Gadih Tuo : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part.4)

gambar : google
gambar : google

Aku tiba di rumah pukul delapan malam sepulang dari rumah Cindy. Sudah jauh melewati batas jam pulang yang diizinkan orangtuaku bagi kami anak-anaknya. Kami diwajibkan harus sudah berada di rumah sebelum maghrib, kecuali, kalau sudah meminta izin sebelumnya untuk terlambat pulang.

Rupanya orangtuaku sudah menunggu kedatanganku. Mereka duduk di kursi bawah dengan membuka sedikit pintu ruko, toko sekaligus rumah kami. Tidak seperti biasanya, kali ini ayahku tidak menanyakan alasan keterlambatanku pulang dari  rumah Cindy. Ia hanya bertanya aku dari mana dan aku jawab dari rumah Cindy. Itu saja.

Ketika kemudian berjalan ke dalam, Apa langsung menutup pintu ruko dan segera naik menyusulku naik ke atas. Begitu tiba di atas, mereka langsung memintaku duduk di kursi sofa lantai atas rumah kami. Sementara di ruang tivi yang dekat dengan dapur, terdengar suara adik-adikku sedang menonton televisi.

Aku diam menuruti perintah mereka. Tidak bertanya, hanya duduk menunggu mereka berbicara. Ayahku memegang amplop coklat ukuran folio di tangannya. Ia kemudian meletakkan amplop tersebut ke hadapanku.

“Cha, seperti yang sudah dibicarakan mamamu, Ama dan Apa berniat menjodohkan kamu keponakan Tante Herti.” kata papaku memulai pembicaraan.

Aku hanya diam, tidak menanggapi kata-kata ayahku.

“Namanya Rudy. Dia tamatan Unand jurusan ekonomi. Dia lebih tua setahun dari kamu. Di dalam amplo itu ada fotonya” sambung Apa menunjuk amplop coklat yang barusaja disodorkan padaku.

Tiba-tiba saja pikiranku kalut. Dadaku berdegup kencang tak karuan. Apa yang kukhawatirkan dan tidak kuinginkan menjadi kenyataan juga. Dijodohkan! Betapa tidak enaknya mendengarkan kata itu. Tidak pernah terbayang dalam benakku aku akan menikah dengan cara seperti ini : Dijodohkan ketika aku belum siap untuk dijodohkan.

Tadi teman-temanku yang membahas ini. Sekarang orangtuaku tanpa ada kata pembuka langsung mebahas masalah perjodohan ini. Untuk mengatasi perasaan kalut yang tiba-tiba melanda diriku, aku pura-pura memainkan hape yang aku pegang. Main game tanpa suara.

“Dia anaknya baik, agamanya juga baik dan keluarganya juga keluarga baik-baik!” kata Apa yang sepertinya tidak menyadari tidakpedulianku. Atau sebaliknya ia sangat menyadari tetapi berpura-pura tidak mengetahui mengetahui.

“Cha, kamu dengar Apa bicara, kan?” tanya mama agak kesal dengan sikapku.

“Kenapa Ama dan Apa tidak membicarakan terlebih dahulu dengan Icha? Meminta persetujuan Icha untuk dijodohkan dengan orang lain!” tanyaku langsung.

Papaku sedikit gelagapan dengan pertanyaanku.

“Kan mama sudah sudah membicakan ini ketika kamu di Jakarta!” sahut mamaku dengan suara ditahan. Aku tahu mamaku sedang mencoba meredam emosinya padaku saat ini.

“Membicarakan bagaimana? Ama tidak pernah membicarakan soal ini!” sahutku untuk meralat kata ‘pembicaraan’.

“Kan waktu kamu di Jakarta, Ama sudah menjelaskannya padamu!” kata Apa agak tinggi. Mungkin papaku kesal juga dengan jawanku yang sinis.

“Ama tidak menjelskan apa-apa! Ama hanya bilang bahwa Icha akan dijodohkan dengan orang yang namanya si Rudy itu. Dan Ama sama sekali tidak meminta persetujuan Icha untuk dijodohkan! Ama dan Apa yang memutuskan sendiri perjodohan ini” jawabku dengan nada yang makin tajam.

“Cha, kamu kan sudah setuju, makanya kamu pulangkan?” sahut mama agak emosi.

“Ama yang memaksa Icha pulang. Karena kalau Icha tidak pulang Ama ancam Icha dengan sebutan anak durhako, kan?” jawabku sambil bertanya pada ibuku.

“Dan Ama juga menyumpahi Icha, kalau tidak pulang, sekalian saja ndak usah-pulang-pulang lagu, dan sekalian juga anggap Icha sudah tidak punya orangtua lagi! Iya kan, Ma?” jawabku dengan suara yang agak tinggi. Padahal saku sudah sekuat tenaga menahan emosiku.

“Kalau Ama tidak pakai ancaman seperti itu memangnya Icha mau pulang? Nggak Mama!” sambungku makin sengit.

“Nah, mama kan mengakui mengancam Icha, kan Pa?” ujarku sambil merentangkan kedua tanganku.

“Ini juga demi kebaikan kamu!” sahut mama tak mau kalah.

“Kebaikan apa? Emang memaksakan anak menikah itu suatu kebaikan? Salah, Ma! Itu bukan kebaikan. Itu namanya keegoisan orangtua!” aku menjawab dengan emosi.

“Cha, Ama dan Apa melakukan ini untuk kebaikan kamu juga. Sudah sewajarnya kamu menikah dan sudah kewajiban Apa mencarikan jodoh buat kamu! Menikahkan anak merupakan salah satu kewajiban orangtua!” jawab papaku berusaha tenang menjawab luapan emosiku.

