Segelas Kopi Persahabatan : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (bag.3)

gambar : googling

gambar : googling

Bagian 1, Bagian 2

Menjelang azan Isya berkumandang, aku tiba dengan selamat di kotaku, Padang Panjang. Aku turun di lampu merah dan naik ojek ke rumahku yang berjarak kurang dari satu kilometer.

Badanku capek luar biasa. Seluruh persendianku serasa mau lepas. Perjalanan tiga puluh jam kali ini benar-benar melelahkan buatku. Sebenarnya perjalannya menyenangkan. Melihat pemandangan di sepanjang jalan, melewati hutan, sawah, perkebunan, perkampungan penduduk, kota kecil di sepanjang jalan Lintas Sumatera sungguh menyenangkan.

Tapi setiap mengingat kenyataan yang bakal aku hadapi di rumah nanti, membuatku tidak menikmati pemandangan-pemandangan yang terhampar di hadapanku. Perjalanan pulang kali ini menjadi sangat melelahkan. Melelahkan jiwa dan ragaku.

Tidak ada rasa bahagia sebagaimana yang seharusnya begitu tiba di rumah. Perasaanku hambar. Datar. Bahkanterlalu datar. Aku hanya sekadarnya saja salim pada Apa dan Ama. Seakan aku hanya baru pulang dari Padang setiap akhir pekan ketika masih kuliah dulu.

Beberapa pertanyaan yang diajukan Apa tentang perjalananku dari Jakarta ke Padang Panjang hanya aku jawab seadanya. Jawaban yang pendek-pendek dan malas-malasan. Aku tidak peduli dianggap anak yang kurang ajar. Tapi sikapku ini jelas menunjukkan aku masih sangat kesal dengan kedua orangtuaku.

Dan aku juga tidak terlalu bergembira bertemu dengan adik-akikku Afif, Rezita, Zaky, Fira. Kelakuanku memang kekanak-kanakan. Tapi entahlah, aku hanya merasa mereka menjadi sekutu orangtuaku yang beranggapan bahwa sudah sewajarnya aku menikah di saat usia yang sudah menjejak angka 26 tahun.

*****

“Wah, ngga nyangka juga aku ya, seorang Raisha yang sudah memproklamirkan dirinya tidak mau menikah dengan cara dijodohkan akhirnya takluk pada titah orangtua.” ledek Tika yang disambut gelak tawa oleh Felya dan Cindy, sahabat-sahabatku.

Aku tidak meladeni omongan mereka. Tapi mata mendelik menatap Tika.

“Dijodohkan!” ujar Felya.

“Yap, seperti Siti Nurbaya!” sambung Cindy.

“Nikah paksa..! Padahal sekarang udah 2014!” sambung Tika dengan wajah yang pura-pura jenaka di depanku.

“Ngeledek teruus” kataku kesal tanpa menatap salah satu dari mereka.

Aku tahu mereka hanya pura-pura meledekku saja tapi rasanya aku tidak bisa meredam emosiku mendengar ledekan mereka. Candaan yang keterlaluan.

“Kalian bicara seakan-akan aku sudah menerima perjodohan orangtuaku!” jawabku dingin.

“Kita sih hanya menunggu pembuktian saja!” jawab Felya yang diaminin yang lain. “Yup, sepakat!” sambung Cindy. Mereka tak henti-hentinya meledekku sedari tadi.

“Menolak? Atau menerima!” sambung Tika.

Aku, Cindy, Felia dan Tika telah bersahabat semenjak kami sekelas di kelas dua SMP. Kami berempat menjadi tim biang kerok di kelas kami. Tapi meskipun begitu kami tetap bagus dalam prestasi sekolah. Kami semua masuk lima besar di kelas kami.

Kami sengaja berkumpul di rumah Uni Via, kakak Cindy, tempat Cindy tinggal selama sejak ia duduk di bangku SMP. Seperti biasa, kami berkumpul di bawah pohon belimbing di halaman belakang rumah Uni Via. Di bawah pohon belimbing terdapat meja dan kursi santai. Empat buah kursi kayu panjang yang bisa memuat tiga dewasa mengelilingi meja yang juga terbuat dari kayu.

