Malin Kundang si Anak Durhako

Pantai Aia Manih

Alkisah, pada zaman dahulu kala (ini ciri khas cerita rakyat banget yaaa…^^) di sebuah kampung hiduplah seorang janda bersama anak laki-lakinya. Janda itu bernama Mande Rubiah dan anaknya bernama Malin Kundang, yang biasa dipanggil Malin. Suami Mande Rubiah sudah meninggal sewaktu Malin masih bayi.

Mande Rubiah tinggal di sebuah kampung perbukitan yang dekat dengan pantai dan muara laut. Dari halaman rumah mereka, mereka bisa memandang lepas ke kapal-kapal yang bersandar di dermaga pelabuhan.

Malin sekarang sudah remaja. Sejak kecil Malin sangat patuh dan rajin membantu ibunya mengolah ladang mereka. Kadang-kadang mengolah sawah mereka yang ada di luar kampung, atau mencari kayu bakar di hutan.

Kalau sedang tidak pekerjaan Malin senang sekali melihat kapal-kapal yang datang dari atas pohon yang tumbuh di depan rumahnya. Kadang-kadang ia dan teman-teman sebayanya sering datang ke pelabuhan dan naik ke  kapal untuk melihat kapal-kapal tersebut.

Berbagai macam orang dilihatnya keluar dan masuk dari kapal-kapal yang datang dan pergi tersebut. Ada beberapa saudagar kaya di kampungnya yang sering berlayar dari pelabuhan. Ada juga orang-orang yang datang dari daerah lain yang datang ke kampung mereka. Hal itu sangat menarik hati bagi Malin.

Setiap kali melihat kapal-kapal tersebut membuat Malin berkeinginan berlayar dan berkelana seperti orang-orang tersebut. Berlayar dengan kapal dan singgah di berbagai tempat dan negeri yang belum pernah ia datangi. Negeri yang hanya ia dengar dari cerita-cerita orang.

“Suatu saat nanti aku juga akan pergi dengan salah satu kapal tersebut!” kata malin dalam hatinya penuh tekat.

Malin mengungkapkan keinginannya pada ibunya yang ia panggil Mande. Ibu Malin hanya diam saja mendengarkan keinginan anaknya.

“Bagaimana Mande, boleh Malin nanti ikut berlayar dengan saudagar kampung kita, Mande?” tanya Malin yang melihat ibunya hanya diam.

 

Mande Rubiah menarik napas dalam-dalam. Ia menyentuh kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. Sementara jari jempolnya meraba bekas luka yang ada di kening Malin. Luka itu ada karena Malin pernah terjatuh pada alat tenun miliknya. Ia mengusap-ngusap luka tersebut dengan lembut.

Matanyanya menatap mata putra semata wayangnya tersebut dan lantas bersuara.

“Malin, hanya Malin yang Mande punya. Selain Malin tidak ada lagi keluarga Mande. Apo tega Malin meninggalkan meninggalkan Mande sendirian?” kata Mande Rubiah dengan suara lirih.

Malin hanya diam degan pertanyaan yang diajukan ibunya. Ia juga tidak tega meninggalkan ibunya sendiri di kampung mereka. Baginya, hanya ibunya saja yang ia punyai. Tetapi ia juga ingin berkelana dan mengembara ke berbagai negeri yang jauh di sana, di seberang lautan.

Malinpun tidak pernah lagi mengungkapkan keingainannya untuk berlayar pada ibunya. Tetapi setiap kali kapal datang ia selalu melihat kapal-kapal tersebut ke pelabuhan. Juga memandang dari dari halaman rumahnya yang berada di atas bukit, berharap bisa berlayar dengan kapal tersebut. Berbulan-bulan ia melakukan itu.

Hati Mande Rubiah selalu sedih melihat anaknya selalu memandang kapal-kapal tersebut dari atas pohon yang ada di halaman rumah mereka. Ia ingin sekali mengizinkan Main berlayar. Tetapi ia selalu sedih membayangkan anaknya yang sayangi pergi berlayar meninggalkan dirinya ke negeri antah barantah. Baginya lebih baik mereka hidup sederhana di kampung. Walaupun tidak kaya hidup mereka berkekusahan.

Suatu hari ketika mereka berdua selesai makan malam, Mande Rubiah berbicara pada anaknya, Malin.

“Malin, Mande tau Malin kini sudah dewasa, bukan lagi anak-anak atau remaja. Mande mengerti keinginan Malin.” kata Mande Rubiah.

“Maksud Mande? Malin indak mengerti.” sahut Malin bingung. ~ tidak mengerti.

