Ngajar Calon TKI: Tobaaaattt dah

Ngajar Calon TKI : Tobaaaattt dahAkhirnya aku posting juga tentang pengalaman mengajar calon TKI yang berangkat melalui PJTKI. Mereka ini memang agak berbeda daripada calonTKI yang berangkat melalui program G to G antara pemerintah Indonesia dan Korea. Berbeda dari latar belakang pendidikannya, sehingga berbeda pula sikap dan maner mereka.Sebenarnya beberapa bulan yang lalu aku juga pernah mengajar di sini dan ini adalah kali yang kedua, jadi setidaknya sudah ada bayagan bagaimana calon ‘siswa’ yang akan aku hadapi. Jujur aja waktu pertama kali dulu aku syok menghadapi kenyataan ternyata orang-orang yang akan aku ajari bahasa Korea adalah (sebagian besar) bapak-bapak yang sudah tidak harapan lagi mencari nafkah di tanah air sendiri, jadi bekerja di luar negeri adalah solusi, walaupun dengan cara yang instan.

Hanya saja sayangnya mereka ini tidak mau berusaha untuk meningkatkan kapasitas diri dengan sungguh-sungguh belajar bahasa Korea, bahasa negara tempat di mana mereka akan bekerja. Mereka dengan bermodalkan keyakinan akan langsung diterima dan berangkat dalam satu atau dua bulan atau tiga bulan tanpa harus khawatir dengan keterbatasan kemampuan bahasa yang mereka miliki.

Jumlah mereka semuanya 36 orang. Dan diantara yang 36 tersebut sekitar 25 – 28 orang berasal dari etnis yang sama, aku sebut saja etnis Garuda, dan jangan anggap ini sebagai sara ya. Sisanya datang dari berbagai daerah. Dan sebagian besar mereka tinggal bersama di mes atau kos selama 2 minggu.

Oya, mengajarkan mereka aku tidak memperkenalkan diri dengan sebutan Sonsengnim atau Ssem, tapi dengan ‘Ibu’ karena saya berharap panggilan ‘Ibu’ lebih mempunyai kekuatan untuk mereka hormati daripada sonsengnim atau ssem, walaupun artinya sama, Bapak atau Ibu Guru. Karena aku satu-satunya cewek di dalam ruangan yang jumlah siswanya mencapai 36 orang tersebut.

Sebelum aku, yang mengajar mereka selama seminggu dari jam 8 sampai 12 adalah seorag guru pria. Hanya sayangnya setelah seminggu full belajar kemampuan membaca mereka masih jauh dari yang diharapkan meskipun mereka sudah belajar lebih dari 20 jam. Seharusnya mereka sudah agak lancar membaca tanpa harus dibantu dengan romanisasi. Tapi ternyata tidak, masih sangat jauh dari yang seharusnya. Bahkan sekadar안녕하십니까? (Annyonghasimnika?) lidah mereka masih belum lancer. Hufff…

Yang sangat hapal luar kepala oleh mereka adalah “swiwoyo (istirahat) dan jibe gayo (pulang). Arrgggggg….

Jadi pada hari pertama mengajar latihan yang aku berikan pada mereka adalah memperkenal diri : nama, umur dan asal. Cuma tiga itu saja. Aku suruh mereka satu-persatu memperkenalkan diri dalam bahasa Korea. Dan pelajaran ke dua adalah bertanya nama, umur, dan asal pada lawan bicara.

Latihan 1 (memperkenalkan diri) :

A : 안녕하십니까? 저는 A-입나다. (umur) 살입나다. (daerah asal)-에서 왔습니다.
A : Annyonghasimnika? Jonen A (nama~A)-imnida. (umur) sal-imnida. Garuda-eso wassemnida.
A : Selamat pagi? (Nama) saya adalah A. (Umur) saya …. tahun. Saya berasal dari …. (nama daerah asal)

Latihan 2

A : 이름이 무엇입니까? (Iremi muosimnka? / Siapa nama Anda?)
B : 저는 ( )입니다. (Jonen (nama)-imnida. / Nama saya adalah …)
A : 몇 살입니까? (Myot sal-imnika? / Berapa umur Anda?)
B : ( ) 살입니다. (umur) sal-imnida. / Umur saya … tahun)
A : 어디에서 왔습니까? A : Odi-eso wassemnika? Anda berasal dari mana?)
B : ( )에서 왔습니다. (Asal)-eso wassemnida. / Saya berasal dari …)

Rupanya materi tersebut (mereka udah belajar 24 jam loh sebelumnya) membuat lidah mereka keriting. Dan pada akhirnya mereka langsung memberondong aku dengan protes.

