WC yang Kinclong dan Mushala yang Jorok

Foto-0005Kadang-kadang perasaanku miris banget loh (langsung curhat nih), kalau udah masuk ke (beberapa) gedung gede pusat perkantoran atau mall-mall. Seringkali pas mau shalat kok sedih banget liat tempat shalat yang disediakan pengelola gedung terkesan seada-adanya. Kayanya bagi mereka yang penting ada tempat buat orang yang shalat. Dan apakah itu cukup layak atau kurang layak atau malah tidak sama sekali itu urutan yang ke sekian.

Kadang-kadang mushala tersebut berada di area parkiran yang kadang-kadang masih yang kondisinya tidak memprihatinkan. Kadang-kadang ada mushala yang nyempilll seupprit doang di dalam gedung yang begitu besar. Kadang pula ada mushala yang berada di area parkiran besmen yang untuk menuju ke sana harus jalan jauh dulu dan udara sangat pengap dan sumpek.

Aku sampai berpikiran mushala ini hanya diperuntukkan untuk para sopir dan karyawan yang bekerja di situ, bukan pengunjung gedung atau mall tersebut : jadi pengelolanya berpikiran semua pengunjung ngga shalat kali yaa.

Foto-0003Kadang-kadang ada juga sih yang lumayan, mushala berada di parkiran lantai atas mall yang walaupun agak jauh dari pintu keluar masuk mall parkiran tersebut, konsisinya bisa dibilang lumayan. Bener-bener sering berasa kalau pengelola gedung tersebut menganak tirikan banget keberadaan mushala.

Dan Alhamdulillah, ada juga sih mushala atau mesjid yang sangat bagus seperti Mesjid Al Latif di Pasaraya Grande Blok M. Biasanya mushala atau mesjid yang ‘lumayan’ bagus itu berada di bangunan (mall) yang masih baru seperti Blok M Square, Grand Indonesia dan Central Park.

Lantas bagaimana dengan bangunan lainnya yang pernah aku kunjungi? Entahlah.

Sekadar gambaran aja, berikut ini mushala-mushala yang kondisinya memprihatinkan

1. Dulu, mungkin sekitar 7 tahun lalu ya, aku pernah shalat di sebuah supermarket besar di daerah Kuningan (terkenal ini ^_^), pas keluar dari supermarket tersebut, aku bertanya pada satpam di mana lokasi mushala, dan si satpam menunjuk sebuah tempat yang dekat dari tempat kami berdiri.

Ingin tau seperti apa tempatnya? Kecil banget, hanya bisa muat dua tiga orang (lupa pastinya), itupun campur antara pria dan wanita, dan sangat brisik oleh suara mesin. Ngga tau itu suara generator atau suara apa, yang jelas itu suara mesin yang sangaatt dekat. Ruangannya panas, sumpek dan pengap. Aku juga ngga tau apakah ada mushala lain di gedung tersebut atau tidak.

Foto-00062. Dulu juga, beberapa tahun yang lalu, di sebuah pusat perdagangan komputer aku pernah shalat di tikungan tangga darurat. Bukan hanya aku yang shalat di situ, tetapi orang lain juga. Karena di situ tempat yang ditunjuk ketika aku menanyakan mushala ada di mana. Belakangan aku tau (ngga tau sudah ada dari dulu atau tidak) di mall komputer yang sama aku dikasih tau mushalanya ada di parkiran besmen.

Aku ke sana. Tau ngga suasana besmen parkirannya kaya apa? Cahayanya redup, musti jalan dulu agak jauh dulu dari pintu, pengap dan mushalanya juga yaaahhh seada-adanya… hiksss. Dan mukenanya bau lagi.

Dan gedung mall tetangganya yang bersebelahanpun sama, melewati besmen, harus jalan dulu agak ke tengah, suasana sepi di dalam besmen udara pengap dan sumpek (halusinasi gue berkeliaran, tiba-tiba gue dihadang psikopat yang muncul dari balik mobil atau truk-truk barang, sueeeeerrrr), dan ketemulah mushala yang ~lagi-lagi~ yaahh daripada ngga ada sama sekali.

Foto-00043. Di besmen sebuah gedung besar dan terkenal di daerah Thamrin, yang menjadi kantor (group) agen asuransi, terdapat sebuah mushala yang ukurannya kira-kira 7 x 7 m atau 8 x 8 untuk mushala perempuan, terasa sesak kalau sudah masuk waktu shalat. Belum lagi mushala juga sering dijadikan tempat beristirahat oleh kebanyakan orang, sekadar duduk-duduk aja atau rebahan.

Bayangin aja,gedung tersebut lebih dari 25 lantai, tentu sangat banyak karyawan yang bekerja di sana, belum lagi para agen atau calon agen asuransi yang pastinya berjumlah banyak. Tapi ruangan shalatnya hanya segitu besarnya. Ya numpuklah. Tapi yaahh sudahlah, daripada ngga ada sama sekali. Itu kira-kira lima tahun yang lalu saat ikut mencoba peruntungan jadi agen asuransi.

Tapi itu sih masih lumayan. Masih di gedung yang bermerk asuransi yang sama di Sudirman, ada mushala di besmen. Untungnya  besmen tersebut tidak berada di bawah tanah, jadi ngga sumpek dan pengap. Tapi mushala wanitanya asal tau aja, paling ukurannya 1,5 x 4. Hanya bisa memuat kira-kira tiga orang ke samping, dan 4 shaf saja. Padahal itu gedung besar lho…! Mbok ya yang punya gedung punya hati dikitlah untuk ngasih fasilitas mushala yang lebih baik, bukan cuma asal ada.

