USTADPUN TUNDUK PADA KAPITALISME PERTELEVISIAN

Rating:
Category: Other

“Assalamu Alaikum Ustad…!” sapa Kiwil pada acara Asalamu alaikum Ustad. Lantas audience akan menjawab sambil merentangkan kedua tangannya.

“Wa alaikum Salam….!”

Apakah kamu, pernah nonton acara ‘Assalamu Alaikum Ustad’ jam setengah lima pagi di salah satu TV swasta? Belum…? Wah, sama! Gue juga belum. Maklum, jam stengah lima sech. Gue belom bangun, masih kepagian*malu*. Secara gue terbiasa bangun jam lima atau jam lima kurang.

Kalo udah, apa yang elo saksikan di acara tersebut? Ada Kiwil yang menjadi pembawa acara dengan banyol-banyolannya? Ato ada ustad yang menjadi sumber ilmu dan berbicara tentang apa saja dan bagaimana saja, yang sesuai tema yang mereka angkat? Trus ada penelepon TRI_JI dan penelpon biasa yang bertanya atau curhat tentang masalah yang dihadapinya yang cocok dengan tema yang diangkat? Atau ada audience yang asyik khusyuk mendengarkan jawaban-jawaban dan solusi yang diberikan sang ustad…?

Bener banget, kaya gitu acaranya!

Mungkin ada pernah ada yang coba-coba telepon kesana tapi ga pernah bisa tersambung ke nomor yang disediakan acara tersebut, tapi tidak pernah tersambung ke nomor yang dituju? Kalaupun masuk atu tersambung, tak satu kalipun sambungan kamu yang diangkat. Lantas kemudian berpikiran, betapa banyaknya peminat acara ini karena banyak yang menelepon dan mengirim email sepagi itu?

Ustadnya begitu cerdas dalam menjawab dan memberi solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang diajukan penelepon TRI-JI, tiga orang penelpon biasa, dua orang audience, atau juga dari dua buah email yang masuk ke alamat email yang disediakan.

Apakah kamu semua mengannggap bahwa acara Assalamu alaikum Ustad tersebut benar-benar live seperti yang kamu pikirkan? Acara saran langsung yang lengkap dengan penelepon-penelepon yang dirundung masalah…?

Jika ada yang menganggap acara tersebut benar-benar LIVE, guw sarankan, mulai sekarang buang jauh-jauh pemikiran tersebut! Acara itu tidak langsung sama sekali. Acara itu hanyalah acara rekaman yang dibuat dengan format LIVE. Ga cuma acaranya yang dibuat dengan format LIVE, tapi juga semua pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya bukanlah pertanyaan yang murni diajukan penelpon. Juga email-email yang masuk bukan email yang dikirim pemirsa pada pengasuh acara tersebut. Sekali lagi bukan.

Semua itu hanyalah rekayasa saja. Semua pertanyaan yang masuk baik pertanyaan dari audience, penelpon vidio call, penelpon biasa ataupun juga email yang masuk, adalah rekayasa. Mereka membuat acara tersebut sudah lengkap dengan script pertanyaan-pertanyaannya, dari siapa dan dimana! Dan pertanyaan-pertanyaan itu di dramatisir, bahkan ada pertanyaan tolol yang nggak perlu dipertanyakan. Tapi itulah, itu permainan kecil dunia pertelevisian.

Salah satu pertanyaan tolol iti adalah “Ustad, boleh nggak kalo kita pacaran kita saling tukar pasangan dengan teman kita…?” tanya salah seorang audience yang ditunjuk. Audiencenya adalah, Remaja Islam Mesjid yang terkenal di darah Menteng. Kamu tentu tau, remaja Islam tersebut…?

Tapi itulah, itu permainan kecil dunia pertelevisian.

Lantas apa yang jadi masalahnya bagi gue? Kenapa gue tampaknya begitu kesal dengan acara tersebut?

Ya itu dia…! Gue bukan kesal dengan acara tersebut! Percayalah. Gue hanya nggak percaya aja, bahwa dibalik semua rekayasa ini terlibat juga USTAD kondang yang di mata masayarakat begitu agung, mulia, dengan segala macam taushiah-taushiahnya. Itu adalah acara agama yang dimanipulasi.

Ustad yang selalu mengajarkan hal-hal tentang kebaikan, Hablum minallah, hablum minannas, sorga dan neraka, atau dilarang berbohong, tapi melakukan pembohongan terhadap publik! Ikut berpartisipasi membiarkan masyarakat beranggapan bahwa acara itu adalah acara siaran langsung padal tidak sama sekali. Acara itu hanyalah acara rekaman yang dibuat dalam LIVE!

