FADHLAN, KEPONAKAN (조카) GUE KESETRUM

FADHLAN, KEPONAKAN (조카) GUE KESETRUM

Fadhlan sekarang sudah 2 tahun dan dia sangat lincah, cerdas dan aktif, sama seperti anak-anak lain yang seusia dengannya. Kita (anggota keluarga gue) yang dewasa seringkali kecapean mengasuh dan mengawasinya. Padahal kita yang mengawasinya berjumlah lebih dari berlima orang lhoo.

Fadhlan nggak bandel, dan nggak rewel pula, jadi sebenarnya enak banget sih mengasuh fadhlan. Tapiiii dia tuh nggak kenal kata CAPEK!Sepertinya kata capek ngga ada dalam dirinya. Sebagai anak yang lincah dan lucu, kita senang banget mengurus dia, dan malah berlomba-lomba dan rebutan ngasuh dia.Apalagi sebelum adiknya lahir tiga bulan lalu, dia adalah satu-satunya bayi di rumah gue. Jadi, dia benar-benar kelimpahan kasih sayang banget dari kami semua. Belum lagi dari pihak abinya, dia juga cucu satu-satunya yang ada di rumah. Dua orang keponakan abi-nya tinggal di Jakarta. Al hasil dialah muara kasih saying dua keluarga.



Tapi kadang-kadang kalo kita lagi capek, rasanya enak banget nggak kebagian menjadi ‘pilihan’ dia untuk bermain (kadang-kadang dia hanya mau sama satu orang yang dia mau aja). Soalnya ya itu, kitanya udah capek, dia mah full battery anytime and anywhere. Dalam kondisi ini kadang-kadang kita sedikit lengah, sementara mata kita nggak boleh lengah sama sekali dari dirinya karena kelincahannya tersebut. Dan sudah sering hal-hal yang sebenarnya sangat membahayakan dirinya. Contoh, memasukkan jarinya ke colokan listrik.

Kemaren sore, saat dia lagi full batre banget main, di saat gue dan adik gue yang lainnya sedang sibuk dengan kerjaan, (ada yang masak, ada yang nyetrika pakaian) dia kita ‘paksa’ mandi biar dia merasa fresh dan pengen istirahat. Tapi ternyata dia teteuuppp aja pengen main. Dan dia pengennya main sama aunty-nya, adik gue yang cewek paling kecil dan nggak lagi ngapa-ngapain. Fadhlan mengajak aunty main ke kamarnya fadhlan.

Di kamar, ada kipas angin yang digantung di langit-langit kamar. Karena kabelnya dengan stop kontak kurang panjang, abi-nya Fadhlan mengakalinya dengan cara memotong kabel tersebut dan disambung dengan kabel lain.

Posisi stop kontak di kabel tersebut ada di bawah sambungan kabel. dan dan dekat dengan steker colokan. Sampe sebulan yang lalu Fadhlan belum bisa menjangkau stop kontak tersebut. Tapi sekarang, sekitar seminguan ini ia suka bisa menjangkau stop kontak tersebut dan suka memainkannya dengan cara menghidup-matikan stop kontak tersebut. Maklum mungkin ia anggap itu mainan baru yang menyenangkan. Huffffffff *gue sampe gemetar… asli, mengingat kejadian kemarin bikin badan gue merinding*

Mungkin karena suka memainkan stop kontak tersebut, sambungannya tertarik dan terputus oleh fadhlan. Dan (mungkin) kemudian saat kabel itu putus, stop kontaknya sedang tidak dalam posisi ‘on’ jai nggak apa-apa. Tapi kemudian Fadhlan menekan stop kontak tersebut dan nyala-lah arus dan kemudian lampu mati dengan suara jeklek yang sangat keras diikuti suara tangis Fadhlan yang supeeer kencang. Dan belum pernah sekalipun ia menangis sekencang itu.

