Santuang Palalai : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part. 5)

DSC03313

Malam itu tidak ada kata sepakat diantara kami. Aku tetap bertahan dengan keinginanku untuk meminta waktu satu tahun lagi. Sementara kedua orangtuaku juga bersikukuh dengan keinginan mereka untuk menerima perjodohan yang disodorkan mereka.

Amplop coklat yang berisi foto pria yang orangtuaku jodohkan denganku sama sekali tidak kulihat isinya. Aku bukan hendak menolak pemuda yang bernama Rudy tersebut. Tapi aku menolak cara-cara pemaksaan orangtuaku untuk menikahkanku. Mereka sama sekali tidak merundingkannya sedikitpun denganku.

Ayah dan ibuku sama sekali tidak menanyakan pendapatku sebelumnya, semisal jika ada pria yang hendak melamarku apakah aku bersedia menerimanya atau tidak. Mereka sama sekali tidak menanyakan pendapatku. Orangtuaku tiba-tiba saja mengatakan bahwa aku hendak dijodohkan dengan laki-laki yang bernama Rudy dan aku harus menerimanya. Tanpa mempertanyakan pendapatku dan sama sekali tidak boleh menolak. harus iya.

Cara orangtuaku yang seperti itu yang aku tidak suka. Jadi siapapun laki-laki yang dipilihkan orangtuaku saat ini, pasti tidak bisa aku terima begitu saja. Karena sedikitpun hatiku belum bisa menerima perjodohan ini. Jika sebelumnya mereka mempertanyakan pendapatku dan aku menerima keingininan mereka, tentu mereka tidak akan menerima penolakan keras dariku seperti saat ini.

Malam hari, sebelum tidur aku dan Sherly chatting di WA. Dia masih di Bukittinggi, di kampungnya. Aku tidak mau pembicaraanku dengan Sherly didengar adik-adiku, jadi aku tidak bisa berbicara melalui handphoone dengan dia. Kucurahkan seluruh kekesalanku tentang seluruh pembicaraanku dengan orangtuaku kepada Sherly.

Sama seperti tanggapan teman-temanku yang lainnya, Sherly pun hanya bisa memintaku untuk bersabar. Aku mengerti kenapa teman-temanku hanya bisa memintaku bersabar. Karena yang kuhadapi adalah orangtuaku. mungkin mereka tidak bisa memberikan saran dan ide yang lain yang mungkin terdengar ekstrim. Berurusan dengan orangtua adalah hal yang cukup sensitif untuk dicampuri oleh orang lain.

*****

Rumah bagi setiap orang adalah tempat ternyaman. Bagitu pula untukku. Rumahku adalah tempat yang paling nyaman buatku. Baiti jannati, begitu kata rasul. Aku pun sama. Makanya dulu ketika aku masih kuliah di kota Padang, aku selalu pulang setiap hari Jumat atau Sabtu sore, dan kembali ke Padang setiap senin subuh, setelah shalat subuh.

Dan kalau dalam tanggal satu minggu ada tanggal merah, akupun lebih memilih pulang, daripada hanya berada di kos-ku di Padang. Kecuali aku mempunyai acara atau rencana yang menyenangkan bersama teman-temanku. Barulah aku memutuskan tidak pulang setiap ada tanggal merah.

Tapi kali ini terasa berbeda. Aku tidak lagi merasa betah di rumah. Rumah tidak lagi terasa nyaman. Orangtuakulah yang menjadi penyebab utama ketidaknyaman itu. Bagaimana tidak bosan, setiap sebentar ayahku bertanya apakah aku sudah melihat foto pria yang bernama Rudy tersebut.

Mulai dari ketika aku sarapan minum teh tadi pagi, ayahku menanyakan hal tersebut. Lalu saat aku menyapu rumah setelah adikku Fira berangkat sekolah, saat hanya aku dan ibuku yang berada di rumah, ayahku kembali menanyakan hal yang sama. Dan kemudian ketika aku sedang mencuci piring di dapur pun ayahku kembali menanyakan hal yang sama.

Tidak puas dengan jawabanku yang masih saja sama, saat aku sedang asyik membaca di kamarku, ayahku masuk dan lagi-lagi mengajukan pertanyaan tersebut. Dan setiap kali ditanya oleh pertanyaan yang sama tersebut, sama pula jawabanku : belum.

Ayahku sampai kesal jadinya. Aku tetap bergeming tidak mau sama sekali melihat foto si Rudy. Aku tahu ayahku sangat menahan rasa kesalnya menghadapi keteguhan hatiku.

“Apa susahnya kamu melihat fotonya sebentar, Cha?” tanya papaku dengan menahan emosi yang tertahan.

“Icha tidak mau, Pa. Nanti kalau Icha udah liat fotonya, papa langsung lagi beranggappan Icha sudah mau. Jadi lebih baik Icha tidak melihat fotonya kan?” sahutku santai. Dan mataku kembali ke bacaan yang kubaca.

“Astaghfirullah, Ya Allah, Papa tidak menyangka kamu begini kerasnya!” kata ayahku sambil geleng-geleng kepala. Meskipun aku tidak melihat ke arah ayahku aku masih bisa melihat gerakan kepalanya.