Bapak-bapak 1 : “Buk, Ibu serius amat belajarnya Bu! Ngga usah terlalu serius dong Buk! Ini kan hanya formalitas Bu!”

Bapak-bapak 2 : “ Iya, Bu! Bapak kemarin ngga serius-serius amat belajarnya Bu! Banyak bercandanya jadi asyik Bu!”

Yaaaahhh…. Belajar yang sederhana begitu udah dianggap serius??? Mereka niat nggak sih kerja di Korea? Tapi kemudian aku berpikir, pantas saja sudah belajar seminggu masih belum bisa membaca dan melafalkan ‘Annyonghasimnika?’ dengan agak benar. Bercanda melulu belajarnya.

# Seks dan vulgar

Sepanjang pelajaran sebisa mungkin mereka berbicarakan adalah pembicaraan yang mengarah pada seks dan dengan bahasa yang sangat vulgar.

“Bu! Apa bahasa Koreanya ‘saya ingin tidur dengan cewek itu Bu!”

# Ketika saya memberikan materi bentuk past tense, saya memberikan pertanyaan “apa yang Anda lakukan semalam?”

Salah seorang menjawa, “Main bola, Bu?” (yang lain langsung geeeer, tertawa).

“Main bola, Pak? Di mana” tanyaku masih aja polos dengan jawaban mereka.

“Main bola di pela-pela Bu, main gol gol-an sama cewek Ayu, Bu! (Ayu adalah nama daerah di pantai utara Pulau Jawa yang dikenal banyak berprofesi sebagai wanita penghibur di Jakarta).

“Mantap Bu, goyangan cewek Ayu!” sambungnya dengan ekspresi membayangkan cewek tersebut. Mengejap-ngejapkan dan mnggeleng-gelengkan kepala.

Dan topik tentang cewek dari daerah Ayu tiap hari diangkat sejak saat itu.
# Pas cerita-cerita tentang rencana mereka nantinya di Korea, mereka dengan semangat bercerita tentang nantinya kalau kapal berlabuh.

“Bu, kataya nanti kalau kapal berlabuh, cewek-cewek cantik naik kapal bu, jadi kita bisa ‘ya, gitulah Bu!’ Ibu mengertilah” jawab salah dari mereka, dan yang lain menyahuti hal yang sama. Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar jawaban mereka.

“Katanya Bapak-Bapak udah punya isteri? Nggak ingat isteri di rumah nantinya tuh” tanyaku asal.

Itu dia Bu, kalau sudah nikah trus lagi kepengen nih Bu, harus dikeluarkan Bu!” jawab salah seorang dari mereka. Yang lain langsung berebutan membenarkan.

“Kalau ngga dikeluarkan Bu, bisa beku di dalam Bu! ” kata si X.

“Betul itu Bu!” sahut yang lainnya.

“Kalau beku harus dioperasi Bu! Mahal biaya operasinya Bu! Berapa biaya operasinya?” tanya si X pada temannya.

“35 juta, Bu!” jawab yang ditanya.

“35 juta Bu, itu udah ada kejadiannya Bu! Mendingan dikeluarin Bu daripada operasi 35 juta!” sambung si X lagi.

Aku tetap pura-pura santai saja dengan kevulgaran mereka, padahal uuuhhhh…..

“Tapi yang saya tau cewek-cewek Korea ngga terlalu suka dengan orang yang berkulit gelap loh, kebanyakan mereka maunya sama orang yang berkulit terang. Sama orang Asia tenggara ngga terlalu suka!” kataku

Jawaban mereka ujung-ujungnya adalah :

Kalau mereka sudah coba ‘barang Garuda’, mereka bakal ketagihan Bu!” jawab salah satu dari mereka, yang lain lagi.

“Bu yang kerja di kapal itu kebanyakan orang Garuda Bu, bisa saja satu kapal itu orang Garuda semua. Jadi orang Garuda sudah terkenal dimana-mana Bu!”

“Barang Garuda enak, Bu!” sambung yang lain di bagian agak di ujung sana.

