Tari Saman, Angklung, Samulnori dan Kecapean : Hari-Hari Bersama Mahasiswa Chung Ang Univ (중앙 대학생과 같이 시간)

Sesuai dengan nama program acaranya, “Chung Ang University’s Blue Dragon Volunteer for Social Service and Culture Exchange Program”, hari-hari yang dilewati para mahasiswa peserta ini saling mempelajari budaya masing-masing negara. Tapi tetap aja titik utamanya memang lebih banyak waktu untuk mahasiswa Chung Ang memberikan pengetahuan banyak hal tentang Korea.

Kelas dibagi dalam tiga kelompok, 초급반(1학년), 중급반(2학년), 고급반(3학년), untuk memudahkan kita sebut saja kelompok pertama, kelompok kedua, kelompok ketiga. Nah, gue masuk kelompok ketiga 고급반(3학년). Jadi gue hanya bisa bercerita tentang telas gue aja, sementara di kelas lain biarlah foto-foto saja yang bercerita.

Sesi pertama pagi hari jam 9.00 – 11.00, mahasiswa Chung Ang memberikan kelas pelajaran tentang Korea. Baik itu hal umum tentang Korea ataupun tentang pendalaman materi bahasa Korea. SeungYeon (최승연), mentor gue misalnya, pada hari kedua memberikan materi tentang sistem transportasi kota Seoul (교통수단) yang memang menjadi bidang mata kuliahnya, Tranportasi Massa di Chung Ang Universty.

Ohya ada juga materi pelajaran lagu tradisional rakyat Korea (민요), yang diberikan oleh Yesul (예술). Tapi ini sih pada hari ketiga.

Setelah selesai materi tentang Korea, sekitar jam 11.00, anak-anak Chung Ang melakukan refreshing dengan permainan tradional rakyat Korea. Ternyata ada permainan rakyat Korea yang mirip dengan permainan rakyat Indonesia. Ingat permainan rakyat Indonesia yang lagunya Kami orang miskin ya Oma, ya Oma”, nah di Korea juga ternyata ada tapi ada sedikit perbedaan pada anak yang diminta. Nama permainanya adalah “Ngapain datang ke rumahku ~ 우리 집에 왜 왔니.”

Dalam permainan Indonesia kalau grup orang miskin minta anak pada orang kaya, maka grup orang kaya akan memberikan anak yang diminta orang miskin tersebut. Tapi tidak demikian dalam permainan Korea, anak yang diminta nggak serta merta pindah ke grup lawan, tapi harus shut ‘gunting batu kertas ~ 가위바위보’ dulu. Yang kalah harus ikut yang menang meskipun tadi ia yang ingin minta anak… 재미있었다…^__^

Anak-anak Indonesia juga mengajarkan anak Korea permainan congklak, damdas tiga batu dan engklek. Hohohoho… disana terlihatlah bahwa manusia walaupun secara angka seharusnya sudah masuk dalam kategori usia dewasa, tapi tetap saja mempunyai sisi kanak-kanak yang ingin diungkapkan…:) 

Begitulah setiap harinya, orang Korea memberikan materi setiap pagi bergantian, baru kemudian melakukan permaianan rakyat.

Jam makan siang pun juga dijadikan ajang untuk makan bersama. Kadang-kadang mahasiswa Korea yang mentraktir makan siang semua peserta mahasiswa Indonesia. Atau kalau tidak ditraktir mahasiswa Korea, mahasiswa Indonesia membayar sendiri makanan mereka. Kasian juga dong, kalau mereka sering-sering nraktir anak Indonesia, hehehe.


Kegiatan setelah makan siang, jam 1.30 adalah anak-anak Korea kesenian tradisional Indonesia, tari Saman dan Angklung. Mahasiswa Idonesia mengajarkan langsung tari Saman kepada mahasiswa Korea, sementara untuk belajar angklung mahasiswa Indonesia mendatangkan langsung guru dari sanggar Angklung yang ada di Jakarta.

Sekitar jam 4, setelah anak Indonesia mengajarkan kesenian Indonesia pada anak Indonesia, giliran anak Korea yang mengajarkan kesenian Korea kepada anak Indonesia. Tidak ada lagi kelas 초급반(1학년), 중급반(2학년), 고급반(3학년), yang ada kelas samul nori (사물놀이), kelas Seoye (서예) ~ seni menulis indah Korea, kelas Taekwondo (대권도), dan K-pop dance.

