Kekasihku

Pagi ini, kekasihku tidak mau bangun dari tidurnya. Padahal dia tadinya sudah membangunkanku dengan seluruh kelembutan yang dia punyai. Dengan lagu cinta yang didendangkannya, ia bernyanyi dengan segenap hati supaya membuatku terjaga dari indahnya lelapku.

 

Tapi pagi ini begitu dingin. Bukannya aku bangun dengan segera, malah selimut yang kutarik menutup tubuh, melindungi dari hawa dingin yang menusuk. Meringkuk lagi dalam alunan mimpi yang membuaiku. Tak kupedulikan kekasihku yang sudah bersusah payah membangunkanku.

 

Baru beberapa waktu kemudian aku tersentak bangun. Mataku menatap ke arah jendela kamar. Alhamdulillah! Masih gelap! Rupanya jam masih menunjukan pukul setengah enam kurang. Dengan langkah terburu-buru aku segera ke kamar mandi, mengambil air wudhu.

 

Sehabis shalat shubuh, aku kembali meringkuk ke tempat tidur. Udara pagi yang begitu dingin membuat selimut yang hangat tampak lebih menggoda dari apapun juga.

 

Ha, aku melihat kekasihku tertidur di kasurku yang tidak bisa lagi dikatakan empuk. Dengan senyum simpul yang menghias bibirku, aku membangunkan dia. Hei…, dia ga mau mau bangun…!

 

Aha, sekarang dia yang ngambek. Dia tidak mau bangun sama sekali! Berbagai cara kulakukan supaya dia mau bangun dan menatap mataku dengan cahaya matanya yang indah.

 

Kecemasan mulai merasuki jiwaku! Ada apa dengan kekasihku? Kenapa dia tidak mau bangun…? Sebegitu marahkah dia karena tadi aku tidak mempedulikan dia? Sekarang, bukan kecemasan saja yang melandaku, tapi kepanikan sudah menguasai diriku.

 

Ada apa denganmu, Sayang?

Sayangku, Bangunlah

Janganlah kau diam saja

Jangan kau hanya membisu

Jangan kau biarkan aku tidak berdaya

menatap matamu yang tidak mau membuka

yang tidak bercahaya

Tolonglah, tataplah aku, Sayangku!

 

Dia diam saja, dia tidak mau bangun, walaupun aku sudah mencium seluruh bagian dirinya sebagai ungkapan rasa bersalahku. Walaupun aku sudah membelai dirinya dengan cara yang paling lembut, bahkan sampai dengan yang paling kasar, menguncang-guncang dirinya. Tapi kekasihku tetap tak mau membuka matanya.

 

Kekasihku yang satu ini sudah setahun lebih lima hari menemani kemana dan dimana pun aku berada. Dia yang selalu berada menemaniku dalam duka dan sedihku, dalam senyum dan tawaku, dalam asa dan bahagiaku. Dia menemaniku tak kenal lelah selama dua puluh empat jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Tanpa dia ada disisiku, hampalah hidupku terasa.

 

Ah, padahal, baru lima hari yang lalu masa garansi yang dimilikinya habis……

 

Ya, kekasihku adalah handphoneku

 

 

NB :

Hari ini nasib tuhan benar-benar sayang padaku. Ujian datang bertubi-tubi bo!

 

Pagi hari hp-ku ngambek, ga mau nyala sama sekali. Belom lagi komputerku. Kekasih tercinta no 2 ini diserang, dihadang dan diterjang oleh badai virus yang menghalangiku untuk bekerja.

 

Otomatis aku harus membawa komp-ku tercinta ke klinik antivirus. Nah, sepulang dari sana tuh, ujian ketiga menyapaku dengan lembut.

 

Sendalku tercinta yang giliran ngambek, putus ketika aku dalam perjalanan pulang dari klinik anti virus. Ia seakan-akan meneriakkan kata-kata MERDEKA, EUY! Dari diriku setelah hampir tujuh bulan kuinjak-injak terus setiap hari. Bekerja, bepergian, bahkan ke Double Yu Si pun tak ketinggalan. Tujuh bulan ini hanya dia yang kupakai karena ia memberi kenyaman terbaik buat kakiku.

 

Terima kasih sendalku, kuberikan kemerdekaan dan kebebasan yang kau inginkan.

 

 

Gambir, 6 Februari 2008

Advertisements

10 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s