“Dua minggu lagi setelah panen, saudagar dari kampung sebelah akan berlayar. Kalau Malin benar-benar ingin ikut berlayar, Mande akan izinkan.” kata Mande Rubiah dengan suara tercekat. Malin terkejut. Tidak menyangka sama sekali ibunya akan berbicara seperti itu. Ia terdiam sesaat.

“Betul Mande? Mande serius?” tanyanya dengan wajah sumringah.

Mande Rubiah hanya mengangguk sambil tersenyum. Matanya terasa panas tapi ia bahagia melihat pancaran bahagia pada wajah anaknya.

***

Pada hari Malin berangkat, Mande Rubiah benar-benar tidak bisa menahan isak tangisnya. Selama berhari-hari setiap malam air matanya selalu mengalir tanpa berhenti. Ia menangis tanpa suara. Sekarang saat anaknya akan berangkat berlayar, ia ia tidak bisa menahan hatinya. Tangisnya pecah dalam pelukan anaknya.

“Mande, tolong Malin dengan doa supaya pulang jadi orang yang berhasil ya.” kata Malin sambil mengusap air matanya.

“Tentu Nak, tentu saja Mande doakan.” jawab Mande Rubiah dengan suara parau karena tangisannya.

Malin pun berangkat, berlayar meninggalkan pelabuhan. Meninggalkan kampung halaman tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Dan tentu saja meninggalkan ibunya yang ia cintai, berlayar bersama saudagar dari kampung yang berdekatan dengan kampungnya.  Ia hanya membawa buntelan yang berisi beberapa pakaian dan dua bungkus rendang dan dendeng buatan ibunya.

Setiap hari ibu Malin selalu memandang ke arah pelabuhan untuk melihat kapal yang datang. Setiap ada kapal yang berlabuh ia datangi berharap anaknya pulang merindukan dan menengok dirinya. Juga ketika saudagar tempat Malin menumpang, pulang beberapa bulan kemudian, ia pun segara mencari anaknya.

Tetapi alangkah sedihnya hati Mande Rubiah karena tidak mendapati anaknya bersama rombongan tersebut. Kabar yang ia dengar adalah Malin pindah bekerja pada saudagar lain ketika mereka hendak kembali pulang. Mande Rubiah selalu berdoa dan berharap anaknya segera pulang ke rumah mereka.

***

Malin Kundang sekarang tinggal dan bekerja pada seorang saudagar di Negeri Campa. Sudah tiga tahun ia bekerja di sini. Sebelumnya ia kerja berganti-ganti dari satu saudagar ke saudagar yang lainnya. Ia dikenal sebagai pemuda yang rajin, ulet dan cekatan.

Saudagar dari Negeri Campa tersebut sangat menyukai pribadi Malin Kundang yang rajin dan pekerja keras. Ia dan istrinya menjodohkan Malin Kundang dengan putrid mereka yang sudah mulai dewasa. Semula Malin menolak perjodohan tersebut karena ia hanyalah seorang anak buah, tidak sepadan dengan putri saudagar.

“Malin, aku tak hendak menikahkan anakku dengan anak saudagar lain kalau aku melihat dan mengenal pemuda baik seperti dirimu. Aku sudah mengenalmu beberapa tahun ini. Itu sudah cukup bagiku untuk melihat bahwa kamu sangat cocok dengan putriku!” kata saudagar.

Akhirnya, Malin menikah dengan putri saudagar. Pernikahan mereka dirayakan besar-besaran. Malin hidup bahagia bersama istri dan mertuanya. Apalagi kemudian anak-anak mereka lahir dan tumbuh menjadi anak-anak lucu dan menggemaskan, menambah kebahagiaan Malin dan istrinya. Malin meneruskan usaha ayah mertuanya ketika ayah mertuanya meninggal.

Beberapa tahun kemudian, Malin dan isterinya berlayar ke kampung halamannya dengan menggunakan kapal mereka. Ia sangat merindukan ibunya di kampung. Anak-anak mereka tidak ikut, dan ditinggalkan bersama ibu mertua Malin. Anak-anak Malin walaupun sudah berusia hampir sepuluh tahun dan delapan tahun, terlalu kecil dibawa berlayar jauh. Apalagi perjalanannya bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Kabar akan kedatangan seorang saudagar yang bernama Malin Kundang terdengar sampai ke kampung Malin. Awak-awak kapal yang merapat lebih dulu yang mengabarkan pada orang-orang di pelabuhan. Para warga kampung dan teman-teman Malin sewaktu kecil dulu menunggu dan berharap bahwa saudagar Negeri Campa tersebut benar-benar Malin Kundang anak Mande Rubiah, warga kampung mereka.

Mereka juga memberitahukan akan kedatangan saudagar Negeri Campa tersebut pada Mande Rubiah. Mande Rubiah yang sangat merindukan anaknya begitu gembira. Ia segera membersihkan rumahnya yang sekarang sudah tampak tua. Dan ia juga berniat hendak membuatkan makanan kesukaan anaknya, rendang.

