Les Membaca Buat Anak 3 tahun 4 tahun

Photo-1736Dewasa ini, kalau saya jalan, saya melihat banyak bermunculan tempat-tempat les, baik itu tempat bahasa (terutama bahasa Inggris), bimbingan belajar. Dan bener sih, katanya bisnis membangun pusat kursus merupakan salah satu bisnis yang menguntungkan. makanya banyak yang melirik bis nis ini. Apalagi banyak diantaranya merupakan sistem waralaba yang sudah ada sistemnya.

Selain pusat kursus bahasa dan bimbingan belajar, yang naik daun sekarang adalah pusat kursus atau tempat membaca bagi anak-anak. Tempat les baca ini, banyak saya lihat di berbagai tempat.

Kenapa? Tempat belajar membaca buat anak-anak umur lima tahun ini sangat membantu orangtua (ibu) yang ingin anaknya sudah lancar membaca dan menulis ketika masuk sekolah dasar kelas satu. Para orangtua tidak perlu susah-susah lagi mengajarkan anaknya membaca dan menulis di rumah.

Apalagi sekarang ini, banyak anak yang belum bisa membaca dan menulis DITOLAK diterima di SD manapun. Itu berdasarkan banyak pengakuan orangtua yang saya dengar ya. Khususnya di sekolah-sekolah swasta favorit yang jadi incaran orangtua. SD negeri yang biasa-biasa masih masih mau menerima sih.

Jadi, meskipun sebenarnya guru yang tanggung jawab untuk mengajarkan siswa membaca dan menulis seharusnya ada pada guru kelas satu (pendidikan fomal ya), tapi sekarang sangat banyak sekolah yang keberatan (baca : tidak mau)  menerima siswa yang belum bisa membaca dan menulis.

Ada sih yang mau menerima juga, tapi ntar ujung-ujungnya si orangtua anak yang belum lancar baca disuruh gurunya ngasih pelajaran tambahan buat anaknya sepulang sekolah. Intinya apa? Intinya ngelesin juga sama gurunya, daannn bayar lagi diluar bayaran sekolah. Bisnis yang bagus buat guru bukan?? ^__^

Jadi,(lagi-lagi) sebagai salah satu solusinya, para orangtua memasukkan anak-anaknya les tempat membaca. Dengan harapan anaknya sudah bisa membaca dan menulis ketika sudah masuk SD. Jadi si anak terhibdar dari pelajaran tambahan, hehehe.

Daaan, saat ini sangat banyak orangtua loh yang memasukkan anaknya les membaca pada usia 4 tahun. Malah ada juga yang kurang dari 4 tahun.Tega amat ngga sih orangtuanya yang maksain anaknya les usia 4 tahun les maca dan menulis? Malah ada anak yang baru berumur 3 tahun sudah dilesin aja sama orangtuanya.

Dalam hal ini saya melihatnya sebagai perampasan hak bermain anak oleh orangtua. Masa umur anak baru 4 tahun anak udah diles-in macam-macam?  Hallaaaoooo, lo orang tua, tega amat sih sama anak sendiri.

Kasian anaknya loh sebenarnya, belum waktunya bagi si anak belajar. Waktunya umur segitu seharusnya untuk bermain, bukan belajar. Dan yang lebih kasian lagi adalah gurunya yang harusss ekstra sabar menghadapi anak yang usianya 3 tahun, atau empat tahun.

Bagi ibu yang bekerja, memberikan les membaca adalah solusi ampuh dan jitu. Ketiadaan waktu menjadi alasan utama, sementara anak harus bisa membaca dan menulis. Jadi, mau ngga mau, para ibu daftarkan anaknya  ke tempat les membaca. Toh tujuan bekerja untuk anak-anak juga bukan.

Alasan lain yang membuat ibu mendaftarkan anaknya les membaca dan menulis adalah kurangnya kesabaran ibu dalam mengajarkan. Sudah jamak kita ketahui bahwa kebanyakan anak sangat susah dan ngeyel kalau diajar oleh ibunya sendiri. Yang ada bukannya belajar malah terjadi perang antara ibu dan anaknya. Jadi mendingan anaknya diles-in deh (ini pengakuan banyak orangtua yaaa).

Tapi ada juga loh, para ibu yang turun tangan sendiri mengajarkan anaknya menulis dan membaca loh. Ini yang seharusnya dilakukan para orangtua, khusunya para ibu. Karena ibulah guru pertama dan utama bagi si anak bukan? *berasa bijak banget iniii… J)

Soal buku apa yang tepat untuk anak, jangan khawatir, toko buku sekarang banyak menjual buku-buku belajar calistung untuk anak. Liat aja di Gramedia. Tersedia banyak buku belajar membaca dan menulis untuk anak-anak. Saking banyaknya, mungkin para ibu pusing sendiri memilih mana buku yang paling bagus untuk si anak.

Dan tentang teori yang terbaik bagaimana mengajarkan anak, seharusnya yang paling tahu juga si ibu itu sendiri. Karena ibulah yang (seharusnya) paling tahu dan mengenal anaknya.

Tapi yang jadi masalah bagi saya adalah buku-buku yang banyak beredar itu bombastis banget. Buku-buku bagi sagi saya masuk TK dan masuk SD bagi anak-anak terlihat menyeramkan banget. Horo.

Bagaimana dengan teman-teman yang sudah punya anak-anak yang hedak masuk sekolah atau sudah sekolah?

Advertisements

11 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s