Gunung Bromo : Air Terjun Madakadipura

Bromo ~ Firsty

Gunung Bromo… Yeaaayyy… Siapa sih yang nggak kenal gunung Bromo? Rasanya kebanyakan orang sudah mengenal gunung yang ini. Daan jujur aja sudah sangat lama aku menginginkan jalan-jalan ke Bromo. Daaan alhamdulillah akhirnya aku bisa menjejakkan kaki di sana, di gunung yang sangat terkenal dengan sunrise, padang pasir, padang savana dan bukit teletabiesnya ini.

Aku ikut trip yang diikuti sebagian teman-teman yang dulu ikut ke Pantai Sawarna bulan Januari yang lalu. Kami ke Bromo berangkat dari naik kereta api ekonomi AC Matarmaja dari stasiun Pasar Senen menuju Malang hari Kamis, 6 November 2014 jam 3.15.

Kita nyampe di stasiun Malang jam 8 pagi. Itu berarti perjalan di kereta sekitar 17 jam, huhuhuhu…. pegeeeellll banget karena aku sampai jam 1 malam, melek terus, ngga tidur sekejappun. Baru jam setengah 2, mulai bisa tiduran walopun sering bangun dan tau kereta berhenti di mana aja. capek bangeett kann.

Pas sarapan di stasiun, aku memutuskan makan makanan berkuah hangat : soto lamongan supaya aku masuk anginnya ngga parah.

Sunrise di Penanjakan Point

Sunrise di Penanjakan Point

Air Terjun Madakadipura

Setelah sarapan kita berangkat Bromo dengan 2 mobil elf yang isinya 18 dan 17 orang. Banyak banget yaa… Karena jumlah peserta semuanya ada 35 orang. Tapiiiii…. sangat menyenangkan…. 🙂 Berharap segera ada lagi trip berikutnya… *colek Dipa.

Tujuan pertama adalah air terjun Madakadipura. Air terjun ini dikenal sebagai tempat pertapaan Mahapatih Gajah Mada, sebelum mengikrarkan sumpahnya, Sumpah Palapa. Air terjun ini berada di desa Sapeh, Kecamatan Lumbang, kabupaten Probolinggo. Dan dikenal sebagai air terjun yang lokasinya tertinggi di pulau Jawa.

Tapi yaaah… Kira-kira satu jam jalan, ada masalah sama minibus satunya. Kompresornya kebakar jadi ac minibusnya ngga nyala. Sempet kita semua berhenti 10 menitan sebelum akhirnya minibus yang aku tumpangi jalan duluan. Ntar kalo udah nyampe di Madakaripura minibus tersebut menjemput penumpang yang minibusnya rusak. Tapi pada akhirannya mereka memutuskan jalan ke air terjun, menyusul kami sembari menunggu minibus pengganti sana.

Di perapatan yang ada Desa Sukapura, ambil jalan yang berbelok ke kanan. Plang yang ada di sini menunjukan kalau jarak air terjun sekitar kurang lebih 5 km. Tapi setelah dilalui kayanya ada sekitar 8 – 10 km deh. Jalanannya kecil dan berkelok-kelok. Kadang-kadang melewati turunan tajam. Untung sopir minibus yang aku tumpangangi keren boo cara nyetirnye, hehehe. Kencang bawa mobilnya tapi tetap enak, jadi kita tetap berasa nyaman di dalamnya.

Lokasi air terjun berada kira-kira 1 – 1,5 km dari area parkiran. Pengunjung harus berjalan dari parkiran menuju air terjun tersebut melewati sungai yang diapit oleh dua bukit. Tapi jangan khawatir karena ada jalur atau trek di sepanjang pinggir kali yang dibuat khusus untuk memudahkan pengunjung menuju ke lokasinya tersebut. Jadi jalan untuk menuju ke sana bisa dibilang cukup aman untuk anak-anak usia 10 tahun.

Hanya saja pas kami ke sana kemarin, di beberapa tempat di jalur trek tersebut sedang diperbaiki jadi beberapa kali kami harus turun ke kali. Tapi turun ke kali ini justru lebih seru dong ya daripada harus hanya berjalan di trek tersebut? Apalagi kan airnya bening dan segaaaar banget…. 🙂

Daaaaan… Jangan khawatir ya, walopun harus capek-capek dulu jalan satu kilo-an dan bahkan harus turun ke kali, pemadangan di air terjunnya bagus kok… :). Air terjunnya unik. Airnya jatuh ngga terlalu deras tapi menyebar ke arah samping. Sehingga sebagian air yang jatuh seperti kaya tirai air. Air yang jatuh seperti tirai inilah yang menjadi daya tarik air terjun ini.

Pengunjung bisa turun, berjalan berbasah-basahan ke bawah air menuju bagian air terjun yang paling ujung. Di sini dinding-dinding tebing tegak lurus ke atas sehingga kita seperti berada di dalam area yang berbentuk seperti tabung raksasa. Mungkun aja di sini kali ya Patih Gajah Mada bersemedia daaan tralalaaaaa, muncul ide sumpah palapa, hehehe… 🙂

Foto : WA Group

Jadi karena ada acara berbasah-basahannya, kalau mau ke sini jangan lupa bawa jas ujan plastik yaaa. Pertama biar badan ngga kedinginan banget di siram air gunung. Dan kedua buat melindungi tas dan barang pribadi kaya henpon n kamera. Tapi kalau kamu mau berbasah-basahan dan sekalian mandi sih ngga apa-apa ngga pake jas ujan hehehe.

Bagi yang ngga bawa jas ujan, di sini juga banyak yang jual jas ujan itu kok. Harga jas ujannya 10.000 rupiah. Tapi aku beli di jakarta sih cuma 5000 untuk jas ujan yang sama, hehehe… (malah beli 5 dua puluh rebu deng, hahahaha…).

Oya…pas melewati bagian bawah air terjun, itu kaya kita disiram ujan deras. Asyik sih tapi dingin.

Pas mau balik lagi ke parkiran, aku, Dipa, A, C, abangnya Dipa, ternyata paling terakhir. Karena kami minum teh angat dulu di warung dekat air terjun. Setengah perjalanan ke arah parkir, eh udah gerimis udah aja… Dan ternyata jalanan yang sedang diperbaiki itu bisa dilewati booo. Karena para tukang yang sedang bekerja di di dekat air terjun dengan santainya berjalan di atas jalan yang rusak. Ya udah kita ikutan aja, ngga turun ke kali, hehehe…

Advertisements

16 thoughts on “Gunung Bromo : Air Terjun Madakadipura

  1. Pingback: Sunrise di Penanjakan Bromo | Firsty Chrysant

  2. Pingback: Objek Wisata Gunung Bromo | Firsty Chrysant

  3. Pingback: Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s