Princess Sultana Part : 1

Rating: ★★★★
Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: Jean P. Seasson

Judul : Princess: Kisah Tragis Putri kerajaan Arab Saudi
Penulis: Jean P. Seasson
Penerbit: Ramala Books
Cetakan: I, April 2007
: II, Juni 2007
: VIII, April 2008
Tebal : 380 Hal

Buku Princess yang menceritakan tentang kisah seorang Putri Kerajaan Arab Saudi dan Lingkungannya menjawab segala pertanyaan tentang banyak hal :

  1. 1.Kenapa Islam dan agama-agama Samawi lainnya, serta para nabi dan Rasul diturunkan di tanah Arab.
  2. Kenapa kebanyakan laki-laki Arab mengambil kesempatan ‘jatah’ yang diberikan Rasul untuk boleh mempunyai istri empat orang.
  3. Kenapa para Tenaga Kerja Indonesia dan tenaga pramuwisma dari negara Asia lainnya banyak yang menjadi korban tindak kekerasan di negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi.
  4. Kenapa tenaga kerja rumah tangga banyak yang diperkosa, atau pulang menjadi mayat, atau atau tidak ada kabar beritanya sama sekali setelah bekerja di banyak negara Arab khusunya Arab Saudi.
  5. Semua pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya setelah kita membaca buku karangan Jean P. Seasson.

Saya membagi tulisan ini menjadi empat topik :

  1. 1.Princess Sultana.
  2. Getirnya menjadi perempuan Saudi.
  3. Bobroknya prilaku (banyak) laki-laki dan Pangeran Saudi.
  4. Oh…betapa kayanya para pangeran Saudi ini.
  5. Bagaimana sih sesungguhnya keyakinan wanita Saudi terhadap aurat yang diatur agama….?

Sungguh tidak bisa dipercaya terhadap ketidakadilan yang dialami para perempuan di tempat yang menyebut diri mereka “PENJAGA AGAMA ISLAM; RUMAH ISLAM, yang dilakukan oleh kaum laki-laki mereka atas nama agama!

Princess Sultana

Princess Sultana, bukan nama sebenarnya, adalah salah seorang Putri kerajaan Arab Saudi. Ia adalah keturunan langsung~cucu dari pendiri kerajaan Arab Saudi~Raja Abdul Aziz Al Saud. Ayahnya adalah salah seorang putra dari lebih lima puluh putra Raja Abdul Aziz. Artinya, Putri Sultana adalah keponakan dari Raja Arab Saudi yang saat ini berkuasa. Raja Abdullah bin Abdul Aziz Al Saud.

Pengalamannnya sebagai anak perempuan di sebuah Kerajaan yang sangat patriakat, yang segala sesuatunya diatur dan diputuskan secara sepihak oleh kaum lelaki membuatnya ingin bercerita pada dunia melalui buku, bagaimana kaum perempuan di negaranya benar-benar tidak punya hak atas diri mereka sendiri.

Ia adalah putri bungsu, anak yang kesebelas dari isteri pertama ayahnya. Ibunya menikah pada usia dua belas tahun dan mempunyai sebelas orang anak yang hidup dari enam belas anak yang dilahirkannya. Satu-satunya anak laki-laki yang ‘dihasilkan’ ibunya adalah Farouq, kakak laki-lakinya yang anak kesepuluh dari ibunya.

Putri Sultana kecil digambarkan sebagai seorang putri yang memberontak terhadap tirani kaum laki-laki yang ada disekitarnya, yaitu ayahnya dan Farouq, abangnya. Saking bandelnya Sultana, ia tumbuh menjadi seorang anak yang ribut dan tidak penurut serta tidak peduli dengan citranya sebagai putri kerajaan. Ia begitu berbeda dengan kakak-kakak perempuannya yang berprilaku tenang dan lembut, prilaku yang seharusnya dimiliki oleh seorang putri.

Kenakalannya itu sesungguhya dilakukan untuk mencuri dan menuntut perhatian ayahnya yang mengganggap sepi kehadiran mereka, anak-anak perempuan ayahnya. Menurut pendapatnya, jika ia sering membuat masalah dan keonaran, maka ayahya akan sering melihat dan memperhatikan dia, sehingga mengetahui sifat-sifat istimewa yang dimilikinya dan pada akhirnya akan mencintai dirinya seperti ayahnya mencintai Farouq.

Tapi usaha itu ternyata sia-sia karena apa yang dilakukannya itu justru membuat ayahnya yang tadinya acuh dengan dirinya malah menjadi benci sama sekali.
Toh, sampai ia dewasa ia tetaplah anak perempuan yang tidak dihargai di negerinya. Mereka, para anak perempuan, diabaikan oleh ayah mereka, dipandang rendah oleh saudara laki-laki mereka dan dilecehkan oleh suami mereka (hal: 25).

Ayah mereka yang mempunyai 22 anak perempuan sering berkata, “perempuan adalah kutukan bagi laki-laki!” (hal. 82)

Getirnya menjadi perempuan Saudi

Membaca kisah perempuan di Saudi dan Arab pada umumnya, seakan-akan kita kembali ke kisah-kisah sebelum Rasullah SAW lahir di bumi Mekah. Kehadiran mereka diekspresikan dengan perasaan duka citadan rasa malu. Kelahiran mereka tidak tercatat dalam masyarakat umum. Sejarah mereka terkubur dalam ketidakjelasan, sebagaimana tidak tidak jelasnya memandang wajah perempuan Saudi yang ada dibalik cadar mereka.