Setiap hari matanya selalu memandang ke arah pelabuhan, memandang kapal yang berlabuh. Setiap ada kapal yang mendekat hendak berlabuh, ia segera turun menuju pelabuhan. Tetapi berkali-kali harapannya kandas, karena kapal anaknya belum berlabuh.

Suatu sore yang cerah, beberapa hari kemudian, terdengar kabar bahwa kapal saudagar Malin bersandar di pelabuhan. Banyak warga kampung di sekitar pelabuhan datang untuk menyaksikan kapal warga kampung mereka yang sudah jadi saudagar di negeri orang. Tidak terkecuali Mande Rubiah.

Mande Rubiah berusaha naik ke kapal seperti orang lain untuk melihat anaknya. Ketika ia berada di geladak kapal, ia melihat seseorang turun dari tangga geladak atas. Orang tersebut Malin Kundang yang turun bersama istrinya. Beberapa orang kampung yang naik kapal berguman bahwa laki-laki gagah yang sedang turun dari tingkat atas tersebut adalah Malin Kundang.

“Lihat, dia sepertinya si Malin!”
“Benar, dia Malin Kundang!”
“Iya, sudah kaya ia sekarang ya…!”

Malin memandang ke segala penjuru pelabuhan. Betapa ia merindukan tempat ini, tempat ia dan teman-temannya dulu bermain. Sudah belasan tahun ia meninggalkan kampung halamannya tapi kampungnya terlihat masih belum banyak berubah.

“Oii Malin, apa kabarmu? Masih ingat aku temanmu? Sudah jadi saudagar rupanya sekarang?” teriak seseorang pada Malin Kundang. Malin memperhatikan orang yang memanggilnya. Ia mencoba mengingat-ingat orang yang ada di hadapannya.

Tepat pada saat itu sseorang berteriak dan langsung menubruk dan merangkul Malin.

“Malin anakku…” teriak orang yang merangkul Malin.

Orang itu adalah Mande Rubiyah, Ibu Malin. Ia terlihat sangat lusuh. Wajahnya terbenam di dada anaknya. Ia menangis sesunggukan karena bahagia. Anak yang dirindukannya sudah pulang dan kembali sebagai orang yang sukses.

Malin terkejeut, darahnya tersirap. Wanita ini ibunya? Ibu yang selama ini ia rindukan? Pelan-pelan Malin melepaskan pelukan Mande Rubiah dan melihat memandang wajah wanita tersebut dan memastikan wanita tua ini adalah ibunya. Wajah Mande Rubiah sudah keriput dan terlihat sudah sangat tua melebihi umurnya.

“Akhirnya kamu pulang Nak. Akhirnya kamu pulang! Mande sangat merindukanmu.” Kata Mande Rubiah memandang anaknya.

Isteri Malin yang berdiri di sampingnya pun terkejut melihat wanita tua lusuh yang memeluk suaminya mengaku sebagai ibunya. Meskipun ia tidak bisa bahasa daerah suaminya, ia mengerti apa yang diucapkan Mande Rubiah. Malin selalu menggunakan bahasa daerahnya ketika berbicara dengan anak-anak mereka.

“Perempuan tua dan jelek ini Ibumu, Kanda?” tanyanya dengan nada tajam. Seingatnya suaminya suaminya bercerita ibunya seorang wanita cantik.

Mendengar pertanyaan istrinya, Malin mendorong ibunya dan berkata, “Tidak, kamu bukan ibuku!” katanya setengah berteriak. Orang-orang yang melihat kejadian itu terkejut tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

“Malin! Ini Mande Nak, kenapa kamu melupakan Mande?”

“Kamu bukan ibuku!” sahut Malin dengan keras. Penduduk kampung yang melihat kejadian itu mencoba megingatkan Malin bahwa wanita tua yang ada di hadapannya adalah ibunya sendiri.

“Malin, dia ibumu!”
“Dia ibumu Malin!”
“Durhaka sekali kamu Malin, tidak mengakui ibumu sendiri!”
“Ibuku cantik. Tidak tua dan jelek seperti ini!” kata Malin tetap tidak mengakui ibunya.

Ia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk kembali berlayar. Ibu Malin menangis. Ia sangat terluka dengan kata-kata anaknya.

“Ya Tuhan, tolong tunjukkanlah kebenaran padaku. Kalau dia memang bukan anak hamba, biarkan ia kembali dengan selamat. Tapi kalau ia memang anak hamba, lebih ia jadi batu daripada hamba mempunyai anak yang durhaka seperti ini” ratap Mande Rubiah pilu. Semua orang mendengar ratapannya, termasuk Malin Kundang.

