Tarawehan di Kampung (Catatan Mudik bag. 3)

Tarawehan di Kampung

Hohoho, hwaahhhh, senang sekali rasanya bisa merasakan lagi melakukan shalat tarawehan di kampung sendiri sejak beberapa hari yang lalu. Habis, beda aja rasanya shalat tarawehan di kampung ama di Jakarta.

Oke, masalah shalat dan beribadah serta gimana rasanya dalam hal faktor internal sih sama aja, karena toh segala sesuatu tentang ibadah kita kan tergantung dari kita sendiri dan juga itu juga untuk diri kita sendiri juga. Tidak tergantung pada hal yang ada di luar diri kita.

Tapi kadang-adang ada faktor internal yang nggak bisa kita abaikan juga yang kadang-kadang membuat kita membandingkan antara kita beribadah di suatu tempat dengan tempat yang lain. Contoh sederhananya adalah bagaimana rasanya berpuasa di Jakarta dengan berpuasa di kampung.

Sebagaimana orang yang dilahirkan dan dibesarkan di kampung, tentu ia sudah terbiasa dengan suasana puasa di kampungnya dibandingkan dengan di Jakarta, siapapun ia dan darimana pun ia berasal. Romantisme suasana puasa di kampung tentu tidak akan tergantikan dengan apapun juga karena kita sudah terbiasa dengan suasana yang seperti itu.

Begitu juga gue, sama seperti teman-teman lainnya yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, yaahhh kadang-kadang kita membandingkan suasana puasa di kampung dengan di Jakarta. Kok ya puasa di kampung terasa lebih syahdu daripada di Jakarta yaahh.

Begitu juga dengan shalat tarwih. Kok bagi gue terasa banget bedanya shalat di kampung dengan di Jakarta (secara eksternal lhooo). Ada aja hal yang membuat kita kok ya begini dan begitu-nya.

Contoh, di Jakarta,  setiap mo shalat isya n tarwih, kalo  tiba mesjid ato mushala pas selesai azan, maka gue bisa melakukan shalat sunah 2 rakaat saja. Entah itu hendak shalat tahyatul mesjid atau shalat sunah rawatib. Tapi cuma 2 rakaat doang dapetnya.

Tapi kalau gue berangkat dari kos sesaat setelah azan Isya ke mushala atau mesjid yang jaraknya ngga sampai 100 meter, gue masih bisa melakukan shalat sunah, tetapi pada rakaat kedua atau minimal pada saat duduk tahyat akhir, bilal sudah mengumandangkan iqamah sebagai tanda hendak dimulainya shalat.

Gue sih hampir tiap hari shalat tarwih di mushala. Bukan karena di mushala, shalat tarwihnya 4 rakaat 4 rakat dan witir 3 rakaat (8 rakaat plus 3 witir).  Tapi di mushala bacaan imamnya umayanl bagus, dan yang penting nggak terburu-buru amat jadi shalatpun nggak berasa diburu-buru.

Selesai shalat Isya langsung shalat tarwih. Selesai shalat tarwih 8 rakaat, ada tausiah dari pengurus mesjid kira-kira 5-10 menitan doang, baru kemudian shalat witir. Daannnn… selesai shalat witir, baru aja imam kelar baca salam kedua yang diikuti makmum, makmum langsung bergerak kilat membuka mukena-nya. Lahhhh… lhoo ??? *heran*

Shalat tarwih kelar kira-kira antara jam 8.00  sampe 8.15. Lamanya kira-kira 1 jam-an dari mulai azan isya.

Di mesjid dekat kos yang jaraknya juga ngak sampai 100 meter, shalat tarwihnya 20 rakaat plus 3 witir dengan system 2 rakaat-2rakaat.

Tapi yang jadi masalah shalat di mesjid adalah, bacaan imamnya benar-benar kilat khusus, jadi kesannya terburu-buru seperti dikejar sesuatu. Perasaan bacaan shalat makmum, selalu aja ketinggalan aja ama imam. Kok rasanya makmum belum sempat baca ayat pendek, imam udah ruku’. Trus juga baru baca bacaan ruku 2 kali imam udah I’tidal. Gituuuu terus sampai berakhirnya shalat tarwih. Kok rasanya badan kaya abis olahraga selesai shalat tarwih yaakkk??? *

Dan yang paling penting karena kita ngikut imam yang kilat khusus, rasanya nilai ruhiyah dan kekhusyukan shalat ga dapet sama sekali selain pahalanya yang 27 derajat lebih banyak. Selalu aja komen di hati pas lagi shalat, ‘aduhhh imamnya cepet amat!!!’ Jadi kalau nggak ingat nilai shalat berjamaah, rasanya kok lebih memilih shalat sendiriana aja di kos.

Kalo di kampung? Bedaaaa ajah. Biasanya azan sekitar jam 7.30 (lebih telat 20-25 menit) dari Jakarta. Jarak antara azan dan shalat isya ada sekitar 10 menit. Jadi kalo kita tiba di mesjid beberapa menit setelah aza, kita masih bika mengerjakan shalat tahyatul masjid dan rawatib, masing-masing 2 rakaat dengan tenang tanpa buru-buru.

Setelah shalat Isya dan rawatib 2 rakaat selalu ada laporan keuangan mesjid dari pengurus mesjid. Baru setelah itu ada ceramah agama kira-kira setengah jam yang berguna banget untuk me-recharge wawasa keagamaan kita. Para buya ato ustad-ustadnya sengaja sudah disiapkan jauh-jauh hari, beberapa bulan atau bahkan setahun sebelum Ramadhan. Jadi nggak heran buya-buya di daerah Padang benar-benar panen saat Ramdhan. Gimana nggak panen, di mesjid-mesjid di pusat kota, selain ceramah tarwih dan shubuh, juga ada ceramah zhuhur dan bahkan ashar.

Selesai ceramah, dilanjutin shalat tarwih 2 kali 4 rakaat plus 3 rakaat shalat witir yang bacaan imamnya syahduuu banget. Bacaannya bagus-bagus dan menyentuh hati serta nggak buru-buru. Kalau imam membaca ayatnya agak panjang, tilawahnya pasti agak cepat. Tapi kalau tilawahnya agak pelan pasti bacaannya nggak terlalu panjang. Jadi kalo makmum sudah selesai bacaan surah pendeknya, maka dengerin dan nikmatin saja tilawah yang dibaca oleh imam ^____^

Jadi jangan heran kalau selesainya shalat Isya dan tarwih itu jam 21.30 an bahkan hamper jam jam 10… Tapi walaupun begitu kok berasa lebih enak yaaa??? Hehehehehehe…


솔록, 사랑하는 고향 : 25 Agustus 2011

Advertisements

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s