“Maksudnya?” tanyaku sok polos, dan kembali menghadap papan tulis untuk menulis.

“Maksudnya barang lanang Garuda enak Bu!” kata yang lain pas wajahku menghadap ke papan tulis.

*aku hanya bisa beristighfar, asliiii mules aku : Ngga tau merekanya yang terlalu permisif bicara vulgar seperti itu atau aku yang terlalu katro, kampungan yang ‘sok tabu’ membicarakan hal yang vulgar-vulgar kaya gitu.*


#
Ketika aku memberikan materi tentang ‘pergi ke mana dan ada di mana’ ada adalagi kosa kata baru yang aku tahu. Tapi ngga tau apakah itu benar atau karangan mereka saja.

Saya                : Odi-e gayo? (Anda pergi ke mana?)
Bapak-bapak    : Pela pela-e gayo. *yang lain langsung tertawa gerrrr*

“Pela-pela apaan Pak?” tanyaku tidak mengerti.

“Ya tempat itulah Bu!” jawab mereka berebutan ngga jelas.

“Tempat itulah, maksudnya?” tanyaku lagi.

Dan jawaban salah seorang dari mereka adalah, “Tempat remang-remang Bu, kalau pengen main bola sama cewek Ayu, ya pergi ke Pela-pela!”

*Naahhh kannn… Arahnya masih sama kannn. Tobaaaaattt dah, masih aja nih, Pak?*

# Ketika aku menerangkan tentang materi tingkatan lantai, seperti lantai satu, lantai 2, lantai 3 dst, ada lagi ternyata yang menginspirasi mereka untuk bervulgar ria. Dalam bahasa Korea, lantai adalah 층 (cheng), jadi kalu mau menyebut lantai 1 adalah 일 층 (Il cheng), lantai 2 이 층(I cheng), 삼 층 (sam cheng).

Setiap kali aku mengucapkan dan menyuruh mereka mengulangi, yang ada mereka selalu tertawa dan berbicara meledek dengan bahasa mereka tentang cheng-cheng ini.

“Ada yang salah dengan kata cheng, Bapak-bapak?” tanyaku. Pertanyaanku justru disambut tawa dan ledekan lagi. Dan mereka menyebut kalo nggak salah (gancheng…gancheeeeng) sambil tertawa-tertawa meledek.

“Emang kenapa dengan gancheng Pak, sampai bapak-bapak tertawa seperti itu?” tanyaku yang justru makin membuat tertawa mereka main geeeerrr.

Begitulah hari-hari yang aku lewati bersama calon TKI yang berangkat ke Korea melalui PJTKI yang selalu ngomong vulgar.
Huffff

Tulisan Pertama nya : Calon TKI Jual Sawah, Tanah dan gadei-in Rumah.

58 thoughts on “Ngajar Calon TKI: Tobaaaattt dah

  1. Enak ajaaaaa disuruh mengerti.
    Pelecehan mah tetep aja pelecehan. Ya udah, Firsty mendisiplinkan mereka aja, gak usah nunggu lapor ke sekolahnya.
    Sekalian disiplin yang sadis. Besok besok bawa penggaris besi buat gebrak gebrak.

  2. Iya mbaa.. ntar tak bawa penggaris ke sana… ngajar mereka kaya ngajar anak SD, walau udah bapak2 tapi kelakuan masih kaya anak-anak.

    Aku nggak bisa membayangkan mereka di sana bakal jadi apa… Hidup dan bekerja pada orang yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan…

  3. Dari cerita mereka sih mereka tau kalau ada pekerja yang kabur trus ntar minta tolong sama teman2 mereka sesama orang Garuda bekerja di tempat lain… Ya mereka sedikitnya sudah dapet gambaran, tapi riilnya di sana kan belum tau. Biasa aja lebih parah dari bayangan mereka…

    Cuma untungnya kalo di Korea kan cuma masalah disiplin aja… Tapi ngga akan ada kekerasan seperti di Arab atau malaysia ato majikan singapura..

  4. Udah soak parah Mbaa… kan aku udah bilang mereka cuma mau mbayangin duitnya yang banyak aja, ga berpikir apa yang akan mereka hadapi di sana… Apalagi mereka bangga banyaknya orang mereka di sana… Itu poin yang mereka pegang…

  5. Pingback: Ngajarin Anak Pemulung | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s