Solok Singkarak Padang Panjang Lembah Anai Bukit Tinggi Solok : Gempor Daaah

Entah kesambet jin apa atau dikecup jin mana, sahabatku Dedew tiba-tiba mengajakku jalan ke Padang Panjang buat makan Sate Mak Syukur pake motor pula. Bukan apa-apa sih, dia bukan tipe orang yang mau bercapek-capek ria naik motor jauh-jauh. Paling aktifitas bermotornya paling rumah dan pasar aja yang jaraknya nggak sampai 1 km. Jadi nggk heran, umur motornya yang sudah 5 tahun, tapi kilometernya masih 8000, dan masih kinclong serta mesin kaya masih baru beli. Kalau mau pergi ke mana-mana selalu sama suaminya, pake mobilnya yang bagus. Aku sih hayuukkk aja…^^

Sawah di pinggir danau Singkarak, antara Sumani Singkarak
Sawah di pinggir danau Singkarak, antara Sumani Singkarak

Ya udah, aku okein buat jalan besok pagi jam 8. Tapi akhirnya berangkat jam 9 dari rumahku. Daaannn traveling bermotor berduapun dimulai menuju arah Padang Panjang dan Bukit Tinggi. Ini untuk yang kedua kalinya aku mengendarai motor ke Padang Panjang. Dulu pertatama kali aku ke sana bersama Riri, adik Dedew yang selisih umurnya 3 tahun. Jadi kami bertiga sangat akrab, juga orangtuaku dan orangtua Dedew – Riri.

Karena yang make motor aku, jadi begitu ada spot bagus buat dipoto-piti, langsung aku berhenti di sepanjang jalan menuju Padang Panjang. Dedew seringkali aku minta tolongin moto pas motor lagi jalan, hehehe.

Di Danau Singkarak, pastinya dong, nggak mungkin berhenti sejenak buat menjepret keindahan danau tektonik yang airnya bening ini. Pinggir danau ini persis di pinggir jalan raya Lintas Sumatera, Solok – Bukit Tinggi. Juga pas melewati persawahan yang bertangga di beberapa tempat di daerah Nagari Tanjuang barulak, Pitalah atau Bunga Tanjung (Pitalah dan Bunga Tanjung disingkat Pita Bunga). Tapi sayangnya aku lupa memoto jalan rel dan rel kereta api satu view dengan danau, huhuhu… Sadarnya baru belakangan.

Mencari ikan bilih
Mencari ikan bilih

Begitu melewati Nagari Lubuk Bauk, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan mampir ke surau tua Lubuk Bauk yang berada persisi di pinggir jalan. Surau Lubuk Bauk tersebuat adalah surau tua dengan arsitek khas surau-surau di daerah Minang Kabau. Dulu setiap kali ke Bukit Tinggi naik angkutan umum atau nebeng mobil Dedew selalu mikir pengen foto surau tua tersebut. Nah, sekarang, mumpung naik motor, sayang banget dong melewatkan kesempatan ini.^^

Sekarang surau tua Lubuk Bauk ini dijadikan situs purbakala. Di sana tidak ada lagi kegiatan untuk shalat berjamaah, tapi masih ada kegiatan mengaji setiap harinya. Sayang banget juga aku nggak bisa naik ke lantai dua karena pintu ke lantai dua terkunci sementara pengurus surau sedang tidak ada.

Dari Lubuk Bauk ke Padang Panjang sih udah dekat, mungkin hanya kira-kira 5 – 7 km. Pas banget perut juga udah lampar minta diisi dengan sate Mak Syukur Padang panjang. Kami memilih sate Mak Syukur yang ada di Pasar Padang Panjang, bukan yang di Silaiang. Karena kata Dedew dia lebih suka yang di sana daripada di Silaiang yang berada di jalan raya Padang – Padang Panjang, yang nanti bakal melewati air terjun Lembah Anai.

Surau Nagari Lubuk Bauk, Batipuh, Padang panjang, Sumatera Barat.
Surau Nagari Lubuk Bauk, Batipuh, Padang panjang, Sumatera Barat.

Selesai makan sate di sana, kami melanjutka perjalanan ke Lembah Anai. Gila, Padang panjang benar-benar harus bersyukur karena berada di kaki Gunung Merapi, Singgalang dan tandikek, yang bukit-bukit di sekelilingi kotanya diselimuti hutan lebat, jadi hawanya sejuk walau mataharinya tetap panas membara. Karena tipe perbukitannya curam jadi bisa aman dari pembalakan dan pengalihan fungsi hutan jadi lahan pertanian.

