Ada Yang ‘Ngikutin’ Dari Kebun Teh Puncak

Hari sudah sore, udah jam setengah 5. Sudah saatnya pulang. Pulang ke Jakarta dari Puncak, kami menunggu bus yang datang dari arah Puncak, entah itu dari dari Cianjur atau Garut yang melewati Puncak.Akhirnya dapat bis yang dari Garut yang  penumpangnya tidak banyak jadi kami bisa memilih tempat duduk. Tapi baru saja duduk sebentar, mungkin baru 5 menit, di bawah mesjid besar yang di pinggir jalan raya, Lala tiba-tiba merasa mual.

Heran sih, barusan kami masih ketawa-ketawa beberapa menit sebelum naik bis. Kami sama-sama meniupkan nafas yang mengeluarkan asap kayak orang-orang yang lagi ngomong di tipi saat musim dingin.

“Nafas kita berasaaap” kata kami dengan norak bin kampungannya sambil tertawa.

Lah kok sekarang tiba-tiba langsung mual? Jeung lala muntah tiba-tiba. Ooohhh My God…. Aku termasuk orang yang nggak kuat dengar orang muntah, melihat muntah, membaui muntah, atau membayangkan muntah. (asli, sekarang aja bergidik).

Tapi mau gimana lagi, Jeung Lala temanku, kamarnya di selah kamarku, mau ngga mau aku harus kuat, harus sangat kuat. Jeung Lala membekap mulutnya yang udah penuh dengan muntah. Aku segera mengamnil kantong yang berisi minuman, mengeluarkan isinya dan memberikan kantongnya ada Jeung lala.

Pacet-20130310-00072

Pacet-20130310-00071Aku segera memijit pundak Jeung Lala dengan kedua tangan. Selesai muntah ia ngajak aku supaya tetap ngomong biar nggak kepikiran muntah lagi. Tepi tetup saja ia muntah lagi. Trus, ia memasang headset dan nyanyi-nyanyi sendiri sementara aku mengikikuti gaya dia tanpa mengeluarkan suara. Asli, kita berdua kaya orang gila. Orang yang duduk di belakang kami me;ihat dengan heran, karena sela antara bangku aku dan jeung lala cukup untuk melihat ‘kegilaan’ kami.

Berkali-kali Jeung lala muntah, baru setelah tiba di tol Ciawi, ia mulai agak segar lagi. Ia juga menelpon cowoknya yang di panggil Meong, biar menemani ia bicara, bicara apa aja. Dan topiknya apa aja. Aku yang dengarin Jeung Lala aja pengen ketawa karena pembicaraan mereka (setelah lebih dari 10 menit) tampak dipaksakan karena intinya harus ngomong.

Nah, ntar di dalam tol, di daerah Sentul, Jeung Lala minta tolong cowoknya panggili Bi Atun, bibi tukang urut untuk datang ke kos kami kira-kira jam 9 an. Si bibi ini tinggalnya dekat kos si Meong. Kenapa Jeung Lala minta tolong ke si Meong? Karena Jeung Lala ngga punya nomor hape si Bi Atun.

Photo-0954IMG-20130310-00080(Coba zoom gambar liat bayangan wajah persis di dekat hidung)

Naaahh, di sini nih mulainya cerita yang aneh-aneh. Si Bi atun kemudian minta nama bapak Jeung Lala dikasih tau ke dia. Laahhhh koookkkkkk… Orang minta diurut doang karena badan capek en pegal-pegal kok pake nama ayah segala sih???

“Waaah.. ini udah mulai ngga benar nih Jeung…” kataku ke Jeung Lala.

“Tau tuh, pasti si meong cerita ke si Bi atun dan dihubung-hubungin gue tiba-tiba muntah!” sahut Jeung lala.

Dan benar aja, pas kami lagi ada di busway arah Rambutan arah Harmoni, si Meong sms Jeung Lala, dan bilang bilang kalau si Bi Atun udah buang, udah ngga ada lagi, udah bi Atun buang dan pulangkan. Naahh kann… semuanya langsung dikait-kaitkan dengan hal ‘dunia lain.’

Bukannya ngga percaya dunia lain itu ada, tapi mbok ya jangan langsung semuanya dihubung-hubungkan gitu. Karena walau kami berdua tidak memercayai si Bi Atun, tapi sau nggak mau, sengaja ngga sengaja mempengaruhi kami juga.

Jam sepuluh kurang, si bibi belom datang. Pas aku balik dari kamar mandi, si Jeung Lala teriakin gue, supaya masuk ke kamarnya. Ia katanya baru aja nyalain BB dan liat foto-foto kami yang di kebun teh. Kata jeung Lala dia gari tadi, sejak di bis hanya penasaran pada satu foto yang ingin dia liat pas BB-nya udah nyala.

Daaannn, hasilnya adalah pada salah satu foto yang di zoom, memperlihatkan bayangan yang berwujud wajah aneh, dan agak menyeramkan. Bayangan tersebut tidak ada satupun di gambar-gambar yang lainnya. Hanya di gambar itu aja. Naahhh looo… Benar bukan, kata-kata si bibi menggiring pikiran ke arah sana?? Mau ngga mau, suka ngga suka… tetap aja jadi kepikiran kaaann.

Photo-0942Photo-0928

Lala telp si bibi tanyaain kapan bisa datang buat urut karena badan udah capek banget. Maklum kan tadi selama di Cibodas kita kehujanan dan malah diguyur hujan deras. Eh, pas di telpon si bibi bilang lagi kalao udah dibersihin dan juga bilang kalao yang nempel alias yang ‘ngikutin’ dari kebun teh, berjenis laki-laki, dan ganteng. Naaahh loooo…

Aku karena penasaran telpon temanku yang agak ngerti yang kaya gitu. Katanya, kalo ada yang ‘ditempelin’ coba pencet jempol kaki atau bagian belakang bagian belakanag dengkul. Kalau udah dipencet dan berteriak, kemungkinan ada, katanya.

