Jumat Mubarak dan Fenomenanya

Jumat mubarak… Atau selamat berhari Jumat adalah ucapan yang sering terdengat diucapkan ketika hari Jumat tiba. Baik itu secara langsung atau pun melalui sosial media yang banyak digunakan orang-orang saat ini.

Benar, hari Jumat adalah hari yang dimuliakan bagi umat islam. Penghulu segala hari. Di hari Jumat tersebut terdapat satu amalan yang wajib dilakukan bagi lelaki muslim yang sudah dewasa, yakni ,ibadah Shalat Jumat.

Bagi sebagian cewek muslim (setidaknya dari yang aku kenal ya) shalat jumat sering kali menjadi faktor kunci dalam menilai cowok muslim. Maksudnya? Gini, ketika seorang cowok muslim tidak mengerjakan ibadah shalat wajib (harian), tapi masih mau ikut shalat jumat, ini cowok masih lumayanlah. Ngga terlalu keliatan kosong banget.

Tapi jika cowok yang mengaku muslim, udah ngga shalat wajib harian shalat jumat pun nggak, yaah wassalam deh. Nggak ada lagi yang bisa diliat dari cowok tersebut. Kayanya itu cowok kosong banget. Muslimah jadi ilfil.Mau seganteng apapun dia, sekeren apapun dia, jadi tidak ganteng dan keren lagi.

Makanya ada temanku yang setiap hari jumat selalu bikin status di fb (kalo aku lg fb-an ya) “Yang ganteng yang pergi shalat jumt” hahaha. Tapi sekali lagi ini jangan di’jeneralisir’ yaa. Karena setiap orang punya pandangan yang berbeda dan punya penilaian yang berbeda juga.

Oke, kita cukupkan ngomong soal cowok yang shalat jumat atau nggak. Sekarang aku mau ngomong tentang fenomena hari jumat yang sering kulihat.

Pada hadi jumat biasanya (mungkin teman-juga sering liat) bahwa pada hari tersebut buaaanyaaaak sekali pengemis yang bertebaran di sekitar mesjid. Mereka tentu berharap memperoleh rezeki lebih di hari jumat dengan cara mdnadqhkqn tangan meminta kasihan jemaah jumat sekeluarnya  dari mesjid.

Aku pernah jalan pas lagi shalat jumat di dekat mesjid, di sepanjang banyaaak pengemis yang sudah menempati pos masing-masing, menunggu jemaah keluar dari mesjid. Berbagai macam gaya mereka. Ada ibu-ibu atau bapak-bapak tua yang berekapresi lemeeees banget. Ada juga yang mempunyai cacat fisik yang ditemani orang yang kuat dan sehat. Dan ada juga sepertinya terlihat masih kuat dan sehat. Tapi yang pasti apapun gaya mereka, mereka terlihat atau memperlihatkan diri kumal dan dekil (maaf yaaa).

Pernah juga suatu kali ketika di dalam bis aku melihat ke pinggir jalan ada rombongan ibu-ibu yang hanya memakai daster dan tas lusuh berombongan. Lucunya mereka memakai kerudung. Eh ngga satu rombongan aja ternyata, ada rombongan lain di tempat lain. Saat itu aku hanya berpikiran kasian bangat rombongan ibu-ibu tersebut. Eh ngga berapa lama kemudian aku lewat di depan mesjid yang pengurusnya sedang me ggelar sajadah di teras mesjid. Baru deh ngeh kalau saat itu hari jumat. Jadiiii ibu-ibu tadi niatnya mau ngemis kali yaaaa *langsung suuzon hahaha*

Yang bikin kesal adalah ibu-ibu yang ngemis tersebut sukaaaa banget make kerudung walaupun baju yang dipake mereka baju daster selutut dan lengan yang nggak nyampe se-sikunya. Apaan coba maksudnya? Mencoba meminta belas kasihan dan simpati muslim yang lagi abia aahalat jumat? Boleh aja sih tapi memakai kerudung dengan alasan tersebut justru menghina jilbab atau kerudung itu sendiri (teman-teman ngerti dong ya  dengan maksudku ini).

Aku pribadi berpendapat kenapa mereka masih mau mengemis rombongan tiap jumat itu karena kaum muslim juga yang selalu memberi sedekah kepada mereka seabis shalat jumat. Jadi karena terbiasa dikasih mereka jadi manja dan selalu berharap disedekahin oleh jemaah shalat jumat.

Aku sih berpendapat ya, mendingan jamaah ngga usah ngasih sedakah atau apapun namanya ke pengemis-pengemis tersebut. Mendingan sedekahnya di mesjid aja atau di fumah yagim atau di lembaga-lembaga amal infak sedekah zakat yang sudah diakui keberadaan ya seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, dan lain sebagainya. Atau lebih baik pada tetangga yang kita tau mereka membutuhkan.

Betul bahwa memberi sedekah pada pengemis itu hak jemaah. Tetapi kalau kita selalu memberi mereka, mereka akan selalu mengemis sampai kapanpun. Mereka yakin akan selalu dapat uang dengan hanya menadahkan tangan, meskipun sebagian mereka mempunyai fisik yang masih lengkap, sehat dan sangat kuat. Tetapi mereja memilih mengemis karena itu adalah cara instan untuk mendapatkan uang secara cepat tanpa harus bekerja keras.

Kita yang selalu memberi  sedekah pada mereka ikut berperan membentuk karakter mereka untuk selalu menjadi pengemis. Coba kalau ratusan atau seribuan jemaah shalat jumat tersebut tidak memberi pengemis-pengemis tersebut satu rupiahpun setiap shalat jumat (atau setiap harinya di manapun pengemis ada) saya punya keyakinan jumlah pengemis itu akan merosot dengan sendirinya.

Mereka akan tetap jadi pengemis bukan cuma karena mau tapi juga karena kesempatan ada. Karena kita selalu memberi mereka. Intinya apa? Kita juga sangat berperan membuat mereka untuk selalu dan selalu menjadi pengemis.

Jadi selamat berhari jumat dan shalat jumat (bagi cowok) yaa…

Advertisements

10 thoughts on “Jumat Mubarak dan Fenomenanya

  1. Sejak kerja bawa motor saya jarang melihat pengemis di jalan atau yang hanya duduk di trotoar…. dulu waktu masih kerja menggunakan kereta api, banyaaaaaak banget pengemis, bahkan di stasiun2 pun ada.

      • nah kan hehehe.. gaya-nya kita2 aja pas bawa motor agak2 giman gituuuuuuu .. padahal pas udah sampai kantor atau sampai rumah, badan rasa bruuuukkk. ampun deh berasa capeknya, yang paling berasa itu di bagian punggung, pada pegel2 😦

      • teman kosku suka kraaakkk… kriiikkk… saat puat kiri putar kanan badannya hehehe. Dan aku sering bantu pletak pletokin punggungnya kalau dia minta tolong dipletakin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s