Rumah Gadang Solok

Rumah Gadang Selayo yang berwarna merah menyala dengan halaman yang luas... Pengeenn

Rumah Gadang Selayo yang berwarna merah menyala dengan halaman yang luas… Pengeenn

Waktu lebaran kemaren saya libur cukup lama. Sebulan buuuu…. Saya baru balik ke Jakarta setelah minggu ketiga seabis lebaran, enakan yaaa… hehehe. Sebenarnya sih udah mulai bete juga di rumah tapi untung ada ponakan-ponakan yang balita yang bikin betah.

Nah, kadang-kadang pas lagi bete, dan ponakanku lagi ngacir entah kemana, aku juga ngacir sendirian pake motor. Ngacir ke rumah sahabatku. Rumah teman yang kunjungi selama liburan paling juga tiga rumah sahabatku. Yang satu sahabatan karena kita tetanggaan dan satu sma serta kuliah bareng. Yang dua sahabat dari smp sampe sekarang, alhamdulillah.

Dua sahabat smp-ku kan pns ya dan sudah nikah n punya anak pula, jadi kalau pengen ngacir paling bisanya sore : dengan catatan kalo aku tega ninggalin keponakanku, hehe. Dan sahabatku tetanggaku ini, jangan harap bisa narik dia jalan pake motor kalau hanya sekadar muter-muter aja. Bagi dia mendingan anteng di rumah atau kantor tokonya daripada berpanas-panas naik motor.

Maka jadilah aku kadang-muter-muter ngga jelas keliling kota. Liat persawahan, bukit-bukit kecil sambil mengkhayal lagi piknik ala Julian Kirin bersaudarq dalam serial Lima Sekawan atau Trio Detektif, hehehe.

Kadang di jalan ketemu warung yang jual karupuak leak, dan ini banyak banget yang jualan. Nah pas lagi iseng inilah aku merhatiin ternyata di kotaku dan sekitarnya masih ada bangunan Rumah Gadang, rumah khas Minang Kabau. Karena aku tadinya jalan ngga bawa kamera digitalku, maka kamera henpon pun jadi. Dan ketika besok janjian ketemu dengan teman, aku selalu bawa kamera supaya kalau ketemu rumah gadang bisa langsung difoto….🙂

Dan bahkan karena nemu satu rumah gadang yang bagus, eh malah jadi keterusan dan keasyikan nyari ke mana-mana. Bahkan sampai ke Selayo yang memang banyak Rumah Gadangnya. Liat-liat Rumah Gadang tersebut terbersit niat ‘kalau punya rumah pengennya punya rumah gadang juga.’ Amiiiiin amin ya rabbal alamin.

*Katanya biaya bikin rumah gadang muahaaaal banget*

Iddiihh, niata amat ya aku mostingin rumah gadang? Iya doong, aku sebagai anak nagari ingin dong memberikan seujung kontribusi membuat dokumentasi sebagian kecil rumah gadang yang ada di kampungku. Bukan apa-apa, siapa tau aja nantinya rumah gadang itu pelan-pelan hilang satu persatu, kan sedih juga juga. Liat tuh di bawah ada loh yang udah hancur karena ditinggal pemiliknya yang merantau…😦

Nah… Ini dia Rumah Gadang yang aku abadikan lewat kamera digitalku…. Eh, ga semua rumah tinggal sih, ada kantor yang berbentuk rumah gadang. Semoga teman-teman menyukainya…🙂

46 thoughts on “Rumah Gadang Solok

    • Masih banyak nemu sih Yan, Itu kan hanya dalam radius 3-4 km aja. di nagari yang berjarak 2 km lagi juga masih banyak. Ntar insya allah dicari lagi pas pulang lebaran.

      Mudah2an masih banyak yang berpikran sama dengan pemilik2 rumah di atas umtuk membangun dan merawat rumah gadang, termasuk aku….🙂

      • di sini juga kayaknya ada yang sengaja bikin rumah kayak rumah banjar dulu. rumahnya besar dan warnanya merah. cuma kayaknya itu biayanya mahal. secara kayu semua😀

      • iya, rumah banjar. kalau nggak salah sih rumah yang besar itu khusus buat keturunan bangsawan, makanya nggak terlalu banyak. nah kalau untuk rumah kalangan rakyat biasanya juga udah nggak banyak lagi. udah hancur atau diubah jadi rumah jaman sekarang

      • Kalau di sini rumah gadang bukan cuma untuk kalangan ‘bangsawan’, tapi juga orang biasa. aku kasih kutip karena di sini bisa dibilang ngga ada strata bangsawan dan bukan bangsawan. Di sini masyarakatnya egaliter. Jadi rakyat biasa bikin rumah gadang asalkan mampu secara ekonomi untuk membangunnya.

      • Iya… ngga ada. Emang ada datuk… tapi fungsinya adalah untuk menjaga adat dan aturan-aturan nagari… Gelar datuk inipun tidak diturunkan ke anak, tapi ke keponakan.
        Dalam sistem adatnya ada yang disebut dengan tigo tungku sajarangan, artinya 3 pilar dalam masyarakat : alim ulama, cadiak pandai, ninik mamak yang intinya tiga kelompok yang mengatur kehidupan yaitu Alim ulama, kaum cadiak pandai (cerdik pandai) atau orang yang berpendidikan, dan ninik mamak atau kaum adat

      • ooo. kalau di sini kayaknya nggak ada adat kayak gitu sih. cuma di kabupaten Banjar kayaknya mau menghidupkan lagi tata cara pemerintahan kerajaan banjar jaman dulu. nggak tahu juga praktiknya gimana. cuma kemarin beberapa keturunan bangsawan pada ganti gelar

    • Sekarang bersyukur banget yah yan, sebagian besar kantor pemda di daerah2 pada ngikutin rumah adat yang ada di daerah sana.. Kemaren klo gue perhatiin di Banjarmasin begitu dan di kampung gue juga begitu.. Agak kecewa dengan kantor Pemda Kepahiang salah satu daerah di provinsi bengkulu yang menurut gue terlalu kebarat2an…

      • iya, muse. kalau kantor-kantor ada beberapa yang makai bentuk rumah adat. tapi ada juga sih yang udah modern. kadang suka sedih juga. di kota ini kok nggak ada nuansa klasiknya sama sekali😀

      • Alhamdulillah Mus… Di Padang, gedung pemerintah dari dulu kebanyakan berarsitektur rumah gadang… Kantor gubernur, wali kota, kantor bupati, kecamatan sampai kantor desa… kudu wajib hehe

      • Baguslah, soalnya klo ga dimulai dari pemdanya sendiri bisa2 beberapa puluh tahun lagi masing2 daerah udah lupa klo pernah punya rumah adat masing2…

      • Dia bikin kayak gedung putih dia amerika dengan aksen romawi gitu…. Bagus sih, cuma jauh dari nuansa bengkulunya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s