Seperti yang sudah aku singgung sebelumnya, anak Indonesia belajar samul nori (사물놀이), Seoye (서예) ~ seni menulis indah Korea, Taekwondo (대권도), dan K-pop dance.  Jujur aja gue salut dengan kesungguhan orang-orang Korea belajar budaya ndonesia dan mengajarkan budaya mereka pada mahasiswa Indonesia…. Luar biasa…
Setiap hari dari hari selasa sampai kamis, mereka saling dengan serius tapi santai. Daaaann, mungkin hanya gue yang sering bolong-bolong datangnya, hehehe.Padahari Jumat, tidak pemisahan kelas seperti hari-hari sebelumnya. Mereka semua berbaur dan bermain bersama tanpa memandang kelas. Anak-anak Korea memasak makanan Korea untuk dinikmati bersama dengan anak-anak Indonesia. Ada kimbab (김밥), bibimbab (비빔밥), topokki (떡볶이), tokkuk (떡국) dan beberapa makanan lainnya yang namanya gue lupa. Lumayanlaaahh.. bisa makan makanan Korea dengan gratis… hehehehe.

Selain itu juga mereka melakukan berbagai macam permainan seperti adu kuat dengan sebelah kaki (gue nggak tau nama permainannya apa), ada juga permainan melingkar-lingkar sambil bernyanyi yang menurut perkiraan gue mungkin permainan ini adalah permainan Ganggang sulai (강강 술래).

Hari sabtu tidak ada kegiatan di Unas, tapi mereka ~ anak Korea sama anak Indonesia, mengunjungi panti asuhan. Karena gue nggak ikut datang ke panti asuhan, gue nggak bisa menceritakan seperti apa kegiatan yang mereka lakukan.

Kegiatan hari Minggu adalah jalan-jalan booo. Anak Indonesia yang jadi menti menemani anak Korea yang menjadi mentor jalan-jalan ke tempat wisata yang ada di Jakarta. Pilihannya adalah Taman Mini Indonesia, Monumen Nasional dan Kota Tua. Jadi ada rombongan yang memilih rute Taman Mini dan Grand Indonesia seperti rombongan gue (juju raja, Taman Mini sih oke, tapi Grand Indonesia? Nggak banget gitu lohhhh, secara mereka pengen melihat hal yang berbeda dari apa yang mereka lihat di Korea, tapi malah menyodorkan Grand Indonesia…).

Ada juga yang memilih ke Monas, Kota Tua dan Grand Indonesia. Ini masih mendinganlah daripada rombongan gue. Tapi sepertinya yang paling asyik adalah rombongan yang memilih jalan-jalan ke Kebun Raya dan Istana Bogor. Itu pilihan yang cerdas, bahkan jauuuhhh lebih cerdas daripada pilihan rombongan gue….(sekali lagi…)

Dan selama sisa hari berikutnya sama seperti minggu sebelumnya kegiatan mahasiswa-mahasiswa ini kembali seperti semula dari hari Senin sampai Kamis: belajar tari Saman, Angklung, Samulnori, Seoye, dan K-pop dance.

Melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama-sama teman-teman memang sangat menyenangkan. Tapi kalau itu dilakukan terus-menurus setiap hari selama sepuluh hari tidak bisa dipungkiri kadang-kadang menimbulkan rasa capek dan lelah juga. Manusiawi sekali karena kita memang manusia.

Tapi yang pasti segala kegiatan dan kebersamaan yang terjadi selama dua minggu tersebut meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi kedua pihak. Ada kebahagian yang dalam yang timbul karena kebersamaan tersebut dan ada juga kesedihan yang ditimbulkan oleh perpisahan yang terjadi setalahnya.

Semua perasaan tersebut menyatu di sana. Pun ada juga yag tertancap panah sang cupid pada anak manusia yang berbeda bangsa ini… *twinkkk..twinkkk…

Maka tak heran kalau kemudian pada akhir acara, air mata tercurah menangisi kebersamaan yang singkat tersebut tapi meninggalkan kesan yang mendalam bagi semuanya.


Advertisements

18 thoughts on “Tari Saman, Angklung, Samulnori dan Kecapean : Hari-Hari Bersama Mahasiswa Chung Ang Univ (중앙 대학생과 같이 시간)

  1. Blom pernah berinteraksi ma orang jepang, jadi ngga bisa membedakannya… Tapi pas waktu aku ngomong berduama orang Korea, dia sempat tanya bjam tidur aku, aku bilang aja jam 11 sampe jam 5… Katanya TERLALU BANYAK… Karena di Korea mahasiswa Korea sudah terbiasa tidur cuma 2 jam karena kebanyakan tugas kampus…

  2. Iya benarr, aku juga bilang itu ke dia, tapi dia sih bilang udah terbiasa…

    Kalo dipikir-pikir pantas aja angka bunih diri disana tinggi karena stressnya juga tinggi. Dan pantes juga mereka suka banget karaoke untuk ngilangin stress yang berlebihan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s