I Love Rain : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (bag. 2)

image : google

image : google

Bagian 1

Pagi itu, dengan langkah gontai, aku mengangkat satu koper besar dan satu buah kardus mi instan. Sinta membantuku mengangkat kedua barang tersebut ke teras rumah. Ya, akhirnya aku memang memutuskan pulang, mengikuti keinginan ibuku. Tiga hari setelah ancaman “tidak pulang sekalian, jangan lagi anggap ama sebagai ibuku” dikeluarkannya.

Ancaman ibuku sakti mandraguna. Aku tak punya kuasa menolak apalagi melawannya. Dan sekarang, aku sudah berdiri di depan taksi yang sudah menunggu dan akan membawaku ke terminal rawamangun. Sopir taksi membantu mengangkat koper dan kardus ke dalam bagsai belakang.

 “Lu yakin ngga mau gue antar sampe Rawamangun?” tanya Sinta ketika melangkah ke arahnya.

“Ngga usah Sin, ngga apa-apa, kok!” jawabku.

“Yakin yaa…!” tanya Sinta menyakinkanku.

“Haqqul yakin!” jawabku sambil mencoba tersenyum. Padahal terdengar tidak mantap.

“Ya udah kalau gitu!” sahut Sinta pelan.

“Tolong bilang mama Lo gue minta maaf ngga sempat mampir dulu ke tempatnya ya, Sin! Ntar di bus aku telpon dia kalau aku udah pulang.” kataku dengan tercekat. Sinta mengangguk.

“Gua jalan ya, Sin,” Sinta lagi-lagi hanya mengangguk. Ia merentangkan tangannya meraih badanku.

Kami kemudian berpelukan. Sangat erat.

Aku tidak bisa menahan tangisku dalam rangkulan Sinta. Sinta juga ikut menangis karena dari tadi ia juga berusaha menahan airmatanya supaya tidak jatuh mengalir.

“Yang sabar ya Cha!” kata sinta menghibur dan menepuk-nepuk pundakku. aku hanya bisa mengangguk.

“Ya udah, gua jalan ya. Salam sama Mas Dito ya.” aku melepaskan pelukan kami dan kemudian menghapus air mata yang mengalir di pipiku.

“Hati-hati ya, Cha!” kata Sinta sambil membukan pintu belakang taksi buatku.

“Oke, tapi tolong bantu doa ya, supaya ada yang membajak bus yang gue tumpangin dan membawanya ke kutub utara!” sahuku berusah bercanda walaupun terdengar garing.

“Kalau itu yang terjadi, lo akan justru senang kan?” balas Sinta. Kami tertawa kering.

Pintu taksi tertutup. Pelan-pelan taksi berjalan. Tanganku melambai ke arah Sinta dari dalam taksi. Sinta pun sama. Lambaian tangan Santi menghilang ketika taksi yang kutumpangi berbelok ke arah jalan utama kompleks rumah Sinta.

****

Jam 10 pagi, bus eksekutif yang kutumpangi bergerak meninggalkan terminal Rawamangun. Meninggalkan semua impianku berkarir dan bekerja di Jakarta. Meninggalkan pekerjaanku sebagai marketing asuransi yang baru saja kuarungi sejak lima bulan yang lalu. Pekerjaan sebagai marketing asuransi kulakukan sembari mencari pekerjaan kantoran yang cocok dengan yang kuinginkan.

Dengan perasaan rasa bersalah pada managerku, aku pamit untuk pulang kampung. Dan aku menitipkan nasabah-nasabahku pada beliau, karena aku belum bisa memastikan kapan aku kembali ke Jakarta.

“Kamu yakin Raisha?” tanya Mbak Meysi tidak percaya ketika aku ungkapkan bahwa aku akan pulang dulu untuk sementar.

“Iya, Mba!” jawabku sembari mengangguk lemah.

“Kamu sangat potensial loh, Sha. Kamu baru lima bulan tapi penjualan sudah bagus. Sayang kan kalau kamu harus meninggalkan apa yang sudah kamu mulai di sini.” kata Meysi berusaha meyakinkanku.

“Untuk sementara aku ngga ada pilihan dulu Mba. Ibuku sudah wanti-wanti nyuruhku pulang.” Sahutku tanpa semangat.

Mba Meysi benar, penjualanku sudah bagus. Walaupun baru lima bulan bergabung bersamanya di asuransi ini aku sudah mendapatkan reward jalan-jalan ke Jogja bulan lalu. Dan sekarang aku harus meninggalkan apa yang baru saja aku raih karena ketakutanku disebut sebagai Malin Kundang.

“Aku juga merasa sayang, Mba. tapi aku harus pulang dulu. Tapi kapan baliknya lagi juga belum pasti. Aku minta maaf ya Mbak!” jawabku lemah.

Ada perasan sakit luar biasa yang menusuk hatiku ketika bus berjalan menelusuri jalan tol yang meninggalkan Jakarta menuju pelabuhan Merak. Sebuah perasaan yang tidak bisa kujabarkan. Apalagi ketika aku berada di atas selat Sunda yang membawaku ke tanah Sumatera, tanah tempat kota berada. Kota yang sebenarnya tidak ingin aku datangi saat ini.

Aku sengaja memilih pulang naik bus, bukan pesawat seperti yang diharapkan Ama. Bagiku semakin lama tiba di rumah akan semakin baik. Dengan naik pesawat, aku hanya membutuhkan waktu enam jam dari rumah Sinta sampai aku tiba di rumah nantinya. Dan pulang naik bis paling tidak membutuhkan waktu minimal tigapuluh jam. Jadi lebih baik bagiku naik bus saja supaya aku tiba lebih lama di rumah.

