Balada (calon) DUBBER : Part 1

Balada (Calon) DUBBER : Part 1

 

Beberapa waktu yang lalu aku ditelepon teman yang menanyakan apakah aku bisa pergi menyusulnya ke studio 1 stasiun televisi X saat itu juga. Otakku langsung bekerja.

Stasiun TV X? Wow! Stasiun TV X…

 

Stasiun TV X adalah salah satu stasiun TV terbesar di jagad republik ini. Jika salah seorang temanku meminta atau menyuruhku datang kesana, sebuah asa yang bisa kugapai disana, langsung menari-nari dengan indahnya.

 

Eit, tunggu dulu! Jangan membayangkan aku akan dipanggil untuk menjadi pembaca berita yang akan mebuat pembaca-pembaca berita cantik yang udah bercokol lama disana, akan cemburu abis kepadaku. Jangan! Dan jangan pula membayangkan aku dipanggil untuk menjadi reporter yang akan bisa membuat hasrat travellingku tersalurkan melalui pekerjaan ini. Sekali lagi jangan!

 

Atau mungkin kamu akan membayangkan aku diajak temanku untuk menjadi audience acara yang mereka produksi, seperti lomba pencarian bakat misalnya? Lantas kemudian berharap wajahku tersipu malu dan merona karena tersorot kamera dalam acara tersebut? Oho tentu saja tidak! Sama sekali tidak. Tolong kamu jangan membayangkan hal-hal yang diatas. Itu semua tidak akan membuatku terlena! (wuihsombongnya! Coba kalo ada kesempatan, berani ga ya nolak?)

 

Lantas apa?

Dubbing!

Dubbing?

Yap, dubbing! Kamu tahukan apa itu Dubbing?

So pasti!

 

Nah, kalo bicara soal dubbing, itu soal beda! Kuakui aku akan akan berjingkrak-berjingkrak ria kalau mendapat kesempatan dubbing disana. Aku ibarat akan mendapat durian runtuh jika itu terjadi. Tak akan kupungkiri kalau jantungku akan melompat-lompat dan menari kegirangan saking senangnya. Suer lho!

 

Atau malah, jantungku akan berhenti sesaat dan alam serta seluruh isinya akan berjalan slow motion karena dihinggapi gelombang ketidakpercayaan, bahwa kesempatan itu akhirnya datang juga? Aku tidak meragukan hal itu akan terjadi!

 

Angan-angan liarku berkelabat. Aku duduk dan menatap sebuah televisi besar di dalam sebuah ruangan tiga kali tiga meter yang dindingnya dilapisi karpet tebal untuk peredam suara. Bibirku  mengikuti dan mengimbangi dialog seorang gadis dalam sebuah telenovela. Seorang gadis yang sedang dituntun oleh seorang pemuda tampan.

 

Ya, aku sedang proses recording dubbing TELENOVELA : MARIAM CHRYSANTA

 

Alvarez Gabriel Batuta, pemuda yang berambut hitam itu, badannya tinggi tegap dan senyum kebahagiaan terpancar dari wajahnya, seakan dengan senyumnya tersebut seluruh dunia akan tersenyum pula. Tangan kanannya menutup kedua mata si gadis yang penasaran terhadap apa yang akan di perlihatkan kekasihnya padanya. Bibirnyapun menyunggingkan senyum yang tak kalah bahagia, seakan-akan kebahagiaannya akan menulari seluruh manusia jagad raya ini. (Bayangkanlah, dua orang yang sedang jatuh cinta seakan-akan bisa menularkan kebahagiaannya. Bagaimana kalo seperempat manusia saja dibumi ini..?)

 

Chrysanta         : Sayang, kau membawaku kemana? Apakah masih jauh?

Alvarez             : Baiklah Sayang, sekarangbuka matamu, satuduatiga!

 

Ia melepaskan tangannya dari mata Chrysanta. Pelan-pelan Chrysanta membuka matanya. Dia kaget melihat apa yang ada didepannya. Tangannya membekap mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi matanya memancarkan cahaya bahagia diantara keterkejutannya.

 

Dia mengalami apa yang disebut orang dengan speechless.

 

Chrysanta         : Oh! Ya Tuhan! Alvarez, aapa ini?

 

Wajahnya bergantian menatap Alvares dan pemandangan di depannya. Sebuah rumah mungil berdiri di tengah taman. Rumah bergaya Mediterania yang ramah dan hangat. Empat buah pohon besar tumbuh di empat sisi pojok halaman! Tapi tentu saja yang teristimewa adalah, bunga krisan, bunga kesukaannya yang berwarna-warni menghiasi halaman rumah mungil tersebut.

 

Agak jauh di belakang rumah terhampar perbukitan kecil yang ditumbuhi ilalang-ilalang kuning setinggi satu meter yang menambah manis pemandangan rumah tersebut.