Kami semua berlari ke kamar dan mendapati  badan Fadhlan sedang gemetar kencang. Adik gue segera menggendongnya dan guepun segera mengambil fadhlan dari adik gue. Bibir bagian atas dan hidungnya menghitam. Adik gue segera mengambil minyak but-but dan mengoleskannya ke fadhlan. Badan fadhlan bergetar kencang di tubuh gue dan suaranya sangat kencang yang mebuat bokap gue dan abi-nya Fadhlan berlarian naik ke atas rumah.

My God… suasana ketegangan di rumah gue benar-benar mencekam. Abinya fadlan segera membawa Fadhlan ke dokter. Menurut cerita abi Fadhlan, pulang berobat, baru aja naiks motor Fadhlan tiba-tiba langsung tertidur.

Nyokap yang baru tau sepuang pasar langsung nangis waktu kita ceritain.  Dan selama Fadhlan tidur, nyokap selalu memperhatikan kuku Fadhlan.  Takut kuku Fadhlan terlihat menghitam. Dan kita semua sangat cemas dan berharap supaya ia segera bangun dan melihat ekspresinya setelah bangun. Apakah a akan tetap seperti biasa ataukah ia akan tiba-tiba menjadi seorang fadhlan yang berbeda? Asli…., menunggu dalam kondisi seperti itu sangat mendebarkan.

Waktu bangun, Fadhlan memang nggak langsung lincah, ia tetap seperti orang yang biasanya baru bangun. Dan kita semua menunggu keceriaannya kembali…

Dan Alhamdulillah ya Allah, seperempat jam kemudian fadhlan terlihat sebagaimana Fadhlan yang biasanya. Lincah dan bawel. Dan seakan kejadian itu hanya kenakalan biasa dia yang nggak perlu dikhawatirkan. Alhamdulillah…

Setelah kejadian itu kalau kita ~siapapun~ tanya Fadhlan sambil menunjuk bibirnya yang luka, ia akan menjawab kejadian yang menimpa dirinya, juga menunjuk kamar tempat ia kesetrum listrik dan memperagakan bagaimana tubuhnya yang gemetaran *gue lagi kangen Fadhlan n pengen cium dia):

Someone    : Bibir Fadhlan kenapa Nak?
Fadhlan      : (nunjuk bibirnya) Kit…! → Ekspresinya lucuuuu banget..
Someone    : Dimana Fadhlan kena (kesetrum, maksudnya), Nak?
Fadhlan      : Na… (menunjuk kamarnya)
Someone    : Gimana rasanya, Nak?
Fadhlan     : (Kedua tangan Fadhlan terkepal dan memperagakan tangannya yang gemetar)

Atau peranyaan pertama kita tanya dengan “Apa Fadhlan yang sakit, Nak?”, maka ia akan menunjuk bibirnya yang hitam dengan ekspresi yang lucu sambil bilang “Kit…”

Gimana nggak sedih bercampur gemes ngeliat dia kaya gitu?

Solok, 29 Agustus 2011



Advertisements

18 comments

  1. Alhamdulillah mas…keponakanku ga papa..^^

    Kabarku baik, alhamdulillah juga…. Kabar Mas Priyo gimana…? Yaaahh… belakagan jarang ngempi karena ada kesibukan yang gajebo, hehehe… posting 1 mingkem sebulan…^_^

  2. Iya… bibir dan idungnya jadi itam… kaya belepotan abis makan coklat. Tapi alhamdulillah ga ada bekasnya sekarang…
    Untung bandel… fadhlan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap rasa sakit karena kelincahannya yang kadang2 berujung jatuh, kejedot ato segala macamnya deh…^^

  3. Aduh, jangan sampe terulang deh mas…. Itu aja udah bikin jantung orang serumah seperti mau copot. Kita aja orang dewasa ngerasain gimana kalo kesetrum, apalagi anak kecil…
    Adekku yang dimarahin bokap sampe nangis ketakutan, khawatir Fadhlan kenapa2….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s