Tahun Baru Islam yang terlupakan

Penyimpangan Malam Tahun Baru Islam

Selamat Tahun Baru HIJRIYAH 1430… Semoga Hari tahun ini lebih baik dari tahun-tahun yang telah berlalu. Pribadi yang lebih baik, hubungan dengan keluarga dan dan yang lebih baik, pekerjaan yang lebih baik, Penghasilan yang lebih baik…(). Dan pertama dan terutama adalah menjadi hambaNya yang lebih baik.

Amin…amin ya Rabal Alamin…

Semoga shalat kita lebih baik, bacaan Qur’an kita lebih baik, puasa Sunah yang lebih baik, infak dan shadaqah yang lebih baik…. Intinya, adalah, Habluminallah dan Hablu minannas semakin baik.

Ironis memang, sebagai seorang muslim, kita sering lupa dengan tahun baru Islam ini. Kita cenderung lebih ingat dengan tahun baru biasa daripada tahun baru Hijriah. Bahkan saudara-saudara Muslim kita yang di Jawa justru lebih ingat malam 1 Syuro daripada tahun baru Islam.

Pada malam 1 syuro ini, benda-benda pusaka Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Keraton Kasunanan Surakarta dan Puro Mangkunagaran dikeluarkan dan dicuci. Saya pikir itu tidak masalah karena bisa saja kita menganggap itu hanya masalah ‘moment’ dan ‘timing’ saja

Yang jadi masalah adalah ketika air bekas cucian itu diperebutkan dan diburu oleh masyarakat karena diaggap mempunyai keramat bisa menyembuhkan penyakit atau membawa rezeki bagi yang memperolehnya. Bukankah ini sudah merupakan suatu yang salah….?

Bagaimana pula dengan ‘kebo bule’ atau kerbau albino yang juga selalu ditunggu-tunggu masyarakat. Mereka percaya bahwa tahi kerbau itu bisa membawa berkah bagi mereka. Nah, apalagi tuh….?

Memang benar bahwa tahi kerbau, atau juga tahi sapi menyuburkan tanah untuk pertanian. Tapi masalahnya bukan itu yang menjadi keyakinan masyarakat disana. Mereka percaya kebo bule yang akan diarak pada malam 1 syuro akan membeikan keberuntungan dan keberkahan bagi yang mendapatkannya. Nah, bukankah pemahaman itu juga bagian dari kemusyrikan…?

Sebenarnya, nilai-nilai yang menyimpang itu bisa diputus mata rantainya oleh pihak kesultanan Yogya, kesunanan Surakarta atau juga pihak Puro mangkunagaranan Surakarta. Mereka bisa tidak membiarkan air bekas cucian dan tahi kebo bule itu menjadi rebutan ‘rakyat’ Jawa.

Tahun baru Hijriyah sepi…, bahkan mesjidpun sepi… Jadi ingat kalo di kampung setiap malam tahun baru Hijriah, minimal ada ceramah agama untuk meriview perjalan kita dalam satu tahun.


Hendaknya Tahun BaruHijriyah ini menjadika momentum bagi kita untuk memang kembali kepada nilai-nilai agama yang sesungguhnya.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s