 

Alvarez               : Sayang, ini adalah hadiah pernikahan kita untukmu. Hadiah atas rasa  terima kasihku karena aku telah menerima cinta yang tak bertepi  darimu.

 

Si Chrysanta rupanya benar-benar tidak tahu lagi harus berbicara apa. Rumah yang seperti dihadapanya ini, hanya impian muluk baginya. Rumah mungil yang pada setiap paginya ia dapat melihat dan merasakan kabut pegunungan membelai wajahnya. Tak pernah satu kalipun ia bermimpi, rumah impiannya akan jadi nyata. Dan sekarang Alvarez menjadikan impian itu nyata baginya. Dengan airmata terurai, ia memeluk Alvarez.

 

Betapa dia bersyukur kepada pemilik dan penguasa tunggal jagad raya ini karena telah mengirim Alvarez untuknya. Dia bukanlah siapa-siapa. Bukan gadis yang cantik yang akan membuat pria tergila-gila padanya. Bahkan Alvares pun lebih muda tiga tahun dari dirinya. Ya, dia hanya seorang gadis biasa yang mencintai Alvarez dengan segenap hati dan jiwanya.

 

Chrysanta         : Alvarez terima kasih……

 

Jose Armando  : Tidaktidak! Jangan berterima kasih padaku Akulah yang harus berterima kasih. Kau datang ke dalam hidupku dan hadir menjadi bagian dari jiwaku. Kau tau sayang, kau adalah anugerah terindah untukku! Anugerah terindah yang pernah aku terima

 

Oh Mama mia

 

Slash………!

 

Hayalanku berpindah, bergerak ke sebuah bangku taman dimana pohon-pohon besar yang menaungi taman itu memancarkan cahaya daun-daun musim gugur yang berwarna warni. Daun-daun berguguran ke bumi menutupi tanah dibawahnya.

 

Di bangku itu, duduk 한 은지 (Han enji) yang memegang erat syal yang melingkari lehernya dengan tubuh yang kaku. Matanya tertumpu pada dedaunan kering yang berguguran di dekat kakinya.

한은지              : 오빠 ! 미만해 미만해요!  

Han Enji            : Kakak! Maafkan aku maafkan aku

 

Suaranya bergetar hebat. Bukan karena musim gugur yang menebarkan hawa  dinginnya yang menusuk seluruh persendian. Ini tidak ada hubungannya dengan dinginnya udara akhir musim gugur.

 

김동워              : ?

Kim dong woo  : Kenapa?

 

Kim Dong Woo, laki-laki yang duduk disebelah Han Enji terpaku melihat air mata gadis itu mengalir di pipinya yang mulus.)

 

한 은지             : 저는저는오빠를 사랑할수 없어요!

Han enji                        : Akuakutidak bisamencintai kakak!

김동워              : 무얼?

Kim dong woo  : Apa?

 

(Kim Dong Woo bagaikan disambar petir mendengar ucapan Han Enji.)

 

한 은지             : ! 미안해요! 오빠를 사랑할수 없어요 미안해미안해요

Han enji          : Ya! Maafkan aku! Aku tidak bisa mencintai kakak! Maafkanaku.  Maafkan aku, Kak!

 

Air mata Enji semakin deras mengalir. Matanya tetap tak beralih dari daun-daun yang tergeletak tak berdaya di tanah. Tak sanggup rasanya melihat luka yang terhampar di mata Kim Dong Woo, laki-laki yang sejak dia bisa pertama kali bisa mengingat telah menjadi pahlawan baginya. Laki-laki yang selalu ada setiap saat dia butuhkan. Kini, ia menyakiti laki-laki yang selalu mengangankan dirinya akan menjadi ratu di istana hatinya.

 

김동워              : ? 왜요?

Kim Dong Woo  : Kenapakenapa?

 

Suaranya tak kalah bergetarnya. Tak pernah sedikitpun ia bermimpi Enji hanya menganggap dia hanya sebagai seorang kakak. Tak pula ia punya kesiapan hati untuk mendengar apa yang baru saja didengarnya.

 

Enji tidak mencintaiku? Enji tidak mencintaiku?

 

한 은지             : 저는 중상을 사랑해요!

                        : Akumencintai Jungsang!

김동워              : 무얼?

                        : Apa?

 

Dunia terasa berhenti berpurat bagi Dong Woo. Pikirannya masih bekerja mempertanyakan apakah saat ini dia sedang bermimpi? Bunga yang selalu dia jaga sejak mulai tumbuh menjadi tunas hingga tumbuh mekar, memilih serangga lain untuk diizikannya hinggap di putiknya.

