Pulang : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (bag : 1)

Dari google

Dari google

       “Gua harus pulang Sin,” kataku pada Sinta, sepupuku yang duduk di sofa yang ada di depanku. Badanku terasa lemas. Aku menyandarkan kepalaku di sandaran sofa.

       “Nyokap Lo kekeuh mau menjodohin lo kayanya, ya?” tanya Sinta.

Sinta mendengar semua pembicaraanku dengan mamaku lewat di telpon tadi. Tadi, mamaku menelpon Sinta karena aku tidak mau mengangkat telpon dari mama. Ia adalah sepupuku yang lahir dan besar di Jakarta. Sudah hampir tujuh bulan aku tinggal di rumah Sinta, bertiga dengan Mas Dito, suami Sinta. Sementara orangtuanya tinggal di Bandung.

       “Ngga taulah! Jaman udah modern gini masih aja pakai jodoh-jodohin kaya gini!” jawabku kesal.

       “Ya udah, siapa tau cowoknya memang baik. Ngga mungkin juga nyokap lo nyariin cowok yang ngga baik, kan?” ujar Sinta.

Aku hanya mengangkat bahu sedikit. Aku tahu Sinta mencoba menghiburku. Dan mungkin tidak tahu harus mengucapkan apa padaku.

Tiba-tiba saja dadaku terasa sesak. Aku menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya pelan-pelan. Tidak terbayang sedikutpun dalam benakku akan mengalami hal seperti ini.

       “Emang masih zaman Siti Nurbaya kali ya?” tanyaku pelan seakan bertanya pada diriku sendiri. Mataku terasa panas. Kucoba menahan airmata supaya tidak jatuh bergulir.

Sinta hanya diam. Ia tidak mau memberikan komentar apapun. Tapi aku tau ia sangat bersimpati padaku.

******

Malam sudah semakin larut. Sudah hampir jam dua belas beberapa saat yang lalu, saat kulihat jam melalui hape. Mataku sama sekali tidak bisa dipejamkan walaupun sudah hampir satu setengah jam berlalu sejak aku mematikan lampu kamar.

Berkali-kali aku menarik napas setiap kali kata-kata mama terngiang-ngiang di telingaku. Sebenarnya sejak seminggu yang lalu mama sudah menyuruhku pulang ke kampung tapi aku tidak mengindahkan keinginan mama tersebut.

Minggu lalu mama memberikan gambaran bahwa mama akan menjodohkanku. Aku dengan tegas menolak. Aku tidak ingin menikah dengan cara dijodohkan, meskipun saat ini aku tidak mempunyai teman pacar atau teman dekat laki-laki. Tapi mama bersikeras bahwa bahwa aku harus pulang.

       “Ya udah, kalau gitu ketemuannya di sini saja. Kan kato Ama dia akan ke Jakarta juga?” pintaku pada mama. Ama adalah pelafalan mama yang biasa terdengar di Padang. Dan untuk Papa biasa dipanggil Apa.

       “Bertemu di Jakarta itu tidak mungkin! Kalau Ama dan orangtuanya di Jakarta tidak masalah. Tapi Ama dan orangtuanya juga di kampung. Jadi mau tidak mau Icha harus pulang!” jawab mama tegas.

       “Nggak mau, ah!” jawabku sambil menutup pembicaraan begitu saja.

Seminggu lamanya tidak mau menerima panggilan telepon dari mama dan papaku. Bahkan sms-sms dan pesan BBM dari mama pun tidak kubalas. Hanya telpon dan sms dari adik-adikku yang masih mau kuterima dan kubalas. Jika mama dan papa menelpon menggunakan ponsel adik-adiku, tanpa pikir panjang lagi langsung hape kumatikan.

Tadi, Ama menelpon Sinta dan meminta tolong pada Sinta supaya aku mau menerima telpon mamaku, dengan satu ancaman.

        “Nih, nyokap lo” kata Sinta padaku sambil memberikan hapenya.

        “Bilang aja gue ngga mau!” sahutku kesal.

Sinta menjauhkan hape dariku, tapi kemudian berbisik, “kata nyokap lo, kalo Lo ngga mau terima, mulai sekarang anggap saja lo udah nggak punya orangtua.”

       “Apa?” aku kaget dengan apa yang kudengar. Sinta hanya mengangguk.

       “Astaga!” sambungku dengan raut muka tidak percaya.

Aku segera meraih hape Sinta dari tangannya. Dan kemudian terjadi pembicaraan yang sengit antara aku dan mama. Aku bertahan dengan pendapatku yang tidak mau pulang, mama bersikeras mengharuskanku pulang sesegera mungkin.

       “Kamu sudah tujuh bulan di Jakarta, belum mempunyai pekerjaan tetap. Hanya jadi agen asuransi. Daripada kamu jadi agen asuransi gitu, lebih pulang saja! Memalukan Ama saja itu!” kata mama dengan suara tinggi.

        “Icha ngga mau pulang cuma untuk perjodohan ini” kataku bersikeras.