Dalam buku kisah nyata Arab lainnya yang berjudul Burn a Live (kalau saya tidak salah ingat) yang mengisahkan pembunuhan dan penyiksaan ‘atas nama kehormatan oleh keluarga’ yang terjadi di Tepi Barat, Palestina. Tokoh utamanya ini pernah melihat ibunya yang baru melahirkan menggulung bayi yang baru dilahirkan ibunya tersebut dengan karpet. Kejadianya lebih dari satu kali. Ketika ia sudah besar baru ia mengerti hal itu dilakukan karena ibunya melahirkan bayi perempuan. Ataghfirullah….

Di Saudi, perempuan tidak punya hak apapun terhadap diri mereka. Mereka adalah kelas nomor dua setelah kaum pria. Tidak berhak mendapat pendidikan selain hanya belajar membaca Alqur’an di rumah. Beruntung, mereka mempunyai bibi Iffat, isteri Raja Faisal bin Abdul Aziz Al Saud. Ia menyarankan pada para pangeran untuk memberikan kesempatan pendidikan pada anak perempuan mereka.

Walaupun begitu, tetap saja tidak ada yang membanggakan mempunyai anak perempuan bagi laki-laki Saudi. Bahkan Sara, kakak perempuan Sultana yang pintar dan cerdas pun tidak bisa membuat bangga ayah mereka yang seorang pangeran! Kehidupan mereka sangat sangat sangat dikontrol oleh ayah dan saudara laki-lakinya. Otoritas laki-laki Saudi tidak terbatas, isteri dan anak perempuan dapat bertahan hidup hanya kalau diinginkan(hal. 24).

Sara, yang dijadikan pelampiasan prilaku seks yang brutal oleh suaminya, menganggap bahwa bunuh diri dan kematian lebih baik untuknya. Sayangnya, ayahnya mengabaikan penderitaan putrinya. Ia berpendapat sama dengan pembantunya bahwa isteri adalah sepenuhnya milik suaminya.

Juga ada Amal, gadis remaja yang diperkosa oleh tema-teman saudara laki-lakinya ketika orang tua mereka sedang pergi Emirat. Para Mutawa, Polisi Syariah pun terlibat. Para pemerkosa ini menyangkal semua tuduhan itu. Abang Amal yang takut ketahuan menggunakan obat-obatan tidak maju untuk membela kehormatan adiknya.

Ibu Amal yang percaya dengan anak gadisnya tidak bisa meyakinkan ayah Amal yang merasa tidak nyaman mempunyai anak perempuan. Si ayah terpukul tapi ia menganggap bahwa ANAK LAKI-LAKI ITU HANYA MELAKUKAN APA YANG DILAKUKAN LAKI-LAKI DALAM KONDISI SEPERTI ITU! Dengan berat hati ia pun menyimpulkan bahwa anak perempuannnya harus dihukum karena telah mencoreng nama baiknya.

Para Mutawa memberikan dukungan moral dan puji sanjung pada ayah Amal yang teguh pendiriannya KARENA KEYAKINAN AGAMANYA.
Maka, hidup amal pun harus berakhir dengan cara dirajam setelah melahirkan bayi perempuan yang tidak diketahui siapa ayahnya!

Di Saudi, laki-laki berhak untuk mengetahui apakah anak perempuannya sudah mendapat haid pertama mereka. Kalau sudah, maka sudah saatnya si anak gadis untuk memakai abaya dan cadar. Cadar yang membuat seluruh wajah mereka tertutup oleh kain hitam tipis.

Langit tidak lagi berwarna biru bagi karena melihat dunia melalui celah-celah cadar mereka. Dan saatnya juga bagi gadis Saudi untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia anak-anak mereka, karena ayah mereka akan segera mencarikan seorang suami untuk mereka. Seorang suami yang umumnya hanya akan mereka jumpai pertama kali di hari pernikahan.

Tidak ada bantahan itu itu, walaupun calan suami mereka adalah orang yang lebih tua dari ayah mereka sendiri, atau juga orang yang lebih pantas dianggap kakek oleh mereka. Sara yang berumur tujuh belas tahun menikah dengan laki-laki berumur enam puluh dua tahun.

“Sultana, terimalah masa depanmu dengan patuh, karena kamu tidak punya pilihan!” kata ayah sultana ketika ia memutuskan untuk menikahkan Sultana (hal.137).

Jika saja mereka melakukan sesuatu yang membuat malu keluarga dan kaum laki-laki mereka, maka ayah mereka punya hak untuk menentukan umur mereka sebagaimana yang dialami Nadia. Di eksekusi oleh ayahnya sendiri dengan cara ditenggelamkan ke dalam kolam renang dan disaksikan oleh seluruh keluarga mereka.

Nadia bersama Waffa yang frustrasi dengan nasib mereka sebagai anak perempuan, melakukan ‘kesenangan’ sebelum mereka terperangkap dalam masa depan yang suram, pernikahan! Mereka melakukan perbuatan mesum, merayu laki-laki asing yang banyak bekerja di Saudi untuk bercinta kilat di parkir-parkir atau lift gedung.

Mereka melakukan berbagai macam model percintaan tapi tetap memakai cadar mereka sehingga wajah mereka tidak dikenali para pria asing tersebut. Walaupun begitu, mereka juga tetap menjaga keperawanan mereka, karena kalau sudah tidak perawan lagi ketika menikah, makan segalanya menjadi jauh…jauh…lebih buruk buat mereka.

Malang bagi mereka, suatu hari mereka tertangkap oleh mutawa, polisi syariah. Maka mereka sudah menentukan taqdir mereka sendiri.

2 thoughts on “Princess Sultana Part : 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s