Kami bercanda dan bercerita sambil menikmati kopi kental manis yang diseduh di ceret kuning yang biasa dijadikan oleh-oleh orang-orang yang pulang haji. Kami minum kopi panas tersebut hanya menggunakan satu gelas. Satu gelas untuk bersama, bergantian satu sama lain. Satu gelas lagi kami gunakan untuk air putih yang juga kami gunakan bergantian.

Selain menikmati kopi kental manis yang panas, Cindy juga menyediakan mie rebus untuk kami. Mi rebus buatan Cindy sangat enak, karena dia memang jago memasak. Tidak seperti kopi yang kami minum dari satu gelas, mi kami makan sendiri-sendiri. satu orang satu mangkok. Dan kami berlomba-lomba menghabiskan sepanci mi rebus yang dibuat dari enam bungkus mi instan.

Begitulah cara kami menghabiskan waktu bersama sejak kami berempat akrab. Tapi bagiku saat ini, gaya mereka yang mengolokku sungguh sangat menyebalkan. Mereka seperti tidak berempati sama sekali padaku, walaupun aku tahu bahwa mereka hanya sekadar candaan saja. Rencana perjodohanku tentu saja menjadi topik yang empuk bagi mereka untuk mengolokku.

“Cha, udah, kamu terima saja perjodohan dari orangtuamu!”

“Hmm… betul betul betuulll!”

“Katanya nikah itu enak, loh Cha!” kata Tika sambil mencolekku.

“Iya, Cha. Banyak lho orang yang katanya nikah karena terpaksa atau dipaksa orangtuanya, tapi akhirnya malah punya anak juga!”

Hayoo, kenapa tuh?”

“Malah nih ya, ada yang bilang menyesal nikahnya telat, kenapa ngga dipaksa nikah dari dulu-dulu!” saambar Tika yang langsung disambut tawa lagi oleh teman-temannya.

“Ngga lucu!” kataku marah. Tapi sepertinya mereka masih belum puas meledekku.

“Teman-teman, nanti nih ya, Icha terima cowok yang dijodohin orangtuanya, trus nikah, trus seminggu kemudian bilang, ‘ternyata nikah itu enaknya cuma lima persen, sembilan puluh lima persennya ‘sangaaaaattt enaak!” sambung Fely yang membuat Tika dan Cindy tertawa terbahak-bahak.

Mereka tertawa dengan bahagianya. Bagi mereka mungkin lucu. Tapi tidak bagiku. Aku tidak suka dengan candaan mereka. Bagiku saat ini candaan mereka tidak tepat. Aku menatap dengan mereka satu persatu dengan tatapan dingin.

“Puas kalian? Kalian semua menyebalkan sekali ya? Tidak ada empati sama sekali! Malah mengolok seperti ini!” semburku kesal.

Aku segera berdiri bermaksud meninggalkan mereka. Tapi baru melangkah selangkah, tangan Felia langsung menyambar tanganku. Dan Tika juga sudah berdiri di depanku.

“Kemana?” tanya Tika. Ia memaksaku duduk lagi.

“Kalau aku ke sini cuma buat mendengar ocehan kalian yang sangat tidak bermutu, lebih baik aku pergi dari sini kan?”

“Marah nih?” Cindy.

“Marah?” aku menjawab pertanyaan Cindy dengan nada pura-pura tidak mengerti.

“Ooh.. tidak…! Aku tidak marah kok! Buat apa aku marah sama sahabat-sahabat yang sungguh amat sangat peduli padaku!” sambungku dengan sarkastik.

“Oke! Kamu marah!” kata Felya.

“Siapa bilang aku marah? Aku tidak marah…! Teman-temanku baik begini mau meledekku di saat sperti ini! Jadi buat apa aku marah?” ucapku lagi dengan ekspresi yang dibuat-buat.

“Kami minta maaf. Tapi please, jangan pergi ya. Kamu duduk dulu!” Kata Cindy menahan tubuhku supaya tetap duduk.

Aku duduk menuruti kemauan mereka.

“Kita prihatin kok sama kamu, dan tadi itu hanya bermaksud menghibur aja. Oke!” kata Tika serius melihat gelagatku yang tidak suka dengan cara mereka mencandaiku.

“Cara menghibur yang luar biasa. Sampai membuatku sangat terharu!” ujarku masih dengan eksresi yang dibuat-buat bahagia. Aku benar-benar kesal pada mereka.

