Prahara duka Makan Daging B

Prahara Duka Makan Daging…B…    “  Dit, temanin gue kondangan dong. Teman kampus gue ada yang merit nih!” sembur Aldy langsung tanpa menjawab salam Dita.

“Ha, cewek lo mana? Ngajak-ngajak gue…” tanya Dita.
“Biasa, blom balik pulkam. Lagian sekarang udah setengah enam nih. Ga mungkin nunggu dia lah!” jawab Aldy.
Deal!

Mereka sepakat. Aldy akan menjemput Dita sehabis maghrib. Inilah enaknya pergi kondangan sama sobatan, Dita ga perlu ribet-ribet dandan. Yang penting pakaian ga asalan n lumayan cocok dibawa ke kondangan. ni baju yang baru dibeli lebaran kemaren, jadi masih baguslah…

Dengan motor Aldy mereka berangkat menuju gedung resepsi yang berdekatan dengan gedung Bursa Efek Indonesia. Lima belas menit sebelum jam tujuh, mereka sudah sampai di gedung tersebut.

“Ha…?” Dita kaget melihat tamu-tamu yang ada disana. Dia liat  penampilannya, dan dia liat juga penampilan tamu-tamu yang lain.
Dia kaget bukan karena pakaiannya jelek, kan ini baju baru dibeli lebaran kemaren, jadi masih bagus dan layak lah…

Trus…

Emang sih, hampir semua tamu cewek disitu memakai pakaian mewah yan seksi. Rata-rata mereka make pakaian kemben yang mewah dan make-up serta tatanan rambut yang sempurna hasil kerja penata rias dan rambut yang juga hebat gitulah.  Dan tamu prianya make jas yang sama mewahnya… Jadi kemeja yang Aldy pakai pun kebanting…!

Emang juga sih, Dita yang satu-satunya tamu yang……pake jilbab!
Ooh…
Tapi…, bukan itu yang merisaukan Dita…
Apa dong…?

Dita melihat wajah-wajah yang penuh polesan itu. Wajah itu hanya menggambarkan hampir tiga golongan saja. Wajah Chinesse, wajah Manado, dan wajah Tapanuli.

“Ah lo mah, kayak ga punya banyak teman Chinesse n Batak aja, lo?” komentar Aldy berbisik. Rupanya ia mengerti arti tatapan Dita pada tamu lainnya. Benar-benar sobatan sih…!

“Ye…bukannye gitu…!” sanggah Dita manyun. Masa Aldy ragu terhadap rasa kebhinekaan dalam diri dia?
Trus kenapa…?”
“Makanannya bo! Halal ga, nih?” tanya Dita khawatir. Walaupun punya banyak teman non Muslim, dia baru satu kali menghadiri resepsi pernikahan temannya yang non muslim. Pernikahan mbak Fani.
“Oh…! Iya, ya!” akhirnya Aldy paham juga.
Dita segera mengambil hapenya di dalam tas. Ia memencet-mencet tu hape dan…send!

Beberapa saat kemudian hapenya bergetar. Dita membaca sms yang masuk.
“Ya halal lah! Kan dulu waktu gue merit, makanan resepsi gw halal semua. Kita juga hargain temen-temen yang muslim lah! Tenang aja nek,  makan aja semua tu makanan! Lo kan anak kos yang kurang gizi!  Kesempatan tuh! Ha..ha..” balas mbak Fani, teman akrabnya satu kos yang sekarang udah merit lima bulanan yang lalu.

“Dasar Lo Mbak, mentang-mentang makanan Lo udah bergizi sekarang ya!” Dita membalas.

Rupanya pendapat mbak Fani sama dengan pendapat dua orang temannya yang masuk beberapa saat kemudian.

“KauTakUsahKwtir!Kl Pesta d KmpungkuBaruKauPntangTuDging” sms dari Tiur yang Batak tulen. Capeknya baca sms dari si Butet ni, ga ada spasinya.

“Gppa,relasiny pasti ada yg muslim jg” smas Ita, anggota koor gereja katolik, asli Jogja. Juga dari Lu si yang orang Bangka, idem tito lah…

“Aman, Al!” kata Dita memperlihatkan smsnya pada Aldy. Mereka  pun ikut rebutan mengambil makanan. Dita sengaja makan sediki biar lambungnya bisa  nampung buah lebih banyak, he…he…

Mereka juga berusaha menghindari makan yang dari daging. Rupanya tanpa sengaja ia mengambil satu makanan daging. Sepertinya rolade… Tapi, ya…sudahlah! Teman-teman non muslimnya sudah menjamin tu semua makanan halal.

