Idgham, Idgham Bil Gunnah Alias Dengung Tidak Dengung Dalam Bahasa Korea

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia belajar dan mengajar bahasa Korea seringkali harus dituntut untuk inovatif dalam mengajar. Tujuannya adalah supaya yang apa yang dijelaskan oleh tersebut mudah diahami oleh siswa. Selain itu juga bertujuan untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan tidak membosankan bagi siswa yang diajar (semua yang ngajar kali yaaa… :).

Menurut saya, bahasa Korea mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada bahasa Inggris ataupun bahasa Arab, bahasa yang pernah saya pelajari sewaktu di madrasah (alias smp) dulu. Itu menurut saya loooh. Dan bahkan hampir semua orang Korea yang saya kenal mengakui bahwa bahasa mereka memang sangat sulit untuk dipelajari. Kalau orang Korea sendiri mengatakan bahasa mereka sulit, bagaimana dengan orang yang bukan orang Korea? Tentu lebih sulit lagi bukan?

Dalam bahasa Korea ada yang disebut dengan istilah penyengauan atau perubahan bunyi. Perubahan bunyi ini membuat bunyi bahasa Korea berbeda dari tulisan hangeulnya. Jadi ketika kita mendengar ucapan (멍는) mongnen, belum tentu tulisannya adalah mongnen (멍는) , melainkan mognen (먹는) .

Contoh sederhana (walaupun analoginya kurang cocok) dalam bahasa Indonesia adalah seperti perubahan bunyi huruf T jika bertemu dengan awalan “me”. Apabila huruf T diberi awalan me, maka bunyi huruf T akan hilang dan awalan me menjadi “men”. Contoh, tonton menjadi menonton.

Penyengauan dalam bahasa Korea adalah perubahan bunyi huruf yang berada di akhir suku kata pertama, yang bertemu huruf pertama suku kata berikutnya.

 Kapan dan di mana terjadinya perubahan tersebut? Yuk kita lihat ya..

  • Apabila huruf ㅂ (biep atau b), ㅄ (biep atau b), ㅍ (phiep atau ph),  bertemu dengan huruf ㅁ (miem/atau m) ㄴ (nien atau n), maka hurufㅂ (biep atau b), ㅄ (biep atau p), ㅍ (phiep atau ph) berubah menjadi huruf m.

Contoh :

  1. 입니다 (ibnida)          → 임니다 (imnida)
  2. 앞문 (ap-mun)             → 암문 (am-mun)

Sumber : Cara Mudah belajar Bahasa Korea.

  • Apabila Jika huruf , , dan bertemu dengan huruf dan , maka bunyi huruf , , dan berubah menjadi bunyi .

Contoh :

  1. 받는다 (bat-nenda)     → 반는다 (ban-nenda)
  2. 끝납다 (ket-nabnida)  → 끈남니다 (ken-namnida)

Sumber : Cara Mudah belajar Bahasa Korea.

  • Apabila bertemu huruf, ㄱ, ㅋ dengan huruf ㅁ, ㄴ maka huruf ㄱ, ㅋ berubah menjadi huruf ㅇ (ieng).
  1. 국물 (guk-mul)             → 궁물 (gung-mul)
  2. 백년 (bêk-nyôn)           → 뱅년 (bêng-nyôn)

Sumber : Cara Mudah belajar Bahasa Korea.

Aturan di atas dalam mengajar saya analogikan dengan idgham bi ghunah alias dengan dengung.

  • Apabila huruf ㄱ, dan ㅇ jika bertemu dengan huruf ㄹ, maka huruf ㄱ, berubah menjadi huruf  ㅇ (ieng), huruf ㄹ berubah bunyi menjadi ㄴ. Dan jika huruf ㄴ bertemu huruf ㄹ, maka huruf ㄴ berubah bunyi menjadi huruf ㄹ.
  1. 정리하다 (jong-rihada)           → 정니하다 (jong-nihada)
  2. 신라 (sin-ra)                            → 실라 (silla)

Contoh yang no. 3 dalam mengajar saya analogikan dengan idgham bila gunnah alias tidak dengung.

Dan percayalah, ketika pertama kali mengajarkan tentang perubahan bunyi ini, saya jamin kepala para siswa akan langsung berputar-putar. Betapa ribetnya bahasa Korea. Jadi, biasanya saya tidak akan mengeluarkan materi tersebut. Tapi karena pada hari pertama saat memperkenalkan diri dan mengucapkan salam “안녕하십니까? (annyonghasib-nika?/annyonghasim-nika?” saja, mereka langsung menemukan perubahan bunyi ini. Minimal pertanyaan mereka adalah kenapa saya mengucapkan 심니까 (sim-nika) padahal tulisannya jelas-jelas ~십니까 (sib-nika).

