Ngajarin Anak Pemulung

Photo-0157Ngajar matematika ke anak yang ngga suka matematika itu biasa. Ngajar fisika ke anak yang nggak suka fisika itu biasa, ngajarin bahasa korea ke karyawan perusahaan korea yang dipaksa bosnya belajar bahasa korea itu juga biasa. Ngajar bahasa Indonesia buat orang korea yang juga dipaksa kantornya juga bias. Ngajari calon TKI belajar bahasa Korea juga biasa. Ngajari calan TKI ke kapal korea (bikin aku tobat ngajarin mereka) juga biasa.

Tapi ngajari anak pemulung belajar? Sungguh luar biasa bagiku. Jadi aku sangat salut dengan orang-orang yang melakukan kegiatan sosial yang ngajarin anak-anak jalanan membaca dan menulis.

Beberapa waktu yang lalu, gue diminta tolongin orang Korea ngajar beberapa anak pemulung. Kegiatan sosial atau volounteer yang membantu orang dengan sukarela seperti ini di Korea disebut dengan bongsahada atau bongsa senghwal atau aktifitas sosial. Kegiatan bongsa ini di Korea merupakan salah satu kegitan yang sudah sangat lazim bagi orang Korea.

Kegiatan yang mereka lakukan bisa pergi ke panti jompo, panti asuhan, dan sebagainya. Apa sih untungnya bagi orang Korea melakukan kegiatan bongsa ini? Ini tak lain bagian pengaruh konfusian yang berkembang di Korea. Kegiatan bongsa merupakan salah satu bentuk cara bersyukur atas rezki yang sudah mereka terima. Dengan melakukan kegiatan bongsa mereka berbagi rezeki dengan orang lain dan nantinya rezeki mereka akan bertambah karena sudah berbagi.

Jadi ceritanya si orang Korea melihat beberapa anak pemulung yang masih usia sekolah tetapi tidak bersekolah di perempatan lampu merah. Asli, dia kaget banget nemu banyak anak jalanan di Jakarta yang kemungkinan sebagian besar tidak mengenyam pendidikan di usia semuda itu.

Si bapak Korea ini awalnya kaget banget liat anak-anak yang berkeliaran di jalanan, meminta-minta atau memulung botol-botol plastik bekas. Dia hebah kenapa mereka dibiarkan seperti, tidak sekolah tapi kok ya malah kerja. Ngeliat respons-nya yang kaya gitu rasanya lebay banget deh dia. Biasa aja kali mister…hehehe

Ada 3 orang anak yang ia dapatkan. Tiga orang yang masih bersaudara. Pertama namanya Intan (bukan nama sebenarnya), umur 14 tahun, udah tamat SD tapi tidak melanjutkan ke SMP karena tidak ada biaya. Datang dari kampung setamat SD mulungin botol aqua untuk biaya hidup sehari-sehari bersama orangtua.

Anak kedua adalah Cindy, umur 9 tahun. Sekolah hanya sampai kelas 2 SD tapi juga ngga selesai alias berhenti di tengah semester. Masih belum lancar membaca. Ba be bi bo bu, ato ca ce ci co cu aja masih blom lancar apalagi baca kalimat. Ibunya Cindy dan ibunya Intan adek kakak. Jadi Intan dan Cindy saudara sepupu bukan?

Anak yang ketiga adalah Ryan, adiknya Cindy. Umurnya sudah 6 tahun lebih dan sama sekali blom bisa membaca di saat anak-anak lain seusianya sudah masuk kelas 1 SD. huffff… Jujur aja, kasian banget, anak seumur segitu juga sudah mulung mulai dari pagi ngikuti orangtuanya nyari botol-botol aqua dan tinggal di tempat para pemulung lainnya.

