. Jadi ketika kita saling sapa jadinya.

Tapi kata yang pro teras mesjid jika kita melakukan pertemuan rutin ala seminar dengan kursi yang berderet dan berbaris, dengan satu arah maka pandangan kita terbatas. Kita bisa tau teman kiri dan kanan kita. Tapi kita tidak bisa melihat teman yang ada di depan dan belakang kita karena ia pun menghadap ke arah yang sana dengan kita, ke arah depan.

Sehingga-nya, kita jadi kurang akrab dengan sesama kita. Jangankan nama, wajah pun mungkin tidak saling mengenal dengan semuanya. Karena kita duduk tidak saling berhadapan. (Jadi kalau nantinya tetap di aula seminar sebaiknya ganti posisi susunan kursi dengan cara melingkar aja kali yaaa… 🙂

3. Ketika kita warga FLP Jakarta mengadakan pertemuan di teras mesjid, begitu azan berkumandang kita pun segera bersiap-siap shalat zhuhur berjamaah. Suasana yang seperti ini yang sekarang sudah tidak ada lagi, dan ini dirindukan oleh sebagian teman-teman. Tapi ada juga sih yaaa satu dua ada yang ngga shalat. Perempuan… 🙂 Maklum, lagi ambil jatah bulanan… 🙂

Dan selesai shalat pun kita masih berkumpul sebentar. Berbagi cerita satu sama lain. Grouping? Pasti ada dongg… Tapi setidaknya masih bisa menclok group yang di sini, dan menclok ke group yang di sana… 🙂 jadi semakin akrab satu sama lain kaan…

Tapi ketika kita berkumpul di ruang seminar, kita (biasanya) yang belum selesai dengan semua materi, lanjut aja sampai jam setengah satu-an, tanpa denger azan. Dan saat pertemuan usai, kita pun bubar grak. Ada yang langsung pulang, ada yang shalat dulu di mushala yang terdekat. Sudah, selesai. Tidak ada ngeriung, bercerita, bercengkrama sesama kita. Dan bahkan mungkin ada yang masih belum saling mengenal setelah sekian bulan?

Tidak perasaan yang saling mengikat seperti yang dirasakan teman-teman yang sudah merasakan pertemuan di mesjid.

4. Ketika FLP Jakarta masih mengadakan pertemuan rutin di mesjid. Biasanya setelah shalat zhuhur ada sesi kultum, yang diikuti oleh semua teman-teman FLP Jakarta. Muda dan pramuda serta madya.

Baru setelah itu duduk santai sambil ngobrol dan berbagi cerita dengan teman-teman lain. Satu dua ada yang pulang duluan, tapi pada umumnya tetap berkumpul bersama. Dan setelah itu sama-sama cari makan siang. Melanjutkan obrolan sembari jalan ke warung. Dan di warung pun masih saling bercerita lagi. Suasana sungguh akrab.

Kalau pertemuan diadakan di aula seminar, setelah selesai pertemuan ada yang langsung pulang, ada yang shalat dulu. Tapi bagi teman-teman yang sudah merasakan pertumuan rutin di mesjid, suasana seperti ini sungguh kurang akrab. Tidak ada lagi ikatan kebersamaan sesama warga FLP Jakarta.

Begitulah selalu yang dialami teman-teman yang sudah bergabung selama 3 tahunan, yang pernah merasakan lesehan di teras mesjid.

Semoga masalah tempat kenapa harus di mesjid ini sudah terang bagi teman-teman semuanya yaa… bagi warga FLP Jakarta yang menginginkan pertemuan di mesjid, setidaknya sudah berusaha mencari mesjid yang cocok untuk pertemuan rutin dua mingguan. Kalaupun toh pada akhirannya tidak menemukan mesjid yang cocok, opsi lain mungkin bisa dipilih supaya bisa memadukan rasa lintas angkatan ini.

Tapiii yang penting adalah, sebagai komunitas yang berbasis menulis, hal utama yang harus.dilakukan adalah : MENULIS dan BERKARYA. Ngga cuma sekadar menulis dan berkarya aja, tetapi juga harus menulis dan memghasilkan karya yang bagus dan memberi manfaat bagi pembacanya.

Okeee… Selamat menulis ya teman-teman… 🙂 *kabbooorrr… kaya yang bikin postingan udah rajin nulis aja dah… 😛

7 thoughts on “Alasan Kenapa Pertemuan Dua Mingguan FLP Jakarta Harus di Mesjid

  1. Itulah chagi, ruhiyah FLP tuh bablas blas. Lebih kya seminar. Boro2 ada ceritanya mau ikut ngumpul, ngeriung, diskusi stlh solat. Lha pas kelas pramuda aja pada gak ngikut. Setelah kelas bubar, anak2 yg biasa pada “seminar” lgsg aja kabur, duduk d bangku. Pdhl, dulu2 niy, pembahasan setelah materi justru penting bgtz. Kalo dulu tuh kya share cara2 ngirim naskah, karakter pnerbit, ya semacem itu. Nyeseknya, ada yg ikut duduk cuma buat difoto

  2. Banyak nilai tambahnya kalo diadakan di pelataran mesjid. Ibadahnya dapet (bagi yang muslim) dan mungkin lebih akrab. Semoga FLP terus melahirkan penulis andal.

    Itu foto mesjid diatas adanya deket kampung saya, hehe…
    Yang bangun mesjid mantan mendagri dan keluarganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s