Jago Matematika VS Jago Sosial, Siapakah Yang Lebih Pintar?

Gambar dari google

Gambar dari google

Hayoo teman-teman, siapa yang suka matematika? Langsung unjuk tangan yaaa… Atau boleh juga deh ngacung bilang kalao ngga suka sama sekali matematika… ^_^

Oke, konon…, matematika adalah salah satu pelajaran yang tidak disukai banyak oleh banyak siswa. Katanya matematika susah. Katanya matematika bikin kepala puyeng, bikin kepala cenat cenut. Katanya atematika bikin kebahagian langsung meredup seketika, hahaha. Dan katanya matematika bikin rambut berdiri kaya habis kena setrum, hehehe.

Serta banyak lagi tentang yang ‘katanya matematia begini…dan begitu…’ yang menjadi alasan banyak orang/siswa yang tidak menyukai pelajaran matematika. Tetapi, walaupun tidak suka tapi harus belajar matematika.

Salah seorang murid privatku yang kelas 2 SMP dan lagi belajar aljabar, belum lama ini tanya gini, ‘seberapa besar sih pengaruh aljabar bagi kehidupan manusia, Ka?’ dia tanya gitu saking empetnya dia belajar aljabar, tapi harus les matematika karena diwajibkan oleh mamanya.

Padahal dia murid yang sangat cerdas loh, dan paling enak banget ngajarin dia karena cepat ‘nangkep’ yang aku jelasain, walaupun dia benci matematika. Dan aku nerangin ke dia seperti nerangin ke teman yang lagi nanya soal matematika yang dia ngga ngerti. Tapi dia langsung paham yang aku jelasin. Enak banget kan ngajarin anak yang kaya gituuu kan.

Tapi walaupun begitu, setiap kali aku jelasin tentang materi yang harus dia pelajari, apalagi yang ada variable X dan Y, selalu sukses bikin dia ngantuk. Dia komen gini, “asli kak, ini bikin ngantuk!” katanya dengan wajah hopeless, hahaha.

Seorang murid yang pintar yang ngga suka matematika aja sampe eneg sama matematika, gimana dengan anak yang ngga emang lemah pada pelajaran matematika, trus ngga suka pula, dan dapet guru sadis bin kiler pula? Wassalam deh kalo gitu, mah.

Nah, tentang pertanyaannya ‘seberapa besar pengaruh matematika dalam kehidupan’ ini aku jawab dengan beberapa contoh kecil perlunya matematika dalam keserahariannya. Dan tanggapan dia hanya gini, “oohh…gitu ya” *gue gigit batako

poto hasil googling yaaa

poto hasil googling yaaa

Tapi, anehnya nih (kalau menurut saya sih ini agak aneh), seringkali kebanyakan kita beranggapan (bahkan terdokrin) bahwa tingkat kecerdasan dan kepintaran seseorang seringkali kali dikaitkan dengan kepintarannya di bidang matematika atau eksakta.

Siswa yang masuk jurusan IPA (eksakta) seringkali dianggap siswa pintar. Hebat! Sementara siswa yang masuk jurusan IPS (sosial) seringkali dianggap sebagai murid yang kemampuan ‘otaknya’ biasa saja atau berkemampuan rata-rata, di bawah anak IPA.

Masa sih?

Nggak lah. Menurut saya sih pendapat itu sama sekali keliru. Batas pintar dan tidak pintarnya seseorang tidak bisa dilihat dari pintar atau tidaknya ia dalam pelajaran matematika atau fisika. Itu tidak bisa dijadikan ukuran kecerdasan seseorang.

Kita tidak bisa mengukur kecerdasan seseorang dari angka-angka saja. Banyak faktor lain yang menentukan kepintaran dan kecerdasan seorang siswa atau pelajar.

Bisa saja seseorang ‘jeblok’ banget otaknya menerima pelajaran matematika, tapi siapa tau bagi dia begitu mudah menerima pelajaran bahasa asing atau sejarah atau dia jago diskusi. Sementara bagi si jago matematika itu pelajaran bahasa dan sejaran adalah pelajaran yang memuakkan dan menyebalkan.

Belum lagi ditambah dengan kenyataan bahwa banyak siswa yang jago matematika ini dikenal sangat kuper alias kurang pergaulan. Bisa jadi si jago matematika ini ketika menerangkan rumus matematika dan segala turunannya seperti air gunung yang mengalir ke hilir saking jagonya dia. Lancar jaya.

Tapi ketika dia menjelaskan tentang situasi sosial yang terjadi di masyarakat bisa jadi saja dia seperti air kran yang mengalir se-liter se-jam saking leletnya dia. plintat plintut, ngga jelas.

Sementara si jago sosial, meskipun daya serapnya di bidang matematika atau fisika seperti spon cucian piring yang menyerap air, tapi begitu luwes dalam bergaul dan berbicara. Bicara sejarah ayo, bicara bahasa ayo. Bicara politik dijabanin.

Nah, dalam kondisi seperti itu, manakah yang dianggap lebih pintar dan cerdas? Apakah si jago matematika atau si jago sosial? (jawab sendiri pertanyaannya yaa.. ^_^).

22 thoughts on “Jago Matematika VS Jago Sosial, Siapakah Yang Lebih Pintar?

  1. Kalau buatku orang yang cerdas tuh “orang yang tahu apa yang dia inginkan”. Biasanya orang seperti ini mantap, semangat, dan stabil dalam menjalani apa yang jadi tanggung jawab dan keinginannya. Jadi, baik orang eksak atau sosial selama ga jelas apa yang dia mau, hihi sama aja ilmunya ga bisa diaplikasiin 😀
    *sotoy

  2. wah ini nih… saya jadi inget akibat persoalan matematika ini saya ndak lulus seleksi pendidikan lanjutan dua kali berturut2…

    saya menyayangkan kemudian metode seleksinya yang ngetes berdasarkan Tes Potensi Akademik yang relatif banyak persoalan matematikanya… *alasan untuk membesarkan hati sih keknya ahahaha

    dan yang saya temui yang lulus dari seleksi semacam ini ya itu aspek sosialnya banyak yang kurang. ndak mesti sih. cuman kenapa tidak melibatkan unsur lain yang lebih fair dengan semacam tes uji pemahaman tentang teknis pengalaman pekerjaan yang mana dibutuhkan pengalaman sosial juga ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s