“Sebenarnya itu ngga sakit sih, tapi pas dipencet nggak sakit, entah kenapa tanpa alasan apapun lo pengen teriak aja!” kata temanku menjelaskan. Aku hanya bisa bilang ‘Oooo… gitu.’

Aku kemudian mencoba saran temanku, memencet jempol dan bagian belakang dengkul Jeung lala. Dan hasilnya, Jeung Lala berteriak. Hohoho… ternyata (kemunhkinanan) Jeung Lala benar ditempelin.

Dan kemudian aku juga mencoba memencet jempol kakiku sendiri dan bagian belakang dengkul. Sekenceng-kencengnya aku mencet aku tetep aja nggak teriak. Bukan nahan diri nggak supaya nggak teriak loh. Emang ngga ada alas an untuk teriak.

Udah seleseii????

Belomm ternyata…

Si bibi akhirnya datang juga jam sebelas. Nah udah basa basi dikit, mulai tuh, si jeung Lala diurut. Eh, baru aja si Jeung Lala dipegang-pegang dikit ma si si bibi, si Jeung lala udah teriak-teriak. Ngak tau karena badannya yang sakit-sakit atau karena ‘lainnya’. Tapi ternyata si bibi ngurutnya nggak bentar doang, paling juga nggak nyampe 10 menit. Bentar amat urutnya.

Dan lantas dia bilang, “Udah, udah ibu pulangin!”

Haaaa, bukannya ngurut si bibi malah ‘beraksi’ membersihkan si Jeung Lala rupanya. Aku Cuma geleng-geleng kepala. Katanya si Jeung Lala ditempelin 3 ‘orang’. Satu dari puncak, 3-nya lagi dari tanah kosong yang ada di sebelah kos. Haaaaaa????? Lo lo lo… Kokkk?

Yaaaa sudahlah. Karena badanku juga pegel-pegal karena tadi sempet kram di Cibodas, aku juga sekalian minta diurut. Tapi aku tekanin ke si bibinya untuk diurut, benar-benar diurut.

Baru aja pegang kaki gue, si bibi langsung kaya orang mental oleh sesuatu yang ngga terlihat. Kaya yang dipelem-pelem itu lohhhh. Katanya ini malah yang nempel lebih kuat dan jahat serta lebih banyak dari yang nenpel ke Jeung lala. Si bibi sampai beristighfar karena kuatnya ‘orang yang harus dia buang. Tapi anehnya aku justru ngga teriak sama sekali. Kakiku berasa sakit iya, tapi berasa sakit kaya diurut biasa, ngga ada perasaan yang lain-lainnya seperti yang dimaksudkan temanku.

Photo-0928Photo-0932Aku memperhatikan ekspresi muka si bibi, dan maaf, aku rasa ada nggak kejujuran di sana. Dan sayangnya, entah kenapa aku melihat ekspresi si bibi adalah ekspresi ‘akting’. *semoga aku nggak berburuk sangka, Ya Allah… amin*. Dan lagian kalo dia emang ‘orang pintar’ kan harusnya dia bisa ‘merasakan’ dan ‘mendeteksi’ tanpa harus pegang aku dulu ketika dia mengurut Jeung Lala. Aku padahal berjarak 1 meter aja dari dia.

Aku hanya ‘diurut’ sama si bibi hanya sekitaran 5 menitan, ngga sampai sepuluh menit, hanya beberapa usapan dan gerakan di kaki. Keseeelll nggak tuh, aku butuhnya diurut karena kakiku capeeekk banget bukan ‘dicemek-cemek’ doang untuk ‘buang’ jin yang nempel. Huuuuhhh….

Photo-0934Yang jadi masalah adalah, meskipun aku tadinya seratus persen nggak percaya, mau nggak mau aku jadi kepikiran terus. Pikiran ‘ditempelin’ ngikutin aku sampai aku mau tidur. Aku jadi benar-benar parno. Padahala (sekali lagi) tadi sebelum ‘dipegang’ si ibu aku malah nggak ada kepikiran apapun. Malah aku bilang ke Jeung Lala, ngga usah dipercaya.

“Lo muntah bukan karena tubuh lo membuang hawa negatif yang berasal dari Puncak, tapi karena lo masuk angin karena kehujanan. Pas lagi dapet bis yang baunya nggak segar, jadinya lo muntah.” Kataku menenangkan Jeung Lala sebelum si bibi datang.

Tapiiii, meskipun aku tadi ngga berpikiran apa-apa sama sekali, aku teteup parno pas mau tidur. Parno bangeeeet jadinya. Susah ngebalikin pikiran gue ke fikiran semula, bahwa semuanya fine dan aku nggak diikutin oleh siapapun dari Puncak. Padahal sudah baca fatihah, yasin, Al ikhlas, Al Falaq, Annas berkali-kali. Tetap aja parno. Setiap mau pejam mata kok kayanya ada bayangan-bayanagan aneh yang muncul. Mau nggak mau, untuk nenangin hati, aku tidur sambil nyetel MP3 muratal sampe pagi. Hehehehe…

Advertisements

6 comments

  1. baca alfatihah & yasinan..
    kalu ku ada yang bilang kaya bi atun gitu, mending ku komatkomit deh.. berfikir positif lah.. sekarang baik2 kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s