“Oke, kamu minta maaf!” Kami salah! Okey?” kata Felya sambil kedua tangannya memegang pipiku.

“We are your friends! Dan kami selalu ada untukmu! Okey?” sambung Cindy.

Aku mengibaskan tangan Felya dari wajahku. Lantas menarik napas napas dalam-dalam. Dan menghembuskannya kuat-kuat. Aku tidak menjawab omongan mereka. Tanganku segera meraih mangkok yang ada di atas meja. Lantas mengambil semangkuk mi dari panci yang yang masih menyisakan mi.

Aku memakan mi tersebut seperti orang yang kesurupan. Beberapa kali mi tersebut tersangkut di tenggerokanku, tapi aku tetap berusaha menelannya dengan cara memukul-mukul dadaku.

Tika menyodorkan gelas yang berisi air putih kepadaku. Aku segera meminum air tersebut untuk mendorong mi yang tersangkut segera turun dari tenggerokanku. Felya yang duduk di sebelahku menepuk-nepuk pundakku.

Semuanya awalnya diam melihat caraku makan yang kekanak-kanakan. Cindy kemudian mulai bicara perlahan, dan hati-hati.

“Cha, kalau laki-laki yang Ama pilihkan buat kamu itu laki-laki baik, kenapa kamu ngga mencoba menerima dan mengenalnya lebih dekat?”

“Benar Cha, dan setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya kan?” sambung Felya. Ia juga berbicara hati-hati.

Aku menarik napas kesal mendengar omongan Cindy dan Felya. Mangkok yang berisi mi yang ada di tanganku, keletakkan dengan pelan, karena pada saat yang sama aku berusaha menahan kekesalanku.

“Sepertinya kalian sudah lupa ya, kalau aku pernah cerita,” kataku sambil tetap memandang kea rah mangkok yang sekarang sudah kosong.

“Di kampungku, kalau orang yang dijodohkan sudah mau bertemu, biasanya sudah bersedia untuk menikah. Dan dua bulan kemudian biasanya menikah meski mereka berdua tidak pernah lagi berkomunikasi setelah pertemuan tersebut!” ujarku member penjelasan, tapi masih dengan nada satir.

“Itu artinya apa? Artinya kalau aku sudah bertemu dengannya, artinya orangtuanku menganggap bahwa aku sudah menerima perjodohan ini dan setuju menikah dengan laku-laki pilihan mereka, mengerti?“ ujarku memberikan penjelasan. Mataku bergantian bergerak ke arah mereka bertiga sambil terseyum satir.

“Dan artinya lagi adalah, dua atau tiga bulan lagi aku akan menikah, dengan lelaki yang sama sekali aku nggak kenal! Horeeee… aku akan menikah dua bulan lagiiii….! Asyiiiik, indah kan hidupku…!” sambungku dengan nada yang lebih satir lagi.

“Ucapkan selamat dong buatku, hmmm, hmmm?” sambungku sambil meraih menengadahkan kedua tapak tanganku ke hadapan mereka.

Ketiga sahabatku terdiam. Mereka terdiam entah karena sudah memahami penjelasanku, entah karena nada bicaraku yang satir dan sikap yang hiperbola.

“Dan satu lagi, aku hanya minta kasih waktu buatku satu tahun ini saja! Satu tahun ini saja cukup karena saat ini aku benar-benar belum siap.Itu saja! Setelah itu, kalau orangtuaku berniat menjodohkanku, aku dengan lapang hati menerima keinginan mereka!” aku melanjutkan kata-kata karena melihat mereka terdiam.

“Jangan seperti sekarang! Orangtuaku memaksaku menerima perjodohan ini tanpa meminta persetujuanku sama sekali dan juga tidak mempertimbangkan perasaanku. Ditambah lagi harus jawab ‘ya’!” teman-temanku masih diam, sama sekali tidak menyela ucapanku.

“Dan kalian pikir ini hal yang menyenangkan?” tanyaku pada mereka. Tapi mereka hanya diam.

“Sama sekali tidak!” aku menjawab sendiri pertanyaan yang baru saja kuajukan.

11 thoughts on “Segelas Kopi Persahabatan : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (bag.3)

  1. Pingback: Gadih Tuo : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part.4) | Firsty Chrysant

  2. Pingback: Finally, Aku Menelepon Rudy : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part 11) | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s