Karena setitik nila, Rusak Susu Sebelanga

Karena Setitik Nila, Rusak Susu Sebelanga.

       ( Cerita ini terdapat dalam buku kisah-kisah teladan. Kisah ini terdapat dalam buku yang sama dengan kisah MANFAAT  SHADAQAH yang pernah saya tulis dalam tag “renungan.” Dari sekian banyak kisah, kebetulan hanya dua kisah ini yang nempel di otak saya sampai sekarang. Mungkin sudah tidak terlalu detail saya mengingatnya, tapi inti ceritanya masih saya ingat kok.)

       Dikisahkan ada seorang pria muda yang sudah mapan. Karirnya bagus, mobil mewah, apartement pun sudah punya dan juga punya keluarga bahagia. Istri dan anak yang mencitai dan dicintainya. Hanya saja ada kegelisahan yang dialami oleh pemuda tersebut.

Dia merasa hidupnya agak monoton, itu-itu saja. Tidak ada hal-hal yang menantang yang dialaminya seperti yang dialami teman-temannnya. Teman-temannya dapat menjalani hidup dengan santai. Bergonta-ganti pacar dan melakukan hal-hal yang sifatnya “Just Having Fun” tanpa beban Dia juga ingin mengalami hal-hal yang dilakukan teman-temannya.

Law Attraction!
Rupanya hukum tarik-menarik telah membawanya pada sesuatu yang belakangan ini sedang berkecamuk di hatinya.

Saat sedang berputar-putar tak karuan dengan mobil mewahnya, dua orang gadis yang sangat cantik menghentikan mobilnya. Dengan gaya yang kenes alias centil bin menggoda, kedua perempuan ini berhasil merayu pemuda ini.

Puncuk dicinta ulampun tiba!

Merekapun akhirnya membooking hotel. Sang pria muda ini sangat bahagia bisa mengalami hal-hal yang selama ini belum pernah ia alami dalam hidupnya. Mengalami hal-hal yang selalu diceritakan teman-temannya. Ia berpikiran, pantas saja teman-temannya selalu happy dalam menjalani hidupnya.

Ketika hari yang indah itu berakhir, mereka sepakat untuk membuat janji lagi untu membuat hari yang lainnya. Sang pria muda memberikan nomor yang teleponnya dan begitu juga dua gadis tersebut.

Besok harinya, sang pemuda yang melepon kedua gadis tersebut. Ia benar-benar sudah terobsesi dengan mereka.
       “Hallo sayang, kalian dimana?” sapa pria muda tersebut.
       “Hai, kami di apartemen kami. Apa kabarmu?
       “Baik! Aku merindukan kalian!” katanya dengan nada menggoda.
       “Tentu saja! Kami juga!” jawaban yang membuat pria muda terlambung ke langit ke tujuh.

Ia membayangkan apa yang bakal dialaminya lagi bersama mereka nanti, setelah mereka bertemu nanti.
       “Kalau gitu, kita ketemu lagi nanti di tempat yang kemarin, gimana? Atau kalian punya referensi tempat yang lebih menarik?”
       “Tentu saja!” jawab mereka centil.
       “Waw…! Dimana?”
       “Begini, sebelum kita bertemu lagi, kami sarankan padamu untuk pergi ke suatu tempat!” kata salah satu dari mereka.
       “Oh, tentu saja aku mau asalkan aku bisa bersama kalian! Katakan, kemana aku harus pergi!” tanya si pria antusias.
       “Tempat yang harus kamu tuju adalah….”! Gadis yang berbicara sengaja mengggantung kalimatnya dengan nada menggoda.
       “Ayolah Sayang, kemana aku harus pergi?” tanya pemuda tidak sabar dengan permainan kedua gadis itu.
       “Pergilah sesegera mungkin ke rumah sakit!”
       “Ke rumah sakit? Ngapain?” tanya pria muda heran.
       “Satu hal yang harus kamu tahu adalah, kami adalah pendrita AIDS. Kau mengerti?” jawab si gadis masih dengan gaya yang centil.

       Prang………!
       Sang pria muda kaget bagaikan mendengar petir di tengah panasnya terik mentari.     Lidahnya kelu tak bisa berucap apapun jua. Ribuan palu seakan menghantam kepalanya. Jutaan jarum beracun seakan menusuk seluruh aliran darahnya. Mati rasa!

       Tapi pikirannya sedikit masih bekerja. Dia mengutuk pertemuannya dengan kedua gadis tersebut. Seandainya tidak ada hari kemarin yang mempertemukan mereka. Seandainya ia tidak tergoda dengan cerita teman-temannya, seandainya…seandaina…seandainya….

       Tapi apapun juga andai-andai yang ia dendangkan, waktu tidak bisa diputar. layar sudah dikembangkan dan perahu sudah berlayar tapi tak bisa berbalik ke dermaga semula.

       Sang pria muda akhirnya diketahui terdeteksi mengidap AIDS…. Bukan hari-hari yang indah yang ia rangkai, tapi kematian pelan-pelan yang harus ia jalani.

       Karena setitik nila, rusak susu sebelanga….

       Na’uzubillahi minzalik

Advertisements

7 comments

  1. Alkisah, Imam Al Ghazali memanggil murid-muridnya berkumpul. Dan beliau bertanya, “Apa yang paling besar di dunia ini?”. Murid-muridnya melontarkan jawaban yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan gunung, langit, matahari, bulan, bintang, dsb. Al Ghazali berkata, “Semua jawaban tidak salah, namun juga tidak benar. Yang paling besar di dunia ini adalah NAFSU!”

    Pria yang dikisahkan ini terkungkung dalam nafsunya yang besar. Paradoks kehidupan bebas yang dimilikinya disalahkaprahi sehingga akhirnya terjerat dan jatuh terkapar pada kenistaan. Semoga kita tidak termasuk manusia yang seperti itu. Kisah perenungan yang bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s