Antara Menggenggam Pasir dan Hukum Newton III : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part 6)

Baiklah, aku akan bercerita sedikit tentang ayahku. Ayahku yang aku panggil Apa ini adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Pendidikannya hanya sampai Sekolah Menengah Pertama. Pendidikan Apa dibandingkan dengan pendidikan tujuh orang adik-adiknya, sangat jauh tertinggal. Jika Apa hanya mengenyam sekolah sampai tingkat SMP saja, adik-adik Apa, berpendidikan minimal tamat SMA. Dan tiga diantaranya sudah mengenyam pendidikan hingga tingkat master.

Tetapi meskipun tidak berpendidikan tinggi, Apa adalah seorang ayah yang sangat baik. Ia dikenal mempunyai hati yang sangat lapang dalam menghadapi anak-anaknya. Saudara-saudara Apa dan ibuku, mengungkapkan betapa Apa sangat penyanyang pada kami, anak-anaknya. Teman-temanku dan teman-teman adik-adikku pun bisa bersikap lebih lebih santai pada Apa daripada kepada ibuku.

Kebiasaan ayahku sewaktu kami kecil, sebelum aku dan adik-adikku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak adalah setiap pagi mengajak kami berkeliling dengan motornya. Setelah kami mandi dan rapi, pasti Apa akan membawa kami berkeliling dengan motor tuanya. Itu sudah menjadi agenda rutin setiap harinya.

Salah satu harapan Apa adalah anak-anaknya mempunyai pendidikan yang tinggi seperti halnya adik-adiknya, tidak seperti dirinya yang hanya sekolah sampai SMP. Apa akan memenuhi segala kebutuhan pendidikan pendidikan anak-anaknya. Ketika kami anak-anaknya meminta uang untuk membeli buku, saat itu juga papa langsung memberikannya.

Berbeda sekali dengan Ama yang selalu mempertanyakan apakah buku itu penting untuk dibeli atau apakahak tidak bisa meminjam dulu sama pada kakak kelas yang sekarang sudah tidak lagi menggunakan buku tersebut.

Pun ketika ada pembayaran-pembayaran mendadak yang dilakukan sekolah atau sewaktu kuliah Apa secara spontan akan memberikan saat itu juga. Sementara ibuku akan bertanya kapan hari terakhir pembayaran tersebut.

Apa juga sangat rajin menanyakan hal-hal sederhana tentang sekolah kami. Tentang tadi belajar apa, atau hari ini apakah ada les bahasa Inggris atau tidak. Kadang-kadang dalam pemikiranku dan juga adik-adikku, pertanyaan-pertanyaan ayahku kadang-kadang terdengar tidak penting, tapi sekarang aku menyadari itu adalah salah satu cara ia memperhatikan pendidikan kami. Hal itu masih dilakukan sampai aku duduk di bangku kuliah.

Pun ketika salah satu dari kami ada yang sakit, yang repot bolak balik ke kamar melihat dan menanyakn kondisi kami adalah Apa, bukan Ama. Ia selalu menanyakan apakah suhu badan masih panas atau sudah turun, sudah minum obat lagi atau belum, apakah mau kami makan makanan apapun yang kami inginkan.

Tetapi, meskipun Apa seorang yang sangat baik, seringkali kami merasa Apa adalah seorang ayah yang kurang bijaksana. Apa, kalau menganggap kami salah di matanya, Apa tidak segan memarahi kami di depan orang lain. Tidak peduli itu akan membuat kami akan malu atau tidak. Bagi Apa itu mungkin hal biasa yang dilakukan seorang ayah tetapi bagi kami itu adalah tindakan yang yang tidak patut dilakukan depan orang lain.

Dan kali ini misalnya, Apa sungguh tidak bisa bersikap bijaksana dalam mengatur perjodahanku. Sama sekali tidak mau menerima keinginanku untuk menunda rencana ini walau hanya setahun saja. Ketika ada rencana perjodohan buatku seakan-akan itu adalah kesempatan terakhir yang tidak akan bisa aku peroleh lagi. Jadi harus diambil jangan sampai lepas.

Apa bersikap seperti kata pepatah ‘menggenggam pasir’ yang semakin kuat pasir digenggam semakin banyak pasir-pasir tersebut yang terlepas dari genggaman. Semakin ia bersikeras dan memaksaku untuk menerima perjodohan ini, semakin besar pula keinginanku untuk menolaknya. Seperti bunyi Hukum Newton III, bahwa aksi sama dengan reaksi.

5 thoughts on “Antara Menggenggam Pasir dan Hukum Newton III : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part 6)

  1. Hah masih ada dijodohkan. Ya gpp sih asal gak dipaksa. Kasih pengertian aja ke Apa dengan cara yang santun. Kalo diri sendiri gak berani, carilah orang yang dihormati/disegani Apa untuk menyampaikannya. semoga diberi yang terbaik.

  2. Pingback: Finally, Aku Menelepon Rudy : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part 11) | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s