Aku menarik napas dalam-dalam. Kata-kata “Menikahkan anak merupakan salah satu kewajiban orangtua!” seakan-akan kewajiban seorang ayah yang menikahkan anak perempuannya adalah kewajiban mutlak sehingga tidak memerlukan persetujuan anak perempuan.

“Iya Pa, Icha juga tau kalau menikahkan anak itu kewajiban orangtua. Tapi orangtua wajib meminta persetujuan anak. Tidak boleh menikahkan anak seenak hati orangtua saja tanpa persetujuan anaknya, Pa! Itu juga diajarkan oleh agama!” jawabku lebih sengit lagi.

“Mentang-mentang merasa sebagai orangtua, jadi berhak memaksa anaknya menikah tanpa memikirkan perasaan anaknya? Itu namanya orangtua egois, Pa!” sambungku tanpa peduli dengan rona wajah ayahku yang memancarkan kemarahannya.

“Pintar kamu menjawab ya!” kata papaku dingin tapi tajam.

“Sekarang apa yang kamu inginkan, ha?” tanya Apa tajam.

Aku tidak langsung menjawab. Hanya menarik napas pelan-pelan dan membuang juga pelan-pelan. Hanya untuk melepaskan sesak yang sedari tadi menggumpal di dadaku. Aku berusaha menahan emosiku untuk mengungkap isi hatiku.

“Pa, Icha hanya ingin Apa dan Ama memberikan waktu setahun ini buat Icha, Pa. Satu tahun aja, Pa. Setelah itu terserah Papa. Papa mau jodohin Icha tidak masalah. Sekarang Icha benar-benar belum siap sama sekali, Pa.” aku menjawab dengan nada memelas.

“Kamu tidak sadar sudah berapa umurmu, ha?” tanya papaku.

Deg! Rasanya sakit dadaku dengan pertanyaan papaku. Sudah beberapa kali Ama dan Apa mengingatkan umurku. Bahwa aku sudah berumur dua puluh enam tahun. Seakan-akan angka dua puluh enam tersebut adalah angka yang menakutkan bagi ayahku karena anaknya gadisnya belum menikah.

Bagiku, jika orang lain menganggap aku sudah terlambat menikah, aku sama sekali tidak peduli. Tapi jika kedu orangtuaku ikut-ikutan menganggap bahwa usiaku yang dua puluh enam seakan-akan aku sudah menjadi perawan tua yang tidak laku, sungguh melukai hatiku. Apalagi jika melihat bahwa orangtuaku sebenarnya bukanlah orang kampung yang berpikiran kolot. Setidaknya sampai sebelum aku berumur dua puluh enam beberapa bulan yang lalu.

“Pa, Raisha baru berumur dua puluh enam tahun, Pa! Bukan tiga puluh enam. Sekarang tahun dua ribu empat belas Papa! Umur dua puluh tujuh atau umur dua delapan bukanlah umur yang yang dianggap terlambat untuk menikah!” jawabku menahan diri supaya emosiku tidak meluap.

Kepalaku teras panas. Seakan mau meledak rasanya.

“Teman kamu satu persatu sudah mau menikah! Bahkan Sherly juga sudah mau menikah! Apalagi yang kamu tunggu, ha?” tanya ibuku dengan suara yang meninggi.

“Ooo, itu penyebabnya? Karena Sherly sudah mau nikah kan?” tanyaku meledek.

Sherly adalah sahabatku sejak kecil, sejak kami duduk di kelas tiga SD. Setelah lebaran besok ia akan menikah dengan Adit, teman sekolah kami sewaktu di SD. Adit juga satu sekolah denganku di SMP. Sementara Sherly masuk sekolah asrama di Bukitinggi.

Aku tau orangtuaku tiba-tiba menjadi resah dengan kabar pernikahan Sherly. Kami sangat akrab sejak SMP. Mungkin karena Sherly mau menikah, orangtuaku tiba-tiba merasa anak seperti anaka gadis yang belum laku karena sampai saat belum ada yang melamar. Jadi ketika ada lamaran dari tante Herti, orangtuaku langsung setuju. Bahkan kalau perlu menikahkanku lebih dulu daripada Sherly.

“Jadi Ama dan Apa berusaha menjodohkan Icha entah dengan siapa saja, supaya Icha bisa menikah lebih dulu dari Sherly, gitu kan? Memangnya pernikahan itu seperti balap mobil yang siapa yang duluan dia yang menang? sambungku. Tetap dengan nada meledek.

“Cha, kamu kira kamu masih muda, ha?” papa membentakku.

Apa sangat marah. Rahangnya mengeretuk.

 “Tidak! Sudah sepantasnya menikah sekarang! Apalagi yang kamu tunggu ha? Umurmu sudah dua puluh enam tahun lebih. Kamu minta waktu setahun lagi katamu? Itu namanya kamu sudah jadi gadih tuo!” sambung papaku.

Deg! Gadih tuo? Sebilah belati tajam berkarat telah mengores perasaanku. Dengan goresan yang amat dalam. Aku seperti mengalami dejavu yang hebat mendengarkan kata-kata tersebut.

Gadih tuo!

Kata-kata ‘Gadih Tuo’ yang keluar dari mulut papaku bak sembilu tajam yang melukai hatiku. Kata-kata itu seakan-akan melumpuhkan seluruh persendianku.

Gadih tuo atau gadis tua, makna lain dari perawan tua.

Tengah Malam, di Bawah Rintik Hujan

Cerita sebelumnya : Part 1, Part 2, Part 3

Advertisements

14 comments

  1. Gadih tuo or perawan tua konotasinya dibikin jelek banget di negeri kita. Dan di Minangkabau lebih parah lagi, harta pusaka tinggi saja boleh dijual untuk menikahkan gadih gadang indak balaki 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s