Para ustad berbicara Wala taqrabuzzina, tapi sebagian dari mereka telah berzina dengan kebohongan-kebohongan yang diciptakan kapitalis pertelevisian. Tunduk dan patuh pada aturan mereka! Kalau memang tidak memungkinkan membuat acara siaran langsung dengan audience sepagi itu, jangan buat acara yang membuat opini umat menganggap acara itu benar-benar siaran langsung. Cukuplah acara rekamanan yang pertanyaan-pertanyaannya diajukan oleh audience yang hadir saja.

Gue yakin, banyak diantara pemirsa yang mempunyai permasalahan yang sama dengan tema yang diangkat, kemudian menelpon dengan harapan si ustad membantunya memberi solusi. Tapi sayang beribu sayang, teleponnya nggak akan pernah tersambung atau nggak akan pernah diangkat. Pada saat itu betapa kecewanya penelpon tersebut karena tidak bisa berkeluh kesah pada ustad kondang tersbut. Apakah si ustad tidak punya andil besar dalam kebohongan publik seperti itu?

Saya ingat ayah saya seringkali mencoba menelpon pada acara-acara tersebut. Tapi nggak satu kalipun nomor yang dihubungi ayah saya tersambung. Kali nggak tersambung, ya…nggak diangkat!

Mungkin ada yang bertanya ke gue, kalo gue blom pernah nonton, kenapa gue tau tentang tu acara, ya? Ya ialah…! Gue ga sengaja ikut jadi pengisi acara tersebut. Gue ditelepon teman supaya datang ke stasiun TV X saat itu juga. Gue kira ada dubbingan disana, taunya…. Ngga!

Padahal juga gue udah ngayal-ngayal jadi pengisi suara si cantik THALIA, si ratu telenovela! *halah…. lebay kwadrat…!* Upss, bener-bener ngayal indah deh. Masa sih bisa ngalahin mbak Renita, yang selalu dapat peran utama ngisi suara Thalia dan suara tokoh utama Barbie? Secara gue anak kemaren sore di dunia persilatan ‘perdubbingan’ getho loh. Ya ngga mungkinlah… Mimpi kali ye…

Oke deh, kembali ke laptop….

Ketika gue naik ke ruangan kontrol, dua teman saya yang juga ikut sebagai penelepon sedang berbicara dengan salah seorang kru. Mereka berbicara tentang tentang acara-acara keagamaan yang melibatkan ustad-ustad kondang yang bayarannya mahal. Si operator mengucapkan kalimat seperti ini:

“YA…WALAUPUN NAMANYA USTAD, TAPI KALAU SUDAH BERHADAPAN DENGAN MATERI, TETAP AJA…!

So, sekarang gue yang bertanya pada si ustad-ustad itu.

WAHAI USTAD YANG BUDIMAN….! DIMANAKAH HATI NURANI BERADA…? DIMANAKAH HATIMU LETAKKAN KETIKA GEMERINCINGAN RUPIAH MENARI-NARI DI HADAPANMU?
DIMANAKAH KEBENARAN KAU SIMPAN SAAT KAU MENENDATANGANI KONTRAK DENGAN PRODUSER ACARA TERSEBUT….?

Ah, kalau ulama saja sudah begini, gimana nggak hancur prilaku umat, karena tidak ada yang perlu diteladani. Taushiah-taushiah yang selama ini didendangan mereka hanyalah PEMANIS BIBIR SAJA!

Sungguh TERLALU….!

Advertisements

14 comments

  1. hehehehe…fis, lucu juga yah!untung vita gak pernah nonton tu acara, jadi ndak pernah kanai tipu…wakakakak!!!yah, sekarang memang mode tu fis…budidaya kapitalis merajalela…hihihi!

  2. ibarat kata kita menggali dalam lumpur…
    masa' temen2 di sebelah kita dpt intan permata sementara kita cuman dpt sepatu butut?? tentunya kita (semoga gw + yg baca gak termasuk… aminn!) pengen juga masukin tangan ke lubang yg sama + dpt hasil yg sama…

    mo minjem kata2 syahdunya Mahatma Gandhi:
    “The world is enough to satisfy everybody's need, but the world is not enough to satisfy everybody's greed… (Dunia ini cukup untuk memenuhi kebetuhan semua orang, tapi dunia gak akan pernah cukup untuk memenuhi ketamakan semua orang…)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s