 Papaku kesal dengan sikapku. Aku juga kesal dengan sikapnya. Aku juga kesal dengan pertanyaan-pertanyaan sama yang diajukan papaku setiap saat. Aku kemudian meletakkan bacaan yang aku baca, berdiri dan kemudian melangkah keluar kamar. Bermaksud segera kabur dari rumah siang ini ke tempat kerjaan Cindy di stasiun radio, tempat aku dulu juga pernah bekerja sebagai penyiar radio.

“Cha, kamu tiak sadar sudah berapa umurmu ha?” tanya papaku mengikuti langkahku.

Dan, seiris sembilu menggores tajam lagi di hatiku. Tiba-tiba saja dadaku sakit dengan pertanyaan papaku. Lagi-lagi papaku mempertanyakan pertanyaan yang sama, seakan aku ini adalah perawan tua yang sudah berumur empat puluh enam tahun dan masih belum menikah.

Aku menoleh ke belakang, ke arah papaku.

“Pa, Papa juga tau kan, Icha baru dua puluh enam tahun, belum dua puluh tujuh. Jadi tolong jangan bersikap seolah-olah Icha perawan tua yang berumur empat puluh tahun!” kataku pelan.

Wajah papaku meradang. Aku tahu, ia sedang marah besar.

Aku meneruskan langkahku ke teras, mengambil handuk.

“Laki-laki yang kami pilihkan buat kamu laki-laki baik, Cha. Dan keluarganya juga sudah kita kenal dengan baik! Kalau sekarang kamu menolak, bisa-bisa kamu kena santuang palalai! Bisa-bisa sampai kamu sudah tua masih saja belum menikah!” sahut ayahku dengan suara yang tinggi.

Astaggfirullah Ya Allah… Dadaku terasa makin perih.

“Pa, hati-hati kalau berbicara. Kata-kata itu doa Pa! Siapa juga wanita yang mau jadi perawan tua, Pa!” kataku sedih.

“Makanya itu, apalagi yang kamu tunggu? Ini sudah ada laki-laki baik yang datang kamu malah mau menolaknya! Takutnya…” sambung papaku tapi terpotong oleh sahutanku.

“Jadi kalau Icha menolak, Papa mendoakan Icha kena santuang palalai dan jadi perawan tua, gitu? Ingat Pa, siapa tau malaikat lewat dan menghijabah doa papa! Jadi Papa sebaiknya hati-hati kalau berbicara!” sahutku megingatkan ayahku supaya tidak bicara sembarangan.

“Kamu pintar sekali menjawab ya?” balas papaku. Suara ayahku makin tinggi.

Tapi aku sudah memperdulikan lagi ucapan ayahku. Aku segera ke kamar mandi. Praaang! Aku membanting pintu kamar mandi ketika menutupnya. Sempat aku dengar ibuku beristighfar melihat kelakuanku.

Di dalam kamar mandi, aku terdiam sesaat. Aku bersandar pada dinding kamar mandi dan menengadahkan wajahku, tapi dengan mata tertutup. Kata-kata ayahku yang menyebut santuang palalai benar-benar mebuatku sedih.

Aku menarik napas pelan-pela, mengisi paru-paru yang sesak dengan udara. Bagiku, rasanya tidak pantas orangtua menyebutkan kata-kata tersebut pada anaknya, betapapun marah dan kesalnya mereka.

Santuang palalai adalah sebuah istilah yang ada di daerahku di Sumatera Barat. Kondisinya adalah seperti ini : Jika kamu menolak perjodohan yang dibuat oleh orangtuamu, maka nanti, ketika kamu sudah bersedia dijodohkan, maka orang yang dijodohkan dengan kamu justru tidak menerima perjodohan tersebut.

Dan jika ada lagi perjodohan nantinya, ketika orang yang dijodohkan denganmu bersedia untuk dijodohkan denganmu, kamu yangtidak mau dengan perjodohan tersebut. Begitu seterusnya berulang kali yang akan kamu dialami jika kamu menolak perjodohan yang diatur orangtua kamu.

Tidak selalu seperti itu, tetapi kebanyakan keadaan yang seperti itu yang dialami oleh orang yang menolak perjodohan yang dilakukan orangtuanya. Apalagi kalau pasangan yang hendak dijodohkan tersebut dikenal sebagai seseorang yang berkepribadian baik. Baik agama dan akhlaknya, baik pula latar belakang keluarganya.

Itulah yang dikhawatirkan orangtuaku. Kena santuang palalai.

Jantungku kembali terluka. Setelah ayahku menyebutku gadih tuo, iya mengkhawatirkanku terkena santuang palalai. Menyebut santuang palalai yang dialamatkan padaku oleh ayahku, sama sakitnya dengan menyebutku dengan gadih tuo.

Entah apa yang ada di hati dan pikiran ayahku, sampai ia begitu tega, tanpa perasaan sama sekali menyemburkan ucapan tersebut : gadih tuo dan santuang palalai.

Advertisements

One thought on “Santuang Palalai : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part. 5)

  1. Pingback: Finally, Aku Menelepon Rudy : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part 11) | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s