Matematika 4 x 6 atau 6 x 4 Serta Kejamnya Dunia Maya

mat 6 x 4

nyomot dr internet yang beredaran yaa

Kemaren aku baca link yang memosting kehebohan matematika tentang perkalian 6 x 4 dan 4 x 6. Kasus tentang guru yang menyalahkan siswanya yang membuat proses penambahan berulang menjadi perkalian. Mungkin teman-teman udah tau kasusnya lah ya…

Tak tanggung-tanggung, si guru selain dibela karena secara proses atau konsep si guru memang benar, banyak orang juga yang membully habis-habisan si guru. Ada yang bilang si guru goblok, bego, oon, lebih bego dari si murid sendiri hanya karena melihat hasil kedua perkalian tersebut sama.

Hallooww… Itu mereka yang membully si guru kalau ngga ngerti prosesnya mbok ya nanya dulu ke orang orang yang lebih ngerti dan paham. Jangan asal bilang orang bego, goblok dan bodoh hanya karena ngga ngerti proses, hanya karena melihat hasilnya benar.

Sampai-sampai beberapa pakar sains dan matematika dari universitas ikut nimbrung memberikan pendapat. Mereka, seperti Bapak Yohanes Surya dan Bapak Iwan Pranoto serta Profesor Lapan, Bapak Thomas Djamaluddin, serta dosen matematika ITB Bapak Ahmad Muchlis memberikan penjelasan tentang proses penjumlahan yang dijadikan perkalian tersebut. Dan yang lebih parah lagi kemendikbud melalui humasnya minta disdik menegur guru tersebut. Bener2-bener jadi heboh banget dong yaaa…

Jadi gini, ini kan pelajaran anak kelas dua SD. Ingat yaa, kelas dua SD. Di kelas dua SD, mulai dikenalkan pelajaran perkalian. Konsep awal dari pelajaran perkalian untuk anak kelas 2 SD adalah : Penjumlahan yang berulang. Jadi mereka ngga ujug-ujug dikasih latihan perkalian dan hapalan perkalian. Nggak! Ini konsep awal belajar perkalian yaaa…

Sekali lagi, matematika bukan hanya hasil ya. tapi juga liat prosesnya gimana, konsepnya gimana. Dan aku pikir si gurunya pasti sudah memberikan konsep yang benar tentang penjumlahan berulang menjadi perkalian. Hanya saja yang namanya anak-anak pasti ada lupanya. Laahh wong kakaknya yang kuliah di teknik mesin aja lupa, wajar anak SD kelas dua yang baru belajar ngga langsung mengerti gimana prosesnya.

Dan juga ini ngga ada sangkut pautnya dengan sifat komutatif segala macem, ngga. Sifat komutatif dan sodara-sodara yang asosiatif serta distributuf, belajarnya ntar kalo udah tinggian lagi kelasnya, baru belajar kalo ngga salah kelas 3 deh. Jadi gurunya ngga lagi ngajarin komutatif dan geng-nya yaaa… Beda itu yaaa… 🙂

Karena ini adalah konsep awal belajar perkalian, mereka kan butuh proses supaya sampai ke tahap akhir. Bukan hasil akhir. Dan pada awalnya pun mereka hanya belajar prosesnya aja, bukan hasilnya. Contoh : 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 + 5 = 7 x 5. Ngga ada hasilnya berapa kaaa? Hanya prosesnya saja. Okee…? 🙂 *udah berapa kali sih gue ngomong proses dan konsep..?? hehehe

Inilah yang sedang dipelajari oleh anak SD kelas dua. Jadi, soal jawabannya, jangan disamain dengan jawaban orang dewasa yang melihat “itu jawabannya kan sama!” Bukan kaya gitu. Mereka belajar proses perkalian dimana perkalian itu berasal dari penjumlahan yang berulang.

Sekarang liat ilustrasi di bawah ini ya :

matematika

Bayangkan suasana lagi ada di kelas yaaa 🙂

Murid kelas 2 SD akan belajar perkalian ya. Sang guru mengilustrasikannya dengan cara membuat gambar apel 4 biji dalam 6 kelompok di papan tulis. Seperti gambar di atas. Ia membahasakan satu kelompok apel tersebut dengan satu kantong.