Siip deh…!

Mereka menikmati buah-buahan yang disediakan panitia. Kesempatan. Kan jarang-jarang makan buah-buahan yang mahal seperti kiwi, plum dan anggur. Buah-buah yang dinikmati biasanya ya…buah-buahan yang dijual abang-abang rujak. Paling-paling, kalo ga jeruk ya, mangga, jambu, melon dan yang paling banter strawberi.

Sekarang, lupakan melon, jeruk ato mangga, strawberi. Di depan mata ada kiwi, anggur, plum yang harganya di supermarket bisa tiga bikin Dita ogah megang tu buah seakan-seakan menghindari orang kena penyakit kudisan. Kalau coba-coba mendekat, gawat! Bukannya kena kudisan malah kena kanker, kantong kering!

Jadi, nikmatilah buah-buahan mahal yang ada di depan mata…
Mmh…enak!
Dasar katrok bin ndeso…

Tapi yang katrok bin ndeso rupanya nggak cuman mereka. Orang-orang yang penampilannya selangit juga makan buah seakan-akan baru pertama kali ngeliat tu buah-buahan.

Hp Dita bergetar lagi. Dari Tina. Satu lagi temannya si Butet.
“Ati2 buk! Kau tau lah kita orang Batak. Ada Menado pula ma Cina! Ingat I radio!” gila, sms Tina tanpa basa-basi.

Perut Dita bergolak. Dia dan Tina sama-sama penggemar radio I radio yang dipandu Putri Suhendro dan Rafiq, penyiar sableng pavorite mereka! Bang Rafiq dan Mbak Putri pernah ngebahas tentang makanan orang Batak dan Manado.
My god!

*****
Pukul delapan lewat mereka memutuskan pulang. Untuk pulang menuju arah rumah kos Dita, mereka harus memutar di bundaran senayan.

Rupanya cuaca malam ini kurang bersahabat buat mereka. Ketika sedang berhenti di lampu merah bunderan senayan tiba-tiba hujan datang tanpa permisi dulu. Tanpa aba-aba langsung dressss…

Mereka memutuskan istirahat, berteduh di halte bunderan. Halte yang kecil itu langsung dipenuhi pengendara motor yang ingin berteduh.

“Wah, kita kualat nih, makan daging B, langsung diguyur hujan habis-habisan!” komentar Dita nyengir setengah tertawa.

Ia melihat betapa derasnya hujan yang menyiram bumi yang terlihat nyata dibawah sinar lampu pinggir jalan. Belum lagi angin kencang yang membuat tidak ada gunanya berteduh karena tersiram air yang ditiup angin kencang.
“Parno lo!” jawab Aldi ketawa.
“Nggak sih…!”

Setengah lebih jam lamanya mereka menunggu hujan mereda. Tidak benar-benar reda sih, tapi lumayanlah untuk melanjutkan perjalanan. Pengendara lainnya pun berpendapat sama.

Dasar nasib baik yang kurang berpihak, baru saja mulai berjalan, hujan kembali berpesta. Membuat para pengendara motor menepi lagi untuk berteduh di halte Pintu Satu GOR Bung Karno, senayan.

“Yah, cape deh…!”
Lima belas menit lamanya mereka menunggu hujan agak reda untuk melanjutkan perjalanan.

“Dit, kayaknya ban motor gue bocor deh!” kata Aldy setelah beberapa saat berjalan.
“Iya nih, kayaknya!” Dita membenarkan.

Ia pun merasa perputaran roda agak kurang nyaman. Dita membungkukkan  menurunkan badannya ke bawah, melihat apakah ban belakang motor Aldy kempes atau tidak.
“Oi, jangan liat ke bawah, dong! Bikin motor oleng, nih!” kata Aldy mengingatkan.
“Sorry, tapi tetap ga keliatan kempesnya lho!” jawab Dita polos
“Ya iya lah…! Dasar katrok lo…!” sahut Aldy tertawa.

