Ukhti, Menjawab Salam Wajibkan?

Ukhti, Menjawab Salam Wajibkan?

Kenapa pertanyaan ini saya ajuan kepada kau muslim yang disebut dengan ukhti? Karena para ukhti ini lah yang sering terkadang sangat meyebalkan karena terlihat tidak menjawab salam orang [baca : pemuda-pemuda yang mereka anggap sebagai pemuda iseng]

Ceritanya dulu (saat masih kuliah n ngekos di deket kampus), ketika hendak berangkat dari kos menuju jalan raya, seperti biasa, aku memilih jalan pintas yang melewati rumah penduduk biasa, bukan lewat jalan kompleks. Karena melewati jalan komplek lebih jauh dua kali lipat.

Melewati jalan pintas yang masih berupa rumah kampung, seringkali juga harus melewati remaja-remaja SMA kampung yang tentunya berbeda etika denga remaja yang dibesarkan dalam lingkungan kompleks yang umumnya adalah anak pegawai negeri.

Suatu saat ketika berjalan di depan pemuda dua puluhan tahun yang pastinya bukan mahasiswa, aku beriringan dengan seorang akhwat, artinya muslimah berjilbab panjang dan lebar. Aku tahu ia juga seorang mahasiswa satu kampus denganku.

Seperti biasa, aku selalu mengucapkan permisi ketika lewat di depan orang, dan pemuda menjawab “Yopp, silahkan” sambil kemudian mengucapkan salam, “assalamu alaikum” kepada ‘kami’, tepatnya kepada si akhwat.

Kenapa aku bilang kepada si akhwat, karena setiap aku lewat dan sering belanja di warung deket situ, serta selalu bilang permisi ketika lewat, jadi mereka pasti rada tau akulah. Dan jarangggg banget yang namanya disalamin seperti yang tadi.

Aku menjawab salam pemuda-pemuda tersebut tapi rupanya si akhwat nggak, maka si pemuda langsung nyeletuk…
    
    “Percuma juga berjilbab, tapi ga mau jawab salam…!” katanya yang langsung membuat darahku panas ma si akhwat.

      Pas udah agak menjauh, aku langsung todong dia dengan pertanyaan.

       “Kenapa sih kamu nggak mau jawab salam si abang tadi?” tanyaku.
       “Jawab kok”
     “Jawab, perasaan nggak denger deh! Yang kena siapa coba? Jilbab, bukan kamu yang ga jawab…”
       
       “Saya jawab dalam hati!”
     
      “Hah??? Dalam hati? Emang dia denger kamu jawab dalam hati? Kamu pasti lebih tau dari saya bahwa menjawab salam itu wajib!”
      
       “Yah, mereka kan iseng?”
 
      “Apa kamu bilang? Mereka iseng? Darimana kamu tahu mereka iseng? Dan kalaupun mereka iseng, mereka kan ngucapin salam, memberikan ucapan selamat ke kita! Apa salahnya sih jawab aja dengan baik?”

Dia terdiam.

       “Lagian apa hak kamu men-judge para pemuda kampung ngucapin salam hanya iseng? Apa kamu merasa lebih baik dari mereka? Sombong namanya…! Berbaik sangka aja deh kita diberi selamat, bukan bersikap seperti itu… Percuma ikut liqa ato tarbiyah kalo bersikap sombong dan merasa lebih baik dari orang lain!” kataku tajam.

Asli, aku emosi jiwa ngelihat dia kaya gitu. Masalahnya bukan hanya dia, terlalu banyak para akhwat yang bersikap seperti itu. Puncaknya ya ke dia…

Pas nyampe di kos, aku langsung ngomong ma orang satu kos, dan di kosku juga ada seorang akhwat.
       
        “Tolong, hal yang seperti ini juga di liqa’-in. Karena yang di-cap itu jilbabnya!” kataku ke teman yang akhwat.

Aku jelasin ciri-ciri si akhwat yang ga mau jawab salam tersebut. Aku yakin ia tahu karena sama-sama aktifis dakwah kampus.

19 thoughts on “Ukhti, Menjawab Salam Wajibkan?

  1. hohoho, sebegitux jengkelx ma si akhwat…
    santai aj…
    iseng g iseng, mang g ada yg tw. jawab g jawab, juga g ada yg tw. dripd pusing2, tanya langsung aja baek2…

    to mas2 yg nongkrong, “Mas, salamx iseng, ato beneran?”
    to mb akhwat, “Mb, tdi salamx dijawab, ato enggak?”

    nah, ntar dpt tuh jawabanx dri kedua pihak dgn alasan versi mereka. hak mereka lo, punya pendapat. hak qt juga lo, klo mw nanya (tpi g pke kesel);> ok?
    ntar cepat tua lo klo ngomel2… gomenasai…;)

  2. Sebenarnya karena udah liat mereka keseringan kaya gitu…. Pas kebetulan aja saat itu jadi klimaks… Jadi langsung ditanya…:)

    Sebenarnya pas saat ngomong sih nggak galak sih, dengan nada suara yang rendah (tapi dalam) sih, hehehhe…
    Tapi aku penceritaannya berapi2 yaakkk, jadi keliatannya emosional banget, hehehe *malu*

  3. Oh… artinya maap…^_^ It's oke ^_^

    Yahh, mudah2an gada yang tersinggung dengan postinganku.
    Tapi Mba benar, bahasa tulisan emang bisa menimbulkan salah sangka karena diinterpretasikan secara berbeda oleh pembacanya…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s