MTW : Maa Tau Wak

M T W  :  Maa  Tau  Wak !!
       Liburan telah usai. Selama dua minggu Dinda pergi berlibur ke kampung halaman bersama mamanya di pinggir danau Singkarak, Sumatera Barat.      Disana dia puas bermain atau makan bersama di sawah atau di tepi danau Singkarak dengan saudara sepupu atau tetangganya yang sebaya. Bersepeda mengelilingi desa tanpa mengenal waktu, atau pergi memetik pohon kopi kakek yang sedang berbuah di ladang.

Dia tidak peduli kalau kulitnya yang putih menjadi hitam, dan badannya menjadi gendut karena banyak makan. Liburan yang menyenangkan! Makan disawah atau di pinggir danau atau juga di ladang kopi sangat nikmat! Katanya dalam hati.

Hari pertama sekolah, teman-teman Dinda berebutan menceritakan liburan mereka. Ada yang berlibur ke Bali, Manado, atau ke kampung halaman mereka seperti liburan Dinda. Juga ada yang ke Singapura atau hanya berlibur di Jakarta saja.
“Gimana liburanmu, Din?” tanya Cilla antusias ketika mereka bertemu di kelas.
“MTW!” jawab Dinda asal-asalan saja.
“Ha…? Apaan tuh MTW!” tanya Cilla heran dengan jawab Dinda.
“MTW! Maa tau wak! Wak lalok!” jawab Dinda tersenyum iseng dan berjalan meninggalkaan Cilla.
“Lu gosong amat pulang dari Padang, Din!” kata Sisca di pintu kelas.
“Lu, kok jadi gendut amat sih Din? Makan mulu ya?” komentar temannya yang lain.
Tapi jawaban setiap pertanyaan itu hanya satu. MTW!
“MTW! Maa Tau Wak! Wak lalok!” jawabnya nyengir pada teman-teman kelasnya.
“Apa Din? MTW, maa… tau… !” tanya temannya terpatah-patah menyebutkannya.
“MTW!” jawabnya lagi dengan tersenyum iseng.
“Ya, Dinda! Apaan tuh, MTW! Kamu kasih tau kita-kita, dong!” kata yang lainnya penasaran.
“MTW! Ma tau wak, wak lalok!” jawabnya makin nyengir karena merasa senang bisa mengerjai teman-temannya.
Sudah dua hari mereka masuk sekolah, dan sudah dua hari juga Dinda selalu menjawaban MTW setiap ditanya teman-temannya. Ia tidak peduli kalau lama-kelamaan temannya jadi kesal padanya karena selalu menjawab seperti itu.
Kamis pagi, di pintu kelas.
“Sis, hari ini kita udah masuk les English ya?” tanya Dinda pada Sisca yang sama kursus bahasa Inggris.
“MTW! Maa tau wak, wak lalok!” jawab Sisca santai. Dinda kaget mendengarnya.
“Aku serius, Sis. Kita mulai les hari ini kan?”
“MTW!” jawab Sisca lagi. Lalu ia berjalan ke kursinya. Dinda jadi kesal karena Sisca tidak menjawab pertanyaannya. Ia lalu bertanya pada Ivan yang juga sama-sama kursus dengannya dan Sisca.
“MTW!” jawab Ivan pendek.
“Kamu kenapa sih? Aku tanya serius?” tanya Dinda kesal.
“MTW! Maa tau wak, wak lalok!” lagi-lagi Ivan menjawab MTW dengan nyengir.
“Cilla, kita ke kantin yuk!” ajak Dinda pada Cilla pada jam istirahat.
“MTW!” jawab Cilla seperti Sisca dan Ivan.
Tidak hanya Sisca, Cilla dan Ivan saja yang menjawab MTW setiap kali ia bertanya atau berbicara. Tapi setiap teman-teman yang ia ajak bicara.
“Kalian semua kenapa, sih? kok…!” tanya Dinda pada Sisca, Ivan dan Cilla mereka ketika bubar kelas. Tapi belum selesai ia berbicara, langsung dijawab dengan serempak
“MTW! Maa tau wak, wak lalok!”
“MTW kan artinya mana ku tahu! Wak lalok kan, aku tidur! Sama kayak dengan Meneketehe! Kenapa setiap aku bicara kalian menjawab MTW?” tanya Dinda gusar.
“MTW….! Maa tau wak! Wak lalok….!” jawab mereka kembali serempak.

Dinda pulang sekolah dengan kesal! Ia masuk rumah tanpa mengucapkan salam.
“Assalamu ‘alaikum? Pulang-pulang kok nggak ngucapin salam, Nak?” mama mengingkatnnya. Dinda hanya menunduk malu sambil mencium tangan mama.
“Kenapa Din? Kok cembetut gitu?” tanya mama.
“Nggak apa-apa, Ma! jawabnya pendek.
“Benar, nggak apa-apa?” tanya mama lagi.
“Benar Mama, Dinda nggak kenapa kok! Cuma capek aja!” jawabnya meyakinkan mamanya.
Dia tidak berani menceritakan pada mama tentan teman-teman yang meledeknya seharian ini. Karena mama telah berulang kali melarang dan menegur Dinda setiap kali ia menjawab MTW pada abangnya atau pembantu yang bertanya padanya.

Dinda langsung masuk ke kamarnya dan menghempaskan badannya ke kasur. Ia  kesal pada teman-teman yang menjawabnya hanya dengan jawaban MTW. Setiap dia bertanya atau berbicara dengan teman-temannya, mereka semua kompak menjawab dengan satu  jawaban! MTW !
Dinda merenungi semua kejadian di sekolah tadi. Juga kejadian-kejadian sejak hari pertama mereka sekolah. Dia berpikir, kalau ia sangat kesal setiap teman-teman menjawab MTW,  maka teman-temannya pun pasti kesal terhadapnya setiap dia menjawab dengan mereka dengan jawaban MTW.
Kalau aku kesal kayak gini, pantas aja teman-temanku juga kesal! pikirnya
Dinda menarik napas lega karena sudah menyadari kekelirunnya. Dia berjanji untuk minta maaf pada teman-temannya besok.

 

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s