Untungnya sih (lagi-lagi orang Indonesia suka ngomong untungnya yaa) di lantai gedung tempat aku training ada mushala kecil yang juga seuprit ukurannya, yang hanya bisa memuat beberapa orang saja pada saat yang bersamaan. Paling juga (kalau dipaksain muat) 10 orang. Aku ngga tau apakah di lantai lain atau di tiap lantai juga ada mushala kecil tersebut. Kalau ada sih Alhamdulillah aja yaa.

Foto-0002Dan yang lebih miris lagi nih, seringkali mushala-mushala tersebut kalah bagus dari pada toilet yang ada di gedung-gedung tersebut. Wajar aja toilet-toilet tersebut dibuat sangat nyaman dan berukuran besar karena toilet yang bersih adalah perangkat vital yang harus tersedia dengan baik di sebuah gedung perkantoran. Tapi setidaknya jangan dong terlalu menganaktirikan keberadaan mushala. Jadi, tetap aja perasaan aku sangat miris melihat mushala yang sangat terkesan seada-adanya itu.

Di sebuah gedung, aku pernah shalat di mushala yang hanya memuat 3 orang saja. Tapi yang paling menyedihkan adalah di ruangan shalat yang seuprit itupun juga menjadi tempat untuk orang berwudhuk. Jadilah mushala tersebut becek dan basah. Sementara toiletnya sangat lumayan bersih. Jadi benar-benar kebanting tuh mushala. Padahal sih, ruang pantrynya lumayan besar lho. Kalau pantrinya dikecilin sedikit aja, 0,5 m x 1 meter aja untuk tempat wudhu, maka ruang shalat tersebut walaupun kecil, tapi bersih dan lumayan bagus. Tapi ini mungkin hayalanku aja yang ketinggian kali yaaaa…^^

40 thoughts on “WC yang Kinclong dan Mushala yang Jorok

  1. Kalo nggak salah, jaman duluuuu banget, pas ada ribut2 complain soal mushola yang layak di mall/pusat perbelanjaan, ada loh pengelola gedung yang jawab: loh, kami kan penyedia tempat belanja, kalo mau sholat silakah ke mesjid. Ish! Pengen dikeroyok itu sih… 😆
    Aku paling males deh ke mall yang musholanya nggak layak. Apalagi kalo toiletnya juga jorse. Hiiiyy…!

    • Emang ada yang pernah bikin komentar kaya gitu yaaa? Laahh pengunjung mereka banyak emang ngga shalat apa?

      Tapi kayanya mal2 yang hadir belakangan kayanya udah nyediain tempat shalat yang cukup memadai. Tapi yang paling oke tetap Pasaraya Grande sih yaaa…^^

  2. emang sih kalo di mall atau tempat2 umum gitu mushollanya banyak yg seadanya aja 😦 sedih sih tapi mau gimana lagi. udah gitu mukenanya banyak yg jamuran lagi kan yaaa huhu

    • Di beberapa mall yang baru udah pada bagus sih… Tapi yang serem yang di mangga dua, mall pusat kompi2 ituuuh…. udah di besmen, pengap, bau, brisik dan jauh lagi dri tangga… Kalo abis nonton film yang ada psikopat jadi parno sendiri hehehe

  3. kalau berpikir dari sisi ekonomi, daripada buat mushollah mending jadiin satu kios, kan dapat pemasukan 😀

    setidaknya kondisi itu jadi bahan pemikiran sebelum berangkat. shalat dulu sebelum berangkat dan kembali sebelum waktu shalat berikutnya masuk atau habis. jadi tetep bisa shalat pada waktunya.

    dan kalau kelamaan di lokasi, harus sudah tahu lokasi musholla atau masjid di mana. dan emang jarang yg bagus…. mushallah yang disediakan ya… alakadarnya.

    • Kadang-kadang ngga bisa dikondisikan kaya gitu juga Mas Jampang. Iya, kalau rumah dekat, kalo jauh? Tau sendiri jalanan Jakarta menyeramkan macetnya.

      Dan mushala atau mesjid yang dekat kadang2 susah juga nyarinya, hehe. Mau ngga mau ya di sana. Pilihan lain, shalat di mushala pos polisi, tapi kondisinya lebih ajib2 lagi…^^

    • Padahal ya Mas Iwan, mushala yang bagus ini kadang2 mejadi pertimbangan untuk menentukan ketemuan loh… Misal, aku kalo janjian dengan teman aku di daerah blok M, lebih senang di Foodcourt Pasaraya Grande karena, mesjidnya paling nyaman…

  4. begitulah, lebih bnyk yg belanja ketimbang ke sholat. jd mungkin si pemiliki gedung mikir, bakal rugi besar klo bkin masjid luas ddlm gedung, ramenya kdng setahun sekali ato hr jumat ><
    so jd keberadaan mushala yg seadany kdng jg sbts formalitas, tp it smua kmbali ke owner gedungnya.

  5. Pingback: Mesjid Al Latif Pasaraya Grande Blok M | Firsty Chrysant

  6. Pingback: Mushala Mall Citraland Grogol, Baru dan Bagus | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s