Guru : Anak-anak sayaaang… Ada apel sebanyak 6 kantong. Satu kantong isinya 4 buah. Kalau dijumlahkan semuanya ada berapa, Sayang? *boleh dong si guru manggil muridnya sayang biar anak-anaknya merasa dicintai dan disayangi*

(si murid-murid mikir dulu, itung dulu, gurunya nyuruh hitung gambar dulu, itung…itungg… dibantu guru juga sih…, sampe akhirnya dapet jawaban 24)

Murid-murid : 24 Ibuuu…

Guru : Pinteeeerrr…. 24 kan ya sayaangg…

Guru nanya si anak-anak lagi

Guru : Anak-anak, Sayang…. Ada berapa banyak angka 4 -nya?

Si murid ngitung lagi berapa banyak angka 4-nya.

Murid-murid : Ada enam, Ibuu…

Guru : Baguusss… Ada enam yaaa… Angka empat nya ada berapa kali, Sayang… *sengaja ngulang lagi pertanyaannya. 🙂

Murid-murid : enam kali Ibuuuu... *si murid jawab makin kenceng karena barusan udah dijawab, hehehe

Guru : Pinteeerr… Jadi kita tulis (guru menulis 6 ) enam… kali… empat

Si guru terus ngasih penjelasan, bla…bla…bla… biar anak-anaknya ngerti.

Dari gambar apel di atas, apakah ada yang yang sepakat kalau aku bilang 6 nya ada 4 kali? Kayanya ngga ya… Jadi semua sepakat kalau 4-nya ada 6 kali ya. Makanya, bentuk penjumlahan berulang 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4, diubah ke bentuk perkalian menjadi 6 x 4. Artinya 6 kali angka 4 nya. Bukan 4 kali angka 6 nya.

Dan sekarang, coba liat gambar di bawah ini :

matematika2

Dari penghitungan gambar apel diatas, dari segi proses penerapan penjumpahan berulang menjadi perkalian (bukan hasilnya yaaa), apakah sama 6 x 4 dengan 4 x 6?

Dan untuk si guru yang dibully dengan ‘kekejaman dunia’ maya, yang tabah yaaa… 🙂

Advertisements

35 thoughts on “Matematika 4 x 6 atau 6 x 4 Serta Kejamnya Dunia Maya

  1. aku kemarin ngasih lihat soal itu ke adikku yang kelas XII. Dan dia juga jawabnya itu 4×6. soalnya angka 4 nya duluan katanya. aku juga kayaknya kalau nggak mikir panjang bakal jawab 4×6. soalnya mataku lihat angka 4 nya duluan. jadi aku lebih memandang ini ke masalah visual. konsepnya memang benar sih. tapi mungkin otak lebih dulu menerima pesan dari mata ketimbang menghitung jumlah angka 4 itui

    • Alhamdulillah tercerahkan…

      Sebenarnya ngga ribet2 amat juga sih bagi anak SD kelas dua…. yang penting harus ada gambarnya dulu biar mereka gampang ngerti… Dikasih pemahaman yang memudahkan mereka…

      Perkara nantinya mereka lupa lagi kalau udah gedean, itu perkara lain… kaya kita yang memang kebanyakan lupa dengan konsep dasar seperti itu…

  2. Eh aku baru tau ada kasus ini… Kalo kata almarhum Gus Dur sih.., “gitu aja koq repot..” Kayaknya terlalu banyak orang yg merasa berhak ngomong apapun mentang-mentang pake keyboard ngomongnya..

    • iya katanya udah minta maaf yaa… padahal udah bikin satu negara heboh,, tapi bagus juga sih biar jadi pada kepikiran. biar nanti orangtua juga ngerti, guru juga tau gimana menjelaskan supaya ngga terjadi lagi kesalahan kaya gini…

  3. Lihat sisi baiknya aja, Pak mentri jadi langsung ikut nimbrung 🙂 .
    anak kelas dua SD yang sedang belajar konsep, apakah tidak langsung surut di nilai 20. kalau 1,2 yang jawabannya seperti diatas, murid belum ngerti. kalau hampir semua kelas jawabannya seperti yang bikin heboh, konsep yang disampaikan guru belum sampai.

  4. I have a medical background and i didn’t give any damn “click” about it…
    let say tiap kantong isi enam ngasih dua isinya ke dua kantong kosong, krn ada empat kantung berisi enam makanya sekarang ada enam kantong berisi empat, hasilnya @#^#%@)&#^@O*&)#
    gak ngudeng ade

  5. Pingback: Oke… Guru Juga Manusia Biasa : Ini Tentang Matematika dan KPK | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s