Alun Takilek Alah Takalam, Belum Berkilat (Bersinar/bercahaya) Sudah Gelap Lagi

Alun Takilek Alah Takalam. Belum Berkilat (Bersinar/bercahaya) Sudah Gelap Lagi, Ikan di Air Sudah Ketahuan Jantan atau Betina”. Wuisss, mantap nih, Sakti banget dong, belum bersinar sudah gelap lagi. Hehehe… Nggak lah itu hanya sebuah pepatah aja kok. Pepatah dari Padang.

Setiap daerah di manapun pasti memiliki pribahasa sendiri dalam mengungkapkan sesuatu. Begitu juga di Padang, ada istilah yang disebut dengan “Alun Takilek Alah Takalam, Ikan di Aia Alah Tau Jantan Jo Batino ~ Belum Terkilat (Bersinar) Sudah Gelap Lagi, Ikan di Air Sudah Ketahuan Jantan atau Betina”.

Apakah artinya ini? Artinya adalah bahwa kita sudah mengerti maksud orang atau seseorang tanpa orang tersebut memberikan penjelasan yang banyak apalagi panjang lebar. Jadi kalau semisalnya ada orang yang mau membicarakan tentang masalah A – B – C – D – E – F, tapi baru aja orang tersebut bicara sampai B, si lawan bicara sudah memhami pembicaraan tersebut sampai selesai.

Adanya pepatah yang seperti ini mungkin ada hubungannya dengan sikap atau gaya orang Padang yang kalau berbicara suka menggunakan bahasa kiasan atau sindiran. Tidak perlu bicara terang-terangan apalagi blak-blakan, si lawan bicara sudah mengerti apa maksud pembicaraan orang tersebut.

Gambar dari Google yaa

Gambar dari Google yaa

Apakah sikap berbahasa kiasan ini bagus? Hmmm, tentu saja bagus atau malah sangat bagus pada kondisi tertentu. Tapi ada juga tidak bagusnya.

Berbahasa kiasan ini akan bagus, kalau orang atau lawan bicara yang kita hadapi itu terbiasa atau dibiasakannya berbahasa kiasan di lingkungannya. Tidak akan ada masalah karena orang Padang sama-sama sudah saling mengerti berbicara dengan kiasan tanpa harus berterus terang.

Kalau semisalnya omongan kita atau kata-kata kita berisi tentang sesuatu yang kurang enak untuk lawan bicara, si lawan bicara justru tidak akan tersinggung mendengarnya. Tapi malah akan menjadi malu mendengarnya. Itulah salah satu gunanya berbicara degan bahasa kiasan ini bagi orang Padang.

Ibarat kata nih, prinsip berbahasa ala “alun takilek alah takalam” ini adalah berbicara dengan bahasa kalbu. Hati sama hati yang berbicara, hehe. Atau kalau kayak di Jepang yang bicara dalam bahasa diam, hehe

Nah, bagaimana kalau lawan bicara tersebut tidak terbiasa dengan bahasa kiasan tersebut? Orang yang bicara pakai bahasa kiasan itu bakal gondok sendiri karena lawan bicaranya tidak bisa manangkap sinyal yang dikirimkannya kepada lawan bicara, hehehe. Jadinya papatah akan jadi kurang bagus diilakukan pada orang yang tidak biasa dengan bahasa kiasan. Karena pesan justru tidak akan sampai.

Dan, bisa juga omongan kita yang berbahasa ‘halus’ dengan bahasa kiasan ini menimbulkan salah mengerti bagi lawan bicara (orang kedua) yang terlalu sensitif menanggapi bahasa ‘halus’ ini. Padahal kitanya sendiri (si orang pertama) tidak bermaksud apa-apa dengan omongan yang baru saja terlontar. Jadi bisa menimbulkan salah sangka lawan bicara atau bagi pihak lain.

Contoh nih, pas saya berkunjung ke rumah tante teman saya. Saya datang beberapa saat setelah magrib. Nah, kira-kira jam setengah 8-an, si tante dan om menawarkan untuk nginap di sana, padahal dia pasti tahu bahwa saya ngga akan nginap di sana.

Apa artinya ini? Bagi saya yang cukup mengerti ‘sinyal’ yang hendak disampaikannya, bahwa sudah saatnya saya pulang. Walaupun belum jam 8 saya tahu banget bahwa bahwa si tante dan Om tidak menginginkan saya pulang malam. Maklum anak perempuan. Nggak baik pulang malam-malam, walapun di Jakarta jam 10 malam aja angkutan masih sangat banyak. Ditambah lagi saya tahu banget kalau jam 8 an, sebelum jam 9 mereka sudah pada tidur, hehehe. Saya tau ini karena sudah 3 kali nginap di sana waktu teman saya datang ke Jakarta.

Bagaimana kalau saya agak kurang-kurang memahami pepatah ini? Mungkin saja saya akan bilang “Nggak kok Tante, aku pulang aja…” dan kemudian terus saja bercerita bla-bla-bla…, tanpa menangkap sinyal bahwa saya harus pulang. Dan akibatnya si tante bisa jadi malah jadi kesal sendiri dengan ketidakpekaan saya ini.

Atau bagaimana kalau misalnya si tante dan si om ini benar-benar menawarkan saya nginap di situ tanpa ada maksud untuk mengingatkan saya untuk pulang, tapi karena antena insting sindiran saya terlalu peka, saya malah jadi berburuk sangka sama si tante, “Ih, gue udah diusir-usir aja deh, padahal kan belom jam 8? Bla…bla…bla…”

Jadi intinya adalah, lihat-lihat situasi saja berbicara dengan bahasa ‘halus’ ini. Lihat dengan siapa kita berbicara. Kalau kira-kira orang yang kita ajak berbicara kurang ‘menguasai’ ilmu ‘alun takilek alah takalam ini’ mending bicara terus terang aja as asal caranya enak aja, nggak bikin lawan bicara jadi merasa tidak enak hati.

2 thoughts on “Alun Takilek Alah Takalam, Belum Berkilat (Bersinar/bercahaya) Sudah Gelap Lagi

  1. Pingback: Ilmu Koncek ~ Ilmu Katak | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s