Sejujurnya sih, menurutku aku rada-rada nekat mengendarai motor ke Lembah Anai ini. Karena jalan raya yang menuju Lembah Anai adalah jalan negara yang ramai karena menghubungkan Padang dan Bukit Tinggi. Selain karena aku nggak pernah mengendarai motor, jalannya juga ramai banget dan kondisi jalan yang curam dan berkelok-kelok.

Tapi berhubung daku juga pengen juga uji nyali untuk mengalahkan ketakutan serta ketidakmauan dan kemalasan yang selama ini merajai perasaanku. Hwaitinggg.

Eh, benar aja. Sebelum nyampe Lembah Anai ada mobil yang kemarinnya nyungsep ke jurang yang berada di kiri jalan. Orang masih banyak yang berhenti sebentar sekadar liat-liat aja. Makin kedeerrr book, hehehe. Tapi ngga mungkinlah aku memperlihatkan kekederanku ke Dedew. Sok tegar lanjuut dah ke Lembah Anai, hehehe.

IMG_5071 ~

Di Lembah Anai sih nggal lama, paling setengah jam aja sih. Cuma sekadar poto piti aja udah. Malah istirahat yang agak lama justru pas lagi shalat zuhur, pas balik menuju Padang Panjang lagi. Soalnya ngumpulan tenaga dulu buat ke Bukit Tinggi.

Walaupun tadi jam setengah 12 udah makan sate, tapi rupanya jalan pake motor di bawah matehari yang terik emang bikin lapar. Jam setengah 3, kami makan siang di rumah makan Aia Badarun, restoran besar yang berada di jalan raya Padang Panjang Bukit Tinggi, Aia Angek. Tidak jauh dari sana ada Rumah Puisi Taufik Ismail. Tapi sayang kami ngga mampir ke sana karena aku liat plangnya dadadkan dan jalan ke sana terlalu mendaki serta menikung ke kiri.

Begitu melewati perbatasan Padang Panjang (sebenarnya Tanah Datar sih) – Bukit Tinggi, jalanan udah macet, padahal pusat kota masih jauh. Aku perkirakan macet di lampu merah Padang Lua,lampu merah yang menuju Maninjau. Pelan-pelan aku mengendarai sepada motor dan salib sana sini. Dan begitu ada jalan alternatif yang bisa dilewati menuju Bukit Tinggi, aku langsung masuk jalan tersebut. Lumayan nggak banyak mobil yang melewati jalan tersebut.

Rumah bagonjong yang ada di sana adalah Rumah Puisi Taufik Ismail
Rumah bagonjong yang ada di sana adalah Rumah Budaya Fadhli Zon di sebelah Rumah Puisi Taufik Ismail

Jalan alternatif tersebut adalah jalan perkampungan yang ngga terlalu besar. Tapi karena make motor, itu jauuh lebih baik. Jalan tersebut melewati Aia Tanang, dan nanti keluar di jalan raya yang menuju Maninjau, dan terus masuk lagi ke jalan arah Parabek. Percayalah, lebih enakan jalan alternatif tersebut karena selain jauh lebih cepat, juga menyanyikan pemandangan yang indah dengan latar belakang persawahandan Gunung Merapi. Di pinggir jalan terdapat banda (kali kecil), semacam selokan tapi airnya mengalir deras dan bersih.

Beruntung juga lewat sini sih karena aku bisa melewati parabek dan bisa poto-piti Mesjid Jamik Parabek, salah satu mesjid Tua dengan karakter mesjid atau surau lama Minang Kabau. Mesjid tersebut usianya sudah hampir satu abad dan menjadi salah satu pelopor dan saksi perkembangan pendidikan di Sumatera barat.

Dari Parabek kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Tinggi, dengan tujuan Janjang Koto Gadang yang dikenal dengan The Great Wall of Koto Gadang. Wuiihh, keren amat namanya. Ngga mau kalah sama yang di Cina sana, walaupun secara ukuran, Janjang Koto Gadang ini versi mini (mini banget) kalau dibandingin dengan yang di Cina sana.