Ngajar Intan sih tidak terlalu sulit karena ia sudah tamat SD jadi nggak terlalu repot ngajarinnya. Bahkan ia sudah bisa menulis huruf Hangeul hanya dalam dua kali pertemuan. Tapi ngajar yang dua lagi…? Hoho… *ngurut dada* harus ekstra sabar menghadapi mereka. Susaaaah banget…

Maklum saja karena mereka berasal dari keluarga yang tidak memandang betapa pentingnya pendidikan buat anak-anak mereka. Jadi urusan pendidikan adalah nomor yang kesekian, mungkin nomor ke 20 kali yaaa..*lebay. Nomor urut pertama tentulah tak jauh-jauh dari masalah perut. Jadi mereka setiap harinya hanya berpikir bagaimana bisa makan untuk hari itu saja. Syukur-syukur berlebih, disimpan untuk pulang kampung.

Sebenarnya sih mereka bukan tidak tau arti pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka tetapi kemiskinan yang membelit kehidupan mereka membuat mereka tidak punya pilihan lain selain harus bekerja sebagai pemulung untuk bisa makan paa hari itu.

Bayangkan sudah dua bulanan gue ngajarin mereka, Cindy baru mulai bisa merangkai tiga kata sederhana dua pertemuan ini, tapi masih belum lancar. Sementara Ryan masih aja belajar menulis huruf. Masih menulis la le li lo lu, dan ba be bi bob bu tapi masih sering lupa mana yang huruf b, mana yang huruf a.

Sementara teman gue yang guru membaca di tempat les sukses ngajarin anak umur 4 tahun-an menulis dan mengeja beberapa suku kata dua huruf dalam waktu 2 atau 3 minggu.

Astagaaaa… gue bertanya-tanya ma diri gue sendiri, gue-nya yang stupid bin nggak bisa ngajarin mereka atau kemampuan mereka memang segitu menerima pelajaran yang mereka pelajari? Oooo, tidakkk, mereka berdua menghancurkan reputasi gue yang selama ini dikenal sebagai kakak les yang sangat mudah membuat murid-murid les mengerti pelajaran mereka yang dianggap susahhh…. hehehehe lebaayyy daahhh..

Si bapak Korea tersebut tidak hanya sekadar menyuruh mereka belajar tetapi juga menyediakan buku-buku pelajaran serta memberikan makanan ringan serta susu setiap kali datang. Si bapak korea ini juga selalu memberikan mereka semangat supaya mau rajin dan serius belajar. Setiap selesai selalu memberikan petuah-petuah pada mereka, walaupun gue selalu berpikir si mister ngga ngeliat ia ngomong sama siapa gitu.

Omongan si mr. ketinggian banget untuk anak-anak seperti mereka, walaupun apa yang ia bilang itu benar sekali. Meskipun begitu setidaknya ia benar-benar sudah berbuat baik pada orang yang bukan siapa-siapa baginya tanpa pandang bulu. Apa yang ia lakukan benar-benar patut diberi apresiasi mengingat ia hanyalah orang asing dan bekerja sendiri, bukan lewat yayasan dan dana yang keluar murni dari kantongnya sendiri.

*nemu tulisan yang udah setahunan waktu bersih-bersih file…^^

25 thoughts on “Ngajarin Anak Pemulung

  1. Hihi aku pernah dan sampai sekarang masih merasakan sensasi ngajarin adik-adik yang kurang beruntung seperti itu. Hal yang paling sulit dulu kurasain adalah untuk nyulik perhatian mereka supaya mau belajar denganku dan ga mikirin barang jualan mereka terus hihi. Alhasil, aku putar otak untuk metode mengajar yang memberi ranah psikomotorik lbh besar. Dan, alhamdulillah metode berhasil 😀

    • Bener banget Neng… Sebenarnya mereka, mereka bisa belajar serius tapi kemampuan untuk menangkap pelajaran itu yang agak susah.
      Dan lagian juga si misternya bukan orang yang ngerti dunia pendidikan, jadi dia pengen hasil yang langsung jadi, reot kaan

  2. pastinya butuh tantangan ngajar anak2 jalanan seperti itu…saya sendiri yakin deh gak bisa..
    Selama ini ya ngajar anak2 orang kaya..yg sebenarnya udah pinter..hanya butuh olesan dikit aja..

  3. Pingback: Duit Won Otak Rupiah | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s