Kalau sudah bertanya begitu baru saya keluarkan jurus untuk menjawab pertanyaan mereka. Ya… itu, menggunakan istilah ilmu tajwid : idgham ghunah dan idhgam bilaghunah alias dengan dengung dan tidak dengung.

Saya                : Siapa yang masih ingat belajar tajwid waktu dulu belajar ngaji?

*berbagai jawaban keluar, menyatakan masih ingat*

Murid-murid   : Masih ssem / Udah lupa ssem/ ~~ / ~~ / Emang bahasa korea ada tajwidnya juga ya ssem???  *asli, pertanyaannya kocak dan dengan ekspresi yang kocak juga.

Saya                : Dalam tajwid, kalau misalnya nun mati ketemu ba, bacaannya gimana?

Murid-murid   : Dengung ssem /dibaca dengan dengung ssem. Bacanya dengung ssem.

*sebagian langsung praktek bacaan dengan dengung*

Murid-murid   : Miimmmmba’du… / ~ / ~ / *bergaya qari tingkat nasional* / ta’maluuuuuuunnn…../ *ini dengungnya dimana coba?* wakkkkk

Saya                : Nah, sama. Bahasa korea juga kaya gitu. Contoh, huruf (bieb/b), bertemu dengan huruf ㄴ ( nien/n), maka huruf ㅂ(bieb/n)-nya akan berubah bunyi  menjadi huruf (miem/m). *sambil nulis di papan tulisa*

Murid-murid   : Oooo, begitu ssem. Jadi huruf (biep/b)-nya dibaca dengung ya ssem?

*langsung ada yang praktek dengan dengung ala qari*

Murid-murid   : immmmmmnidaa *begaya qari tingkat nasional booo…*

*Kemudian saya berikan contoh yang lain seperti di atas di papan tulis.*

Saya                : 국물 (gukmul), huruf ㄱ (giyok/g) bertemu ㅁ (miem/m), jadinya….?

Murid-murid   : 궁물 (guuuuuungmul) *teteup gaya qari tingkat nasional*

Saya                : Jadi di tabloid-tabloid atau majalah remaja yang membahas tentang grupboyband yang anggotanya paling muda kan ditulis magne, tuh? Jadi harusnya dibaca apa?

Murid-murid   : Mangggggggggneee… *lagi-lagi dengan ala qori tingkat nasional*

Kocak bukan? Hehehe… Bagi saya sih kocak, hehehe *maksa banget…:)*

Naaah bagaimana kalau orang Korea yang belajar bahasa Indonesia menemukan hal yang sama? Misalnya huruf g atau k bertemu dengan m, atau huruf l (el) bertemu huruf n, atau huruf t bertemu huruf n? Hehehe, mereka tentu akan mengucapkanya dengan cara bahasa mereka (tapi untuk pertama kalinya loohhhh, sebelum dibenerin sama aku).

Contoh niiyyy :

  1. Bakmi dibaca orang korea Bangmi. (idgham bi gunah)
  2. Rambutnya dibaca orang korea rambunnya.(idgham bi gunnah)
  3. Adiknya dibaca adingnya (idgham bi gunnah).
  4. Awalnya dibaca awallya. (idgham bilagunah)
  5. Asalnya dibaca asallya (idgham billa gunah.)

Kocak juga bukaann…^^

Bacaan-bacaan di atas awalnya (baca : awallya) sulit banget bagi orang Korea karena mereka sudah terbiasa mengucapkannya pake tajwid dengan dengung alias idgham bi gunnah, hehehe.

Jadi saya piker tidak masalah gurunya rada-rada ngaco saat mengajar, yang penting mereka mengerti apa yang diterangkan pada mereka.

Salam super.

Firsty

Advertisements

23 comments

  1. wah ternyata ada selain yg jdi M, ada jg yg jadi dengung dan N…. terima kasih ats penjelasannya.. wah blognya menarik nih bwt belajr korea.. saya link ya.. 😀

  2. Hahaha asli, aku pusing liat bentuk hurufnya apalagi ngucapinnya. Tapi salut Fis, dirimu bisa menguasai bahasa ini. Kapan2 kita ke Korea yuk! 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s