Suara guntur yang keras tiba-tiba memecah langit yang cerah begitu Mande Rubiah menyelesaikan ucapannya. Orang-orang terkejut memandang langit sore yang indah itu tiba-tiba berubah menjadi menjadi mendung.

Orang-orang segera turun dari kapal Malin Kundang. Beberapa orang memapah Mande Rubiah yang masih menangis dikecewakan anaknya. Mereka meyaksikan kapal Malin Kundang yang bergerak meninggalkan pelabuhan di bawah langit yang mendadak menjadi gelap.

Langit yang gelap tersebut tiba-tiba meneteskan air hujan dengan deras. Orang-orang berlari meninggalkan dermaga. Sebagian langsung menuju rumah. Sebagian lagi singgah dulu lapau, membicarakan apa yang baru saja meraka lihat. Orang-orang saling mempertanyakan perubahan yang sangat mendadak ini.

****

Di atas kapal yang belum begitu lama berlayar, para awak kapal sedang panik. Tiba-tiba saja badai datang menghadang. Langit kelam, gelombang mengguncang dan mengayunkan kapal. Mereka berusaha supaya angin membawa kapal lagi ke pelabuhan yang belum jauh mereka tinggalkan.

 Di sebuah sudut kapal, tampak Malin bersimpuh, menangis memanggil ibunya. Ia menyesali apa yang telah ia lakukan pada ibunya.

“Mande… ampunkan denai. Ampunkan denai Mande…” katanya meratap pilu.

Ia tidak memedulikan keributan anak buahnya yang sedang mengendalikan kapal yang dihadang badai di laut. Juga tidak peduli lagi di mana keberadaan iserinya di kamar. Badai terdengar makin besar dan ribut. Suara-suara awak kapal terdengar makin panik karena badai yang tampak aneh ini.

Malin bersujud memohon ampun karena telah durhaka pada ibunya.

Sebuah gelombang besar mengayunkan kapal yang membuat semua awak kapal menjerit.

***

Keesokan harinya langit kembali cerah. Tetapi orang-orang kampung pelabuhan tersebut dikejutkan oleh berita yang disampaikan oleh orang-orang dari kampung bukit hilir, sekitar dua km arah utara pelabuhan.

Mereka bercerita, bahwa semalam ketika hujan deras dan badai aneh yang melanda kampung-kampung di pinggir pantai tersebut terdengar bunyi hempasan yang besar. Paginya beberapa penduduk mencoba mencari tahu bunyi tersebut di pantai.

Di sana mereka menyaksikan tiba-tiba terdapat deretan batu baru yang belum mereka lihat sehari sebelumnya. Sederetan batu yang berbentuk kapal. Di bagian salah satu pinggir kapal tersebut terdapat batu yabg berbentuk seperti orang yang sedang sujud.

Masyarakat kampung Mande Rubiah menyakini bahwa batu yang berwujud manusia yang sedang sujud tersebut adalah Malin yang sudah dikutuk menjadi batu karena sumpah ibunya. Mande Rubiah yang kemudian mengetahui tentang batu tersebut tidak terkira menyesal telah mengutuk anaknya sendiri.

24 thoughts on “Malin Kundang si Anak Durhako

  1. Ampunkan denai, maaak. Dhuarrrr!!!!
    *Jadi batu*

    Saya berpikir mengapa emaknya tidak berdo’a saja agar Allah memberikan hidayah-Nya kepada si Malin? Bukankah Allah itu Maha Pembolak-balik hati hamba-Nya?
    Mengapa emaknya justru membalasnya dengan dendam agar menimpakan sesuatu yang buruk kepada anaknya?

    Hayo bisa jawab 🙂

    • hehehe… pertanyaan bagus Mas Iwan. Dan ini adalah pertama kalinya aku dengar pertanyaan kaya gini tentang Malin Kundang.

      Tapi setelah dipikir-pikir jawabanku ada 2 :

      Pertama, kalo mande-nya memaafkan anaknya dan mendoakan anaknya sehingga anaknya jadi insyaf lagi, ngga bakal ada kisah si malin kundang. Betulkan?

      Dan alasan kedua. Karena batunya berbentuk orang sujud, maka ceritanya dibuat seperti itu. Cerita hanya tinggal menyesuaikan aja.

      *jawabanya serius amat 🙂

  2. Pingback: Cara Menuju Batu Malin Kundang Pantai Air Manis | Firsty Chrysant

  3. Pingback: Batu Malin Kundang Pantai Air Manis Padang | Firsty Chrysant

  4. Pingback: Pulang : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (bag : 1) | Firsty Chrysant

  5. Pingback: Awalnya Mau ke Bali atau Padang, Tapi Nemplok di Negeri Singa | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s