Karena aku masih keras dengan pendirianku, mamaku mengancam dengan kalimat, “Pokoknyo harus pulang! Kalau ndak pulang sebelum minggu depan, ndak usah pulang sekalian. Jangan anggap lagi Ama sebagai mamamu. Lah jadi Malin Kundang namonyo itu!” kata mam degan nada mengancam.

       “Ama!” aku kaget  mendengar kata-kata mama.

     “Pilihannya pulang atau jangan pernah lagi pulang! Anggap saja kamu sudah tidak punya orangtua lagi!” kata mamanya tegas.

Aku benci dengan kalimat anak durhako. Dan aku juga sangat benci Malin Kundang. Kenapa kisah Malin Kundang, si Anak Durhako itu terdapat di daerahku. Kisah si Malin Kundang menjadi senjata ampuh para orangtua di kampungku untuk menghadapi anaknya yang berbeda pendapat yang tajam dengan mereka.

Malin Kundang tidak hanya mendapat kutukan dari ibunya. Tetapi ia juga merupakan kutukan bagi anak-anak yang berbeda pendapat yang tajam dengan orangtua di Ranah Minang. Jika kamu berbeda pendapat dengan orangtuamu, maka dengan senang hati mereka akan menyebut kamu sebagai Malin Kundang, si anak durhako.

Dan jika orangtuamu mengancammu dengan sebutan Malin Kundang, itu berarti kamu akan kalah dari orangtuamu. Bukan kalah karena mereka benar, tapi kalah karena mereka mempunyai senjata ampuh : Malin Kundang. Kecuali kalau kamu mempunyai keberanian untuk membela pendapatmu melawan dan keinginan orangtuamu.

Dan sekarang, orangtuaku mengeluarkan senjata ampuh itu untuk menghadapiku, anaknya. Senjata pamungkas : Malin Kundang.

Dalam kegelapan malam, aku menghapus air matanya yang mengalir deras. Aku masih tidak bisa mempercayai semua ini. Bahwa orangtuaku menginginkanku segera menikah. Dan pernikahan itu dilakukan melalui perjodohan seperti ini. Tidak saja sekadar dijodohkan, tetapi juga akan dipaksa untuk menerima perjodohan ini.

Malam itu, aku tidur dengan bayangan-bayangan tidak jelas. Aku duduk di pelaminan dan menggunakan suntiang yang besar teronggok di kepalaku. Pakaianku berwarna merah yang berlapis sulaman berwarna emas. Ya, pakaian pengantin minang.

Di sisiku duduk seorang pria yang tidak bisa kulihat wajahnya dengan jelas. Semuanya buram. Seperti tertutup kabut. Ia juga mengenakan pakaian yang warna dan motifnya sama denganku. Pakaian yang biasa dikenakan oleh marapulai, atau pengantin pria di Padang.

Apa? Aku sudah menikah? Tapi sejak kapan? Kenapa aku tiba-tiba berada di pelaminan ini? Tidak, ini tidak mungkin. Aku mencoba berdiri. tetapi ada sesuatu yang berat yang mengganjal di perutku. Aku tidak bisa berdiri.

Aahh, rupanya tubuhku dan kaki diikat seutas rantai. Seutas rantai yang berwarna emas.

Dengan sekuat tenaga aku mencoba melepaskan rantai yang membelenggu badan dan kakiku. Tapi tubuhku sama sekali tidak bisa bergerak. Aku mencoba berbicara pada lelaki di sampingku, yang wajahnya tidak terlihat jelas itu.

Tapi kerongkonganku tercekat. Suaraku tidak keluar sama sekali. Kemana suaraku? Kenapa suaraku tiba-tiba menghilang? Aku juga berteriak minta tolong pada orang-orang yang duduk menghadap makanan yang ada di depanku. Tapi lagi-lagi suaraku tidak bisa keluar sama sekali.

Kemana suaraku? Kenapa suaraku tiba-tiba hilang? Aku panik luar biasa. Sekuat tenaga aku mencoba berdiri dan berteriak. Dan terus mencoba teriak, sampai kemudian aku tersentak.

Mataku terbuka. Aku merasakan napasku memburu. Jantungku berdetak lebih kencang. Di sekelilingku gelap. Hanya ada cahaya yang berasal dari luar jendela. Pelan-pelan kesadaranku kembali terkumpul. Aku masih terbaring di atas kasurku. Ah, aku ternyata bermimpi. Tapi mimpi yang terasa sangat nyata. Mimpi yang sangat buruk.

15 thoughts on “Pulang : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (bag : 1)

  1. Ga kebayang kl jaman skrg dipaksa dijodohin sm ortu kepada pasangan yg kita gasuka.. Tapi kl mmg usianya sudah cukup nikah n ternyata anaknya cocok sbnrnya ga mslh sih ortu yg suka jodoh2in begini hihihi

  2. Pingback: I Love Rain : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (bag. 2) | Firsty Chrysant

  3. Pingback: Segelas Kopi Persahabatan : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (bag.3) | Firsty Chrysant

  4. Pingback: Gadih Tuo : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part.4) | Firsty Chrysant

  5. Pingback: Finally, Aku Menelepon Rudy : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part 11) | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s