Sepertinya nasib baik emang benar-benar nggak berpihak. Ban motor Aldy bocor. Mereka harus turun dari motor di bawah kolong semanggi di depan hotel Sulthan. Kalo tadi mereka mengendarai motor, sekarang Aldy yang menuntun motor sampai bawah tol semanggi. Katanya di situ ada yang nambal ban.
“Yang biasa nambal baru aje pulang, Neng! Paling juga lima menit!” kata penjual jas hujan yang menjawab Dita dengan dialek Betawinya kental.
Wah, kacau…!
“Di Benhil juga ade Neng!” kata si babe yang mungkin kasihan dengan wajah prihatin Dita, he…he…
“Deket mananya, Pak?” tanya Aldy.
“Itu, di prapatan mau belok pasar Benhil!” jawab si bapak-bapak.

Maka, dilanjutkanlah petualangan mereka menuntun motor ke Benhil. Di bawah kolong di depan gedung BRI, ada genangan air yang dalam plus ada mobil besar yang lewat. Sukseslah celana mereka terendam air kotor.

“Aa…! Kacian deh…! Sopirnya ga punya perasaan!” teriak Dita sambil tertawa getir.
Pakaiannya yang sudah basah semua disiram hujan sekarang disembur air jalanan yang kotor.
“Yah, gimana lagi…!” sahut Aldy yang juga tertawa, tapi tertawa getir juga.
“Waduh…! Jangan-jangan gue emang kemakan daging B deh!” kata Dita dalam hati.
Benar-benar kacau!
Nah, akhirnya sampai. Rupanya ada beberapa motor yang antri jadi pasien. Transaksi berlangsung. Si ibu tambal ban menetapkan harga.

“Nggak kurang, Bu?” tawar Aldy yang dari wajahnya terlihat tidak percaya dengan harga yang disebutkan si ibu-ibu, jauh melebihi harga di bengkel. Apalagi kata Aldy ban yang dipakai bukan ban yang biasa dijual di bengkel resmi.
“Si mas kalo mau jadi, kalo ga mau cari aja tambal ban yang lain!” kata si ibu-ibu memberikan vonis harga mati!
Ceile…! Mentang-mentang pegang kartu As!
Mau tak mau…ya harus mau!
“Aduh, ban jelek, mahalnya nggak ketulungan lagi!” kata Aldy pelan.
“Trus gimana?
“Yah, gimana lagi…?”
Mau tak mau…ya harus mau! Transaksi deal!

Ada dua motor sebelum mereka. Satu jam lebih mereka menunggu sampai ban motor Aldy selesai diganti. Sekarang sudah jam setengah sebelas. Sudah sangat…sangat malam baginya yang terbiasa pulang sebelum jam delapan.
Dita menggigil kedinginan. Walaupun hujan sudah berhenti dari tadi, tapi dengan pakaian yang basah, membuat hawa dingin menggigit tulangnya.
****

Perut Dita bergolak hebat. Bayangan sms Tina yang menyatakan mungkin saja dia makan daging B membuat Dita nggak bisa tidur.
Setiap matanya mulai mengantuk, bayangan cacing pita yang panjangnya bermeter-meter menari-nari di pelupuk matanya. Dia berjuang lagi untuk tidur. Semua doa, kalimat zikir dan ayat-ayat pendek yang dia ingat sudah dikerahkan supaya dia bikin ngantuk. Dan setiap kali dia ngantuk, kembali segerombolan cacing pita berpesta pora di matanya.

Kemungkinan dia makan daging B mendominasi otaknya, mengintimidasi pikirannya dan menggerayangi jiwanya. Dan perutnya pun ikut memberontak.

Baru saja tertidur sekejap, dia terbangun dan langsung loncat berdiri, berlari ke arah pintu.
Aduh sial, pintu tiba-tiba bermasalah di saat perutnya mengkudeta dirinya.Begitu pintu terbuka, dia segera berlari ke kamar mandi dan…
“uuuwwwa…k”
Sukses! Perutnya berhasil mengkudeta dirinya. Apa yang dia makan tadi keluar semuanya, termasuk buah-buahan mahal yang hanya bisa ia pandang di supermarket-supermarket.

Daging B berhasil membuatnya muntah belasan kali sampai sebelum siang dan lebih berhasil lagi membuatnya tergeletak tak berdaya di kasur kamar kosnya selama tiga hari berikutnya. Lebih kurang dua puluh empat jam satu tetes air dan sebutir nasi ataupun secuil roti tidak bisa masuk ke kerongkongannya.

 

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s