Menikmati Hidup Cara Rasulullah SAW

Rating: ★★★
Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: H. Muhammad Abbas Basalamah

Judul Buku : Menikmati Hidup Cara Rasulullah SAW
Penulis : H. Muhammad Abbas Basalamah
Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas
Tahun Terbit : 2010
Cetakan : Pertama

Buku yang berjudul Menikmati Hidup Cara Rasulullah SAW ini ditulis oleh Bapak Haji Abbas Basalamah. Buku ini berisi berbagai macam kisah teladan Rasullah Muhammad SAW yang memang sepatutya kita teladani sebagai seorang muslim, umat Nabi Muhammad SAW.

Membaca buku ini sangat bermanfaat bagi kita umat Rasulullah SAW karena berisi kisah-kisah yang sebenarnya bisa menjadi solusi bagi berbagai persoalan yang sering kita hadapi sebagai warga masyarakat yang hidup berdampingan dengan masyarakat lainnya atau pun dalam kehidupan keluarga.

Didalam buku ini terdapat 20 judul yang menggambarkan kehidupan Rasul. Dan setelah membaca buku ini kita akan berpikir, betapa seringnya kita mengalami hal yang seperti ini, dan sesungguhnya betapa mudahnya permasalahan itu bisa diselesaikan dengan baik. Tapi kenapa kita malah justru lebih sering mempermasalahkan suatu hal yang sesungguhnya kecil dan bisa diselesaikan dengan mudah?

Bapak Haji Muhammad Abbas Basamalah dengan gamblang menjabarkan bagaimana Rasululah hidup sebagai seorang Rasul bagi umatnya di kota Madinah, sebagai seorang suami bagi isetri-isteri beliau, sebagai sahabat bagi sahabat-sahabat beliau dan juga sebagai seorang kakek bagi cucu beliau Hasan dan Husain Radhiallahu anhu.

Rasullah adalah seorang yang sangat lembut hati. Tidak hanya kepada umatnya, sahabat-sahabatnya, isteri-isteriya tapi juga kepada benda-benda yang dimilikinya. Tidak hanya kepada benda hidup seperti kuda, hewan yang dimiliki rasul, tetapi juga kepada benda mati seperti pedang, tongkat, cermin ataupu tikar beliau. Sehingga belia memberi nama kepada masing-masing benda tersebut.

Rasul menamai pelananya dengan Al-Daj, tikarnya dengan nama Al-Kuz, cerminnya denga nama Al-Midalah, tongkat dengan Al-Mamsyu, dan gelasnya dengan Al-Shadir(hal 19).

Rasul, meskipun menjadi manusia istimewa karena diistimewakan oleh Allah, pemilik jagad raya beserta isinya ini, tapi tetap hidup sebagai manuasia sangat sederhana dan bersahaja. Beliau tidak mempunyai harta kekayaan sebagaimana yang dimiliki oleh sahabat rasul Abubakar Radhiallahu Anhu. Harta yang paling mewah yang dimiliki oleh rasul adalah sepasang alas kaki berwarna kuning yang merupaka hadish dari Negus dari Abissina. Rumah tempat tempat hidup beliau adalah pondok kecil yang tingginya dapat dijangkau oleh anak remaja, dan kamarnya disekat-sekat oleh batang-batang pohon yang direkat dengan campura lumpur dengan kapur (hal 21).

Adakah pemimpin sekarang hidup dalam kesederhanaan seperti itu?

Rasulullah juga merupakan gambaran sebagai seorang suami yang tidak mengemukaka ego seorang suami kepada isterinya. Suatu hari rasul pulang ke rumah Ummi Haniy dan menanyaka apakah ada makana yang bisa dimakan. Umu Haniy dengan malu menjawab bahwa yang tersisa hanyalah roti-roti kering. Rasul kemudian memakan roti kering tersebut engan cara mencelupkannya ke air.

Kemudian Rasul menanyakan lagi apakah ada lauk pauk? Ummu Haniy menjawab yang ada hanyalah cuka. Rasulpun kemudian mencampurkan roti kering tersebut dengan cuka tersebut. Setelah selesai makan, rasul kemudian memuji makanan tersebut.

“Lauk yang paling nikmat adalah cuka.”

Sungguh suatu karakter yang bijaksana. Coba kita bayangkan di zaman sekarang ketika seorang suami pulang ke rumah dan mendapati isterinya tidak punya makanan. Yang biasa terjadi adalah sebuah pertengkaran antara suami isteri tersebut karena suami merasa tidak dihargai oleh isterinya.

Sekiranya para suami meniru apa yang dilakukan rasulullah, niscaya pertengkaran dan keributan dalam rumah tangga akan bisa redam. Rasulullah dalam mengajak umatnya melakukan sesuatu tidak pernah dengan memberi perintah tetapi dengan menggunakan bahasa yang kiasan yang halus.

Suatu hari Rasul mengarahkan Abdillah bin Umar bin Khatab untuk shalat malam. Beliau tidak mengatakan dengan, “Hai Abdullah, bangunlah dan shalatl malamlah!”, tetapi dengan mengatakan, “Sebaiknya laki-laki ialah Abdullah, jika ia gesit melakukan shalat malam”.

Tentunya jika kita diajak dengan cara seperti tentulah akan mau melakukan sesuatu tanpa merasa diperintah. Itu adalah suatu bahasa yang sangat halus. Dalam mengajak atau memberi nasehat pada umatnyarasulullah menggunakan sikap seperti yang diajarka pepatah Arab, “Rasakan menikmati madu tanpa harus merusak sarangnya.”

Sungguh suatu metode yang patut dicontoh dalam kehidupan sehari-hari supaya tercipta kehidupan yang aman, nyaman sebagai warga masyarakat dan warga negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s