Mesjid Jamiek Parabek, salah satu pelopor kemajuan dunia kependidikan di Sumatera Barat  yang sudah berdiri di awal abad 20
Mesjid Jamiek Parabek, salah satu pelopor kemajuan dunia kependidikan di Sumatera Barat yang sudah berdiri di awal abad 20

Sebenar pengen mampir juga si Panorama ato Lobang Jepang, tapi mengingat udah jam 4 lewat terpaksa di skip aja. Lanjut ke Koto Gadang. Jalan yang menuju ke Koto Gadang sebenar berada di sisi Panorama, Lobang Jepang, makanya di sepanjang jalan yang menurun ke sana kita akan bertemu dengan beberapa buah pintu Lobang Jepang.

Daaannn, aku harus sendirian menyusuri Janjang Koto Gadang karena Dedew nggak mau naik. Capek katanya. Ya udah, aku nekat pergi sendiri menuju puncak tangga yang berada tepat di seberang Panorama Lobang jepang. hihihi…

Jarak antara puncak tangga dan panorama yang dipisahkan oleh ngarai mungkin kira-kira 300 M. Tapi karena anak tangga yang dilewati kadang-kadang sebesar 45 derajat, dan aku juga jarang olah raga pula, maka napasku luar biasa sesak. Ngos-ngosan deh, sampai keringat membasahi bajuku. Lagi-lagi aku sok tegaaar yaaa…^^

Beruntung banget ya punya kampung kaya gini. Di depan gunung dan sawah, sementara air mengalir dengan deras. Bersih lagi
Beruntung banget ya punya kampung kaya gini. Di depan gunung dan sawah, sementara air mengalir dengan deras. Bersih lagi

Tapi rasa capek itu terbayar begitu sampai di atas bukit yang ternyata di sana juga bisa jadi tempat start point untuk menyusuri Janjang Koto Gadang. Nggak lama-lama sih aku di atas sana, karena jam sudah menunjukan jam 5 lewat, sementara kami harus pulang ke Solok Boookk… Itu Jaraknya 75 km lohh… Ngga ada acara mampir-mampiran lagi. Langsung pulang aja, tapi mampir Shalat Magrib dulu di mesjid yang berada di Cingkariang.

Untungnya pas di Padang Panjang Dedew minta dia yang bawa motor. Lumayan lah dedew bawa motor sampai Mesjid raya Batu Taba (kira-kira 15 km dia yang bawa), aku bisa istirahat dikit. Tapi buat pantat (uppsss, maaf) lebih enakan make motor daripada jadi penumpang. Duduk ngebonceng bikin pantat (map lagi) lebih pegeeelll, xixixixi. Belum lagi aku rada-rada gemes dengan cara Dedew bawa motor, rasanya jadi pengen bantuin pegang stangnya, hahaha. Dia terlalu ke pinggir, tapi aku diam aja sih, ngga protes, abis udah capek juga sih, xixixi.

Ngarai Sianok berlatar belakang Gunung singgalang yang tertutup awan
Ngarai Sianok berlatar belakang Gunung singgalang yang tertutup awan

Tapi sayang aku ngga bisa ngebalap 60 ato 70 km, karena di sepanjang pinggir Danau Singkarak rada gelap, jadi takut nggak keliatan tikungannya. Ntar nyungsep deh ke danau. Biar nyante yang penting nyampe. Betuuulll…?

Nyampe rumah badanku rasanya remuuuukkk banget. Gempor abis daah. Orang se rumah kaget aku ma Dedew nyampe Bukit Tinggi karena tadi pagi kan bilangnya ke nyokap jalan doing ma Dedew pake motor (durhaka ya gueee). Dan besoknya badanku meriang bok, badan sih nggak panas tapi meriang iya. Baru sadar seharian kemarin kurang minum, hehehe. Tapi yang pasti walopun capek tapi menyenangkan bangettt. It was so amazing dah…^__^

Postingan terkait :

Danau Singkarak, Foto – Foto danau Singkarak, Bukit Tinggi, Ngarai Sianok dan Janjang Koto Gadang ~ The Great Wall of Kokto Gadang, air terjun lembah anai,

Advertisements

17 comments

  1. Subhanallah memang tanah Sumatra itu indah banget ya, dan ini baru sebagian kecilnya aja :3 Allahu Akbar, foto-fotonya bagus mba jadi ngerasa ada di sana hehe…semoga bisa ke sana 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s