 

Lagu-lagu sendu yang diringi piano dan biola khas korea terdengar. Daun-daun jatuh  berguguran dari pohon menyuarakan luka hati Kim Dong Woo. Rintihan-rintihan luka lagu itu dan daun-daun yang berguguran membuat luka Dong Woo terlihat tergores semakin dalam. 

 

Slash……!

 

Sekarang aku pikiran liarku berpindah ke sebuah rumah Hindustani.  Peranku sekarang double. Satu sebagai Khushi yang berarti Bahagia, keponakan Raj, si tokoh utama. Kedua, aku berperan sebagai nenek Raj, Nyonya Besar Malhotra. Raj baru saja memperkenal kekasinya, Priyanka, kepada neneknya.

 

Khushi  : Bibi Priyanka, Ayo, kita menari dan bernyanyi…! (aku harus merubah suaraku    menjadi suara kecil, huk…huk…)

 

Ia menarik Priyanka yang tersenyum malu. Didepanku yang sebagai nenek, tiba-tiba saja sudah hadir puluhan anak muda pria dan wanita yang entah dari mana datangnya, menari dan bernyanyi dengan riang. Priyangka bernyanyi dengan suara lengking khas suara wanita India. Sedangkan Raj, bernyayi dengan suara yang gagah yang bisa membuat terpesona hanya dengan mendengar suara penyanyi saja.

 

Diantara jeda bunyi bunyi tabla yang dipukul, terdengar gemerincing gelang-gelang belasan penari wanita. Mereka menggemerincingkan gelang-gelang mereka di depan wajah mereka. Walaupun hanya gelang yang beradu, tapi karena kemampuan musikalitas seniman India yang tinggi, gemerincingan gelang itu terdengar indah.

 

Tapikok! Gemerincingannnya nggak berhenti?

 

Nengneng! Lah kok senyum-senyum sendiri aja Neng! kata seseorang padaku.

 

OalahGustigusti Rupanya si kondektur yang sedang menagih ongkos padaku. Dan gerincing indah yang kudengar rupanya koin-koin logam yang menumpuk di telapak tangannya.

 

Aihmalunya

 

Advertisements

43 thoughts on “Balada (calon) DUBBER : Part 1

  1. hehehehe….seru tuh fis….bisa gak ya orang cadel macamku ini ikutan?Bisa mungkin yah fis…
    bisa diusir…wakakkaka!!!
    ndak yo lah asik bana pengalaman fis ko mah…!!!Jadi nio mancubo lo ko a…!heheheh

  2. kurang PD lai nyo…patah2 lo lidah beko dek payah manyabuikan huruf R—heheheh!payahlo pemirsa yang manonton tu mangarati maksudnyo beko kan…turunlo ratingnyo…wakakaka!!!

    iya, la lamo ndak ngecek mode ko…!

  3. Fis.. Serius pernah jadi dubber?? Tolong tawari aku juga ya. Wekekek.. Fis kan udah tahu bagaimana kualitas suaraku. Ehem.. Hehe..

    Fis pandai sekali membangun kejutan-kejutan dan nuansa-nuansa misteri dalam tulisannya. Begini ini yang minta diajari? Huhh! Padahal sudah jauh lebih pandai dariku. Huhuhu..

  4. jan picayo samo kikit yo fis…tapi suaro vita emang ancak sih…kayak operator telkomsel, si mbak veronika!kenal kan, fis?
    “telkomsel veronika, silakan tinggalkan pesan anda setelah ada bunyi tuttt…”
    wakakkakak…!

  5. Ngarati la…
    “Jan lewat disitu, kolam…!” kato rang solok. Rang Payakumbuh sih cuek aja, kolam aja kok takut.
    Byur….! Rang Payokumbuah tasialia (tagalincia) ka kolam…..!
    ha…ha…ha…

  6. wakakakkaka…fis…fis…ternyata dirimu lucu dan menggemaskan…pengen ngejeburin ke kolam jadinya!!!
    woii…capek2 lah main ketaman bacaan dih!!!
    ihh…si kikit tu memang acok na bermasalah samo tenggorokan, batuk2 taruih ce mah!maklum lah tuo…wakakakak…

  7. Fisra setelah ketemu Vita la nampak gilonyo.. Dak ado yang nyaingi.. Wakakak.. Uda la.. Ado duo orang yang ngefans nian ke awak ni, jadi diomongi terus. Hehe.. Aku 'ehem-ehem' karno senang dengan suaro Vita yang membangkitkan semangat. Wakakak..

  8. Ngefans Kikit katanya, Vit….! *Vita emosi nimpuk pala kiki* Bagus Vit…! hawa…ha…, rasain lo Kit.

    Suara Vita membangkitkan semangat ya Kit…? Semangat apanya, Kit…?

    *Senyum-senyum, mata berkedip2*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s