Jam Gadang Bukit Tinggi Sumatera Barat

Ini gambar dipinjem dari punya teman Ayu riza.
Ini gambar dipinjem dari punya teman Ayu riza.

Ada yang tau Jam Gadang? Yuup. Jam Gadang adalah landmark atau maskot kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Jam Gadang artinya adalah jam besar. Dan disebut Jam Gadang karena mengacu pada ukuran jam yang memang besar, berdiameter 80 cm. Untuk ukuran bangunan monumental yang dibangun pada tahun 1926, tentu saja Jam Gadang menjadi sangat istimewa bagi masyarakat Bukit Tinggi khususnya dan masyarakat Sumatera Barat umumnya.

Ibarat kata nih, Jam Gadang seperti halnya Tugu Monas untuk Jakarta. Sama-sama jadi maskot kota dan sama-sama berada di jantung kota. Hanya saja kalau Monas berada di tengah-tengah taman yang luas di jantung kota Jakarta, Jam Gadang tidak. Areal taman Jam Gadang kecil, bahkan bisa dibilang ngga ada ^__^

Tapi meskipun Jam Gadang lebih kecil, lebih pendek dari Monas dan tamannya juga ngga gede juga, tapi Jam Gadang lebih tinggi loh dari Monas. Masa siiiih?? Yang benar aja dongg. Kan tinggi Monas itu 132 m sedangkan tinggi Jam Gadang cuma 26 m, kenapa Jam Gadang lebih tiggi dari Monas?

Ya iya dong, kan Jam Gadang berada di Bukit Tinggi yang berada ± 1000 mdpl, sedangkan Monas hanya berasa beberapa meter aja dari permukaan laut *LOL yaaa, hehehe

Oke, kembali ke Jam Gadang….^^

Jam Gadang ini menjadi salah satu bangunan yang menjadi kebanggaan warga Bukit Tinggi khususnya dan Sumatera Barat umumnya. Letaknya di pusat kota Bukit Tinggi, tepatnya di depan Pasa Ateh Bukit Tinggi. Jadi semacam alun-alun kota kalau bagi masyarakat di Pulau jawa. Karena berada di pusat kota, maka sangat mudah sekali menemukannya.

Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda, Ratu Wilhelmina. Dibangun oleh Controleur atau Sekretaris Kota Fort De Kock (sebutan Bukittinggi oleh Belanda pada masa penjajahan), Rook Maker. Arsitek yang merancang bangunan ini adalah Yazid Abidin dari Koto Gadang, Bukit Tinggi. Pelaksana pembangunan Jam Gadang adalah Haji Moran dengan Mandornya St. Gigi Ameh, yang sama-sama berasal dari Aua Birugo, Bukit Tinggi.

Luas dasar bangunan Jam Gadang ini adalah 13 x 4 m dan berbentuk simetris 4 sisi, jadi jam ini bisa dilihat dari empat arah. Puncaknya berupa empat gonjong, puncak khas Rumah Gadang, rumah tradisional Minang Kabau, yang menghadap ke empat arah.

Salah satu hal yang dianggap unik dari Jam Gadang adalah angka-angka digunakannya. Jam ini menggunakan angka romawi tetapi angka pada jam 4 dibuat IIII bukan IV. Selain itu jam ini dibangun tidak menggunakan semen dan besi sama sekali. Bahan bangunan yang digunakan adalah campuran kapur, pasir putih dan putih telur. Meskipun tidak menggunakan semen dan besi, Jam Dang tetap kuat loh walau berkali-kali diguncang gempa besar yang melanda Sumatera Barat.

Angka 4 pada jam gadang tertulis IIII bukan IV Gambar dari google
Angka 4 pada jam gadang tertulis IIII bukan IV
Gambar dari google

Oya, mesin Jam Gadang ini bergerak bergerak secara mekanik. Mesin jam ini mempunyai saudara kembar loh di Eropa sana ^_^. Kembarannya mesinnya itu jam terkenal yang terdapat di London, Inggris. Yuup… Big Ben. Loh? Kok bisa? Iya, maksudnya, mesin yang sejenis hanya ada dua dua yang dibuat, satunya buat Jam Gadang, satunya Big Ben.

Dan mesin lonceng jam Gadang ini dibuat oleh Benhard Vortmann di kota Recklinghausen, Jerman. Makanya di lonceng tersebut tertera tulisan Vortmann Recklinghausen.

Puncak Jam Gadang yang sekarang berbentuk gonjong sudah mengalami beberapa kali perubahan sesuai dengan penguasa yang menguasai negara ini. Pada masa penjajahan kompeni belanda, puncak jam tersebut berbentuk ayam jantan yang menghadap ke timur. dan pada masa penjajahan jepang, berbentuk atapnya berubah mengikuti gaya bangunan rumah jepang. Baru setelah Indonesia merdeka Indonesia, puncak Jam Gadang diganti dengan gonjong, ciri Rumah gadang, rumah tradisional Sumatera Barat.

Bangunan ini juga menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Ketika Indonesia memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka, Jam Gadang menjadi tempat pengibaran Sang Merah Putih beberapa hari setelah kemerdekaan Indonesia.

Dan selain itu, pada bulan puasa, setiap kali waktu berbuka masuk dari Jam Gadang diunyikan sirine yang ‘meraung’ sampai ke berbagai penjuru kota Bukit Tinggi.

Tidak jauh dari Jam Gadang, ada lagi objek wisata yang terkenal lainnya yaitu, Panorama Lobang Jepang. Lokasinya dekat, tidak berjauhan. Tinggal jalan aja bisa kok. Paling jauh cuma 1 km aja. Dari Panorama Lobang Jepang kamu bisa menyaksikan keindahan Ngarai Sianok, Ngarai indah sepanjang 15 km dengan kedalaman 100 m dan dengan lebar kira-kira 300-500 m.

Sekali lagi, bagi kamu yang ke Bukitinggi dan ingin melihat jam Gadang,gampang kok caranya. Dari terminal Aua Kuniang (Aur Kuning) naik aja angkot yang ada mereknya Pasa Ateh ato Pasar Atas dan Panorama. Dijamin nyampe kok di Jam Gadang.

Atau bisa juga ketika akan memasuki kota Bukit Tinggi, bilang aja ke sopirnya untuk turun di jambu Aia atau Jambu Air. Bilang, turun di pangkalan angkot yang menuju ke Jam Gadang. Insya Allag dijamin sampe juga.

^__^

Firsty

Advertisements

9 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s