Perjalanan panjang selama tigapuluh jam sangat kubutuhkan untuk menata hatiku yang sangat kecewa pada orangtuaku. Ama tidak senang dengan keputusanku yang memilih naik bus umum. Dengan senjatanya yang suka mengancam bahwa aku anak durhaka, ia tetap bersikeras menyuruhku pulang dengan pesawat.

Ama! Icha sudah mau pulang! Kalau Ama masih tidak suka dan masih mengancam Icha anak durhako, mama doakan sajo kapal yang Icha tumpangi tenggelam ya!” ujarku emosi. Sangat emosi dengan keegoisan mamaku. Suaraku bergetar karena menahan kesal pada mama.

“Atau kalau nggak doakan bus yang tumpangi jatuh masuk jurang di Lampung sana supaya Ama puas! Dan supaya Ama tidak lagi mempunyai anak yang durhako seperti Malin Kundang! Gimana? Itu mungkin lebih baik ya, Ma?” sambung dengan nada senang tapi sinis.

******

image : google

image : google

Aku duduk memeluk kedua kakiku yang kunaikkan ke jok bus yang empuk. Badanku kututup dengan selimut yang disediakan bus. Ah, jadi lumayan hangat. Udara dingin terasa menusuk tulang karena hujan deras mengguyur bumi Lampung Selatan, tak lama setelah bus yang kutumpangi keluar dari kapal di pelabuhan Bakauheni, setengah jam yang lalu.

Mataku menatap ke jalan raya yang gelap, padahal hari masih sore, baru jam lima lewat sepuluh menit. Aku merasa beruntung masih tersedia bangku kosong di deretan depan ketika membeli tiket bus di terminal rawamangun kemarin siang. Aku paling suka duduk di deretan paling depan karena bisa dengan leluasa melihat jalanan dan daerah yang kulewati.

Hujan benar-benar deras. Tapi tak apa, karena aku sangat menyukai hujan. Memandang hujan adalah kesukaanku. Bagiku, entah kenapa air hujan deras terasa sungguh romantis. Walau kata temanku memandang rintik hujan hanyalah pekerjaan sia-sia. Tidak ada manfaatnya.

Tapi tidak bagiku. Aku sangat menyukai hujan. Pikiranku akan melayang entah ke mana sambil memandang tetesan hujan yang turun deras dari langit. Sesaat masalahku menguap dari pikiranku ketika menikmati keindahan hujan.

Ketika aku berada di rumah, aku sangat suka memandang hujan dari jendela kamarku. Tanganku terlipat di kusen jendela dan kepalaku menumpu di atas tangan yang terlipat. Seringkali aku mengulurkan tangan sambil merasakan air hujan yang dingin menyentuh kulitku.

Sewaktu kecil aku dan teman-temanku selalu berharap setiap hari turun hujan. Supaya kami bisa bermain dan mandi hujan di halaman rumah. Walaupun kemudian kami dimarahi oleh orangtua tapi kami tak peduli. Dan walaupun gigi gemeretuk karena kedingan, tak menyurutkan kebahagiaan kami bermain hujan.

Sinta juga menyukai hujan. Jadi, di Jakarta, setiap hujan turun ketika aku berada di rumah, aku dan Sinta selalu duduk di teras sambil minum kopi hangat. Kami duduk bergelung memeluk kaki sambil bercerita dan memandang hujan. Untungnya pagar rumah Sinta cukup tinggi, dan ditutupi plastic fiber, jadi orang yang lewat tidak bisa melihat kami yang duduk di teras.

Hanya itu yang kami kerjakan berdua. Bercerita sambil memandang hujan. Sungguh nikmat rasanya. Tidak perlu lagi mendengarkan musik karena suara hujan adalah alunan musik yang sangat indah.

Kaca mobil yang berada tepat di samping kiriku berembun tebal. Senyumku mengembang melihat embun-embun tebal tersebut. Secara reflek tanganku bergerak ke arah kaca tersebut. Tanganku bergerak menuliskan sesuatu.

Dengan pelan dan lembut aku menulis di sana. Hurufnya cukup besar. Ada dua kata dan satu lambang yang kubuat. Aku tersenyum melihat tulisan yang kutulis. Tiba-tiba saja aku ingat sesuatu. Aku harus mengabadikan tulisan yang kubuat dengan kamera. Takut tiba-tiba tulisan itu mengabur lagi karena embun yang menutupi tulisan yang kubuat.

Aku memandang gambar yang ada di kamera sambil tersenyum. Bagus, pikirku. Kemudian aku kembali memoto lagi tulisan tersebut dengan kamera hape. Aku akan mengirimkan gambar tersebut pada Sinta. Mengirimkan gambar tulisan yang bertuliskan “I Love Rain”. Kata love kuganti dengan gambar hati yang melambangkan cinta.

Suatu Sore, Ketika Hujan Turun

*****

Remember When it Rained

By : Josh Groban

Wash away the thoughts inside
That keep my mind away from you.
No more love and no more pride
And thoughts are all I have to do.

Ohhhhhh

Remember when it rained.
Felt the ground and looked up high
And called your name.

Ohhhhhh

Remember when it rained.
In the darkness I remain.

 Tears of hope run down my skin.
Tears for you that will not dry.
They magnify the one within
And let the outside slowly die.

Ohhhhhh

Remember when it rained.
I felt the ground and looked up high
And called your name.

Ohhhhhh

Remember when it rained.
In the water I remain

Running down
Running down
Running down
Running down
Running down
Running down
Running down

Advertisements

13 thoughts on “I Love Rain : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (bag. 2)

  1. Pingback: Segelas Kopi Persahabatan : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (bag.3) | Firsty Chrysant

  2. Pingback: Gadih Tuo : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part.4) | Firsty Chrysant

  3. Pingback: Finally, Aku Menelepon Rudy : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part 11) | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s